
Wanita bergaun pengantin putih itu berlari melewati jembatan dengan kaki yang tidak beralas, tidak dihiraukannya teriakan orang-orang dari kejauhan, diapun berbelok menuruni jalan setapak menuju jalan tol yang ada dibawahnya.
Hanna berhenti dipinggir jalan tol dengan terengah-engah mengatur nafasnya, dia sangat lelah.
Dilihatnya jalanan tol yang ramai, dia melambai-lambaikan tangannya mencoba menghentikan mobil-mobil yang lewat. Sungguh aneh, kenapa tidak ada satupun mobil yang mau berhenti?
Hingga lewatlah sebuah mobil berwarna hitam dengan kacanya yang hitam, hingga tidak terlihat penumpang di dalamnya.
“Tuan! Tuan! Bolehkan aku ikut menumpang?” teriaknya sambil melambaikan tangannya. Mobil itu pun berhenti di dekatnya. Hanna tersenyum lebar, diapun segera masuk kedalam mobil itu dengan nafas lega.
“Aku menumpang sampai kota ya,” ucap Hanna. Dia kembali mengatur nafasnya supaya lebih tenang. Dilihatnya dijendela kaca mobil itu, orang-orang yang mengejarnya berhenti di jembatan, diapun tersenyum. Akhirnya dia bisa lari dari pernikahannya.
“Huh!” Hanna memonyongkan bibirnya sambil bersandar dengan nyaman.
“Apa kau mau ke ibukota? Aku ikut ke ibukota kalau boleh,” tanya Hanna, sambil menoleh pada si pengemudi dan matanya langsung terbelalak kaget saat melihat si pengemudi itu. Mobil masih terus melaju.
“Damian?” tanya Hanna, wajahnya langsung pucat. Dia langsung menoleh pada pintu mobil yang terkunci. Tapi dia tidak mungkin loncat dari mobil itu.
Akhirnya Damianpun menghentikan mobilnya.
Hanna akan membuka kunci mobilnya, tapi tangan Damian segera menghalangi tangan Hanna memegang pintu mobil, tubuhnya condong mengunci tubuhnya Hanna.
“Ternyata selain tukang tidur kau juga suka main kucing-kucingan,” kata Damian. Tangan kanannya berada dibelakang jok yang diduduki Hanna. Dia mendekatkan wajahnya pada pengantinnya itu.
Hanna langsung cengengesan.
“Hehe..bukan begitu...” ucapnya dengan bingung.
“Bukan begitu apa?” tanya Damian, menatap mata cantik didekatnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Damian melihat keringat dingin keluar dikeningnya Hanna. Jari tangannya melap keringat itu.
“Kau fikir kau bisa lari dari pernikahan kita?” tanya Damian.
Hanna terkekeh lagi.
“Mmm bukan begitu…” ucapnya dengan bingung.
“Bukan begitu apa?” tanya Damian, tangannya sekarang mengambil daun-daun kering dirambutnya Hanna.
“Katakan kenapa kau kabur lagi? Apa kau tidak mencintaiku?”tanya Damian.
“Bukan, bukan itu,” jawab Hanna dengan cepat.
“Terus kenapa?” tanya Damian, lebih mendekatkan wajahnya pada wajahnya Hanna. Menatap wajah cantik yang tampak pucat sekarang.
“Apa kau ingin aku menggigit hidungmu?” tanya Damian.
“Jangan!” seru Hanna spontan memegang hidungnya.
“Kalau begitu katakan kenapa kau kabur dari pernikahan kita?” tanya Damian.
Hanna tampak kebingungan, dia terlihat berkeringat lagi, apalagi pria itu tidak mau menjauh sedikitpun, menggerakkan tubuhnya saja tidak bisa. Pria itu benar-benar menguncinya.
“Aku..” jawab Hanna.
“Aku…” ulang Damian, dia semakin gemas saja pada pengantinya itu.
