
Tiga tahun kemudian…
Mobil itu melaju cukup kencang menyusuri jalanan lengang sepanjang pesisir pantai.
Tidak seperti biasanya, mobil dengan atap terbuka itu dikemudikan oleh seorang wanita sedangkan disebelahnya duduk seorang pria berbadan tinggi tegap menggendong seorang anak kecil sekitar 2 tahunan.
“Jangan ngebut-ngebut, kau membuat rambut putraku acak-acakan,” keluh pria itu sambil merapihkan rambut anak kecil itu yang berambut merah kecoklatan.
“Aku heran, kenapa rambut putraku berwarna merah kecoklatan, seperti rambut jagung, apa kau berselingkuh dariku?” tanya pria itu lagi.
“Kau benar-benar seperti emak-emak, kau terus mengomel sepanjang jalan. Apa kau tidak melihat aku juga lelah menyetir berjam-jam,” keluh wanita itu, memberengut, rambutnya juga jadi acak acakan karena tertiup angin.
“Salah sendiri, dimana-mana, anak itu dekat dengan ibunya, kenapa Henry malah dekat denganku? Kau seperti ibu tiri saja,” keluh pria itu.
“Sepertinya jiwa keibuanmu lebih kuat dariku makanya Henry lebih dekat padamu hahha…” ucap wanita itu sambil tertawa.
Pria itu mendelik sebal pada wanita itu. Anak kecil itu tampak merengek.
“Sebentar lagi kita sampai sayang, kau pasti lelah,” ucap pria itu, sambil mengusap-usap rambut putranya itu yang berkulit putih.
“Lihatlah, Henry tidak mirip denganku, dia malah lebih tampan dariku,” kata pria itu.
“Tidak mirip bagaimana, dia itu mirip denganmu,” ucap wanita itu, sambil focus menyetir.
“Tapi rambutku tidak merah,” sanggah pria itu.
“Karena waktu hamil aku sebal pada si Mario itu Damian, jadi membuatnya mirip si Mario,” kata wanita itu yang tiada lain adalah Hanna.
Mereka dikaruniai seorang putra yang sangat tampan berkulit putih dengan wajah lebih mirip Damian hanya rambutnya yang merah entah mirip siapa.
“Waktu di Bali, si Mario itu datang bertamu, aku selalu ingat wajah dan rambutnya yang merah,” kata Hanna.
“Apa hubungannya?” keluh Damian.
Hanna langsung mengerem mobilnya mendadak, lalu menoleh pada Damian.
“Aku sebal, kau mengatakan dia Mario, transgender, ternyata dia Maria, wanita tulen, kau sangat menyebalkan. Jadinya begitu tuh, rambutnya Henry jadi merah,” semprot Hanna.
Melihat reaksi Hanna begitu, Damian malah tertawa.
“Aku hanya bercanda, kau percaya saja,” kata Damian.
“Sampai dirumah orangtuaku aku akan mengecat rambut Henry jadi hitam,” kata Hanna, dengan raut muka kesal.
“Anak kecil tidak boleh dicat rambut, nanti gatal-gatal,” protes Damian.
Hanna masih memberengut, kembali menjalankan mobilnya.
“Jam berapa acaranya? Kita terlambat tidak?” tanya Hanna.
“Meskipun terlambat, mereka pasti akan menunggu, karena tidak ada yang akan mengguting pitanya,” jawab Damian.
Tiba-tiba handphonenya berdering. Tangan kanan Damian mengambil ponsel disakunya lalu menjawab panggilan itu, sedangkan tangan kirinya memeluk Henry yang duduk dipangkuannya.
“Ya Satria!” kata Damian.
“Ya sebentar lagi kita sampai,” jawab Damian, lalu menutup telponnya. Tangan Henry yang mungil menggapai-gapai ponselnya Damian.
“Om mu yang menelpon,” kata Damian, memperlihatkan ponselnya pada Henry.
Mobil melaju sudah tidak melihat pantai lagi, tapi yang ada hamparan rumah- rumah megah dengan model yang sangat cantik, taman disepanjang jalan utamapun sangat asri.
Hanna tersenyum senang saat melihat pemandangan itu, udaranyapun terasa sejuk dan angin berhembus tidak terlalu kencang.
“Damian, rumah-rumahnya sangat bagus, tamannya juga sangat indah,” kata Hanna, tersenyum senang.
“Apa ini sudah selesai semua?” tanya Hanna.
“Belum, baru sekitar 70 persen,” jawab Damian.
Saat memasuki gapura Hanna Grand Lakeside, Hanna menghentikan mobilnya.
Damian melirik istrinya itu yang sedang menatap gapura itu.
“Kau kenapa?” tanya Damian.
“Aku teringat gapura ini hampir terbengkalai,” jawab Hanna.
