Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-89 Mengurai masa lalu ( part 1 )



Damian menghentikan langkahnya, matanya mengedar lagi ke sekeliling dan terhenti pada sosok wanita yang menggunakan penutup kepala yang menutupi seluruh rambutnya, wajahnya sangat pucat. Wanita itu duduk sendirian menggunakan kursi roda, dekat kursi taman dibawah sebuah pohon yang rindang.


Damian menghela nafas panjang lalu dia melangkah mendekati sosok itu.


“Shezie, tolong telpon Bi Ijah, supaya jangan lupa menyiram bunga-bunga didepan rumah,” ucap Bu Vina, saat mendengar ada suara langkah yang semakin mendekatinya.


Tapi kemudian Bu Vina terdiam, itu bukan suara langkahnya Shezie, itu suara langkah sepatu…itu langkah sepatu laki-laki.


Diapun memutar kursi rodanya sedikit melihat kearah yang datang. Bu Vina terkejut saat melihat sosok yang sekarang berdiri di depannya, Damian.


Hanna terus mengikut langkahnya Damian, dia bersembunyi di sebuah tiang penyangga bangunan. Dilihatnya Damian menghampiri seseorang yang berkursi roda dan benar, wanita itu adalah ibunya Shezie.


Hannapun melihat kesekeliling, dia harus bisa mendengarkan obrolan mereka. Dia heran kenapa menemui ibunya Shezie sendirian? Padahal Henry itu kan putranya juga, bukan putra Damian saja.


Hanna melihat ada sebuah pohon besar yang tidak begitu jauh dari tempatnya Damian dan ibunya Shezie bicara. Diapun pindah bersembunyi dibalik pohon itu mencoba mendengarkan percakapan mereka.


Damian maupun ibunya Shezie sama sekali tidak menyadari ada yang memperhatikan mereka karena perhatian mereka tertuju pada orang yang ada didepan mereka.


“Kau, akhirnya kau datang juga,” kata Ibunya Shezie, memalingkan muka tidak mau melihat Damian.


“Kau sudah bisa melihat?” tanya Damian, karena waktu dia kerumahnya ibunya Shezie itu tidak bisa melihat.


“Darimana kau tahu kemarin aku tidak bisa melihat? Jadi sebenarnya kau tahu keberadaanku?” tanya Bu Vina. Diapun teringat tamu yang aneh waktu itu, yang mengetuk pintu rumahnya berkali-kali tapi tidak bicara, apakah itu Damian? Damian datang kerumahnya?


“Sebaiknya kau pergi, kau tidak mau bicara denganmu!” usir Bu Vina, memutar kursi rodanya.


Damian melangkah ke depan Bu Vina.


“Kita harus bicara,” kata Damian.


“Bicara apa? Tentang putramu?” tanya Bu Vina.


Hanna yang sedang berlindung dibalik pohon keheranan, kenapa Bu Vina bicara putramu, apa Bu Vina tahu kalau Henry itu putranya Damian?


“Kau tahu dia putraku?” tanya Damian, berdiri disamping kursi roda, pandangannya jauh kearah orang-orang yang sedang berjalan jalan menghirup udara segar diluar kamar ruang inap.


“Saat aku melihat putramu yang mirip denganmu, aku juga menemukan gaun pengantinnya Shezie yang mahal, aku sadar Shezie menikahi pria kaya, jadi aku mencari tahu dengan siapa Shezie menikah. Ternyata Henry adalah putramu,” kata Bu Vina.


Hanna semakin tidak sabar saja dan penasaran ada hubungan apa Damian dengan ibunya Shezie, ternyata mereka saling kenal.


Henry dan Shezie tiba ditaman. Mereka terkejut saat melihat ibunya sedang bersembunyi dibalik pohon memperhatikan seseorang.


“Ibu? Ibu sedang apa?” gumam Henry, Shezie tidak menjawab, dia juga keheranan.


Saat Henry akan melangkah mendekati ibunya, Shezie menahannya.


“Kenapa?” tanya Henry.


“Ada ayahmu bicara dengan ibumu,” jawab Shezie.


Henrypun menoleh pada Damian yangs sedang bicara dengan  ibunya Shezie.


Merasa ada yang memperhatikan, Hanna menoleh ke belakang, dilihatnya ada putranya dan Shezie yang menatapnya. Diapun melambaikan tangannya pada mereka. Dengan bingung Henry dan Shezie mendekati Hanna yang langsung mengacungkan jarinya ditempelkan ke bibirnya.


Merekapun ikut bersembunyi dibalik pohon itu dan ikut mendengarkan.


“Jadi kau sudah tahu kalau Henry putraku?” tanya Damian pada Bu Vina.


“Iya,” jawab Bu Vina.


Henry saling pandang dengan Shezie.


“Jadi kau tidak merestui pernikahan mreka?” tanya Damian.


Mendengar pertanyaan Damian, Bu Vina langsung menatapnya dan bicara keras.


