Who Is Adam?

Who Is Adam?
Rame-Rame



"Bu! Ibu!!" Adam berteriak memanggil Laila.


Laila yang mendengar panggilan dari Adam' pun langsung berlari keluar rumah. padahal Adam tinggal menghampiri Laila saja yang berada di dalam rumah, Kenapa harus berteriak-teriak seperti itu, pikirnya.


"Ada apa, Sayang? Kenapa teriak-teriak seperti itu?" tanya Laila.


Adam yang baru pulang sekolah langsung menghambur ke pelukan Ibu'nya. Dia merasa sangat senang, karena Adam baru saja mendengar kabar dari Devano, yang mengatakan bahwa Eliza sudah selesai dioperasi.


Dan membuat Adam lebih senang lagi, karena sekarang keadaannya Eliza sudah lebih baik.


"Aunty Eliza, sudah selsai operasi. Adam mau besuk Aunty di Rumah Sakit," ucap Adam.


Adam pun, menjelaskan keinginannya kepada ibunya.


"Boleh, Sayang. Tapi... Adam mandi dulu, shalat dzuhur terus langsung bersiap." Laila menuntun Adam menuju kamarnya Adam.


Wajah Adam terlihat sangat senang, karena akhirnya dia akan menjenguk Aunty Eliza yang telah selesai dengan operasinya.


"Baik, Bu. Tapi.. Ajak Ayah, Nini sama Grandpa juga ya?" pinta Adam.


Anak itu memang selalu saja banyak keinginan, tetapi Laila pun tidak bisa menolaknya begitu saja.


"Iya, Sayang. Nanti, Ibu telpon Ayah sama Grandpa." Laila mengambilkan handuk dan memberikannya kepada Adam.


" Terima kasih ya, Bu. Kalau begitu, Adam mandi dulu." Adam pun menerima handuk yang diberikan oleh Laila.


Setelah itu, Adam pun segera masuk ke kamar mandi, dia ingin segera mandi dan segera bersiap untuk bisa pergi ke Rumah Sakit, karena dia ingin menjenguk Aunty Eliza.


Setengah jam kemudian, Adam pun sudah bersiap. Dia sudah terlihat sangat tampan, Adam lalu mencari Laila di kamarnya.


Saat Adam mengetuk pintu, Laila pun dengan cepat membukakan pintu kamarnya. Dan ternyata Laila juga sudah siap, wanita yang sedang hamil itu sudah terlihat cantik dengan balutan dress selutut berwarna peach.


"Ibu, sangat cantik." Adam langsung memeluk Laila sambil mengecupi perut Ibu'nya.


"Anak Ibu, juga sudah sangat tampan." Laila membelai puncak kepala Adam.


"Apa, ibu sudah menghubungi Ayah?" tanya Adam.


Anak itu masih saja bertanya, dia takut kalau ibunya lupa akan apa yang diminta oleh Adam.


"Sudah, Sayang. Mereka sudah siap, kita juga harus segera berangkat." Laila menautkan tangannya ke tangan Adam, kemudian dia pun mengajak Adam untuk keluar dari rumah mereka.


Saat mereka tiba di depan rumah, seorang supir suruhan Tuan Arley sudah menunggu mereka. Dengan cepat Laila dan Adam' pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut.


Sepuluh menit melakukan perjalanan, mobil yang mereka tumpangi berhenti berharap tepat di depan kantor Arkana.


Ternyata, Arkana yang sudah menunggu, langsung masuk ke dalam mobil. Adam pun langsung melompat ke pangkuan Ayah'nya.


"Adam kangen, Ayah." Adam langsung mengecup kening Arkana.


Arkana nampak terkekeh dengan perlakuan Adam terhadapnya, Arkana pun langsung menghujani wajah Adam dengan ciut.


"Ayah, juga kangen."


Arkana menjawab sambil menirukan suara Adam, Adam pun tersenyum senang dengan tingkah Ayahnya tersebut.


"Kita akan kemana dulu, Yah?" tanya Adam.


Menurut Adam, tak mungkin bukan, jika ke Rumah Sakit dengan tangan kosong. Mereka harus mampir dulu ke suatu tempat, untuk membeli sesuatu agar mereka bisa membawa buah tangan.


