Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-12 Makan Malam



Shezie masuk ke rumah megah itu mengikuti langkahnya Henry. Hanna dan Damian yang sedang ada di ruang keluarga mendengar kedatangan mereka segera keluar menuju ruang tamu.


Hanna tertegun melihat penampilan gadis yang bersama Henry di mall itu. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun itu yang sangat cocok dengan kulitnya yang putih.


Shezie yang melihat Hanna dan Damian menyambut mereka langsung tersenyum ramah dan menyapa.


“Malam Tuan, Nyonya!” sapa Shezie, membuat Hanna tertawa.


“Kau tidak perlu memanggil Tuan dan Nyonya. Panggil saja ibu dan ayah seperti yang biasa Henry panggil,” kata Hanna, dia senang gadis itu terlihat sangat sopan, dia tidak tahu kalau Shezie menganggap putranya adalah supir di rumah ini.


Damian menatap gadis itu, dia agak terkejut melihatnya, dia merasa pernah melihat gadis itu tapi dimana dan kapan, atau mirip dengan seseorang tapi siapa orang itu? Wajahnya serasa familiar. Damian kembali mengingat-ingat dalam hatinya.


“Ayah, Ibu, ini pacarku namanya Shezie,” kata Henry memperkenalkan Shezie.


“Aku Shezie, Nyonya, Tuan,” kata Shezie kembali memanggil Nyonya dan Tuan.


Shezie merasa tidak nyaman masa pada majikan Henry memanggil ayah dan ibu? Henrynya saja yang tidak tahu malu pada majikannya memanggil ayah dan ibu, celutak dia mentang-mentang di sayang, fikir Shezie.


“Kau memanggilku Nyonya lagi,” ucap Hanna sambil tersenyum.


“Maaf Nyonya, saya tidak berani,” kata Shezie.


“Tapi tidak apalah terserah kau saja, tapi nanti setelah menikah dengan Henry kau panggil ayah dan ibu seperti Henry,”ujar Hanna.


Henry memiringkan kepalanya pada Shezie lalu berbisik.


“Kau memanggil ayah dan ibu juga tidak apa-apa,” bisik Henry.


“Aku tidak berani Henry, kita harus menghargai mereka, kau saja yang celutak pada majikan manggil ayah ibu, kau harus ingat mereka yang menggajimu,” bisik Shezie sambil menoleh pada Henry, lalu menoleh lagi pada Hanna dan Damian dan tersenyum lagi.


Hanna mengerutkan keningnya, ada apa Henry berbisik-bisik pada Shezie?


Damian menatap Shezie.


“Aku seperti pernah melihatmu dimana ya? Kau mirip seseorang tapi aku lupa,” kata Damian, masih menatap Shezie, semakin lama melihatnya semakin merasakan dia pernah mengenal wajah itu.


Mendengar perkatanan Damian membuat Shezie dan Henry terkejut, mereka takut Damian pernah melihat Shezie berpura-pura jadi selingkuhan pacar orang.


“Mungkin karena kau ingin punya anak perempuan, jadi merasa mengenalnya,” kata Hanna sambil tertawa. Damian hanya tersenyum dan memeluk istrinya.


“Ayo kita makan, kalian pasti sudah lapar kan?” ajak Hanna, berjalan duluan menuju meja makan diikuti Damian.


Henry akan melangkah tapi dia terkejut saat sebuah tangan memeluk lengannya. Diapun melirik tangan yang berjari lentik itu lalu menoleh pada wajah Shezie, dia memberengut tidak suka Shezie menggandengnya.


“Ingat, profesional,” ucap Shezie, membalas tatapan Henry yang tidak suka padanya.


“Apa profesional harus meluk-meluk segala? Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan,” keluh Henry, menatap Shezie.


“Iiih kau ini, biar terlihat pacaran beneran, gimana sih. Ingat ya, jangan menggagalkan skenarionya, gagal uang tidak kembali. Aku aktrisnya,” kata Shezie.


“Ya sudah boleh memelukku tapi jangan sering-sering,” ucap Henry.