“Aku..” ucap Hanna lagi.
“Tidak ada alasan!” potong Damian dengan ketus, membuat Hanna diam.
“Kau tidak bisa kabur lagi!” kata Damian. Lalu dia menoleh ke belakang.
“Ayo nikahkan kami sekarang!” kata Damian lagi.
Melihat Damian yang menoleh ke belakang, Hannapun menoleh, ternyata di dalam mobil itu tidak mereka beruda saja tapi ada beberpa orang di dalam sana yang tidak dia kenal hanya satu yang dikenalnya yaitu Satria. Adik iparnya itu malah mencibir kearahnya.
“Siapa mereka?” tanya Hanna, kembali menatap Damian.
“Mereka yang akan menikahkan kita, sayang,” jawab Damian.
“Apa? Menikah? Tunggu tunggu…” seru Hanna. Tangannya melambai ke belakang. Damian menatapnya tajam, Hannapun kembali duduk manis, karena ternyata bukan Satria saja yang dia kenal, tapi ada ayahnya juga.
“Kau pengantin yang sangat merepotkan!” keluh Damian, lalu menoleh pada yang ada didalam mobil itu.
“Ayo nikahkan kami!” kata Damian.
“Tunggu sebentar kami siapkan administrasinya dulu!” kata salah seorang, sambil membuka mapnya.
“Repot amat, ayo nikahkan sekarang!” seru Damian dengan kesal.
“Baik-baik, ayo kita mulai!” jawab salah satu orang itu.
Damian menjauh dari tubuhnya Hanna. Gadis itu melirik ke pintu, Damian langsung menarik tangannya.
“Diam! Kau tidak bisa kabur lagi!” ucapnya sambil memegang tangan Hanna dengan erat.
Entah apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menikahkan mereka, Hanna tidak terlau memperhatikannya, dia hanya merasa gugup melihat mata Damian benar-benar tidak melepaskan tatapannya, tau-tau SAAAH saja yang didengarnya.
“Kau istriku sekarang!” kata Damian, membuyarkan lamunannya.
“Apa?” Hanna terkejut.
“Kau istriku!” jawab Damian dengan kesal.
“Apa kita sudah menikah?” tanya Hanna kebingungan.
“Sudah barusan!” jawab Damian.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kaca jendela mobilnya disebelah Damian.
Tok tok tok!
“Maaf mengganggu!” terdengar suara dari luar.
Damian semakin kesal saja sudah repot menangani Hanna, ada gangguan lagi. Diapun membuka kaca mobilnya. Seorang polisi memberi hormat padanya.
“Siang Pak! Maaf Pak, apa ada masalah? Anda berhenti di tempat yang dilarang!” kata Pak Polisi itu. Menundukkan kepalanya melihat kedalam mobil.
“Aku sedang menikah,” jawab Damian.
“Apa? Menikah? Bukankah anda sudah menikah?” tanya Pak Polisi itu sambil mengerutkan dahinya mengingat-ingat kapan dia melihat Damian, wajah itu seperti pernah dia lihat.
Pak Polisi itu memiringkan kepalanya melihat pengantin yang disebahnya Damian, bersamaan dengan Hanna juga menatapnya. Begitu melihat polisi itu Hanna langsung terbelalak kaget, dia ingat ternyata polisi itu adalah polisi yang pernah menghentikan mereka saat berhenti sembarangan dulu.
“Kau!” teriak Hanna dengan keras, membuat semua orang terkejut termasuk polisi itu.
Hanna langsung membuka pintu mobil, mengangkat gaunnya tinggi-tinggi. Dia berjalan memutari mobil dan menghampiri Polisi itu.
“Kau! Kau kan yang mengajari suamiku untuk kawin lagi? Awas kau ya!” maki Hanna, dia mengangak kakinya akan mengambil sepatunya ternyata dia tersadar kalau dia tidak bersepatu.
