Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-22 Permintaan ibunya Shezie



Shezie menuju kamar ibunya dirawat. Dia terkejut saat mendapati ibunya sudah pulang.


“Bu Vina sudah pulang,” kata perawat yang kebetulan membantu ibunya Shezie tadi.


“Sudah pulang? Dengan siapa?” tanya Shezie.


“Dengan seorang pria muda yang suka menjenguknya,” jawab perawat itu.


“Pria muda?” Shezie langsung menebak itu pasti Martin.


“Apa ada yang harus aku bayar?” tanya Shezie.


“Sudah diselesaikan semua,” jawab perawat itu.


“Baiklah kalau begitu, aku ingin bertemu dengan Dokter Arfan,” kata Shezie.


“Dokter Arfan sedang ada di ruangannya,” jawab perawat itu.


“Terimakasih,” ucap Shezie, diapun segera pergi menemui Dokter Arfan diruang prakteknya.


“Maaf aku datang terlambat Dok, aku ingin tahu perkembangan kesehatan ibuku,” kata Shezie, saat sudah bertemu Dokter Arfan.


“Untuk sementara hasil kemo kemarin sudah ada kemajuan, hanya memang karena sudah lama tertunda, untuk sembuh total sepertinya akan sangat sulit tapi masih ada kemungkinan sembuh, tidak ada yang tahu. Hanya saja secara medis, ibumu tetap harus control seperti biasa, kita belum tahu apakah akan ada kemo selanjutnya. Hanya sayangnya untuk kanker jenis ini biasanya pasien harus di kemo beberapa kali. Bahkan ada yang melakuakn kemo terakhir dengan resiko jika gagal maka akan meninggal tapi ternyata bisa selamat walaupun dengan kondisi sel kankernya tidak mati, bagaimana kondisi masing-masing pasien,” kata Dokter Arfan.


“Apa itu artinya ibu tidak bisa disembuhkan?” tanya Shezie, dengan lesu.


“Kita usahakan untuk menghentikan penyebarannya dulu. Karena disini juga peralatan sangat terbatas,” jawab Dokter Arfan.


“Saya dengar ada rumah sakit di Singapure yang bagus Dok,” kata Shezie.


“Untuk berobat di luar, harus diperhitungkan matang-matang, karena membutuhkan uang yang tidak sedikit. Dan harus kuat mental jika ternyata tidak berhasil disembuhkan,” ucap Dokter Arfan.


Shezie terdiam. Untuk sekali Kemo saja dia harus menjadi pengantinnya Henry, itupun hanya suatu kebetulan saja, tidak mungkin dia setiap hari bisa menghasilkan uang begitu besar.


Shezie menghela nafas panjang. Dia tetap akan berusaha untuk kesembuhan ibunya, dia tidak mau harus kehilangan ibunya.


Setelah bicara banyak dengan Dokter Arfan, Shezie meninggalkan rumah sakit dengan lesu. Dia bingung harus mencari uang kemana lagi untuk pengobatan ibunya selanjutnya. Setelah dari rumah sakit diapun pulang.


Sesampainya dirumahnya didapatinya ibunya sedang beristirahat sendirian didalam kamarnya.


“Ibu aku minta maaf aku datang terlambat, dijalan macet,” kata Shezie sambil menghampiri ibunya. Dia akan memeluknya tapi ibunya menghindar, membuat Shezie terkejut.


“Bu, ibu kenapa? Ibu marah? Aku minta maaf, kata perawat ibu pulang duluan apakah diantar oleh Martin?” tanya Shezie.


Ibunya bangun dari tidurnya dan menatap Shezie.


“Katakan pada ibu kau sudah dari mana? Kau tinggal dimana?” tanya Ibu Shezi, membuat putrinya dengan tajam.


“Aku..aku…” Shezie tergagap, apalagi melihat ibunya yang marah padanya.


“Kau berbohong pada ibu, kau tidak bekerja dikantor cabang café tempatmu bekerja, kau malah ijin 2 hari tidak masuk kerja, sebenarnya kau kemana? Apa yang kau lakukan?” tanya ibunya.


Mendapat pertanyaan itu membuat Shezie samakin kaget.


“Ibu..ibu menelpon café?” tanya Shezie, dia tidak menyangka ibunya akan mengecek sampai menelpon cafe segala.


“Iya,” jawab Ibunya.


Mendengar pengakuan ibunya membuat Shezie bingung, apa yang harus dikatakannya pada ibunya? Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia sudah menikah kemarin, ibunya pasti semakin marah lagi.


