
Hari sudah sore saat mereka sampai di sebuah rumah besar di jalan utama. Hanna menatap rumah itu, lumayan besar. Saat memasuki halaman, dia keheranan melihat ada beberapa mobil terparkir disana.
Satria dan Damian turun duluan. Pak Indra tampak menyambut mereka. Hanna masih berdiri di dekat mobil Damian, saat dilihatnya sosok yang tidak ingin ditemuinya keluar dari dalam rumah. Cristian. Wajahnya langsung pucat. Dilihatnya Damian berbincang-bincang dengan Cristian.
Damian menoleh pada Hanna begitu juga Cristian. Hanna cepat-cepat menatap suami palsunya itu, matanya tidak mau bertemu dengan pandangannya Cristian.
“Sayan kemarilah!” panggil Damian. Dengan ragu Hanna menghampiri. Hatinya benar-benar gelisah saat Cristian terus menatapnya. Tatapan itu banyak mengisyratkan pertanyaan dan menyalahkan dirinya, Hanna tidak sanggup membalasnya, dia merasa bersalah sudah menyakiti pria yang selama ini menjadi teman dan kekasihnya itu.
“Ya,” jawab Hanna tersenyum pada Damian. Dia berjalan menghampiri Damian dan langsung memeluk tangan Damian dengan erat. Damian melirik tangannya yang diperluk istrinya tapi dia tidak bicara apa-apa.
“Senang bertemu denganmu lagi, Ny. Damian,” sapa Cristian, bukan lagi menyebut nama Hanna tapi Ny.Damian. Matanya menatap Hanna yang memeluk tangan Damian, seakan berlindung dibelakang pria itu.
“Aku juga senang bertemu denganmu lagi,” jawab Hanna, agak tergagap.
“Untuk sementara kita tinggal disini. Ruangan bawah akan dijadikan kantor sementara oleh beberapa karyawanku, kita tinggal di atas. Karyawan akan tinggal di rumah yang lain tidak jauh dari sini, jadi kau tidak perlu merasa terganggu,” kata Damian.
Mata Hanna menatap rumah itu kearah dalam, pantas diluar banyak mobil terparkir ternyata dijadikan kantornya Damian.
“Dari lantai atas ada pintu terpisah, berada disamping, jadi jika ingin keluar tidak perlu melewati kantor,” lanjut Cristian. Pria itu terlihat bersikap wajar dan tenang, meskipun mantan pacarnya itu ada dihadapannya dengan suaminya.
“Ya,” Hanna hanya mengangguk, dia berdiri di balik bahu Damian, memeluk tangan Damian dengan erat, seakan takut Cristian mengambilnya dari Damian.
Damian merasakan pelukan erat Hanna, dia juga merasa aneh Hanna bersikap seperti itu, tapi dia tidak banyak memikirkan hal itu.
“Silahkan lihat ke dalam,” ajak Cristian. Damian mengangguk, melangkahkan kakinya diikuti Hanna. Cristian menatap Hanna, Hanna hanya melirik dengan sudut matanya lalu menunduk berjalan mengikuti Damian. Sebenarnya dia tidak nyaman terus menghindar dari pria itu. Hatinya semakin resah, dia tidak sanggup membalas tatapannya Cristian. Dia merasakan Cristian menuntut jawaban darinya.
Di dalam ruangan, karyawannya Damian menyapanya. Hanna hanya mengangguk dan tersenyum. Cristian menunjukkan beberapa ruangan dan menjelaskannya pada Damian. Hanna sama sekali tidak tertarik dengan apa yang diceritakan Cristian, dia hanya mengikuti kemanapun Damian melangkah dan terus saja memeluk tangannya. Hatinya benar-benar gelisah. Apakah dia akan terus-terusan berpura-pura kalau dia bukan Hannanya Cristian yang dulu? Apakah Cristian sudah mengatakan pada orangtuanya tentang dirinya?
Tiba-tiba sebuah celetukan membuyarkan lamunannya.
“Nempel terus, lengket amat,” ucap suara disebelah kiri Hanna, ternyata adik iparnya sudah berdiri disampingnya. Hanna hanya meliriknya sekilas, Si Kepo, batinnya. Tidak peduli Satria mau bicara apa, Hanna hanya ingin memeluk tangannya Damian. Damian hanya mengusap tangannya sebentar.
“Aku masih banyak pekerjaan, kau mau istirahat sekarang?” tanyanya dengan lembut, sambil menoleh pada Hanna.
“Ya, aku lelah,” jawab Hanna.
“Aku bisa mengantar anda, Nyonya,” kata Cristian membuat Hanna terkejut.
“Ya kau pergilah bersama Cristian,” kata Damian, membuat Hanna semakin tegang. Bagaimana mungkin dia bersama Cristian? Justru dia menghindari supaya tidak bersama-sama dengan Cristian.