Damian mencodongkan tubuhnya ke dekat Hanna, tangan kanannya memeluk buhu istrinya itu.
“Itu dulu, sekarang kita kesini akan meresmikannya,” kata Damian, menatap Hanna yang segera menoleh mendengar perkataannya.
“Kau benar, sekarang kita bertiga,” jawab Hanna menatap suaminya.
“Aku mencintaimu,” ucap Damian.
“Aku juga,” jawab Hanna.
Damian akan mencium bibirnya Hanna, tapi Hanna menjauh.
“Kenapa?” tanya Damian.
“Kau mencium pipiku saja, kalau samapi ditempat peresmian lisptikku belepotan aku akan malu dilihat orang banyak,” kata Hanna, membuat Damian memberengut, akhirnya pipi Hanna yang diciumnya. Hanna hanya tersenyum melihat wajah suaminya yang berubah masam.
“Ayo kita lanjutkan, dimana tempatnya?” tanya Hanna, kembali menjalankan mobilnya.
“Kau ikuti saja umbul-umbulnya. Tempatnya di gedung serbaguna di tengah taman,” jawab Damian.
Hanna menyusuri jalanan di jalan utama itu yang di kanan-kirinya sudah terpasang umbul-umbul juga spanduk selamat datang bagi tamu-tamu undangan peresmian Hanna Grand Lakeside.
Sampailah mereka disebuah tenda yang sudah penuh oleh tamu-tamu undangan. Hanna memarkir mobilnya di area parkir yang sudah disediakan panitia.
Beberapa orang datang berlarian saat melihat kedatangannya.
“Bapak sudah ditunggu! Pejabat-pejabat daerah juga sudah datang,” kata pria itu.
“Ya,” jawab Damian, sambil turun dengan menggendong Henry ditangan kirinya.
Hanna mematikan mobilnya, barulah dia turun menyusul suaminya yang suduh lebih dulu turun.
Semua mata memandang kearah meraka yang berjalan menuju area peresmian Hanna Grand Lakeside. Hampir semua orang tersenyum melihat pemadangan itu, pemandangan yang tidak biasa karena Damian yang menggendong putranya. Pria itu malah terlihat sangat macho dan sangat manly menunjukkan aura kebapak-annya.
Henry juga tampak anteng dalam gendongan ayahnya.
“Maaf aku terlambat!” kata Damian pada para pejabat yang berdiri menyambutnya, diapun bersalaman tanpa memberikan Henry pada Hanna.
“Ini putraku, Henry,” kata Damian memperkenalkan putranya sambil bersalaman.
“Seharusnya kau memperkenalkan aku istrimu, kenapa memperkenalkan Henry?” keluh Hanna.
“Semua orang juga tahu kau istriku,” jawab Damian, sambil tersenyum dan bersalaman dengan tamu penting lainnya, membuat Hanna memberengut, Damian lebih menyayangi Henry sekarang.
Terdengar MC sudah memulai acara inti untuk sambutan dan pengguntingan pita. Karena sebenarnya acara sudah dimulai dari tadi, karena Damian datangnya terlambat.
Damian segera menuju tempat pengguntingan pita bersama Hanna. Disana sudah berdiri Satria juga Cristian, Pak Indra dan orang-orang penting lainnya yang mensukseskan proyek ini.
Damian menoleh pada Hanna dan berbisik.
“Sayang, gendong dulu Henry,” kata Damian. Hanna langsung mengambil alih Henry kegendongannya.
Damianpun memberikan sepatah dua patah kata sebelum peresmian.
“Ada banyak kisah dibalik berdirinya Hanna Grande Lakeside ini,” ucap Damian. Hadirin terdiam mendengarkan isi sambutannya.
“Kokohnya Gapura Hanna grand Lakeside adalah symbol betapa besarnya kekuatan cinta,” lanjut Damian.
Suasana masih hening. Mata Damian menyapu kesetiap tamu undangan yang menatapnya.
“Aku mempersembahkan Hanna Grand Lakeside ini untuk istriku tercinta,Hanna,” kata Damian lagi. Seketika semua orang merasa takjub dan haru.
Damian menghadap Hanna yang ada sampingnya menggendong Henry.
“Sayang, berdirinya Hanna Grand Lakeside ini adalah mewakili betapa besarnya rasa cintaku padamu. Aku harap kau akan selalu berada sisiku selamanya,” ucap Damian.
Kata-katanya membuat mata Hanna berkaca-kaca saking terharunya. Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya mereka bisa mewujudkan impian mereka meresmikannya bertiga dengan kehadiran buah hati mereka.
“Dan aku juga berterimakasih kau sudah memberikan satu lagi hal yang paling berharga buatku, yaitu Henry, buah hati kita,” kata Damian.
