Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-77 Rayuan maut



Hanna dan Cristian masih duduk di pinggir pantai itu, meski sekarang matahari sudah mulai terasa panas.


“Pulanglah, temui orangtuamu, bawa Damian,” ucap Cristian lagi.


“Aku belum siap bertemu orangtuaku, apa menurutmu orangtuaku akan menerima Damian?” tanya Hanna, menoleh pada Cristian.


“Kenapa tidak? Apa kau tidak tahu kalau Damian membangun real estate ini bekerjasama dengan ayahmu? Aku rasa ayahmu juga menyukainya,” kata Cristian.


“Kau yakin ayahku akan menenrima Damian?” tanya Hanna lagi.


“Mau sampai kapan kau sembunyi sembunyi seperti ini? Kau tidak rindu pada orangtuamu?” Cristian balik bertanya.


“Aku takut orangtuaku menyuruhku menikah denganmu, aku mencintai Damian,” jawab Hanna berterus terang.


Cristian menghela nafas panjang. Sebenarnya ada rasa cemburu dalam hatinya dan rasa sakit yang belum hilang dari hatinya, tapi nasi sudah menjadi bubur, Hanna sudah menikah dengan Damian dan sedang hamil, dia harus melupakan perasaan cintanya pada Hanna.


“Kau kan sudah menikah dengan Damian, kau juga sedang hamil, tidak mungkin orangtuamu menyuruhmu menikah denganku lagi. Apalagi Damian pria yang baik dan menyenangkan, ayahmu menyukainya, jadi tidak akan ada masalah. Mereka pasti senang akan mempunyai cucu,” ucap Cristian.


Hanna terdiam mendengar perkataan Cristian. Justru hal ini yang ditakutkan, takut kalau pernikahan palsunya terbongkar dan dia juga tidak sedang hamil sekarang, Cristian bicara begitu karena tahunya dia sudah menikah dengan Damian, bagaimana kalau Cristian tahu kalau sebenarnya dia belum menikah dengan Damian? Itulah yang jadi masalah, pernikahan palsunya terbongkar dan akan membuatnya berpisah dengan Damian. Dia tidak mau berpisah dengan Damian. Seharusnya Damian cepat-cepat menikahinya tapi sepertinya Damian ingin menemukan ibunya dulu. Dia tidak bisa memaksanya.


Orangtuanya juga pasti akan membenci Damian kalau sampai semuanya terbongkar, itu akan menyulitkannya bersama Damian, mungkin saja orangtuanya akan menyuruhnya kembali pada Cristian.


Terdengar bunyi handphonenya Cristian berdering, diapun mengangkat telponnya.


“Ya, ya sebentar lagi aku berangkat,” jawab Cristian. Telponpun ditutup.


“Kau akan bekerja?” tanya Hanna, menatap Cristian yang kini berdiri menatapnya. Menatap gadis yang selalu bersamanya dari mereka kecil itu.


“Iya, hari ini aku akan meninjau lokasi lagi bersama Damian dan juga ayahmu,” jawab Cristian.


“Ayah? Damian akan bertemu ayah hari ini?” tanya Hanna.


Cristian mengangguk. Hanna merasa gelisah mendengarnya. Sepertinya dia harus mengintai mereka. Dia harus tahu bagaimana sikap ayahnya pada Damian.


“Cristian, apa kau bisa membantuku?” tanya Hanna.


“Membantu apa?” tanya Cristian.


“Aku ingin tahu sikap ayahku pada Damian. Aku ingin tahu apakah ayahku menyukai Damian atau tidak,” jawab Hanna.


“Terus?” Cristian tidak mengerti.


“Bagaimana caranya aku bisa melihat sikap ayahku pada Damian?” tanya Hanna.


“Kau mau ikut dengan kami?” Cristian balik bertanya.


“Aku tidak siap bertemu dengan ayah,” jawab Hanna, matanya menatap maat Cristian, seakan meminta bantuan.


“Kau akan menyamar lagi? Sepeti yang kau lakukan padaku saat di Bali?” tanya Cristian, terlihat wajahnya tidak suka.