“Aku..” Hanna bingung harus mencari alasan apa lagi. Tiba-tiba Satria nyeletuk.
“Aku juga lelah kakak, seharian aku menyetir, aku mau istirahat juga,” kata Satria. Hanna merasa lega mendengarnya. Kalau ada Satria, Cristian pasti tidak akan bicara apa-apa lagi.
“Ya kalian istirahatlah,” kata Damian.
“Ayo!” ajak Satria sambil mengulurkan tangannya pada Hanna.
Pluk! Sebuah tepukan mendarat ditangannya. Kakaknya memukul tangannya dengan keras.
“Aw!” jerit Satria pura-pura sakit. Hanna mendelik pada Satria, lagian adik iparnya itu reseh sih, tahu kakaknya pecemburu.
Cristian hanya diam, dia menatap Hanna. Hanna mengalihkan pandangannya.
“Mari,” ajak Cristian menoleh pada Satria, yang dibalas anggukan oleh Satria.
Merekapun mengikuti Cristian. Hanna berjalan di sebelah Satria, bukan sebelah tapi agak mundur ke belakangnya. Sikapnya itu tidak luput dari perhatian Satria, yang merasa aneh dengan kelakuan kakak iparnya itu.
Cristian menunjukkan beberapa ruangan dilantai atas. Sekilas lantai atas ini seperti apartemen, semua ada. Ada kamar, ruang tengah lengkap dengan televisi besarnya, ruang makan dan dapur yang dilengkapi dengan kamar mandi. Ukuran kamarpun lumayan luas juga terdapat kamar mandi di dalam.
“Aku ke toilet dulu sebentar ya, apakah toiletnya sudah bisa digunakan?” tanya Satria.
“Sudah,” jawab Cristian. Hati Hanna langsung gelisah, itu artinya dia akan berdua dengan Cristian.
“Aku mau melihat kamarmu,” kata Hanna pada Satria. Dia langsung mengikuti Satria.
“Mau apa kau melihat kamarku?” tanya Satria keheranan, tapi dia bergegas masuk ke kamarnya, Hanna segera mengikutinya. Cristian diam, dia tahu kalau Hanna menghindarinya.
Satria masuk ke toilet. Hanna duduk disamping tempat tidur. Dia merasa cemas, dari waktu ke waktu hatinya semakin resah, seakan menunggu bom waktu yang akan meledak kapan saja.
Hanna bisa tahu kalau Cristian sudah tahu kalau dia adalah Hannanya, wanita yang hampir dinikahinya. Meskipun Cristian tahunya kalau dia sudah menikah dengan Damian, hati kecilnya tetap merasa khawatir, dia takut Cristian tahu kalau dia sebenarnya bukan istrinya Damian, dia hanya istri palsunya Damian.
Pintu toilet terbuka. Satria keheranan melihat kakak iparnya itu sedang duduk disamping tempat tidurnya.
“Kau masih disini?” tanyanya menatap Hanna.
“Eh iya,” jawab Hanna gelagapan.
“Apa kau mau bertukar kamar? Tapi kakakku lebih suka kamar yang lebih luas,” kata Satria, matanya beredar kesekeliling kamar itu yang memang ukurannya lebih kecil dari kamar utama.
“Tidak, kami dikamar utama saja,” jawab Hanna.
Satria tidak bicara apa-apa lagi, meski dia masih bertanya-tanya dengan sikap Hanna yang aneh. Diapun keluar dari kamar diikuti Satria.
Cristian tampak duduk dikursi menunggu. Dia langsung berdiri saat Satria dan Hanna keluar dari kamar itu. Ternyata diruangan itu sudah ada dua orang yang berdiri tidak jauh dari Cristian, seorang laki-laki berumur dan seorang perempuan yang usianya mungkin lebih tua beberapa tahun darinya. Hanna dan Satria menoleh kepada dua orang itu.
“Mereka asisten rumahtangga, Nyonya pasti sangat membutuhkannya,” kata Cristian. Satria tersenyum, ternyata Cristian sangat perhatian, sampai memikirkan kalau mereka membutuhkan asisten rumahtangga selama tinggal di rumah ini.
“Nama saya Yati, Nyonya,” kata yang perempuan.
“Saya Udin,” kata yang laki-laki.
“Barangkali barang-barangnya akan dibawa masuk, Nyonya?” tanya Pak Udin, yang usianya terlihat
lebih tua.
“Iya boleh pak Udin,” jawab Hanna.
“Aku akan mengambil barang dulu,” kata Satria.
“Aku langsung istirahat ya, aku lelah,” ucap Hanna, terus berusaha menghindari berduaan dengan Cristian. Buru buru Hanna masuk ke dalam kamar.
