Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-113 Aku pergi



Mobilnya Pak Louis memasuki halaman kantornya Damian. Diapun segera turun setelah supir memarkir mobilnya.


Satria yang kebetulan baru keluar dari kantor, melihat kedatangannya. Diapun segera menghampiri.


“Siang pak Louis, kau datang sangat mendadak,” sapa Satria dengan senyum ramah.


“Aku mencari Damian,” jawab Pak Louis dengan ketus, wajahnya terlihat memerah seperti menahan marah, membuat Satria merasa keheranan, tapi dia tidak bisa bertanya lebih lanjut.


“Silahkan tunggu didalam kakakku sedang keluar, tadi supir sedang menjemputnya,” jawab


Satria.


“Aku juga ingin bertemu istrinya, dimana dia?” tanya Pak Louis, mendengar pria itu mencari Hanna, Satria langsung berkesimpulan kedatangan Pak Louis ada alasan pribadi bukan pekerjaan.


“Apa Bapak mau menunggu didalam rumah? Mari aku antar, sebentar lagi kakakku dan kakak ipar akan tiba,”kata Satria.


Mendengar Satria menyebut Hanna kakak ipar, hati Pak Louis semakin kesal saja pada Damian, semua orang dibohonginya, termasuk adiknya sendiri.


Akhirnya Satria mengajak Pak Louis menunggu didalam rumah.


Saat Satria keluar rumah dia melihat Damian dan Hanna turun dari mobilnya yang dibawa supir tadi, karena Cristian menginggalkan mereka di pantai itu.


Diapun menghampiri kakaknya.


“Kakak, ada Pak Louis di rumah,” kata Satria. Hanna menoleh pada Damian, hatinya sangat gelisah, tangannya mendadak gemetaran.


“Ya aku akan menemuinya,” jawab Damian, tangannya langsung meraih tangan Hanna, menuntunnya menuju rumahnya. Satria merasakan sesuatu gelagat yang aneh, ada apa Pak Louis memilih menunggu di rumah daripada di kantor, ada urusan priabdi apa?


Damian masuk kedalam rumah, dilihatnya Pak Louis sedang berdiri ditemani asistennya.


“Pak Louis!” panggil Damian, dia mencoba untuk tenang.


Pak Louis menatap Damian dengan tajam juga menoleh pada Hanna.


Tiba-tiba sebuah pukulan mengena diwajahnya Damian yang belum sempat menghindar karena tidak menyangka Pak Louis akan memukulnya.


“Ayah!” teriak Hanna dia sangat terkejut, dia berlari kedepannya Damian mengahalang ayahnya jangan sampai memukulnya lagi.


“Minggir kau, Minggir!” teriak Pak Louis pada Hanna.


“Ayah, tenang dulu, ada apa ini? Kita bicarakan baik-baik,  ayah jangan memukul Damian,” kata Hanna sambil memegang tangan ayahnya. Hanna bisa melihat ayahnya sedang marah besar sekarang.


Bukan jawaban yang diterima Hanna, Pak Louis langsung menampar pipi Hanna dengan keras. Plak!


“Apa yang ayah lakukan?” tanya Hanna sambil megang pipinya yang terasa sakit, airmata langsung menetes dipipinya, ini adalah pertama kalinya ayahnya menamparnya.


“Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu!” maki Pak Louis.


Damian yang melihat Hanna ditampar, dia langsung menarik Hanna supaya berdiri dibelakangnya.


“Jangan memukul Hanna, pukul saja aku!” kata Damian.


“Kau, apa yang telah kau lakukan pada putriku? Pria brengsek!” teriak Pak Louis. Satria yang tadi masih diluar, mendengar suara ribut-ribu di dalam rumah segera naik keatas. Dia terkejut melihat pertengkaran itu, tapi dia bingung dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Hanna masih menangis, merasakan sakit dipipinya, berdiri dibelakang Damian, memegang tangan Damian dengan kuat.


“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Damian.


