Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-106 Aku hamil



Henry menjalankan mobilnya dengan pelan, hati dan fikirannya terus memikirkan Shezie ternyata dia masih merasa cinta pada wanita itu, dia sangat merindukannya. Setelah tangannya mengusap wajahnya berkali-kali, dia mencoba melupakan bayangan Shezie tapi wajah wanita itu sangat melekat di dalam bayangannya. Dia begitu merindukannya


Andrea kesal bukan main karena Henry diam saja sepanjang jalan.


“Kau memikirkan Shezie? Dia itu sudah akan menikah dengan Martin beberapa hari lagi, undangannya juga sudah disebar, ada temanku yang kebetulan mengenalnya dan di undang ke pernikahan itu,” ucap Andrea.


Henry tidak bicara, dia diam saja.


“Jadi buat apa kau memikirkannya lagi? Kau harus melupakannya kau harus menjalani kehidupan baru,” kata Andrea, dalam hatinya kesal karena Henry masih terus saja memikirkan Shezie.


Henry tidak menjawab.


“Aku mencintaimu Henry, setulus hati aku mencintaimu, tidak bisakah kau belajar untuk benar-benar mencintaiku?” kata Andrea, tangannya menyentuh tangan Henry yang memegang stir.


Apapun yang dikatakan Andrea sama sekali tidak membuat Henry bergeming. Dia terus memikirkan Shezie. Shezie menemui Martin di Hotel Berlin. Tiba-tiba Henry mengambil jalur memutar mobilnya.


“Henry? Kenapa kau memutar mobilnya?” tanya Andrea keheranan.


“Aku akan kembali ke Hotel itu, kau turun , kau pulang pakai taxi saja,” jawab Henry, membuuat Andrea terkejut.


“Kau ini apa apaan? Kau menyuruhku turun dan kau kembali ke Hotel? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Andrea.


“Kau tidak salah, sebaiknya kau turun sekarang, aku buru-buru,” kata Henry, sambil menghentikan mobilnya.


“Henry aku minta maaf kalau kata-kataku menyinggungmu, aku tidak mau turun,” ucap Andrea.


“Aku ada urusan penting, kau pulanglah pakai taxi,” ucap Henry, sambil membuka pintunya Andrea.


“Henry, ada apa sebenarnya?” tanya Andrea kebingungan.


“Kau turun saja, aku buru-buru,” jawab Henry.


Andreapun turun dengan bingung.


“Tapi nanti kau menelponku kan?” tanya Andrea.


“Ya ya nanti aku menelponmu!” jawab Henry lalu menutup pintu mobil itu dan langsung tancap gas.


Andrea terdiam dipinggir jalan, sebenarnya ada apa dengan Henry? Kenapa dia akan kembali ke Hotel itu?


Sementara itu Pak Jodi masih memegang tangan Shezie dengan kuat. Shezie memegang tangan pria itu mencoba melepaskan diri.


“Pak, tolong Pak, biarkan aku pergi, aku janji akan mengembalikan uangnya Martin, tapi tolong lepaskan aku!” kata Shezie.


“Tidak bisa, aku tidak butuh uangku kembali,,” kata Pak Jodi.


“Ayo, kau tenang saja, aku tidak akan menyakitimu,” ucap Pak Jodi, kembali menarik tangannya Shezie.


“Tidak Pak, Aku tidak mau! Aku sedang hamil!” teriak Shezie, membuat Pak Jodi terkejut.


“Apa?” tanya Pak Jodi, menatap Shezie.


“Aku sedang hamil, apa kau tega menodai wanita yang sedang hamil?” tanya Shezie dengan airimata yang langsung tumpah membasahi pipinya.


Pak Jodi melepaskan tangannya Shezie, dia tidak tahu kalau Martin menjual wanita yang sedang hamil, benar-benar keterlaluan Martin!


Shezie memegang pergelangan tangannya yang sakit karena ditarik Pak Jodi.