“Aku..aku…” Shezie semakin gugup dan bingung.


“Apa kau bersama pria yang memberimu uang untuk pengobatan ibu?” tuduh Bu Vina.


Shezi terkejut lagi mendengarnya. Apa yangd dikatakan ibunya ada benarnya juga dia memang bersama orang yang memberi uang untuk pengobatan ibunya, Henry.


“Aku minta maaf, Bu!” ucap Shezie, duduk bersimpuh di kaki ibunya. Airmata mulai menetes dipipinya.


“Ibu tidak menyangka kau bisa berbuat seburuk itu. Ibu lebih baik tidak berobat dari pada melihat hidupmu hancur,” ucap ibunya.


Shezie tidak bicara lagi, dia hanya menangis.


“Aku hanya ingin ibu bisa hidup lebih lama, aku tidak mau kehilanga ibu,” ucap Shezie.


Bu Vina pun diam, matanya mulai berkaca-kaca.


“Ibu tahu penyakit ibu susah diobati dan mebutuhkan biaya banyak. Ibu harap stop, berhentilah mencari uang untuk pengobatan ibu. Ibu tidak mau hidupmu hancur demi mencari uang untuk ibu. Ibu tidak mau hidup dengan melihat  masa depanmu berantakan, ibu lebih baik mati,” kata ibunya, semakin membuat Shezie bersedih dan menangis.


“Jangan begitu Bu, aku akan tetap mencari uang untk pengobatan ibu, bagaimanapun caranya,” kata Shezie.


“Tapi tidak dengan merendahkan dir pada pria hidung belang!” kata Ibunya Shezie, mendengar itu membuat Shezie terkejut.


“Kalau begitu katakan kenapa kau tidak pulang tidak juga bekerja?” tanya ibunya.


“Aku..aku..” Sezie bingung harus berkata apa lagi, dia tidak mungkin bicara sejujurnya.


“Aku menjadi guide di sebuah travel, kebetulan temanku menawarkan pekerjaan ini,” kata Shezie, berbohong.


Ibunya menatapnya.


“Kenapa kau tidak mengatakannya waktu itu malah kau bilang bekerja di kantor cabang cafemu?” tanya ibunya, masih tidak percaya.


“Karena aku tidak mau ibu khawatir karena aku punya pekerjaan lain. Kebetulan penghasilannya lumayan jadi aku mau,hanya sesekali saja kalau pas ramai dan butuh tenaga tambahan freelane,” jawab Shezie, mencoba meyakinkan ibunya.


“Bekerja di travel tidak akan menggajimu begitu besar, katakan sejujurnya darimana  kau mendapat uang biaya ibu kemo?” tanya ibunya masih menatap raut muka putrinya yang masih bersimpuh dikakinya.


“Memang tidak sebesar itu, sebagian aku meminjamnya pada temanku itu. Ibu tidak perlu khawatir, aku akan membayarnya dengan cara dicicil. Karena hanya pada dia bisa meminjam tanpa harus menggunakan jaminan apa-apa,” jawab Shezie.


Ibunya menatap putrinya itu, mencoba mempercayai perkataannya Shezie. Kedua tangannya menyentuh bahunya Shezie mengangkatnya supaya duduk disampingnya. Ditatapnya wajah putrinya itu.


“Ibu tidak mau kondisi ibu membuatmu tidak bahagia, ibu hanya ingin melihatmu bahagia. Ibu akan selalu merasa bersalah jika terjadi sesuatu yang buruk padamu,” kata ibunya.


“Iya Bu, aku mengerti, aku minta maaf,” ucap Shezie, sambil memeluk ibunya.


“Nanti kalau ada waktu ajak temanmu ke rumah, ibu ingin mengucapkan terima kasih,” kata ibunya.


Mendengarnya membuat Shezie terkejut. Teman? Teman siapa yang akan dia bawa? Teman dari café? Gaji di cafe tidak besar, tidak ada temannya yang kaya raya bisa meminjamkannya uang, ibunya tidak akan percaya. Henry? Apa dia harus membawa Henry pada Ibu pura-pura jadi temannya? Tidak, urusannya dengan Henry sudah selesai.


“Iya Bu, nanti aku bawa kemari,” jawab Shezie.


“Ibu juga ada permintaan padamu,” kata ibunya.


“Apa Bu?” tanya Shezie.


“Ibu takut usia ibu tidak lama lagi, ibu ingin melihatmu menikah, menikahlah dengan Martin, dia pria yang baik,” kata ibunya.