“Lagian buat apa memelukmu terus,” gerutu Shezie.


“Henry! Ayo  kemari! Kita makan!” terdengar teriakan Hanna dari dalam ruang makan.


“Iya!” jawab Henry, sambil melangkah menuju ruang makan bersamaan dengan Shezie.


Mereka mulai menyantap makan malamnya. Damian dan Hanna duduk berdampingan, disebrangnya ada Henry dan Shezie. Damian masih memikirkan wajah familiar yang dimiliki Shezie.


Orangtua Henry itu selalu memperhatikan Shezie, dalam hati mereka menilai seperti apa gadis yang akan dinikahi Henry itu. Shezie tahu resiko yang sedang dijalaninya, dia tetap bersikap tenang  dan selalu bersikap ramah.


“Kau tinggal dimana?” tanya Damian pada Shezie. Gadis itu menyebutkan sebuah alamat.


“Orang tuamu masih ada?” tanya Hanna. Ditanya begtu Shezie terdiam sebentar.


“Ayah ibuku sudah meninggal, aku besar dipanti asuhan,” jawab Shezie. Dalam hatinya berkata, “maaf ibu, aku berbohong, aku selalu mendoakan untuk kesehatanmu,” batinnya.


Mendengar Shezie yatim piatu, Hanna dan Damian merasa sedih.


“Orang tuamu sudah meninggal? Sejak kapan?” tanya Hanna lagi.


“Sejak aku kecil, Nyonya,” jawab Shezie.


“Kasihan sekali…kau pasti anak yang tabah,” ucap Hanna.


“Apa kau bekerja?” tanya Damian.


“Aku kerja di café,” jawab Shezie, mendengar jawaban Shezie membuat Henry melirik kearahnya, apa benar Shezie kerja di café? Pasti dia berbohong, pekerjaannya kan jadi selingkuhan pria-pria yang ingin putus dari pacarnya.


Shezie merasa heran kenapa orangtuanya Henry tidak ada? Hanya majikannya saja yang menemani mereka makan.


“Kalau orangtuamu meninggal, kami harus melamar pada siapa? Ada kerabat yang dituakan?” tanya Damian.


“Aku tinggal sebatangkara, ibu panti juga sudah lama meninggal,” jawab Shezie, masih berbohong.


Damian menoleh pada Hanna.


“Tidak apa-apa Nyonya, aku hidup sendiri di kota ini,” jawab Shezie.


“Kasihan sekali kau nak,” gumam Hanna, merasa sedih tidak bisa membayangkan beratnya hidup Shezie.


Henry hanya diam saja mendengarkan, sejauh ini semua berjalan lancar.


“Tapi kau tidak perlu khawatir, kau tepat memilih Henry, Henry pasti akan sangat menyayangimu, kami juga,” ucap Hanna.


“Terima kasih Nyonya. Henry memang sangat menyayangiku, ya kan sayang?” jawab Shezie, sambil tersenyum dan menoleh pada Henry yang juga menoleh padanya sambil tersenyum dipaksakan.


“Jangan lebay,” bisik Henry dengan pelan.


“Semua persiapan pernikahan sudah diserahkan pada WO, jadi kalian tidak perlu repot, karena waktunya juga sangat mepet,” kata Hanna lagi.


“Baik Nyonya. Terimakasih Nyonya sudah begitu baik pada calon suamiku,” kata Shezie.


“Tentu saja, kami ingin yang terbaik buat Henry,” ucap Hanna, sambil menoleh pada putranya yang tidak banyak bicara.


Sesuai dengan apa yang dikatakan Henry, jangan banyak bicara, hanya menjawab jika ditanya saja.


Tidak banyak yang ditanyakan Hanna dan Damian, karena Shezie mengaku yatim piatu, merekapun tidak perlu mengadakan lamaran atau acara apapun, sudah diputuskan mereka langsung menikah minggu depan.


Damian terlebih dulu selesai makan, diikuti oleh Hanna.


“Kalian selesaikan dulu makannya, kami ada diruang keluarga,” kata Hanna, sambil beranjak.