"Ngga bawa buah tangan?" tanya Adam.


"Grandpa, sudah bawa banyak buah tangan. Kita, ngga usah bawa apa-apa," ucap Arkana.


"Ck, tapi Adam mau. Nanti, kalau lewat toko bunga tolong berhenti dulu ya Pak, Adam mau membeli bunga buat Aunty Eliza." Adam menepuk belakang jok tempat duduk Pak sopir.


"Siap, Tuan kecil." Supir tersebut nampak menganggukkan kepalanya.


Tak lama, mobil pun berhenti tepat di depan sebuah toko bunga. Dengan cepat Adam pun menurunkan kaca mobil tersebut dan membeli seikat bunga mawar, penjaga toko tersebut pun dengan cepat melayani pesanan Adam.


Setelah mendapatkan apa yang Adam mau, Pak sopir' pun kembali melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja, mereka pun sudah sampai di rumah sakit.


Dan benar saja, Tuan Arley dan juga Adisha, sudah menunggu di sana. Mereka bahkan membawa dua orang bodyguard, karena banyaknya bawaan yang dibeli oleh Tuan Arley.


Ada buah, kue dan berbagai macam makanan lainnya. Yang tentunya, makanan sehat khusus untuk Eliza yang baru saja melakukan operasi.


"Ya ampun, Dad. Banyak sekali bawaannya," decak Arkana.


"Yes, Boy. Devano pasti tak akan ingat untuk mempersiapkan semua makanan sehat untuk istrinya," ucap Tuan Arley.


"Dad, benar. Abang, kalau sedang panik suka mondar-mandir ngga jelas dan lupa segalanya." Arkana nampak terkekeh saat mengingat tingkah Devano.


Setelah perbincangan singkat mereka, akhirnya mereka pun segera melangkahkan kaki mereka menuju ruangan Eliza. Saat mereka masuk ke ruangan Eliza, Devano nampak sedang mengupaskan buah untuk istrinya.


"Aunty,,," panggil Adam.


Eliza yang melihat Adam dan keluarga'nya datang menghampirinya, langsung tersenyum. Dia merasa senang, karena banyak orang yang mau menjenguknya.


"Apa Aunty baik-baik saja? Apa yang sakit? Biar Adam elus, nanti pasti langsung sembuh." ucap Adam dengan wajah yang terlihat sangat menggemas' kan.


Eliza yang mendengar penuturan Adam langsung terkekeh, dia merasa lucu dengan ucapan anak genius itu.


"Adam, Sayang. Perut Aunty, yang masih sakit. Tapi, nanti juga akan cepat sembuh." Eliza menjawab sambil mengelus punggung tangan Adam.


"Kalau begitu, Bolehkah Adam pegang perutnya?" tanya Adam.


"No! Ini sangat sakit, Sayang." Tolak Eliza.


"Kalau begitu, perut Aunty, Adam tiup saja, biar cepat sembuh." Adam sudah bersiap untuk menyingkap baju pasien yang Eliza kenakan.


"Eits! Mau apa kamu?" tanya Devano.


"Mau lihat perut Aunty Eliza, yang sakit. Adam mau meniupnya, agar cepat sembuh," ucap Adam.


Semua orang yang ada di sana pun, langsung tertawa mendengar ucapan Adam. Adam memanglah anak genius, dia begitu berbakat dalam banyak hal.


Tetapi, walau bagaimana' pun, dia tetaplah anak kecil yang mempunyai kepolosan seperti anak yang lainnya.


"Jangan ya, Sayang. Perut Aunty Eliza sedang sakit, tapi Dokter sudah memberikan Aunty obat. Jadi, Adam tak usah khawatir. Cukup berdo'a saja untuk kesembuhan Aunty Eliza," ucap Laila.


Adam nampak mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, kemudian dia bangun kembali berkata.


"Kalau tidak boleh ditiup, ya sudah tidak apa-apa. Bagaimana kalau aku menyuapi Aunty saja, Aunty mau tidak?" tanya Adam.


"Mau, Sayang. Aunty, mau makan buah," jawab Eliza.


Akhirnya Devano pun segera memotong buah yang tadi dia kupas, sedangkan Adam mengambil garpu dan menyuapi Eliza buah yang sudah Devano potong-potong tersebut.