“Jangan berpuar-pura lagi! Katakan kalau kalian memang belum menikah!” teriak Pak Louis. Mendengar pertanyaan nya Pak Louis, Satria sangat terkejut, apa maksud dari perkataan Pak Louis itu?


“Ayah, kami sudah menikah, aku sedang hamil,” jawab Hanna, dia berjalan kedepannya Damian.


“Diam kau!” bentak ayahnya, Hanna pun terdiam. Pak Louis menatap Damian lagi dengan sorot mata tajam.


“Kau benar-benar brengsek! Kau sudah melecehkan putriku!” bentak Pak Louis lagi.


Satria tambah terkejut saja dengan perkataannya Pak Louis, ternyata Hanna adalah putrinya Pak Louis, yang mengherankan perkataan Pak Louis sangat membuatnya bingung.


“Aku minta maaf, ini hanya kesalah-fahaman!” kata Damian.


Pak Louis menatap Hanna.


“Katakan padaku, apa kau menikah dengan pria ini?” tanya Pak Louis dengan keras. Hanna terdiam.


“Katakan!” bentak Pak Louis. Membuat Hanna terkejut, diapun akhirnya menggeleng. Pak Louis benar-benar menahan amarahnya.


“Kau juga tidak sedang hamil?” tanya Pak Louis lagi. Hanna menggeleng, dia tidak bisa menatap ayahnya, dia terus menunduk dengan airmata yang terus menetes dipipinya.


“Kau mencintai pria ini?” tanya Pak Louis, menunjuk Damian. Hanna mengangguk.


“Kau buta! Kau dilecehkannya dan kau mau saja! Apa-apaan kau ini?” bentak Pak Louis. Hanna tidak menjawab.


“Aku memilih menikahkanmu dengan pria sebaik Cristian, kau memilih laki-laki bejad seperti ini? Kau letakkan dimana otakmu? Kau tinggal bersamanya! Kau tidak dinikahinya dengan benar! Benar-benar tidak punya harga diri!” teriak Pak Louis.


Hanna terus menangis mendapat makian dari ayahnya.


“Kenapa kau melakukan itu semua? Demi uang? Kau tidak kekurangan uang, Hanna! Kau memiliki segalanya!” teriak Pak Louis lagi, masih diliputi amarah.


“Diam kau! Aku tidak akan pernah menikahkanmu dengan putriku!” teriak Pak Louis pada Damian.


“Ayah, Damian tidak bersalah, semua salahku karena menumpang dimobilnya Damian saat aku kabur dari pernikahanku,” kata Hanna.


Pak Louis menatap Hanna lalu pada Damian.


“Kelakuan kalian benar-benar memalukan! Berpura-pura menikah, membuat pesta mewah, menyewa orang tua palsu, benar-benar keterlaluan!” teriak Pak Louis.


“Semua itu tidak kami sengaja, aku minta maaf,aku bisa menjelaskan semuanya, aku akan bertanggungjawab pada Hanna, aku tetap akan menikahinya,” kata Damian.


Tapi baru juga dia diam, Pak Louis mencengkram bajunya Damian, Hanna langsung menghalanginya, memeluk Damian.


“Stop ayah!” teriaknya.


Pak Louis melepaskan cengkramannya.


“Aku tidak akan menikahkanmu dengan putriku!” kata Pak Louis dengan tegas, lalu menoleh pada Hanna.


“Ayo pulang!” ajak Pak Louis.


“Tidak ayah,” jawab Hanna, masih memeluk Damian.


“Ayo pulang!” teriak Pak Louis lagi.


“Tidak ayah,” Hanna menggeleng.


“Kau tidak pulang, laki-laki ini tidak akan pernah bisa keluar dari sini!” ancam Pak Louis.


Mendengar ancaman ayahnya, hati Hanna menciut, dia mulai melepaskan pelukannya. Damian memegang tangannya, menatap wajah wanita itu yang berurai airmata.


Hanna menatap Damian dalam matanya yang berkaca-kaca.


