
Pagi telah menjelang, Laila terlihat sedang duduk sambil meminum jamu yang si Mbok buatkan untuknya. Pinggangnya benar-benar terasa mau patah, karena kemarin Arkana bermain dengan cepat dan sedikit lebih kasar dari biasanya.
Laila akui jika dia menyukainya, bahkan dengan Arkana yang bermain seperti itu membuat dirinya puas dan bisa merasakan pelepasannya beberapa kali.
Laila bahkan sangat bersyukur karena diusianya Arkana yang semakin bertambah, dia malah lebih pandai memuaskan Laila di atas ranjang.
Dia bahkan sangat tahu, kapan Laila ingin diperlakukan dengan lembut dan kapan Laila ingin diperlakukan dengan sedikit kasar dan dalam tempo yang cepat.
Bahkan jika Laila membayangkan percintaan dirinya dengan Arkana saja, miliknya seakan berkedut kembali dan minta untuk mengulang moment percintaan panas yang mereka sudah lalui.
Namun sayangnya, usia memang tak bisa dibohongi. Semakin ke sini Laila merasa jika tubuhnya lebih sering merasa lelah dan juga cape, sepertinya Laila harus melakukan sesuatu.
"Apa aku harus ikut olah raga khusus ya, biar badan aku ngga cepat pegal? Sepertinya aku juga harus sering perawatan, karena badany mulai terasa kendur di beberapa bagian." Laila bergumam sambil meminum jamunya.
"Bu, kenapa malah bicara sendirian?" tanya Adam.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu sudah siap?" tanya Laila.
"Sudah, Bu. Urusan. kantor biar Grandpa sama Leo yang handle, lagian ada Gracia juga yang bantu." Adam langsung mendudukan dirinya di samping Laila.
Adam terlihat memperhatikan Laila, dia bisa melihat jika Laila terlihat kesakitan saat dia menggeser tubuhnya.
"Bu, apa ibu tidak kenapa-kenapa?" tanya Adam.
"No, ini ulah Ayah'mu." Laila terlihat berbisik, takut-takut Arkana akan mendengarnya.
Adam pun langsung tergelak, karena sekarang Laila bisa lebih terbuka padanya. Mungkin karena dia sudah berumah tangga, jadinya Laila pun berani mengatakan hal itu padanya.
"Jangan tertawa, kamu juga kalau main jangan kasar-kasar nanti kalau Sisil hamil, kan kasian Baby kalian." Laila langsung memukul tangan kekar milik Adam.
Mendengar ucapan Ibunya, Adam langsung terlihat sangat kaget.
"Ya Tuhan, Bu. Jangan bilang kalau ibu merasa kalau Sisil--"
"Ya, Sayang. Sekarang ajaklah istrimu sarapan, cepat periksakan dia Ibu sudah tak sabar," kata Laila.
Adam langsung bangun dan mengecupi setiap inci wajah ibunya, lalu Adam pun berlari menuju kamarnya. Laila hanya bisa tersenyum melihat tingkah putranya itu, dia pasti senang, pikirnya. Karena telah berhasil mencetak Adam junior, tak lama lagi dia pun akan mendapatkan gelar sebagai Ayah.
Pukul delapan pagi Adam sudah berada di Rumah Sakit, dia kini dia dan Sisil sedang berada di ruang Obgyn.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapa Dokter Citra.
"Pagi, Dok." Adam terlihat antusias, dia bahkan dengan cepat mengulurkan tangannya.
Dengan senang hati dokter Citra pun langsung membalas uluran tangan Adam.
Adam terlihat begitu bersemangat saat bertemu dengan dokter Citra, dia sudah tidak sabar ingin segera memeriksakan kondisi Sisil.
Dia juga sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Sisil saat ini, apakah Sisil hamil sesuai dengan dugaan Laila atau tidak?
Berbeda dengan Adam, Sisil terlihat kebingungan karena tiba-tiba saja Adam mengajak Sisil untuk ke Rumah Sakit pagi-pagi sekali.
Bahkan sekarang dia berada di ruang Obgyn, dia memang tidak bersekolah tinggi tetapi dia tahu ruang Obgyn itu fungsinya buat apa.
