
Martin tiba dirumahnya Shezie dengan tergesa-gesa, dia terlihat sangat khawatir dan langsung menuju kamarnya Bu Vina.
“Sayang, bagaimana keadaan ibumu?” tanyanya sambil mendekati Bu Vina.
Martin duduk dipinggir tempat tidur, menyentuh tangan ibunya Shezie.
Bu Vina tidak bereakssi apa-apa, Martin menoleh pada Shezie, lalu berdiri dan menarik tangan Shezie mengajaknya keluar dari kamarnya Bu Vina.
“Ada apa?” tanya Shezie.
“Kau ingat ada syaratnya kan?” tanya Martin ,menatap mata Shezie. Gadis itu diam.
“Apa syaratnya?” tanya Shezie.
“Apapun,” jawab Martin.
“Apapun?” tanya Shezie lagi.
Martin menggangguk, dengan lesu akhirnya Shezie mengangguk, yang penting sekarang adalah keselamatan ibunya.
“Bagus,” ucap Martin, tangannya akan menyentuh pipi Shezie yang langung menghindarinaya. Martin hanya tersenyum menatap gadis angkuhnya, diapun segera masuk lagi ke kamar Bu Vina.
“Bu, Shezie menelpon katanya ibu drop, aku kesini akan membawa ibu kerumah sakit,” kata Martin
Bu Vina tidak bergeming.
“Bu, aku antar ibu ke rumah sakit sekarang, ibu jangan khawatir aku pasti selalu ada buat Shezie dan ibu. Ibu juga harus memaafkan Shezie, dia hanya terpengaruh oleh pria itu jadi tidak tahu mana yang benar dan salah, Shezie sudah berjanji akan menurut apapun keinginan ibu,” kata Martin, sambil memegang tangan Bu Vina.
Shezie sebal mendengar ucapan Martin, sempat-sempatnya dia menjelekkan Henry di depan ibunya. Pria itu menoleh ke arahnya.
“Sayang, bukakan pintu mobilku, aku yang akan menggendong ibumu,” kata Martin, sambil memberikan kunci mobil pada Shezie, yang langsung menerimanya.
Martin langsung memangku tubuhnya Bu Vina, sedangkan Shezie buru-buru berlari ke mobilnya Martin, membukakan pintunya untuk Martin memasukkan ibunya Shezie dalam mobil. Setelah itu Shezie masuk kedalam mobil menemani ibunya yang sedang berbaring di pangkuannya.
Martin buru-buru duduk dibelakang kemudi, setelah Bi Ijah juga masuk, mereka langsung menuju rumah sakit.
Ada lega dihati Shezie, ibunya tidak menolak dibawa kerumah sakit. Bu Vina langsung ditangani Dokter ahli dirumah sakit ini.
Martin benar-benar diatas angin, dia senang sebentar lagi adalah kemenangannya. Shezie duduk di kursi tunggu, Martin mengikutinya duduk disampingnya.
Pria itu menoleh pada Shezie, tangannya menyibakkan rambutnya Shezie ke belakang bahunya, Shezie masih menghindar menjauhkan kepalanya. Martin tersenyum, mungkin ini yang membuatnya tidak menyerah mengejar gadis ini, karena Shezie tidak mudah di dapatkan, memberikan kepuasan tersendiri buatnya. Tidak seperti gadis-gadis yang biasa dikencaninya, sekali dia mengeluarkan uang mereka akan menempel seperti perangko.
Mendapatkan gadis seperti Shezie akan sangat membahagiakannya. Si gadis angkuh itu akan ada dalam genggamannya. Apalagi Shezie sangat berubah, dia jauh lebih cantik dari dulu, dia semakin tidak mau melepasnya.
Martin mengeluarkan sesuatu di saku bajunya, sebuah kertas putih yang dilipat itu dibukanya. Dia juga mengambil sebuah ballpoint dari saku yang lainnya, lalu disodorkan pada Shezie.
“Tandatangan!” kata Martin, sambil menyodorkan kertas itu pada Shezie.
Shezie melirik kertas itu.
“Apa itu?” tanya Shezie.
“Baca,” jawab Martin.
Shezie menerima kertas itu dan membacanya, dia terbelalak kaget saat mebacanya, lalu menoleh pada Martin.
“Kenapa? Kau pasti sudah tahu apa yang aku inginkan kan?” tanya Martin balas menatap Shezie.
Sheziepun diam, memalingkan mukanya.