Lagi-lagi Shezie terkejut mendengar perkataan ibunya. Diapun melepaskan pelukannya. Bagaimana mungkin dia  menikah dengan Martin sedangkan statusnya adalah istrinya Henry? Henry belum menceraikannya.


“Bu, aku tidak menyukai Marin,” kata Shezie.


“Ibu tahu, tapi kau lihat, Martin sangat baik padamu, dia juga baik pada Ibu, dia menyukaimu sudah lama, buka pintu hatimu, menikahlah dengan dia. Ibu akan merasa tenang jika kau sudah bersama pria yang menyayangimu,” ucap ibunya.


Shezie terdiam. Apa yang harus dikatakannya? Dia tidak bisa jujur, dia tidak mungkin jujur dengan pernikahannya,ibunya akan sangat marah apalagi dia menikah tanpa minta restu, bahkan dia mengatakan pada orang tua Henry kalau dia yatim piatu, ibunya kalau tahu ini pasti akan terluka.


“Shezie! Apa telah terjadi sesuatu?” tanya ibunya.


“Tidak Bu. Aku hanya lelah,” jawab Shezie


“Istirahatlah, pesan ibu, cobalah untuk menerima Martin,dia pria yang baik,” kata ibunya.


Shezie kembali diam, dia tidak suka pada Martin. Entah kenapa dia merasa ragu dengan kabaikannya Martin. Dia merasa Martin hanya mencari muka saja pada ibunya.


Shezie menatap ibunya dan memeluknya lagi, juga mencium pipinya, dia sangat menyangi ibunya, dia tidak mau mengecewakan ibunya tapi untuk menikah dengan Martin? Entahlah…


“Aku istirahat Bu,” kata Shezie, sambil bangun dari duduknya. Diraihnya ransel yang terlumbuk dilantai tadi.


“Istirahatlah,” ucap ibunya.


Shezie keluar dari kamar ibunya dan menuju kamarnya.


Di dalam kamarnya dia hanya merenung, berdiri di dekat jendela kamarnya yang terbuka. Dia merasa bingung apakah dia benar-benar harus menerima Martin? Sedangkan statusnya masih istrinya Henry, meskipun pernikahan mereka hanya sebatas pekerjaan.


Shezie melirik ranselnya lagi, dia meraihnya dan membukanya, akan mengeluarkan baju kotor yang kemarin dipakai. Tapi saat membukanya dia terkejut melihat isi ranselnya. Ada gaun pengantinnya disana. Siapa yang memasukkan gaun itu?


Shezie sama sekali tidak membawa gaun itu meskipun mertuanya sudah memberikannya, dia hanya teringat ingin cepat-cepat menjemput ibunya, dan melupakan gaun itu.


Dikeluarkannya gaun pengantin itu dan disentuhnya.


Apakah Henry yang memasukkan gaun itu? Pantas dia merasakan kalau ranselnya terasa begitu penuh tapi karena memikirkan terus ibunya dia tidak memperhatikannya.


Disentuhnya gaun indah itu, mutiara masih menempel digaun itu. Kalau dijual lumayan harganya. Tapi…apa benar dia akan menjualnya? Gaun ini mempunyai banyak kenangan, sepertinya akan berat untuk menjualnya, kecuali kalau dia harus melepas mutiaranya saja lalu menjualnya, tidak dengan gaunnya.


Shezie kembali menyentuh gaun itu, rasanya memang seperti mimpi kalau sudah melangsungkan pernikahan kemarin. Entah kapan dia akan bertemu lagi dengan supir kaya itu.


Kemudan dia teringat lagi perkataan ibunya tentang Martin, entah kenapa meskipun pernikahannya bukanlah keinginannya tapi karena dia sudah mengucap janji dengan Henry, rasanya begitu nyata dan mengikat.


Saat menyentuh gaun itu, Shezie melihat cincin di jari manisnya, disentuhnya cincin itu tanda ikatan pernikahan. Entah berapa lama dia hanya memainkan cincin itu, kemudian dilepasnya cincin itu. Semua sudah usai, pernikahannya dengan Henry sudah usai.


Di carinya kotak yang bisa dia simpan untuk menyimpan cincinnya. Setelah ditemukan disimpannya kotak itu di sela-sela gaun pengantinnya, kemudian gaun itu digulung dengan sebuah kain panjang dan dimasukkan ke lemari ditempat yang tersembunyi.


***************