“Aku sangat mencintaimu dan Henry,” lanjut Damian lagi, mengakhiri kata-katanya.
“Aku juga mencintaimu,” ucap Hanna, diapun mendekati Damian dan mencium bibirnya. Damian membalas ciumannya, tidak lupa dia juga mencium Henry.
Adegan itu membuat semua orang terharu dan terbawa suasana.
“Aku juga berterimakasih pada semua pihak yang telah mendukung proyek ini,” kata Damian, kembali menatap para tamu. Terdengar tepuk tangan meriah dari hadirin.
Terdengar MC berbicara untuk pengguntingan pita.
“Kita gunting pitanya bersama-sama,” ucap Damian, menoleh pada Hanna yang langsung mengangguk. Damian menerima gunting dari panitia, tangan kirinya meraih tangannya Hanna untuk bersama-sama memegang gunting itu.
Terdengar MC menyerukan aba-aba untuk mengunting pita.
“Dengan ini Hanna Grand Lakeside diresmikan!” ucap Damian.
Guntingpun memotong pita yang terbentang di antara dua tiang pintu masuk kedalam gedung serbaguna.
Kembali terdengar tepuk tangan meriah dari pata tamu diiringi dengan pelepasan balon-balon udara warna warni yang bertuliskan Hanna Grand Lakeside.
Music pengiring mengikuti acara peresmian ini dengan meriah.
Para tamu-tamu berhamburan menghampiri dan memberi selamat pada Damian juga tim sukses proyeknya, mereka juga dipersilahkan masuk ke dalam gedung serbaguna untuk melihat miniatur Hanna Grand Lakeside.
Gedung serbaguna itu memang sengaja dibangun di tengah taman untuk keperluan kemasyarakatan di sekitar Hanna Grand Lakeside.
Seorang pria dan wanita menghampiri mereka.
“Cristian!” panggil Hanna.
Cristian tesenyum pada Hanna lalu pada Damian, dia mengulurkan tangannya pada kakaknya itu.
“Selamat, akhirnya Hanna Grand Lakeside sudah diresmikan,” kata Cristian. Merekapun berpelukan.
Cristian menoleh pada sikecil Henry yang menatapnya.
“Apa kau mau om gendong?” tanya Cristian, Henry kecil hanya menatapnya tapi dia tidak menolak saat Cristian menggendongnya.
“Selamat ya,” ucap wanita yang bersama Cristian.
“Terimakasih Sherli,” kata Hanna sambil memeluk Sherli. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabatnya itu.
“Aku juga ingin menyampaikan sesuatu,” kata Cristian.
“Sesuatu? Apa?” tanya Hanna.
“Aku dan Sherli berencana menikah bulan depan,” jawab Cristian membuat Damian dan Hanna terkejut.
“Kau serus? Kalian akan menikah?” tanya Hanna.
Cristian mengangguk.
“Aku sangat senang mendengarnya, semoga kalian bahagia,” ucap Hanna, menoleh pada Sherli dan memeluknya kembali.
“Kalau kau butuh bantuanku, katakan saja,” kata Damian pada Cristian, yang menjawabnya dengan anggukan.
Henry tampak menunjuk-nujuk pada balon yang ada diruangan itu, bibir mungilnya mengatakan sesuatu yang tidak jelas.
“Sepertinya dia ingin balon,” kata Cristian, sambil membawa Henry pada balon- balon yang menggantung dan diikat untuk menghiasi gedung itu. Sherli mengikutinya. Tampak Bu Sony dan Bu Astrid menghampri Henry juga.
Damian tersenyum senang melihat keluarga besarnya berkumpul. Saat dia menoleh ternyata istrinya sedang menatapnya.
“Kenapa?” tanya Damian.
“Aku sangat bangga memiliki suami sepertimu,” jawab Hanna, mendekatkan tubuhnya pada suaminya dan langsung memeluknya. Damian balas memeluknya.
“Aku juga,” jawab Damian, sambil mencium rambut istrinya, dia sangat mencintainya benar-benar mencintainya.
Mungkin banyak bukan mungkin lagi memang sangat banyak wanita cantik diluaran sana, tapi hanya satu yang dicintainya, istrinya yang sekarang berada dalam pelukannya. Damian kembali mencium keningnya Hanna.
Tidak terlukiskan betapa bahagianya mereka saat ini.
Damian kembali menoleh pada Hanna yang juga menatapnya.
“I Love U,” ucapnya. Kata-kata yang selalu ingin dia ucapkan pada istrinya sabagai ungkapan rasa cintanya yang tulus.
“I Love U too, ” jawab Hanna, sambil mengecup bibirnya Damian lalu kembali memeluk tubuh suaminya dengan erat.
( THE END )
**********
Apakah mau Extra Part?