Billionaire Bride

Billionaire Bride
Extra Part - 4. Repotnya kalau Damian cemburu ( part 2 )



Wajah Damian memang tertutup koran, tapi dia sama sekali tidak focus dengan bacaannya. Dia merasa sebal melihat Hanna akrab dengan Arya. Dia memang tahu Hanna tidak ada hubungan dengan Arya, tapi melihat keakraban mereka juga perhatiannya Arya, hatinya merasa cemburu. Dia benar-benar tidak suka Hanna memperhatikan pria lain apalagi pria itu setampan Arya. Jelas-jelas terlihat kalau Arya menyukai Hanna.  Dia benar benar tidak suka, pokoknya tidak suka!


“Sayang, aku mencarimu, kau disini?” terdengar suara Hanna mendekati Damian.


Dilihatnya suaminya itu masih membaca koran sambil bersandar ke sandaran kursi itu dan menopang sebelah kakinya.


“Hari ini sangat panas, jadi aku membawakan minuman jeruk buatmu,” ucap Hanna sambil menyodorkan gelas berisi jus jeruk.


Damian sama sekali tidak menoleh, melirik juga tidak, benar-benar tidak bergeming. Hanna memberengut, sepertinya suaminya sedang marah. Sangat aneh pengantin baru harus marah-marahan begini.


Akhirnya es jeruk itu disimpannya di meja di depan Damian, lalu Hanna duduk di samping suaminya itu.


“Kau membaca apa sih? serius amat,” ucap Hanna, melongokkan  kepalanya  ke arah koran yang dibaca Damian.


Eh Damian malah menggeser duduknya menjauhi, dia tidak mau Hanna iku-ikutan membaca artikel di koran itu. Melihat sikap Damian menjauh, Hanna tidak patah semangat, diapun duduk menggeser ke dekat Damian. Lagi-lagi Damian menggeser duduknya menjauhi Hanna.


“Kau marah?” tanya Hanna, menoleh pada suaminya. Pria itu masih bersikap dingin padanya, jangankan menjawab, menoleh saja tidak.


“Aku tidak tahu kenapa Arya kemari, aku sudah bilang pada Arya kalau kita sudah menikah, kau bukan saudaraku, tapi suamiku sekarang,” ucap Hanna mencoba menjelaskan. Damian sama sekali tidak merespon.


“Arya memberikan lukisan itu sebagai hadiah pernikahan kita, jadi aku tidak perlu membayar lukisan itu, bukankah aku sudah menjadi istri yang hemat?” kata Hanna, sambil tersenyum, dia berharap Damian akan merasa senang tapi ternyata tidak, Damian masih bersikap berdiam diri.


Melihat sikap Damian begitu membuat Hanna pusing tujuh keliling, bagaimana cara merayu Damian supaya tidak marah lagi padanya? Lagipula kenapa harus cemburu pada Arya?


“Kau cemburu pada Arya?” tanya Hanna. Damian masih diam, malah membuka halaman koran berikutnya.


Hanna menggeser duduknya lebih dekat pada Damian, lagi-lagi pria itu menggeser, untung saja kursinya sangat panjang, jadi beberapa kali menggeser juga tidak sampai jatuh ke lantai. Hanna juga bingung kenapa kursi itu terasa begitu panjang?


Hanna menggeser duduknya lagi, Damian kembali menggeser. Hanna mengerutkan keningnya, dia jadi keheranan sampai kapan Damian akan menggeser posisi duduknya?


Diapun menggeser lagi sampai akhirnya mentok diujung, Hanna duduk menempel disamping Damian. Hanna tersenyum menang, pasti Damian tidak bisa pergi kemana-mana lagi. Eh ternyata Damian bangun meninggalkannya.


“Damian!” panggil Hanna, menoleh pada pria yang masuk ke dalam kamar lalu duduk di pinggir tempat tidur melanjutkan membaca korannya lagi. Hanna segera mengikutinya dan memanggilnya.


“Damian!” panggil Hanna, sambil menghentikan langkahnya di dekat tempat tidur, menatap Damian.


“Kita kan pengantin baru, masa harus marahan, sangat tidak lucu! Aku minta maaf kalau aku salah, aku tahu kau pasti cemburu kan pada Arya, karena aku menyebutnya tampan?” kata Hanna. Damian tetap diam, dia menselonjorkan kakinya diatas tempat tidur itu.


“Tapi..Arya memang telihat lebih tampan, Damian,” ucap Hanna, membuat Damian semakin sebal saja, dia membuka halaman koran berikutnya.


Hanna menggaruk-garuk kepalanya, memutar otak supaya Damian tidak marah lagi.


“Damian!” panggil Hanna. Damian masih tidak menajwab.


“Koranmu terbalik!” seru Hanna, membuat Damian terkejut. Dengan spontan Damian membalik korannya, ternyata tidak terbalik, rupanya Hanna mengerjainya.


Hanna langsung tertawa melihat Damian terkecoh.


“Aku berbohong!” serunya disela tawanya. Ternyata Damian masih tidak bereaksi, dan malah kembali membaca korannya.


Hanna menghela nafas panjang, ternyata d idiamkan Damian sangat tidak menyenangkan. Rumah ini terasa sangat sepi, ada dua orang dalam kamar ini serasa hanya sendirian saja. Dia benar-benar kapok membuat Damian cemburu.


“Males,” batin Damian, masih memberengut dan membaca korannya.


“Kau tidak mau? Hemm bagaimana kalau…” Tiba-tiba Hanna punya ide, sepertinya dia harus merayu Damian. Tidak apa-apalah mengajaknya mesra- mesraan disiang bolong, fikirnya, daripada Damian marah terus padanya.