“Aku minta maaf soal itu Cristian, aku benar-benar belum siap bertemu denganmu waktu itu,” ucap Hanna.


Cristian menatap Hanna.


“Aku tidak suka kau membohongi orangtuamu,” ucapnya dengan tegas, membuat Hanna menunduk.


“Kau tau kan ayahku seperti apa, aku takut ayahku marah,” kata Hanna, masih menunduk.


Melihat sikap Hanna begitu, membuat hati Cristian melunak.


“Ya sudah sekarang kau bilang pada Damian supaya ikut ke lokasi, kau bisa memakai wigmu itu biar ayahmu tidak mengenalimu,” ucap Cristian. Hanna langsung tersenyum senang mendengarnya, dia tahu Cristian tidak pernah tega melihatnya sedih.


“Tunggu, apa Damian tahu kalau Pak Louis itu ayahmu?” tanya Cristian.


Hanna menggeleng.


“Aku benar-benar bingung denganmu Hanna,” keluh Cristian, sambil berjalan meninggalkan Hanna. Dia tidak habis fikir dengan cara pemikirannya Hanna.


“Cristian, tunggu!” panggil Hanna. Pria itu langsung menoleh dan menatapnya.


“Ada apa? Aku buru-buru. Kau juga kalau mau ikut, cepat pulang. Apa kau tidak tahu suamimu itu seorang yang perfect dalam bekerja, dia tidak mau kesalahan sekecil apapun,” kata Cristian.


Mendengarnya Hanna jadi teringat Damian yang mengomelinya sepanjang hari kemarin, sampai membuat kakinya lecet-lecet.


Hanna melepas jas Cristian yang dipakainya.


“Kau melupakan jasmu, terimakasih,” ucap Hanna, sambil memberikan jas itu pada Cristian.


“Ya, cepat pulang,” kata Cristian, sambil menerima jasnya. Setelah itu diapun menuju mobilnya. Hanna memperhatikannya sampai mobil itu menjauh.


Hanna terus berfikir bagaimana cara dia untuk bisa ikut melihat ayahnya bersama Damian. Dia ingin tahu bagaimana sikap ayahnya pada Damian. Tapi bagaimana caranya supaya ayahnya tidak mengenalinya? Dia teringat wig wignya, untung dia prefer sebelum ke kota ini dia membawa beberapa wig yang mungkin suatu saat akan bisa digunakan karena dia sembunyi-sembunyi di kota ini.


Yang paling penting sekarang adalah dia harus bisa merayu Damian supaya diijinkan ikut meninjau lokasi. Jelas-jelas kemarin Damian memintanya untuk tidak ikut campur kerjaannya lagi. Bagaimana cara merayu Damian supaya berhasil? Mungkin sedikit genit-genit tidak masalah, fikirnya.


Hannapun buru-buru pulang ke rumah menggunakan Taxi yang melintas dijalan itu.


Sesampainya di rumah, dia langsung menuju ruangannya Damian.


Pria itu sedang duduk di kursi kerjanya, bersandar dengan santai. Hanna sempat heran kenapa Damian terlihat santai, biasanya dia akan sibuk menunduk dengan berkas-berkas dimejanya.


“Sayang!”  panggil Hanna, mulai mengeluarkan jurus merayunya.


Damian yang asalnya melihat kerah lain, memutar kursinya menghadap kearah pintu.


“Sayang apa kau sedang sibuk?” tanya Hanna. Damian mengerutkan keningnya, wanita ini memanggilnya sayang pasti ada maunya.


Hanna mendekati Damian dan langsung duduk di pinggiran kursi Damian sebelah kiri. Karena posisi tangan kursi yang lebih tinggi dari tempat duduknya, membuat rok Hanna tersikap memperlihatkan sebagian pahanya. Wajah Damian langsung merah melihatnya. Tangannya buru-buru menarik roknya Hanna supaya menutupi pahanya. Sikap Hanna yang tidak biasanya membuat Damian semakin heran saja. Apalagi saat tangan kanan Hanna merangkul lehernya. Kepala wanita itu juga ditempelkan ke kepalanya.