“Itu surat pernyatan kalau kau akan bercerai dari Henry dan segera menikah denganku. Ada materai disitu, jika kau ingkar janji aku akan menuntutmu ke jalur hukum,”kata Martin.
“Kau benar-benar akan melakukan ini?” tanya Shezie.
“Tentu saja, sayang, hanya satu yang kuinginkan dari dulu adalah aku menikah denganmu, hanya itu,” jawab Martin dengan nada tinggi.
Shezie kembali diam.
“Apa kau yakin mau menikah dengan wanita yang tidak mencintaimu? Asal kau tahu aku dan Henry sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya,” kata Shezie.
“Aku tidak peduli, aku hanya ingin kau menikah denganku, cepat tandatangan! Jangan banyak drama lagi, aku sudah muak!” ujar Martin memberikan bolpointnya ke tangan Shezie.
Shezie menerima ballpoint itu dengan gemetar, keringat dingin langsung membasahi kening juga telapak tangannya yang memegang akat tulis. Dia teringat Henry dia sudah berjanji pada Henry apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkannya, tapi sekarang apa? Jika dia menandatangani surat ini artinya dia meninggalkan Henry. Terjadi perang batin dalam diri Shezie.
“Menunggu apa lagi? Aku sudah berhasil membawa ibumu ke rumah sakit, apa lagi yang kau fikirkan? Jangan katakan sekarang kau berubah fikiran, aku bisa membuat ibumu semakin membencimu, kau mau begitu?” bentak Martin, mulai kesal lagi.
“Kau juga jangan memaksakan diri menikah dengan Henry, kalian tidak akan pernah mendapat restu dari ibumu, apa kau tidak sadar juga?” tanya Martin, menahan marah karena Shezie malah diam saja.
“Cepat tandatangan!” bentak Martin tidak sabar.
Shezie membaca kertas itu lagi yang menyatakan dia mau bercerai dengan Henry dan menikah dangan Martin.
“Ayo tanda tangan!” desak Martin.
Mata Shezie langsung saja memerah.
“Apa lagi sih? Kau memilih bersama pria itu tapi dibenci ibumu begitu?” tanya Martin.
Shezie masih diam.
“Aku heran, apa kurangnya aku? Aku tampan, aku kaya, aku juga perhatian pada ibumu, pria lain belum tentu mau menerima ibumu yang sakit-sakitan, “ kata Martin.
“Henry mau membantu ibuku,” kata Shezie.
“Sudah terlambat, kau sudah terikat lebih dulu dariku, cepat tanda tangan, jangan membuat aku kesal! Aku sudah membantumu membawa ibumu, kau tidak tahu berterimakasih,” gerutu Martin.
Sheize membaca lagi kertas itu, tangannya beralih ke bagian yang harus di tanda tangan yang sudah ditempeli materai.
Shezie masih ragu menandatanganinya. Tapi mengingat lagi ibunya, dia tidak mau mengecewakan ibunya lagi, dia berjanji akan menuruti apapun yang ibunya mau, asalkan ibunya mau berobat dan sehat kembali, asalkan ibunya senang. Mewujudkan impian ibunya ingin melihatnya menggunakan gaun pengantin.
Dengan ragu dan hati yang tekoyak-koyak, Shezie menandatangani kertas itu. Martin langsung tersenyum senang. Dia langsung merebut kertas itu juga alat tulisnya.
“Terimakasih sayang,” ucapnya mendekatkan bibirnya berbisik ke telinga Shezie.
“Maaf aku harus pakai cara ini karena kau terlalu susah diatur,” ucap Martin lagi.
Airmata mulai menggenang dikelopak matanya Shezie, dia akan berpisah dengan Henry, sedih dan sakit hati yang tidak terlukiskan. Kebahagiaannya beberapa hari ini menjadi istrinya Henry akan ditebus dengan penderitaan selamanya dengan pria yang tidak dicintainya.
“Henry aku minta maf aku telah melanggar janjiku,” batinnya, sambil menunduk dan tetesan airmata itu jatuh kepangkuannya.
Martin hanya meliriknya, dia tidak peduli gadis itu mau menangis juga yang pasti dia bahagia ini artinya Shezie akan menjadi miliknya.
Martin mengeluarkan ponselnya, bangun dari duduknya, perlahan agak menjauh dari Shezie dia melakukan panggilan. Tidak berapa lama dia kembali mendekati Shezie.