“Saayaaang,” panggil Hanna, duduk dipinggir tempat tidur, tangannya akan menyentuh kakinya Damian, ternyata suaminya menggeser kakinya menjauh. Hanna langsung cemberut, Damian benar-benar tidak ada itikad memaafkannya, bagaimana ini?


“Kau masih marah? Katakan padaku, bagaimana caranya supaya kau tidak marah lagi?” tanya Hanna, inginnya menatap wajah Damian tapi wajah itu malah tertutup Koran.


Damian sama sekali tidak bicara. Hanna benar-benar patah semangat. Tapi sedetik kemudian dia bersemangat lagi.


“Damian,aku membeli lingeri baru, apa kau ingin melihat aku memakainya?” tanya Hanna, melirik Damian.


Mendengar perkataan Hanna membuat Damian terkejut, dia jadi penasaran istrinya itu mau apa lagi demi membuatnya tidak marah padanya? Tapi tidak, tidak, dia tidak akan tergoda, dia akan bertahan, biar Hanna kapok tidak berakrab-akrab lagi dengan pria lain.


“Kau mau melihatku memakainya tidak?” tanya Hanna. Damian masih diam, padahal hatinya sudah mulai goyah ingin melihat seperti apa lingeri yang Hanna beli itu?


“Hemmm sepertinya kau tidak ingin melihatnya,” gumam Hanna, membuat Damian hampir luluh, tapi tidak, dia kembali menguatkan hatinya untuk tidak bicara pada Hanna.


“Ya sudah kalau tidak mau melihatnya juga, aku akan mecobanya saja, soalnya memang belum aku coba,” jawab Hanna, sambil bangun dari duduknya, pergi ke luar kamar dan menutup pintu.


Damian menurunkan korannya, istrinya menghilang entah kemana, membuatnya bertanya-tanya. Tapi tidak berapa lagi dia mendengar suara langkah lagi mendekat, buru-buru dia pura-pura melihat korannya. Terdengar pintu kamar dibuka. Suara langkah itu bersamaan dengan suara koper yang ditarik. Mereka baru datang jadi belum sempat membereskan barang-barangnya.


Hanna mengangkat koper ke atas tempat tidur dan membukanya.


Damian melirik isi koper dengan sudut matanya, dia penasaran lingeri seperti apa yang Hanna beli? Wanita itu pasti membeli yang aneh-anah, tapi kalau lingeri, akan seaneh apa? Semakin membuatnya penasaran saja. Tapi ternyata dia tidak bisa mengintip isi koper itu, karena  Hanna menyimpan tumpukan baju dibagian  penutup koper yang terbuka.


“Ini lingerinya sangat bagus, harganya juga lumayan mahal, aku membelinya memakai uangmu.  Sekarang kan aku istrimu jadi aku bisa menggunakan uangmu,” kata Hanna berbasa bsai, membuat Damian kesaln saja, hatinya tidak sabar ingin melihat apa yang akan di lakukan istrinya dengan lingeri itu.


Hanna malah bagun dari duduknya, membuat dada Damian berdebar-debar saja, kenapa begitu lama istrinya memakai lingeri itu? Diliriknya istrinya itu malah berdiri dicermin sambil bernyanyi-nyanyi, sejak kapan Hanna suka menyanyi? Ternyata suaranya tidak jelek-jelek amat.


Heran, dia sedang cemburu, istrinya malah bernyanyi-nynyi membuatnya bertambah kesal saja.


Hanna berdiri melihat cermin dan menarik rambutnya keatas memperlihatkan lehernya yang jenjang.


“Sebenarnya aku cantikkan?” ucap Hanna, mengegerak-gerakkan kepalanya kekanan dan kekiri sambil tangan kanannya mengangkat rambutnya. Damian masih meliirknya dibalik Koran itu.


“Hemmm,” gumam  Hanna sambil membalikkan badan. Damian buru-buru membaca koran lagi, dia tidak mau terlihat sudah tertarik dengan sikap istrinya.


Hanna berjalan menuju tempat tidur lagi, mendekati kopernya.


“Baiklah, aku akan memakai lingeri ini,” ucap Hanna, meraih lingeri didalam koper itu. Lagi-lagi mata Damian meliriknya, tapi ternyata Hanna langsung meraihnya saja mengepal jadi Damian tidak melihat Lingerinya.


Hanna berjalan menuju cermin. Disimpannya lingerinya itu diatas kursi meja rias, lagi-lagi Damian tidak bisa melihat model lingeri itu. Dia terkejut saat tiba-tiba Hanna melepas gaunnya jatuh ke lantai, hanya tinggal pakaian dalamnya saja yang dikenakannya.


Damian langsung menahan nafas, apakah dia akan bertahan dengan marahnya atau mengalah saja? Jantungnya langsung saja berdebar kencang, bayangan malam pertamanya kembali berdatangan. Baru kemarin mereka menikah, harusnya sekarang masih bermesraan, gara-gara kedatangan Arya itu membuat moodnya tidak enak.


Diliriknya lagi istrinya itu yang berdiri membelakanginya, tangan Hanna mengambil lingeri yang tergeletak di kursi meja rias. Hati Damian semakin gelisah. Tapi…ah tidak tidak, dia tidak boleh tergoda oleh istrinya, dia harus bertahan, batin Damian, segera mengalihkan pandangan melihat ke korannya. Meskipun sudah tidak bisa dipungkiri lagi ada bagian dalam dirinya yang tidak bisa dikendalikan. Keringat sudah mulai muncul dikeningnya, dia gelisah, sangat gelisah.


**************