“Ada apa?” tanya Damian, melirik Hanna dengan ujung matanya.


“Mmm,” tangan Hanna yang kiri mulai meraba raba  dada suami palsunya itu. Mengusap-usapnya perlahan, ceritanya dia sedang mencoba merayu pria itu.


Damian tambah keheranan saja dengan kelakuan Hanna. Dadanya langsung dag dig dug saja dirayu seperti itu. Apalagi dirayu Hanna yang biasanya tidak pernah genit begini.


“Hanna,” panggil Damian. Tapi jari tangan kiri Hanna langsung menempel di bibir Damian.


“Ssst, aku yang bicara,” jawab Hanna, dengan suara yang lembut.


Karena Hanna bergerak, membuat rok Hanna tersingkap lagi. Raut wajah Damian sampai merah lagi melihatnya. Kenapa Hanna harus duduk dipinggir kursi begitu dengan rok selututnya? Tangan Damian kembali menarik rok itu supaya menutup pahanya.


“Terbuka sedikit kan tidak apa-apa,” ucap Hanna, semakin membuat wajah Damian memerah. Diapun bertanya-tanya apalagi yang akan dilakukan wanita ini? Dia akan merayunya di kantornya? Yang benar saja, bergenit genit dikantor, kantor bukan untuk bergenit genit.


Tangan kanan Hanna yang merangkul lehernya menyentuh pipinya, mengusapnya dengan lembut.


“Apakah kau akan meninjau lokasi hari ini?” tanyanya.


“Iya, kenapa?” tanya Damian, dia menahan hasrat yang mulai timbul gara-gara Hanna mengusap usap pipinya. Dia tidak berani memutar kepalanya kearah Hanna, karena nanti pandangannya akan mengarah ke dadanya Hanna, membuatnya semakin pusing saja.


“Aku boleh ikut ya,” pinta Hanna, sambil tangan kirinya kembali mengusap-usap dadanya Damian.


“Kau mau ikut ke lokasi? Panas,tidak ada payung,” ucap Damian.


“Kan ada kamu,” ucap Hanna.


“Apa hubungannya payung denganku ?” keluh Damian tidak mengerti.


“Kau akan memayungi hatiku, jadi aku tidak kepanasan lagi,” ucap Hanna.


Apaan sih Hanna, batin Damian.


“Boleh ya aku ikut?” rayu Hanna, kepalanya masih menempel di kepalanya Damian.


Damian melirik rok Hanna yang tersingkap lagi yang memperlihatkan setengah pahanya. Tangan kirinya menarik lagi roknya Hanna supaya menutupi pahanya. Eh tangan Hanna langsung memegang tangan Damian.


“Boleh ikut ya, aku janji tidak akan merepotkanmu,” ucapnya lagi, mengusap usap jari tangannya Damian.


Dirayu-rayu seperti itu, membuat wajah Damian semakin merah.


“Kau tidak perlu memeluk-melukku seperti ini, malu,” kata Damian.


“Kenapa malu? kita kan suami istri, iya kan?” ucap Hanna. Tangannya kembali mengusap usap punggung


tangannya Damian.


“Bukan begitu..” ucap Damian tapi dipotong Hanna.


“Ayolah sayang, boleh ya ikut ya,” pinta Hanna, kini menyentuh wajah Damian supaya menoleh ke arahnya. Damian pun menatapnya.


“Boleh ya,” ucap Hanna lagi, menatap Damian.


“Iya boleh,” jawab Damian, mengangguk.


“Tapi kau turun dulu dari kursiku,” lanjut Damian.


“Kenapa? Sekali-sekali bermanja manja denganmu kan tidak apa-apa,” keluh Hanna, masih berakting merayu.


“Bukan begitu, malu,” jawab Damian.


“Malu kenapa?” tanya Hanna.


“Tuh,” tangan Damian menunjuk ke sudut ruangan. Membuat Hanna mengerutkan keningnya diapun menoleh kearah sudut ruangan dan matanya langsung terbelalak kaget. Disana banyak orang sedang duduk berkumpul di sofa. Wajahnyapun langsung merah, diapun melihat roknya yang tersingkap gara-gara duduk dipinggiran kursi. Hanna pun cepat –cepat turun dan merapihkan roknya.


