Who Is Adam?

Who Is Adam?
Nasihat Al



Semenjak bangun tidur, Adam terus saja tersenyum. Wajahnya terlihat berseri-seri, entah apa yang membuat Adam merasa bahagia.


Yang pasti, dia merasa senang dan merasa sangat bersemangat untuk menyambut hari ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, Adam membuka lemari pakaiannya. Adam ingin mengambil baju untuk dia bekerja hari ini.


Saat sedang memilah baju, Adam melihat sebuah kotak kecil dengan motif superhero. Adam yang merasa penasaran pun langsung mengambil kotak tersebut.


"Apa ini?" tanya Adam pada dirinya sendiri.


Adam mengambil baju kerjanya sekalian mengambil kotak tersebut, lalu membawanya ke tempat tidur. Dengan perlahan Adam membuka kotak tersebut, senyum Adam langsung mengembang saat melihat Sweter kecil yang terbungkus rapi di dalam kotak tersebut.


"Pricilia, gadis kecil manis yang menggemaskan. Sekarang kamu di mana? Pasti kamu sudah tumbuh menjadi gadis cantik, pastinya kamu sudah kuliah," tebak Adam.


Adam segera menyimpan kembali kotak berisi Sweter tersebut ke dalam kamarnya, karena Adam harus segera berangkat untuk bekerja.


*/*


"Sarapan dulu, Sayang." Laila menyodorkan dua buah sandwich pada Adam yang sudah duduk manis di ruang makan.


Jika dulu Adam suka makan nasi saat sarapan, semenjak kuliah di negara A, Adam malah lebih suka makan roti atau sandwich untuk sarapan paginya.


"Terima kasih, Bu." Adam langsung menikmati. sandwich buatan Laila.


Sesekali, Adam memperhatikan adiknya Al, bukannya sarapan, anak itu malah asik chatingan dengan teman wanitanya.


"Al, bisakah kamu serius saat sedang makan?" tanya Adam.


Al langsung terkekeh mendengar pertanyaan dari Kakak'nya, menurutnya Kakak'nya itu terlalu kaku.


"Kak, sebagai seorang pria kita perlu penyemangat untuk memulai hari. Jadi, Kakak jangan terlalu kaku dan carilah wanita untuk menyemangati hari mu." Al kembali fokus pada ponselnya.


Adam terlihat mendengus, saat mendengar ucapan Al, dia tak menyangka jika sifat Grandpa'nya benar-benar melekat pada Al.


Pasalnya, Tuan Arley pun sering membujuk Adam untuk sekedar berkenalan dengan wanita. Entah itu anak atau cucu dari koleganya.


"Ya ampun,,, kamu tuh bener-bener." Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Al.


Mendengar keluhan Adam, Al langsung memasukan ponselnya ke dalam saku bajunya. Kemudian Al, bangun dan duduk tepat di samping Adam.


"Kak, sepertinya Kakak benar-benar harus segera mencari seorang wanita yang bisa membuat Kakak bahagia dan tak kaku seperti ini." Al mencoba menasehati Adam.


Adam merasa tak terima dengan apa yang diucapkan oleh adiknya.


"Al !" pekik Adam.


Al, langsung menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka, jika Kakaknya benar-benar sangat kaku.


"Ck, diam dan dengarkan. Kalau Kakak mau mencari wanita yang hanya untuk menghibur, cari yang cantik dan tidak memalukan untuk di bawa kemana-mana." Al mengedipkan matanya.


Adam menghentikan kunyahannya, lalu menatap Al dengan lekat.


"Ajaran sesat!" kesal Adam.


Al seolah tak perduli, dia kembali melanjutkan ucapannya.


"Kalau Kakak mau nyari wanita buat seriusan, cari wanita yang bisa buat Kakak nyaman. Tak perlu cantik, tak perlu seksi, yang penting membuat kita merasa nyaman saat berada di dekatnya." Al berkata sambil mengusap dada kirinya.


"Bu, sejak kapan adik aku yang ganteng ini jadi stres?!" Adam menatap sinis ke arah Al.


Al tak perduli, dia kembali melanjutkan ucapannya.


