
Damian mengendarai mobilnya dengan pelan, menyusuri jalan yang ramai oleh para pedagang aneka kerajinan. Dia masih bingung dengan sikapnya Hanna, ada apa dengan Hanna? Hari ini dia terlihat sangat aneh.Hingga tiba-tiba matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang bersama seorang pria., di depan gallery lukisan.
Diapun menghentikan mobilnya. Hatinya langsung tidak nyaman, melihat wanita itu terkesan akrab dengan pria itu yang terlihat sangat tampan dan kaya, dia bisa melihat dari penampilan pria itu. Kenapa Hanna berakrab-akrab dengan pria itu, jangan-jangan Hanna menyukai pria itu. Lihatlah dia tersenyum senang bicara dengan pria tampan itu.
Hanna menoleh pada mobil yang berhenti dipinggirnya itu. Begitu juga dengan Arya. Hanna agak terkejut, melihat Damian turun dari mobilnya. Kenapa pria itu malah kesini padahal kan dia mau pergi dengan Maria, pacarnya itu, batinnya.
Mata Damian tidak lepas menatap Arya, kenapa dia merasa tidak suka setiap Hanna bersama dengan pria lain? Sepertinya dia ingin menguliti pria itu.
“Ayo pulang,” kata Damian, tangannya langsung menarik tangan Hanna.
“Kau ini kenapa?” tanya Hanna, kembali menarik tangannya.
Damian menatap Hanna, Arya tampak terkejut dengan kehadiran pria yang tidak dikenalnya. Apakah itu pacarnya Hanna?
“Ayo pulang,” ajak Damian.
“Tidak, aku ada perlu ke rumahnya Arya,” jawab Hanna menoleh pada Arya.
Mendengar Hanna akan ke rumah Arya, spontan saja membuat Damian kesal. Dia langsung menoleh pada Arya.
“Kau yang bernama Arya? Jauh jauh dari wanita ini, karena wanita ini istriku,” kata Damian.
“Tidak, tidak, bukan, aku bukan istrinya,” potong Hanna.
“Kenapa kau begitu? Aku suamimu, kau malah menyangkalnya,” kata Damian.
“Tidak, tidak, dia bukan suamiku, dia berbohong,” elak Hanna, sambil menoleh pada Arya.
Arya tampak kebingungan melihat pertengkaran mereka.
Damian langsung menarik tangan Hanna.
“Ayo pulang,” ajaknya.
“Aku tidak mau!” Hanna menarik tangannya lagi tapi pegangan Damian lebih keras, akhirnya dia mengalah, melangkah mengikuti Damian menuju pintu mobil sebelah sebrang.
“Kau sudah mencatat rumahku kan?” teriak Hanna pada Arya, pria tampan itu langsung mengangguk. Damian memaksa Hanna masuk mobil, tapi kepala Hanna malah menyembul lagi keluar jendela, menoleh pada Arya.
“Jangan lupa menelponku dulu. Supaya kau tidak nyasar,” teriak Hanna lagi. Tangan Damian langsung menekan kepala Hanna supaya masuk. Hanna melongokkan kepalanya lagi keluar jendela, menoleh pada Arya.
“Kau sudah mencatat nomor telponku kan? 0 XXXXX” Hanna menyebutkan sebuah nomor dengan keras. Damian kembali mendorong tubuh Hanna supaya masuk, diapun menutup pintu mobil. Damian berjalan memutar, dan masuk ke dalam mobil, duduk dibelakang kemudi. Eh Hanna masih melongok lagi ke jendela disamping Damian yang terbuka, sampai melewati kemudi.
“Jangan lupa kau membawa makanan khas Bali!” teriak Hanna lagi.
Teeeet! Damian menekan klakson dengan keras, sampai Hanna terkejut juga orang orang diluar mobil.
“Masuk! Kau bisa diam tidak?” bentak Damian.
“Kau ini kenapa?” tanya Hanna dengan cemberut, lalu memiringkan kepalanya, menoleh lagi pada Arya,dan melambaikan tangannya.
“Daah!” ucapnya, sambil tersenyum. Arya tampak membalas lambaian tangannya. Damian buru-buru menutup pintu kaca mobilnya.
Tidak ada yang dibicarakan di dalam mobil, keduanya terdiam dengan fikirannya masing-masing.
“Ternyata kau sangat genit diluaran!” gerutu Damian, sambil melempar kunci mobil diatas meja, saat mereka sudah kembali ke rumah.
“Genit apa maksudmu? Aku hanya berkenalan dengan Arya,” kata Hanna.
“Hem! Baru berkenalan sudah mau main ke rumahnya, kau juga memberinya nomor telponmu juga alamat rumah ini,” gerutu Damian, kedua tangannya masuk ke saku celananya, berjalan mondar mandir di depan Hanna.
“Yang namanya berkenalan ya begitu. Saling memberi normor handphone dan alamat tinggal,” kata Hanna.
“Apa? Saling memberi nomor handphone?” tanya damian.
