Who Is Adam?

Who Is Adam?
Kesepakatan



Leo lalu melangkahkan kakinya menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh pelayan tersebut, lalu Leo pun mendorong pelan pintu ruangan tersebut.


Alangkah kagetnya Leo, saat dia melihat seorang wanita yang dia kenali tengah duduk di ruangan tersebut.


"Kamu?" ucap Leo dan wanita itu bersamaan.


"Tuan Leo, kamu sedang apa di sini?" tanya wanita itu.


"Ya ampun, Nona Cindy. Saya di suruh Mom untuk menemui wanita yang akan dijodohkan dengan saya," ucap Leo.


"Ja--jangan bilang kalau pria yang dijodohkan dengan saya adalah anda," tebak Cindy.


"Ck! Iya, saya. Memangnya kenapa? Kamu ngga mau dijodohkan dengan saya?" tanya Leo.


"Bu--bukan begitu, tapi--"


"Apa?" tanya Leo.


"Ngga apa-apa, sekarang Tuan Leo duduk dulu. Biar enak ngobrolnya." Cindy langsung bangun dan mempersilakan Leo duduk.


"Terima kasih," ucap Leo.


Kini Leo dan juga Cindy sudah duduk bersama. Mereka saling tatap tapi tak mengeluarkan suara, mereka hanya saling tatap dan saling memindai penampilan satu sama lain.


"Ni cowok ganteng sih, pinter. Cara kerjanya juga oke, tapi gue kan belum kenal dalamnya kaya apa." gumam Cindy.


"Ni cewek cantik banget, semok lagi, bodynya aduhai banget. Enak kayaknya kalau dipake, tapi... bukannya dia tadi baru mutusin cowoknya ya?" gumam Leo.


"Ehm," Leo mencoba untuk mencairkan suasana.


"Eh? Haus ya, mau pesen minuman apa?" tanya Cindy.


"Jus jeruk aja," kata Leo.


"Ah, boleh. Saya juga haus," ucap Cindy.


Cindy lalu memanggil pelayan dan memesan dua gelas jus jeruk untuk mereka, tak lama kemudian seorang pelayan wanita pun datang dengan membawa dua gelas jus jeruk pesanan Cindy.


Baik Leo atau pun Cindy, mereka langsung meminum jus jeruk tersebut. Entah kenapa suasana di dalam ruangan tersebut terasa menjadi lebih panas, padahal tak ada kegiatan apa pun.


"Ehm, Nona Cindy. Apakah kamu mau menerima perjodohan ini?" tanya Leo mengawali pembicaraan.


"Ah, iya Tuan Leo. Tentu saja, karena saya tak akan bisa menolaknya." Cindy terlihat gugup dan meremat kedua tangannya secara bergantian.


"Kenapa?" tanya Leo.


"Mungkin alasannya sama seperti anda," jawab Cindy.


"Maksudnya?" tanya Leo.


"Tuan juga pasti akan menerima perjodohan ini, bukan?" Leo nampak menganggukkan kepalanya, "tentu hal itu didasari sebuah alasan bukan?" Leo kembali menganggukkan kepalanya, "saya juga sama." Cindy terlihat menatap Leo dengan sendu.


"Ya, karena aku tak ingin mengecewakan wanita yang sudah melahirkan aku kedunia ini." Leo terlihat menarik nafas dalam.


"Jadi, menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Cindy.


"Mana aku tahu, aku pun pusing. Kamu sih mending udah ngomong sama pacar kamu, aku belum." Leo terlihat memijat pelipisnya, dia kini teringat akan Caterine, wanita yang selalu menggetarkan ranjangnya.


Cindy terlihat mengkerutkan keningnya, dia sungguh merasa sangat heran. Kenapa Leo bisa tahu kalau dia baru saja memutuskan pacarnya? Karena penasaran, Cindy pun langsung bertanya kepada Leo.


"Kenapa kamu bisa tahu, kalau aku baru saja memutuskan pacar ku?" tanya Cindy penasaran.


"Karena aku melihatnya saat kamu memutuskan pacar kamu di kafe M, sedangkan aku belum bicara apapun kepada pacarku. Karena dia sedang pergi keluar kota," ucap Leo.


"Kalau kamu tidak suka sama aku, kamu bisa menolaknya. Karena kamu mempunyai kuasa, sedangkan aku hanya bisa pasrah saja," ucap Cindy.