“Baik Nyonya,” jawab Shezie, membaut Hanna mengerutkan dahinya lagi kenapa Shezie selalu menyebutnya Nyonya.


Setelah diruang makan itu mereka hanya berdua, Shezie menoleh pada Henry.


“Henry majikanmu sangat baik, mereka mau mengurus pernikahanmu, kau benar-benar beruntung!” kata Shezie.


Henry menghentikan makannya dan menatap Shezie. Dia akan bicara lagi-lagi Shezie mendahului.


“Katamu kau akan memperkenalkanku pada orangtuamu, kenapa yang ada hanya majikanmu saja? Kemana orang tuamu?” tanya Shezie, membuat Henry terbatuk batuk dan minum air putih, diapun menoleh pada Shezi yang duduk disampingnya juga menatapnya.


“Mereka orang tuaku,” kata Henry, membuat Shezie terkejut.


“Tenyata orang tuamu sudah meninggal? Kasihan sekali…Pantas majikanmu begitu sayang padamu, karena kau sebatangkara jadi mereka memperlakukanmu seperti anak sendiri, aku jadi terharu,” kata Shezie, tangannya mengusap-usap lengan Henry bermaksud ikut berbelasungkawa.


Melihat sikap Shezie yang masih menganggapnya supir, membuat Henry terbengong-bengong. Buru-buru dia menjauhkan lengannya dari belaian tangan Shezie.


Henry berfikir, kenapa Shezie masih menganggap dia supir terus? Apa dia harus menjelaskan pada Shezie kalau dia bukan supir dan Hanna dan Damian itu orang tua kandungnya?


Tapi difikir lagi, dia berurusan dengan Shezie hanya sampai pernikahan, setelah itu kerjasama mereka selesi dan mereka hidup masing-masing, rasanya tidak perlu juga mengatakan hal pribadinya, seperti yang Shezie katakan,  mereka hanya rekan kerja tidak perlu mengenal lebih dalam.


“Setelah ini tidak ada acara lagi kan?” tanya Shezie.


“Tidak, aku akan mengantarmu pulang, selanjutnya kau tunggu kabar dariku,” jawab Henry.


“Oke!” jawab Shezie, sambil kembali menyelesaikan makannya padahal dia masih ingin memakannya. Makanan ini begiti lezat, entah sudah berapa lama dia tidak merasakan makan-makan seperti ini, uangnya habis untuk berobat ibunya.


“Makanan ini sangat banyak, apakah aku boleh membawanya sedikit?” tanya Shezie, membuat Henry terkejut dan menoleh.


“Apa kau tidak mampu membeli makanan enak? Bayaranmu kan tinggi!” kata Henry.


“Aku sedang menabung,” jawab Shezie.


Henry memanggil-manggil kepala pelayannya, yang segera menghampiri.


“Tolong bungkus makanan-makanan ini,” kata Henry.


“Apa saja?” tanya kepala pelayan.


“Semua saja, disini juga tidak ada yang makan,” kata Henry.


“Baik,” jawab kepala pelayan itu, langsung pergi mengambilkan tempat untuk makanan dimeja itu.


Shezie menoleh pada Henry.


“Kau benar-benar hebat, pelayan juga menurut padamu! Mereka tahu kau sangat dimanjakan majikanmu, semoga mereka tidak iri dan membencimu saja,” ucap Shezie.


“Kau ini bicara apa?” gumam Henry, sambil meraih gelas dan meminum air dalam gelas itu.


Shezie kembali menoleh pada Henry, dia merasa senang ternyata pria itu tidak sepelit yang dikira, atau mungkin karena makanan ini tidak perlu mengeluarkan uang lagi jadi diijinkan dibawa.


“Kalau sudah makannya, ayo aku antar kau pulang,” kata Henry sambil bangun dari duduknya, lalu menoleh pada pelayan yang sudah kembali dan membungkus makanan itu.


“Makanannya masukkan ke mobil,” kata Henry.


“Baik,” jawab pelayan.


Shezie ikut bangun dan mengikuti Henry ke ruang keluarga untuk pamitan pada Hanna dan Damian.


********************