“Tentu saja,” Hanna mengangguk.
Damian langsung menarik tasnya Hanna yang tergeletak di kursi disamping Hanna.
“Kau mau apa?” tanya Hanna, tangannya merebut tasnya tapi Damian segera menjauhkannya. Dia mengambil sesuatu dari tas Hanna, handphone Hanna.
“Kau mau apa dengan Handphone ku?” tanya Hanna. Damian langsung memberikan tas pada Hanna, sedangkan Handphonenya masih dia pegang.
Hanna menyimpan tasnya lagi di kursi, lalu berdiri mendekati Damian, akan mengambil Handphonenya.
Damian segera menghindar dan membuka handphone Hanna, menekan menu kontak, mencari nama Arya dan langsung menghapusnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Hanna sambil merebut kembali Handphonenya.
“Sudah kuhapus,” ucap Damian, kini membiarkan Hanna mendapatkan handphonenya.
“Apa yang kau hapus?” tanya Hanna, sambil mengotak atik handphonenya.
“Nomornya si Arya itu, jadi kau tidak bisa menghubunginya. Seharusnya tadi juga aku menghapus nomormu dari handphonenya si Arya itu,” jawab Damian.
“Apa? Kau menghapus nomornya Arya? Kau ini keterlaluan!” teriak Hanna dengan kesal.
“Kau jangan lupa, dalam perjanjian kita, kau tidak boleh berhubungan dengan pria manapun, berteman juga tidak boleh,” kata Damian.
“Ini kan Cuma berkenalan,” elak Hanna.
“Berkenalan juga tidak boleh,” ucap Damian.
“Kau ini tega sekali! Kau bebas pergi dengan wanita manapun, aku berkenalan dengan pria saja tidak boleh,” gerutu Hanna.
“Aku yang membayarmu, kau ikut peraturanku!” kata Damian, dengan ketus.
“Baiklah kalau begitu aku berhenti,” jawab Hanna, membuat Damian terkejut.
“Berhenti? Maksudmu apa berhenti?” tanya Damian, menatap Hanna. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar perkataan Hanna.
Damian langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Di tidak bisa kehilangan Hanna. Hari-harinya akan suram dan tersiksa dengan mimpi buruknya jika Hanna tidak memeluknya lagi. Dia harus mencari psikiater mana lagi untuk menghilangkan mimpi buruknya yang sudah berpuluhtahun itu menghantuinya.
“Tidak, tidak, aku tidak bisa menerima pengunduran dirimu lagi,” kata Damian.
“Kenapa?” tanya Hanna.
“Kau harus mengembalikan uangku jika kau berhenti. Semuanya. Utuh,” kata Damian. Dia bicara seperti itu berharap Hanna membatalkan pengunduran dirinya.
“Kau juga akan kehilangan rumah ini,” lanjut Damian.
“Aku tidak mau uangmu dan tidak mau rumah ini. Aku akan bekerja di perusahaannya Arya, aku akan mendapat gaji, jadi aku tidak perlu bergantung lagi padamu,” kata Hanna. Kemudian mengambil tasnya dan mengeluarkan kartu ATMnya, disimpan di atas meja.
Damian tertegun melihatnya. Apa dia tidak salah lihat? Hanna mengembalikan ATMnya yang isinya milyaran?
“Kau serius?” tanya Damian dengan nada yang lirih, matanya masih melihat ATM diatas meja itu. Dia lebih baik kehilangan uang milyarannya daripada seumur hidupnya tidak bisa tidur nyenyak.
“Ya,” jawab Hanna mengangguk.
“Bukankah kau ingin membeli rumah? Kau juga menyukai rumah ini kan?” tanya Damian.
“Iya, aku ingin membeli rumah, tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku ingin hidup bebas, aku akan bekerja diperusahaan Arya dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk membeli rumah yang aku inginkan. Dan rumah ini juga, aku tidak sanggup bekerja padamu selama 6 tahun, aku melepasnya,” jawab Hanna.
Kini Damian terdiam, Hanna juga diam. Kenapa ada rasa sedih setelah mengatakan itu pada Damian. Dia juga tidak sematre itu, hanya saja bekerja memeluknya setiap malam, menunggunya dia tidur, membelai rambutnya, menatap wajahnya setiap malam, dia takut jatuh cinta pada pria itu kemudian patah hati saat melihat Damian bersama wanita lain. Dia tidak mau kalau nantinya terlanjur menyukai pria ini dan merasa sakit dengan kenyataan bahwa dia hanya bekerja untuk Damian. Dia bukan kekasihnya, dia juga bukan istrinya. Tidak, dia tidak mau, hatinya akan sakit nantinya.
“Kau benar-benar akan meninggalkanku?” tanya Damian, menatap Hanna, sorot matanya terlihat sedih, membuat Hanna kasihan melihatnya. Tapi dia harus mengambil keputusan, daripada nantinya dia malah jatuh cinta pada Damian, dan patah hati, pasti akan sangat menyakitkan saat berpisah. Karena dia juga sadar diri, Damian tidak mungkin jatuh cinta padanya, dia bukan tipenya Damian, dia pasti memliki banyak wanita cantik yang menyukainya.