Polisi itu meringis mendapat makian dari Hanna, lalu menoleh pada Damian.
“Pak, kau menikah lagi?” tanya Pak Polisi itu.
“Iya. Kau kan yang menyuruhku menikah lagi?” jawab Damian.
“Tapi…” Pak Polis itu menoleh pada Hanna yang memelototinya. Hanna ingin sekali memukul pria itu.
“Anda menikah lagi dengan istri anda?” tanya Pak Polisi, kembali meringis melihat wajah Hanna yang seram.
“Iya,” jawab Damian.
“Tapi maksud saya, anda menikah lagi dengan gadis lain bukan dengan istri anda lagi!” kata Pak Polisi itu.
Mendengar jawaban Pak Polisi itu, Hannapun marah, dia kembali mengangkat gaunnya dengan tangan kirinya, tangan kanannya mengepal akan memukul Pak Polisi itu.
“Kau! Awas kau ya, aku jambak jambak kau!” makinya, sambil mendekati Pak Polisi itu dengan meregangkan jari tangan kanannya membuat Pak Polisi itu ketakutan.
“Aduh Pak, bagaimana ini Pak?” serunya, segera bersembungi di balik punggungnya Damian.
“Awas kau ya!” maki Hanna tangannya mengulur akan menangkap Pak Polisi itu.
Pak Polisi itu memegang bajunya Damian, menghindari tangannya Hanna yang ingin menjambaknya. Membuat Damian pusing.
“Stop!” teriak Damian dengan keras, membuat Hannapun diam.
Damian menoleh pada Pak Polisi yang sekarang berdiri dengan tegak lagi.
“Ehm! Ehm!” Pak Polisi berdehem mengembalikan wibawanya, sambil merapihkan bajunya lagi. Diapun menatap Damian.
“Anda berhenti di tempat yang di larang, Pak!” kata Pak Polisi itu, sambil sesekali melihat pada Hanna yang terus memolototinya sambil bibirnya terus bergerak mengomel entah apa.
Damian dan Hanna seketika terdiam saat melihat dibelakang mobil mereka sudah ada antrian panjang mobil-mobil yang tidak bisa lewat karena jalannya terhalang oleh mobilnya Damian yang berhenti di tengah jalan.
Terdengar klakson-klakson yang tidak sabar atas kejadian itu.
“Anda lihat? Anda mengganggu lalu lintas,” kata Pak Polisi.
“Maaf, beri waktu sedikit lagi,” ucap Damian.
“Waktu apa?” tanya Pak Polisi. Diapun mengacungkan tangannya keatas sepaya para pengemudi menghentikan klaksonnya. Yang seketika suasana jadi hening.
“Waktu untuk apa? Jangan terlau lama! Anda membuat macet!” kata Pak Polisi.
“Aku belum mencium pengantinku!” jawab Damian.
Membuat Pak Polisi itu terkejut.
“Belum mencium pengantinmu? Baiklah, aku beri waktu beberapa menit saja, 2 menit, 2 menit saja, jangan lama-lama,” jawab Pak Polisi , diapun berjalan menjauh, lalu memperhatikan mereka sambil melipat kedua tangannya.
Damian menoleh pada Hanna yang masih mendelik sebal pada Polisi itu, tangannya langsung meraih pinggangnya Hanna ke dekatnya membut Hanna terkejut. Karena tubuhnya sekarang menempel ditubuhnya Damian.
Merekapun bertatapan.
“Ada apa?” tanya Hanna, dengan jantung yang berdebar-debar kencang.
Tapi belum juga ingatannya kumpul karena tadi kaget saat Damian menariknya, bibir pria itu sudah menempel dibibirnya, menciumnya dengan lembut. Ternyata tidak hanya menempel saja, Damian memagut dan menggigit bibirnya dengan mesra. Bukan sekali, tapi dua kali, lagi dan lagi, sepertinya Damian tidak bosan menciumnya.