“Aku hamil, aku sedang hamil,” ucapnya dengan airmata yang terus membasahi pipinya.


Pak Jodi menatap Shezie dengan bingung, meskipun dia pria hidung belang, tapi untuk menodai wanita yang sedang hamil? Dia harus fikir-fikir dulu.


Tiba-tiba, Braak!


Mereka dikejutkan oleh suara seseorang yang menobrak pintu yang memang tidak terkunci itu.


Pak Jodi dan Shezie menoleh kearah pintu. Shezie terkejut saat melihat sosok dipintu itu, begitu juga dengan Jodi, bukan mereka saja tapi yang mendobrak pintupun terkejut melihat siapa yang ada didalam kamar itu.


“Henry!” panggil Shezie.


Henry menoleh kepada Pak Jodi.


“Pak Henry? Kau.. ada apa kau kemari?” tanya Pak Jodi semakin bingung.


Henry menarik nafas panjang, dia lega melihat Shezie baik-baik saja hanya pipinya yang basah menunjukkan kalau wanita itu menangis.


Shezie menatap Henry yang terlihat berkeringat, sepertinya dia habis berlari jauh, mungkin Henry mencari-cari keberadaannya.


“Apa yang kau lakukan pada mantan istriku?” tanya Henry pada Pak Jodi.


“Apa? Mantan istri? Maksudmu apa?” tanya Pak Jodi.


“Wanita ini mantan istriku,” jawab Henry, membuat Pak Jodi terkejut.


Henry menoleh pada Shezie lalu menghampirinya, wanita itu menatapnya disela-sela airmata yang memenuhi kelopak matanya.


“Sayang,” panggil Henry, sambil mengulurkan tangannya.


Shezie hanya mengangguk, hatinya merasa lega Henry datang menyelamatkannya. Entah bagaimana Henry bisa tahu kalau telah terjadi sesuatu padanya?


“Mana Martin?” tanya Henry sambil menoleh pada Pak Jodi.


“Martin? Pak Henry, kau mengenal Martin?” tanya Pak Jodi


“Iya aku mengenalnya. Dimana dia? Dan apa yang Bapak lakukan disini? Kenapa Shezie sampai ada disini dalam keadaan menangis,” tanya Henry, menatap tajam Pak Jodi.


“Aku yang seharusnya bertanya, kenapa Pak Henry  tiba-tiba mendobrak kamarku?” Pak Jodi balik bertanya.


“Aku mencari mantan istriku, aku fikir dia bersama Martin disini, kenapa Shezie ada bersamamu? Ada apa ini? Mana Martin?” tanya Henry.


Pak Jodi terdiam, dia tdak menyangka kalau wanita yang dijual Martin itu mantan istrinya Henry putranya Damian, benar-benar gawat, bisnisnya bisa-bisa diujung tanduk. Damian sangat berpengaruh di dunia usaha di ibukota, bisa-bisa usahanya dibuatnya gulung tikar kalau sampai kejadian ini tercium Damian.


“Katakan ada apa?” bentak Henry, dengan marah. Dia sudah menduga pasti ada yang tidak beres yang dilakukan Martin.


“Pak Henry,aku minta maaf aku tidak tahu kalau wanita ini mantan istrimu, aku minta maaf,” ucap Pak Jodi, berjalan mendekati Henry.


“Jadi apa yang Bapak lakukan disini? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Henry, lalu menoleh pada Shezie yang masih terisak-isak  dipelukannya.


“Kata Martin, Shezie ini calon pengantinnya, dan dia menjualnya padaku,” jawab Pak Jodi, jujur.


“Apa?” Henry terkejut bukan main mendengarnya. Dia langsung melepaskan pelukannya Shezie  dan berjalan mendekati Pak Jodi,  langsung meraih bajunya.


“Tunggu! Tunggu! Pak Henry, aku tidak tahu kalau wanita itu adalah mantan istrimu! Aku hanya tahu dia calon pengantinnya Martin!  Martin kecewa karena dia membatalkan pernikahannya jadi menjualnya padaku!” kata Pak Jodi, dengan kedua tangan yang menghadap Henry menahan supaya Henry tidak memukulnya.