Satria menoleh pada Cristian.Tampak Cristian melirik Hanna sebentar lalu mengikutinya keluar dari rumah itu. Satria merasakan ada aura aneh yang dia tidak tahu apa. Tapi dia tidak banyak berfikir macam-macam.
Hanna masih merasa gelisah di kamarnya. Ingin rasanya dia cepat pergi dari rumah ini, tapi tidak mungkin dia meninggalkan Damian. Hemm…Damian sedang apa ya sekarang? Ko dia bertanya Damian? Kenapa sekarang dia ingin dekat-dekat dengan Damian? Apa dia takut berpisah dengannya? Apa dia takut Cristian mengatakan keberadaannya pada ayahnya? Pasti ayahnya marah besar, pasti akan menyuruhnya pulang dan menikah dengan Cristian.
Atau apa jika ayahnya tahu keberadaannya, dia berpura-pura saja sudah menikah dengan Damian? Melanjutkan sandiwara ini? Apakah seperti itu bagus? AH tidak tidak, ayahnya pasti marah, karena ayahnya pasti ingin menikahkannya dengan Cristian lagi. Ayahnya sangat menyukai Cristian, karena tahu Cristian sangat baik padanya dan bisa diandalkan untuk selalu melindunginya.
Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, tapi tidak ada satupun jawaban yang dia temukan. Bagaimana kalau Cristian tahu kalau pernikahannya itu bohongan? Ah semuanya semakin kacau saja.
Hanna mencoba beristirahat dan tidur tapi dia sama sekali tidak bisa terlelap. Apalagi di mobil dia sudah cukup tidur dipangkuannya Damian. Dia hanya perlu meluruskan badannya saja.
Terdengar suara ketukan dipintu. Hanna bangun dari tempat tidur dan menuju pintu, ternyata Bi Yati yang mengetuk pintu.
Hanna menatap koper kopernya ada di depan pintu dibawa oleh Pak Udin.
“Ya bawa masuk saja,” jawab Hanna. Mang Udin membawa masuk koper-koper itu ke dalam kamar.
“Saya sudah membuatkan macam-macam kue basah Nyonya,” kata Bi Yati, ditangannya ada sebuah nampan yang berisi beraneka macam kue basah. Hanna terdiam.
“Siapa yang menyuruh membuatkan makanan ini?” tanya Hanna, terkejut. Karena kue-kue basah ini kue kesukaannya. Dia sangat menyukai kue-kue tradisional. Biasanya kalau dihari minggu dia lari pagi dengan Sherli dan Cristian, mereka akan melewati pasar minggu dadakan disepanjang jalan mereka lari, dan Hanna selalu membeli kue-kue itu.
“Pak Cristian yang menyuruh Bibi membuatkan makanan ini?” tanya Hanna, menebak.
“Iya, kata Pak Cristian Nyonya menyukai kue-kue ini,” jawab Bi Yati. Ada haru dihati Hanna, Cristian sangat mengenalnya. Dia menyuruh Bi Yati membuat kue ini berarti dia memang sudah tahu kalau dia adalah Hannanya.
“Makasih ya Bi. Simpan saja di meja, nanti aku memakannya, menunggu suamiku pulang,” kata Hanna. Dia tertegun sejenak menyadari kata suami yang dia ucapkan. Apa benar Damian suaminya? Bi Yati mengangguk. Dia menyimpan nampan itu di meja di ruangan itu. Hanya ada satu ruangan,ruang tamu juga ruang santai karena ada televisi juga disana.
Bi Yati kembali menghampiri Hanna.
“Hari ini mau masak apa Nyonya? Sebenarnya Pak Cristian sudah memberitahu makanan kesukaan Nyonya, barangkali Nyonya mau masak yang lain untuk Tuan,” kata Bi Yati.
Hanna tampak berfikir kira-kira dia mau makan sama apa.
“Pak Cristian juga sudah memberitahu kalau Nyonya sedang hamil, jadi saya akan berhati-hati memasak supaya jangan terlalu pedas,” kata Bi Yati lagi.
Hanna terdiam mendengarnya. Jadi Cristian juga memberitahu Bi Yati kalau dia sedang hamil.
Terdengar suara langkah menaiki tangga, seseorang muncul dipintu, Damian.
“Kau tidak istirahat?” tanya Damian, saat melihat Hanna bersama Bi Yati.
“Aku tidak bisa tidur,” jawab Hanna.
Damian menoleh pada Bi Yati.
“Ini Bi Yati, Asisten rumahtanggga disini, dia akan memasak untuk kita,” kata Hanna, menoleh pada Bi Yati lalu beralih pada Damian.
“Kau mau makan apa nanti malam?” tanya Hanna.
“Tidak perlu memasak. Kita akan makan diluar,” jawab Damian.