Semua mata melongok keluar jendela mobil menatap mereka yang berciuman ditengah jalan. Yang dari tadi merasa kesal ingin lewat karena jalan macet karena ulahnya Damian, kini rela menunggu pengantin itu berciuman.
Bayangan merekapun bergerak mundur mengingat-ingat saat mereka menjadi pengantin bagi yang sudah menikah. Bagi yang belum menikah mereka membayangkan mencium kekasihnya, dan bagi yang jomblo hanya bisa berhayal mereka yang menjadi pengantin yang ada di tengah jalan itu.
Tangan Hanna meremas jasnya Damian, merasakan ciuman mesranya Damian. Ini adalah ciuman pertamanya Damian padanya, ciuman yang berjalan mulus tanpa ada gangguan.
SSSSTTT bukan tanpa ada gangguan!
Tiba-tiba muncul suara sirine yang membuat Damian melepas ciumannya.
NGIUNG NGIUNG NGIUNG!
Semua mata menoleh ke arah suara, ternyata sebuah mobil ambulance lewat dan berhenti di depan pengantin yang sedang berciuman itu.
Damian dan Hanna saling pandang. Damian menarik Hanna kepinggir jalan, memberi jalan mobil ambulance itu lewat, akhirnya mobil itu lewat dengan suara sirinenya yang keras.
Semua orang bingung, kenapa mereka tidak bisa melewati mobilnya Damian tapi ambulance itu bisa? Apakah itu benar-benar ambulance atau ambulance kasat mata? Membuat bulu kuduk merinding saja di siang bolong.
Damian kembali menoleh pada Hanna, yang masih terkesima dengan ciumannya Damian.
“Kau berhasil menciumku,” ucap Hanna.
“Ternyata aku harus menikahimu dulu baru bisa bebas mencium bibirmu,” kata Damian, menatap Hanna dengan penuh cinta.
“Kau menyukai ciumanku?” tanya Damian, kemudian.
“Aku menyukainya,” jawab Hanna.
“Kau ingin aku menciummu lagi?” tanya Damian.
Hanna mengangguk, dengan wajahnya yang merah. Damian kembali menarik pinggangnya Hanna merapat ketubuhnya, lalu menundukkan kepalanya akan kembali menciumnya tapi PRIIIIT!
Tendengar suara peluit di dekat mereka, membuat Damian menoleh ternyata Pak Polisi yang tadi sudah berdiri didekat mereka.
“Lanjutkan di rumah saja! Jangan membuatku iri karena istriku jauh di rumah!” kata Pak Polisi itu, membuat pengantin merasa kecewa.
Damian menoleh lagi pada Hanna.
“Sayang, kita lanjutkan dirumah saja,” kata Damian.
“Tapi kita mampir dulu ke toko,” jawab Hanna.
“Ke toko? Untuk apa?” tanya Damian, keheranan.
“Aku harus membeli kalkulator dulu, karena kalkulator yang kau berikan ketinggalan di rukanmu,” jawab Hanna, membuat Damian langsung bermuka masam, inilah awal kebangkrutannya.
Dia akan protes tapi terdengar lagi peluit dari Pak Polisi itu, akhirnya Damian mengalah dan bersabar, memeluk istrinya masuk ke dalam mobil.
Sebelum masuk ke dalam mobil,Hanna terkejut saat menyadari ada sebuah spanduk terentang diatas jalan tol itu.
DILARANG MENGANGKUT PENGANTIN SEMBARANGAN!
Mengangkut? Memangnya sampah diangkut angkut? Hemm pantasan dari tadi tidak ada mobil yang mau berhenti, ini pasti ulah Damian, batin Hanna.
Drama di jalan tolpun usai, Damian kembali menjalankan mobilnya dengan pelan, kemacetanpun terurai.
***********
Episode-episode terakhir, jangan lupa vote ya…