Orang-orang itu menatapnya dengan menahan tawa. Hanna menoleh pada Damian. Kalau tadi wajah Damian yang merah sekarang wajah Hanna yang seperti buah naga.


Hanna mendekatkan wajahnya ke wajah Damian.


“Damian, kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau disini banyak orang?”bisik Hanna sangat pelan jangan sampai terdengar oleh tamu-tamu itu.


“Dari tadi aku mau bilang itu,” ucap Damian juga berbisik, sok merasa tidak bersalah. Bibirnya menahan senyum, dia merasa lucu melihat wajah Hanna yang memerah karena malu.


“Bagaimana ini? Aku malu,” ucap Hanna, masih menatap Damian.


Damian cuma mengangkat bahu, membuat Hanna kesal dan cemberut. Melihat Hanna seperti itu membuatnya semakin cinta saja pada wanita itu.


Hanna merapihkan roknya lagi, berusaha tenang, lalu menoleh pada tamu-tamu.


“Maaf ya Bapak-bapak, aku kira tidak sedang ada tamu,” ucap Hanna menahan malu, menebalkan mukanya di depan tamu-tamu.


“Ah tidak apa-apa Bu Damian, istriku juga suka begitu, bahkan dia merayu lebih dari itu,” jawab salah seorang dari tamu. Diikuti tawa tamu yang lain.


“Aku jadi ingat istriku, ingin cepat-cepat pulang,” jawab yang lain , lagi-lagi mereka tertawa.


Hanna melirik Damian yang hanya senyum-senyum saja, dia jadi sebal melihatnya. Kenapa pria itu membiarkannya malu begini.


Hannapun keluar ruangan dengan bibir cemberut dan wajahnya yang merah.


Terdengar lagi suara para tamu itu yang semuanya laki-laki.


“Aku tidak tahan kalau dirayu-rayu istriku seperti itu,” kata salah satunya, lagi- lagi mereka tertawa. Hanna buru-buru meninggalkan kantornya Damian, dia cepat pulang ke rumah, dia benar-benar malu.


Hanna masuk ke kamarnya dengan wajah cemberut dan langsung duduk di kursi meja rias menghapus make upnya sambil menggerutu yang tidak jelas.


“Jadi kau mau ikut ke lokasi?” Tiba-tiba terdengar suara Damian, membuat Hanna menoleh kearah pintu. Pria itu berdiri bersandar di pinggiran pintu dengan melipat kedua tangan di dadanya sambil menatapnya. Dari bibirnya masih terlihat dia menahan senyum.


“Iya,” jawab Hanna sambil cemberut, semakin membuat Damian merasa lucu melihatnya.


“Seharusnya saat berdua seperti ini kau merayuku, bukan sedang ada di kantor,” kata Damian, membuat wajah Hanna semakin merah.


“Aku kan tidak tahu kalau banyak orang,” ucap Hanna.


“Sekarang disini tidak ada siapa-siapa,hanya kita berdua, aku siap kau rayu,” goda Damian.  Wajah Hanna kembali memerah.


“Pergi sana!” usir Hanna, cemberut sambil menatap ke cermin. Bukannya pergi, Damian malah menghampiri Hanna dan berdiri dibelakangnya.


Damian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Hanna.


“Kau sangat sexy tadi,” ucapnya, membuat Hanna marah.


“Jangan menggangguku!” teriaknya. Damianpun tertawa dan pergi menjauh.


“Ayo bersiap-siap kalau mau ikut, aku tunggu dibawah. Padahal tanpa kau rayupun aku akan mengajakmu,” kata Damian sambil tersenyum, membuat Hanna tambah kesal dan menyesal sudah merayu-rayu pria itu.


Kemudian Damian keluar dari kamar mereka.


Hanna terus saja memberengut, dia masih tidak bisa melupakan malunya tadi didepan Bapak-bapak itu. Bagaimana kalau bapak-bapak itu juga mau melihat lokasi? Pasti sangat memalukan. Hanna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


**************


Jangan lupa like vote dan komen