“Ayo pulang!” teriak Pak Louis lagi.


Tangan Hanna menyentuh wajahnya Damian, airmata terus menetes dipipinya, mengusap wajah itu dengan lembut. Lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Damian dan mencium bibirnya.


“Aku pergi,” ucap Hanna. Melepas ciumannya. Damian merasakan bibirnya Hanna bergetar saat menciumnya dan jari Hanna menyentuh wajahnya dengan pelan.


“Tidak, kau tidak boleh pergi, aku mencintaimu Hanna,” kata Damian, dia tidak rela Hanna akan meninggalkannya.


Hanna tidak bicara lagi, dia melepaskan tangannya Damian yang memegang lengannya.


“Ayo!” ajakPak Louis, tangannya menarik tangan Hanna dengan paksa, sampai Hanna terlepas dari Damian.


Pak Louis menoleh sekali lagi pada Damian.


“Jangan pernah menemui putriku lagi dan segera angkat kaki dari sini!” kata Pak Louis, lalu menarik Hanna lagi mengajak keluar dari rumah itu diikuti asistennya.


Satria yang dari tadi berdiri ditangga kebingungan. Dia melihat Pak Louis melewatinya dengan menarik tangan Hanna diikuti asistennya. Diapun segera masuk kedalam rumah menemui kakaknya.


“Kakak, apa yang terjadi? Ada apa ini?” tanya Satria.


Damian tidak bicara, kakinya menendang tong sampah yang ada didekatnya, dia kesal dia juga marah tapi tidak ada yang bisa dilakukannya, diapun meremas rambutnya dengan kesal.


“Katakan apa yang terjadi? Kenapa Pak Louis membawa kakak ipar dan kenapa kakak ipar bilang kalian belum menikah, ada pa ini?” tanya Satria, kebingungan.


Damian masih tidak menjawab, dia duduk dikursi mencoba menenangkan dirinya. Hatinya sangat sedih dia kahilangan Hanna, bagaimana dia bisa mendapatkan Hanna kembali? Dia sudah terbiasa dipeluk Hanna, dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa Hanna.


Satria ikut duduk di dekat kakaknya.


“Pak Louis adalah ayahnya Hanna, dan dia marah karena ternyata kalian belum menikah? Apa benar apa yang aku dengar itu?” tanya Satria.


“Kau benar,” jawab Damian, kini bersandar di sandaran kursi dan memejamkan matanya.


“Aku telah kehilangan kakak iparmu, Satria,” ucap Damian.


“Kakak aku sangat terkejut, jadi sebenarnya kalian belum menikah? Tapi pesta itu?” Satria kebingungan.


“Semua karena salah faham.  Hanna kabur dihari pernikahannya dengan Cristian, dia menumpang mobilku dan saat diacara perusahaan itu semua orang mengira Hanna adalah istriku aku tidak sempat menjelaskannya, semua terjadi begitu saja, itulah awal dari semuanya. Lalu ibumu membuat resepsi, membuat kebohongan terus berlanjut,” kata Damian.


Satria terkejut mendengarnya, dia benar-benar tidak menyangka akan seperti itu kejadiannya.


“Tapi sekarang aku benar-benar mencintai Hanna, aku sudah melamarnya, aku ingin menikah dengannya,” lanjut Damian.


“Kalau begitu lamar kakak ipar pada Pak Louis,” saran Satria.


“Tidak semudah itu, melihat Pak Louis sangat marah dan tersinggung, aku benar-benar tidak menyangka semua ini akan tejadi, aku tidak menyangka kebohongan ini akan berlanjut, semuanya tidak disengaja,” kata Damian.


Satria tidak bicara lagi.


“Waktu itu aku sibuk, aku tidak sempat mengurus kesalahfahaman itu,” lanjut Damian.


Satria terdiam ,menatap kakaknya yang terlihat frustasi. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, dia juga bisa membaca Pak Louis tidak akan mudah memberikan restu pada kakaknya.


****************