"Kakak tahu kenapa? Karena wanita yang mampu membuat kita nyaman, sudah pasti bisa menggetarkan hati kita dan dia akan terlihat sangat cantik di mata kita. Walaupun dia belum mandi sekalipun," jelas Al.


"Ya ampun,, ucapan mu, De." Adam sudah kehabisan kata-katanya.


"Sudah-sudah, nikmati sarapannya. Kamu Al, jangan godain Kakak kamu, biarkan dia memilih jalannya sendiri." Tegas Arkana.


"Jalan sesat, Yah. Mana indah hidup tanpa wanita," Al langsung menghampiri Arkana dan menghabiskan sarapannya.


Arkana dan Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Al, sedangkan Laila langsung tertawa mendengar ucapan Al.


"Rupanya Al, benar-benar titisan Daddy Ar." Laila menepuk pundak Arkana sambil tertawa.


Arkana tak bisa berkata apa pun, karena itu memang benar adanya. Tapi, Arkana berharap. Semoga saja tak kebablasan seperti Daddynya.


Selesai sarapan, Adam langsung berpamitan dan pergi menuju BAC Corp. Perusahaan yang kini menjadi tanggung jawabnya.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, ucapan Al selalu terngiang di telinganya.


"Kalau Kakak mau cari wanita buat seriusan, cari wanita yang bisa membuat Kakak nyaman. Tak perlu cantik, tak perlu seksi, yang penting bisa membuat kita nyaman saat berada di dekatnya."


"Nyaman? Wanita yang membuat kita merasa nyaman, anak itu benar-benar." Adam pun tersenyum sambil mengemudikan mobil nya.


Sampai di kantor, Adam langsung melangkahkan kakinya hendak menuju ruang kerjanya. Setiap karyawan yang melihatnya, langsung membungkuk hormat.


Banyak juga dari para karyawan wanita yang menatap wajah Adam penuh kagum, wajah tampan yang begitu mirip dengan Tuan Arley sang pemilik perusahaan.


Saat hendak masuk ke dalam ruangannya, Adam melihat Sisil yang sedang mengelap kaca. Adam langsung tersenyum, kemudian dia menghampiri Sisil.


"Pagi," sapa Adam tepat di samping Sisil.


Sisil yang sedang fokus pun langsung memegang dadanya, sedangkan Adam langsung terkekeh.


"Kaget?" tanya Adam.


"Iya, Tuan, mengagetkan saya." Jawab Sisil sambil menunduk.


"Maaf, tolong buatkan kopi. Saya tunggu, kaya kemarin." Adam langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.


Sisil hanya tersenyum, dia langsung menyimpan alat kebersihannya dan masuk ke pantry.


Sedangkan Adam, langsung masuk ke dalam ruangannya. Di langsung duduk di kursi kebesarannya, dia kembali memikirkan ucapan Al, lalu dia tersenyum sambil mengelus dagunya.


"Apa rasa nyaman yang seperti itu?" tanya Adam.


"Apanya yang nyaman, Tuan?" tanya Leo yang ternyata sudah berada tepat di hadapan Adam.


"Leo, sejak kapan kamu di situ?" tanya Adam.


"Sejak lima menit yang lalu, Tuan. Dari tadi anda melamun, saya sudah mengetuk pintu berkali-kali tapi anda diam saja. Saya kan jadi khawatir, maaf." Leo langsung menunduk merasa bersalah karena langsung masuk.


"Tak apa, saya saja yang terlalu fokus. Ada apa?" tanya Adam.


"Hanya ingin memberitahukan jadwal hari ini saja," ucap Leo.


"Silahkan, " titah Adam.


Saat Leo hendak membacakan jadwal kerja Adam, Sisil masuk dengan membawa kopi untuk Adam.


Pandangan Adam pun langsung terfokus padanya, Leo hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka, jika perhatian Adam bisa teralihkan begitu saja pada wanita yang hanya bersetatus sebagai seorang OB.


+


+


+


Selamat pagi, selamat berlibur. Semoga kalian sehat selalu, dan jangan lupa tinggalkan jejak untuk Author ya.. 😘😘😘😘😘😘😘