"Bagaimana kalau kita coba saja dulu, kita mencoba mendekatkan diri. Kita mencoba untuk mengenal satu sama lain, kalau misalkan kita cocok kita nikah. Kalau misalkan tidak cocok, aku akan menolak perjodohan ini," ucap Leo.


"Tapi, apakah kedua orang tua kita akan setuju?" tanya Cindy.


"Tentu, mereka harus setuju. Aku nanti akan bicara sama Mom, aku akan meyakinkannya. Bagaimana?" tanya Leo.


"Baiklah, kalau begitu kita berkenalan dulu selama satu bulan ucap," ucap Cindy.


"Setuju!" ucap Leo, "mulai besok aku akan mengantar dan menjemput kamu, agar kita bisa saling mengenal satu sama lain," ucap Leo.


"Oke!" kata Cindy.


"Oiya, ini no ponsel aku." Leo menyodorkan ponselnya agar Cindy bisa menyalin nomor ponselnya.


Cindy pun langsung mengambil ponsel milik Leo dan menyalin nomor ponselnya.


"Aku mau pulang," ucap Leo.


"Silahkan," jawab Cindy.


"Jangan lupa kirim alamat rumah kamu," ucap Leo.


Cindy langsung tersenyum, lalu dia menganggukkan kepalanya. Leo pun membalas senyuman Cindy dan pergi dari ruangan tersebut.


Baru saja beberapa langkah Leo keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba saja ada seorang perempuan cantik dan juga seksi yang langsung menghambur ke pelukan Leo.


"Yang... kangen." Wanita itu langsung mendongakkan kepalanya, lalu dia pun. memonyongkan bibirnya.


Leo sempat melihat ke arah Cindy dia takut kalau Cindy akan melaporkan hal itu kepada Mom Maura, karena Mom Maura sangat tidak menyukai Caterine.


Menurutnya Caterine itu hanya perempuan tidak benar yang kerjaannya hanya shopping, menghamburkan uang dan juga jalan-jalan tidak jelas.


Bahkan Caterine selalu saja berpenampilan seksi, sehingga setiap pria behitu senang saat melihat kemolekan tubuhnya.


Melihat wajah Leo yang terlihat panik, Cindy hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Sedangkan Leo langsung menatap Caterine dan mendorong bibir ketrin dengan jari telunjuknya.


"Ini tempat umum, Yang. Ngga enak banyak yang liat," ucap Leo.


Caterine nampak merajuk, bahkan wajahnya kini terlihat ditekuk. Dia tidak suka saat mendapatkan penolakan dari Leo, karena biasanya Leo akan langsung mencium bibir Caterine walau dimanapun mereka berada.


"Jangan marah, biar aku antar pulang. Aku juga tidak bisa lama-lama, karena Mom sedang menunggu." Leo terlihat mengusap lembut puncak kepala Caterine.


"Hem," jawab Caterine malas.


Leo dan Caterine pun langsung pergi dari sana, Cindy nampak tersenyum kecut melihat kepergian mereka. Malang sekali dirinya, karena lelaki yang di jodohkan dengan dirinya pun ternyata sudah memiliki kekasih.


*/*


Adam kini telah pulang dari kantornya, dia langsung mencari keberadaan istrinya. karena Sisil sudah berjanji akan pergi ke kantornya pada saat siang hari, Namun sampai pukul dua siang Ada menunggu, Sisil tak kunjung datang.


Akhirnya Adam pun makan siang sendiri di kantor, Adam pun masuk ke dalam kamarnya. Namun sayangnya Sisil tak ada di sana, dia pun langsung keluar dari dalam kamarnya dan mencari keberadaan Sisil.


Sayangnya dia tak menemukan Sisil di manapun, Adam pun menjadi panik. Adam segera mengambil ponselnya, lalu menelepon istri cantiknya.


Saat panggilannya tersambung, Sisil pun langsung mengangkatnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Sisil dari sebrang sana.


"Kamu lagi di mana, Yang? Kenapa Mas pulang kamunya malah nggak ada di rumah?" tanya Adam.


" Aku lagi sama Ibu, lagi beli rujak di gang kedua dekat rumah," jawab Sisil.


"Hah? Rujak?" tanya Adam.