“Makan di luar?” tanya Hanna, menatap Damian, kenapa perasaannya tidak enak begini?
“Cristian mengajakku dan Satria makan diluar nanti malam,” kata Damian.
“Mmm kau saja yang makan diluar, aku makan dirumah saja,” ucap Hanna, menolak, dia tidak mau tersiksa nanti di penjamuan.
“Tidak apa-apa, kita tamu disini, jadi harus menghormati ajakan tuan rumah,” kata Damian.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Hanna, terpaksa mengangguk. Kalau dia terus terusan menolak, nanti Damian curiga.
Damian masuk ke dalam kamar.
“Ini kamar kita?” tanyanya.
“Iya,” jawab Hanna.
“Apakah barang- barangnya mau saya bereskan sekarang, Nyonya?” tanya Bi Yati, menatap Hanna.
“Tidak apa-apa, nanti saja Bi, makasih ya. Tuan mungkin ingin beristirahat,”jawab Hanna.
“Baik kalau begitu saya permisi, kalau ada apa-apa panggil saya di lantai bawah, Nyonya,” kata Bi Yati.
“Iya,” jawab Hanna mengangguk.
Bi Yatipun meninggalkan rumah itu. Hanna menoleh ke dalam kamar, Damian sedang duduk di tempat tidur bersandar dengan dua kaki berselonjor. Dia sibuk mengotak atik handphonenya, kemudian handphonenya berdering. Dia bicara dengan seseorang.
Hanna menutup pintu kamar dengan pelan, menatap pria itu yang sedang menelpon. Kemudian kakinya melangkah menuju koper-koper yang masih terkunci. Diapun menarik koper itu, disimpan ditempat tidur lalu dibukanya. Ada tumpukan pakaian disana.
Damian masih berbicara di telpon. Hanna mamasukkan baju-baju di koper itu ke lemari. Kembali diperhatikannya Damian masih juga menelpon. Sampai selesai memasukkan baju-baju dari koper ke lemari, pria itu masih bicara di telpon.
Akhirnya pria itu selesai juga menelpon. Kini mengotak atik handphonenya, mungkin sedang berkirim pesan dengan seseorang.
“Kau kenapa?” tanya Damian tanpa menoleh.
“Kenapa kau bertanya begitu?” Hanna balik bertanya. Pria itu masih sibuk dengan pesannya.
“Dari tadi kau memperhatikanku ada apa?” tanya Damian, masih tanpa menoleh.
Hanna mengerutkan keningnya, Damian tahu darimana kalau dia memperhatikannya? Padahal menolehpun tidak.
“Bolehkah aku memelukmu?” tanya Hanna. Barulah sekarang Damian mengentikan aktifitasnya dan menatap Hanna, wanita itu sedang menatapnya.
“Bayarannya lebih dari 40M,” jawab Damian, kembali melihat handphonenya.
Hanna langsung mencibir. Kemudian dia terdiam, menundukkan kepalanya, tidak bicara apa-apa lagi. Reaksinya tidak luput dari perhatian Damian, ada apa dengan wanita itu? Bahkan dia bercandapun wanita itu tidak meladeninya. Membuatnya semakin tidak mengerti, apalagi tiba-tiba ingin memeluknya.
“Kau boleh memelukku, kali ini gratis. Lain kali kau harus membayarnya,” kata Damian tiba-tiba. Barulah Hanna tersenyum. Naik ke tempat tidur duduk disamping Damian dan memeluk tubuhnya.
Fikirannya kini yang bicara, entah sampai kapan dia akan bisa memeluk pria ini lagi? Sehari, dua hari, tiga hari? Dia juga tidak tahu bagaimana reaksi Damian kalau tahu Cristian adalah calon pengantin prianya dulu?
“Kau sangat sibuk?” tanya Hanna.
“Hemm,” jawab Damian.
“Kalau ada waktu aku ingin jalan-jalan ke pantai bersamamu,” kata Hanna.
“Pantai tidak jauh kan? Nanti kita kesana kalau aku tidak sibuk,” jawab Damian.
“Besok ya,” pinta Hanna.
“Besok?” Damian mengerutkan keningnya. Ada apa Hanna ingin jalan-jalan ke pantai?
“Iya,” jawab Hanna.
“Ya baiklah, tapi sebentar ya. Aku sangat sibuk,” jawab Damian.
“Iya,” jawab Hanna mengangguk. Dia benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama Damian, sebelum hal buruk yang akan terjadi dan memisahkan mereka.
Terdengar handphone Damian berdering lagi, pria itu mengangkatnya dengan tangan kanannya, tangan kirinya memeluk punggung Hanna.
Hanna semakin mempererat pelukannya, pelukan yang mungkin tidak akan pernah dirasakannya lagi.
***********