“Ya, aku mengundurkan diri. Aku akan segera kaluar dari rumah berhantu ini,” ucap Hanna, dengan hati yang mulai sedih, karena harus meninggalkan Damian dan mengembalikan uang itu. Damian terdiam.
“Uangnya masih utuh 40M. Aku tidak pernah menggunakannya. Uang bulanan menjadi istrimu juga tidak terpakai banyak, aku tidak banyak menggunakannya, aku hanya menggunakannya untuk ke salon dan beberapa baju,sepatu dan lain-lian, itu juga harganya tidak mahal, ada sisanya di ATM itu,” lanjut Hanna.
“Nanti tidak ada yang memelukku lagi! Siapa yang akan memelukku?” tanya Damian, seperti bicara pada diri sendiri.
“Kau bisa tidur dengan Maria, berarti kau bisa memeluk Maria. Apalagi Maria kan pacamu, jadi kau pasti suka memeluknya,” kata Hanna.
Damian langsung menatap Hanna dengan tajam.
“Apa maksudmu memeluk Maria? Kau fikir aku mau dipeluk Maria tiap malam?” bentak Damian, membuat Hanna terkejut mendengarnya.
“Iya, Maria kan pacarmu,” kata Hanna.
“Aku melihatmu kau begitu mesra dengannya, mencium pipi kiri pipi kanannya, memeluk pinggangnya, membukanan pintu mobil padanya, kau terlihat sangat mencintainya,” lanjut Hanna.
Damian seketika tertegun, apa wanita ini sedang cemburu?
“Aku tidak mau setiap malam dipeluk Maria!” Damian malah bergidik.
“Kau ini kenapa? Kau kan semalam tidak pulang, tidur diapartemennya, kau pasti tidak mengigau dipeluknya,” kata Hanna.
“Aku tidak mau memeluk laki-laki itu. Aku masih normal, aku masih menyukai wanita,” kata Damian. Perkataannya membuat Hanna terkejut.
“Apa? Laki-laki? Jadi Maria itu laki-laki?” tanya Hanna, tidak percaya.
“Kau fikir dia wanita? Dia itu laki-laki yang pesolek, nama aslinya Mario.Dia memang ingin menjadi wanita. Dia sedang ada diluar negeri untuk mengvermak tubuhnya jadi tidak bisa datang ke resepsi kita. Kebetulan dia ada di Bali, jadi mengundangku bertemu dengan teman-temanku yang lain di apartemennya. Boro-boro memeluk dia, semalaman kita mengobrol sampai pagi,” jawab Damian panjang lebar.
Entah kenapa ada angin segar lewat di relung hatinya Hanna. Oh ternyata Maria itu seorang laki-laki dan bukan pacarnya Damian. Tapi ko Damian semesra itu ya? Jangan-jangan…, tiba-tiba Hanna bergidik.
“Kenapa kau bergidik? Aku jadi curiga kau berfikir macam-macam!” tuduh Damian, dengan tatapan mata curiga.
“Tidak,” jawab Hanna menggeleng, tapi bibirnya tersenyum.
“Kau pasti berfikir macam-macam!” ucap Damian lagi. Hanna masih tersenyum.
“Aku dan Maria sudah belanja berbagai makanan di kantong belanja itu. Kau masak yang enak. Nanti malam, Maria mau ke rumah,” kata Damian.
“Apa? Memasak?” tanya Hanna.
“Iya, memang kenapa?” Damian balik bertanya.
“Aku tidak bisa memasak,” jawab Hanna.
“Wanita tidak bisa memasak?” tanya Damian. Hanna mengangguk.
“Jadi aku harus memasak? Itu belanjaan barang mentah semua,” lanjut Damian, dengan kesal.
“Jadi kau bisa memasak?” tanya Hanna, tidak percaya, pria kaya ini bisa memasak.
“Bisa. Aku suka memasak kalau libur,” jawab Damian, spontan senyum Hanna langsung mengembang.
“Kau sangat manis sekali..” ucap Hanna, sambil mencubit lengan Damian.
“Kau ini apaan sih?” gerutu Damian, menjauhkan tangannya dari cubitan Hanna.
************************************
Wkwkwkw….hehe..lucu kan? Seperti biasa, minimal author tersenyum untuk diri sendiri.
Satu bab masih kurang ya..tanggung hehhe…
Oh ya yang berbeda pandangan dengan novel ini, mohon maaf ya, dari awal bab author suka menulis, kalau ini hanya haluan author saja, jangan dianggap serius, hanya hiburan untuk menghibur diri sendiri disaat lelah. Jadi maaf kalau ada yang berbeda pandangan atau menyinggung, ini hanya haluan saja.
Jangan lupa like dan komen
Juga dukung karya author yang lain. “ My secretary” season 2(love story in London)