“Bagaimana mungkin aku merestui putriku menikah dengan putramu? Apa kau gila?” maki Bu Vina.


“Jadi kau merestui mereka? Kau tidak keberatan Henry menikah dengan putriku?” tanya Bu Vina.


“Aku tidak masalah yang penting Henry bahagia, asal Hanna tidak mengetahui apa-apa tentang masa lalu kita,” jawab Damian.


Bu Vina tersenyum sinis.


“Ternyata kau memikirkan perasaan wanita itu?” ucap Bu Vina dengan ketus, terlihat sekali kalau dia tidak suka pada Hanna.


“Dia istriku,” jawab Damian.


“Sebaiknya kau pergi, aku tidak mau bicara denganmu,” usir Bu Vina.


“Aku kesini ingin melamar Shezie untuk Henry. Henry mencintai Shezie, dia ingin melanjutkan pernikahannya dengan Shezie, dan Shezie juga setuju,“ kata Damian.


“Sampai kapanpun aku tidak akan merestui mereka. Shezie akan menikah dengan Martin,” ucap Bu Vina, nadanya ketus tapi matanya sudah memerah seakan menahan airmatanya tumpah.


“Tidak bisakah kita melupakan masalalu kita demi kebahagiaan putra dan putri kita?” tanya Damian.


Bu Vina menatap Damian dengan tajam.


“Kau bisa dengan mudahnya bicara begitu, karena bukan kau yang tersakiti tapi aku!” teriak Ibunya Shezie.


Hanna yang mendengar percakapan mereka mematung tidak mempercayai pendengarannya, jadi Damian punya masa lalu dengan ibunya Shezie.


“Aku minta maaf,” ucap Damian.


Bu Vina terdiam, menahan rasa sesak yang mulai memenuhi dadanya.


“Tapi mereka saling mencintai, apa kau tega memisahkan mereka? Shezie juga mencintai Henry,” kata Damian, masih dengan nada hati-hati.


“Jadi menurutmu aku harus berdampingan dalam satu keluarga dengan wanita yang telah mengambil posisiku begitu?” maki Bu Vina.


“Tidak ada yang mengambil posisimu! Semua terjadi begitu saja! Hanna tidak bersalah!” kata Damian, mencoba menjelaskan.


“Terjadi begitu saja katamu? Kau menghianatiku Damian! Kau menikah dengannya!” teriak Bu Vina, sampai beberapa orang yang melintas melihat kearah mereka.


Damian terdiam, dia tidak langsung menyela, dikhawatirkan pertengkaran terjadi dan memancing perhatian orang, juga kondisi Bu Vina yang lemah, jadi dia berusaha untuk tenang.


Hanna semakin merasakan tubuhya kaku, ternyata Damian memang punya hubungan dekat dengan ibunya Shezie, hatinya langsung merasa lesu. Apa arti semua ini? Apa yang sebenarnya yang telah terjadi berpuluh tahun yang lalu? Apakah dia merebut Damian dari ibunya Shezie?


Henry menoleh pada ibunya dan memeluk bahunya, lalu menoleh pada Shezie yang sekarang pucat pasi.


“Sebelum berangkat keliling Eropa kau berjanji akan kembali tapi kau tidak pernah kembali, kau malah menikah dengannya! Kau menyakitiku Damian, kau menghianatiku!” kata Bu Vina.


Damian masih terdiam, dibiarkannya Bu Vina mengeluarkan unek-uneknya.


“Aku benar-benar tulus mencintaimu, aku percaya kau tidak sama dengan pria-pria kaya lain yang mengobral janji pada gadis gadis tapi ternyata kau sama saja! Kekayaan kau gunakan untuk mempermainkan perasaan perempuan,” lanjut Bu Vina.


Damian masih tidak menjawab, dia mendengarkan apapun yang ibunya Shezie katakan.


Bu Vina menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya dan bicara lagi.


“Aku tahu pria sepertimu pasti punya banyak janji pada gadis-gadis dimanapun kau singgah. Aku sadar aku tidak secantik dan sekaya wanita-wanita yang kau kencani, tapi aku sangat percaya pada janjimu untuk kembali, tapi kau begitu cepat melupakanku, kau langsung menikah dengan wanita lain, aku sangat kecewa,” ucap Bu Vina.


Damian menoleh pada Bu Vina, yang sedang melihat kearah lain seolah tidak ingin melihatnya.


“Aku minta maaf soal itu, aku tidak sengaja menikah dengannya!” kata Damian.


“Dasar laki-laki, kau bilang tidak sengaja menikah dengannya, tapi kau punya anak dari wanita itu!” cibir Bu Vina.


Hanna masih berdiri di persembunyiannya dengan kaki yang terasa melayang. Dia tidak menyangka kalau wanita dimasa lalunya Damian adalah ibunya Shezie, mertua dari putranya.


*************