“Aku benar-benar tidak tahu dia mantan istrimu, aku juga baru tahu kalau dia sedang hamil, aku benar-benar minta maaf, tolong jangan sakiti aku, ini salah faham,” kata Pak Jodi, ketakutan Henry memukulnya.


Henry menghentikan gerakannya, dia terkejut saat Pak Jodi mengatakan kalau Shezie sedang hamil.


“Apa? Hamil?” Henry melepaskan bajunya Pak Jodi.


”Iya, mantan istrimu sedang hamil, aku baru tahu tadi,” jawab Pak Jodi.


Henry langsung membalikkan badannya menatap Shezie yang kini menatapnya dengan linangan airmata yang tidak berhenti tumpah di pipinya.


“Sayang, kau hamil?” tanya Henry, dengan tenggorokan yang rasanya tersekat untuk bicara, dia berjalan mendekati Shezie.


Meskipun mereka bercerai sudah satu bulan lebih, Henry merasa yakin itu adalah bayinya, tidak mungkin bayinya Martin, dia tahu kesetiaannya Shezie.


“Iya, Henry, aku hamil, bayimu,” jawab Shezie dengan airmata yang kembali mengalir menganak sungai.


Henry berjalan lebih dekat, tidak ada kata yang bisa diucapkannya, dia bahagia juga merasa sedih, ternyata Shezie hamil, dan dia yakin itu bayinya.


Henry langsung menarik Shezie kepelukannya, memeluknya dengan erat dan mencium keningnya.


“Kau hamil,” gumamnya.


“Iya, kita akan punya bayi,” jawab Shezie menengadah menatap wajahnya Henry.


Tangan pria itu mengusap airmata yang menetes dipipinya Shezie,  kembali mencium keningnya Shezie.


“Aku senang mendengarnya, aku mencintaimu,” ucap Henry.


Diciumnya lagi kening Shezie sekali lagi dengan lama, dia sangat bahagia. Setelah itu Henry melepaskan pelukannya dan menoleh pada Pak Jodi yang  terdiam menyaksikan mereka. Dia merasa lega tidak sampai menodai mantan istrinya Henry, kalau tidak, dia bisa hancur.


“Pak Henry, tolong maafkan aku, tolong jangan mempersulitku pada Pak Damian, tolong jangan mengatakan soal kejadian ini pada Pak Damian, aku sangat malu,” kata Pak Jodi.


“Dimana Martin? Kau pasti tahu kan?” tanya Henry.


“Martin ada di kamarku, nomor 253,” jawab Pak Jodi.


“Antar aku kesana!” kata Henry, sambil meraih tangannya Shezie dibawa keluar dari kamar itu, diikuti Pak Jodi.


Menuju kamar 253 mereka harus naik lift satu lantai lagi. Pak Jodi terlihat sangat pucat dan ketakutan, dia sangat cemas bisnisnya akan hancur karena hal ini.


Begitu sampai di depan kamar 253, Henry langsung menggedor pintu itu berkali-kali.


Martin yang sudah bertelanjang dada, hanya menggunakan celana panjangnya,  menggerutu karena suara ketukan di pintu itu.


“Siapa sih, mengganggu saja,” keluhnya, sambil bangun dari tempat tidur.


 Seorang wanita tanpa memakai busana, muncul dibalik selimut.


“Apa kau memesan sesuatu?” tanyanya.


“Tidak,” jawab Martin.


Terdengar lagi suara gedoran pintu berkali-kali, membuat Martin jengkel. Dengan kesal dia membuka pintu kamarnya dan dia terkejut saat melihat siapa yang berdiri disana. Tapi sebelum di tersadar dengan keadaan, sebuah bogem mentah mendarat diwajahnya sampai dia terjerembab jatuh ke lantai, saking kerasnya.


Bugh!!


*****************