“Pengacara keluargaku sedang mengurus peceraian kalian,“ kata Martin.
“Secepat itu?” tanya Shezie.
“Tentu saja menunggu apa lagi?” tanya Martin.
“Aku harus bicara dengan suamiku,” kata Shezie.
“Alah, tidak perlu. Aku juga sudah menyiapkan rumah baru untukmu dan ibumu, nanti ibumu pindah berobat, jadi pria itu tidak akan bisa menemukanmu, dia akan langsung mendapat surat perceraian kalian, jadi tidak akan ada yang menggangumu lagi,” kata Martin, tentu saja membuat Shezie terkejut.
“Apa maksudmu dengan semua itu?“ tanya Shezie.
“Tentu saja aku tidak mau pernikahanku gagal, jadi pria itu tidak perlu tahu kau ada dimana,” jawab Martin.
“Kau!” Shezie akan memaki Martin, tapi terhenti saat Martin mengacungkan jari tangannya ditempelkan ke bibirnya Shezie.
“Kau harus berjanji menyetujui apapun permintaanku, jangan pernah ingkar janji. Aku sudah hilang kesabaran, jangan sampai aku berbuat kasar,” kata Martin, semakin memperlihatkan sifat aslinya.
Sheziepun tidak bicara apa-apa lagi. Dia hanya menghapus airmatanya, mencoba untuk kuat dan tidak menangis lagi.
Shezie menunggu Bu Vina yang sudah dipindahkan keruang rawat inap.
“Bagaimana keadaan ibu saya Dok? Matanya bisa kembali normal?” tanya Shezie pada Dokter Arfan yang selesai memeriksa Bu Vina.
“Kita usahakan, kalau kembali melakukan pengobatan rutin kemungkinan bisa berangsur pulih, setidaknya tidak terlalu gelap,” jawab Dokter Arfan.
“Terimakasih Dok,” ucap Shezie, hatinya sedikit lega.
“Kita akan lanjutkan pengobatannya, kau bisa hubungi bagian administrasi,” kata Dokter Arfan.
“Apakah akan ada tambahan biaya untuk pengobatan lainnya Dok?” tanya Shezie.
Dokter Arfan mengangguk.
“Beberapa hari ini ibumu tidak meminum obatnya, jangan biarkan ibumu stress, jangan sampai pengobatannya terganggu, pengobatannya jangan terputus atau kerja kami akan sia-sia, penyakit ini memang sangat rumit, jadi butuh banyak dukungan dari keluarga,” jawab Dokter Arfan.
“Kira-kira perlu tambahan biaya berapa Dok?” tanya Martin.
Hatinya sudah ketar ketir saja, kenapa harus mengeluarkan uang lagi? Bisa-bisa bangkrut mengeluarkan uang terus untuk pengobatan ibunya Shezie ini, sudah Shezienya menikah dengan Henry, tambah rugi saja, batin Martin.
“Silahkan hubungi bagian adminisitrasi,” jawab Dokter Arfan,lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.
Martin melirik ke jari-jarinya Shezie, dijarinya ada dua cincin yang mahal, seharusnya Shezie menjual cincinnya, tapi kalau dia mengatakan itu sekarang, pasti akan ada masalah lagi, sebaiknya dia menghitung dari belakang, dia benar-benar ingin ini adalah pengorbanannya yang terakhir untuk mendapatkan Shezie.
“Baiklah nanti aku kesana,” kata Martin.
“Tidak Martin, sudah cukup, kau sudah banyak membantuku,” ujar Shezie.
“Memangnya kau punya uang?” tanya Martin, dia tidak mau jawabannya Shezie akan minta bantuan Henry, itu sih bisa gagal lagi usahanya.
“Ada sedikit,” jawab Shezie, dia teringat gaun pengantinnya yang banyak bertaburan mutiara, dia akan menjualnya. Kalau untuk menjual cincin pernikahannya, dia keberatan.
Dia juga tidak mungkin meminta uang pada Henry apalagi dengan perjanjiannya dengan Martin yang akan bercerai dengan Henry. Sangat tidak adil kalau dia memanfaatkan Henry.
“Sudah, kau pakai uangku saja, kau kan calon istriku sekarang,” kata Martin sambil tersenyum, padahal dalam hati dia kesal bukan main.
“Ingat Shezie, setiap sen yang aku keluarkan harus kau kembalikan. Aku tidak mau jatuh miskin karena membiayai ibumu,” batinnya.
**********