Sisil merasa jika dirinya sedang tidak hamil, lalu untuk apa pikirnya Adam repot-repot membawa Sisil untuk memeriksakan kondisi Sisil di ruang Obgyn tersebut?
"Begini, Dok. Akhir-akhir ini istri saya sering bertingkah aneh, bahkan saya ajak itu pun dia terkesan malas. Setelah saya ingat-ingat, selama dua bulan kami menikah istri saya belum datang bulan." Adam berbicara dengan sangat lancar seolah dia yang sedang mengalami semuanya.
Sisil yang mendengarkan ucapan Adam, langsung menatap Adam dengan alis yang terlihat saling bertaut. Sisil bahkan lupa kapan dia terakhir datang bulan, sedangkan Adam terlihat begitu mengingat dengan jelas.
Dokter Citra terlihat tersenyum, lalu dia pun langsung menatap Adam dan Sisil secara bergantian.
"Nyonya bisa ikut ke kamar mandi bersama dengan susuter," ucap Dokter Citra.
Sisil terlihat menatap Adam dan juga dokter Citra secara bergantian, kemudian dokter Citra pun tersenyum dan menunjuk ke arah suster Yeni yang sedang menunggu di samping Sisil dengan membawa tespek dan juga sebuah wadah di tangannya.
Adam langsung merangkul Sisil dan mengelus kedua pundaknya dengan lembut, "ikutlah bersama suster. Biar semuanya menjadi jelas, aku sangat penasaran."
"Ya," jawab Sisil singkat.
Walaupun Sisil masih merasa bingung, tapi dia tetap mengikuti arahan dokter Citra dan juga Adam. Sisil langsung masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan dengan suster Yeni.
Suster Yeni terlihat begitu setia mendampingi Sisil, sepuluh menit kemudian Sisil dan juga suster Yeni sudah keluar dari kamar mandi tersebut.
"Bagaimana hasilnya, Sus?" tanya Dokter Citra.
"Positif, Dok." Suster Yeni langsung memberikan tespek bertuliskan positif kepada dokter Citra.
Dokter Citra langsung tersenyum, begitu pun dengan Adam. Sedangkan Sisil terlihat masih syock dengan kenyataan tersebut, antara bahagia dan juga tak percaya bercampur aduk menjadi satu.
Adam yang merasa sangat bahagia pun tanpa ragu langsung memeluk dan menciumi setiap inci wajah Sisil, mendapatkan perlakuan seperti itu Sisi langsung mengeluarkan air matanya.
Dia menangis sesenggukan di dalam pelukan Adam, Adam merasa bingung dengan reaksi Sisil. Kenapa dia malah menangis, pikirnya.
Adam pun langsung melerai pelukannya, Adam langsung menatap wajah Sisil dengan lekat.
"Kenapa... kenapa kamu malah menangis? Apa kamu tidak senang karena telah mengandung buah hati kita?" tanya Adam.
"Aku bahagia, Mas. Ini air mata kebahagiaan," ucap Sisil seraya tersenyum dengan air mata yang terus mengalir.
"Oh, Sayang. Aku pun bahagia," ucap Adam.
Adam langsung memeluk Sisil dan kembali mengecupi setiap inci wajah istrinya dan yang terakhir dia pun melabuhkan ciuman di bibir Sisil.
Ciuman kebahagiaan yang terlihat begitu mesra, Dokter Citra dan Suster Yeni nampak memalingkan wajahnya.
"Ehm, maaf Nyonya, Tuan. Kita periksakan kandungannya dulu, ya? Silahkan Nyonya Sisil untuk berbaring dulu di bed pasien," ucap Dokter Citra setelah Adam melepaskan pagutannya.
"Iya," jawab Sisil malu-malu.
Sisil terlihat menyusut air matanya, kemudian dia pun langsung bangun dan mengikuti arahan dari dokter Citra.
Setelah Sisil berbaring, dokter Citra pun menuangkan gel di perut Sisil. Kemudian dokter Citra pun langsung melakukan USG, tak lama setelah dia menggerak-gerakkan sebuah alat di atas perut Sisil, dokter Citra nampak tersenyum.
Adam dan Sisil nampak penasaran dengan reaksi dari dokter Citra, karena tak sabar Adam pun langsung bertanya.
"Bagaimana dengan keadaan calon Baby kami?" tanya Adam.