
Malam ini Laila terlihat begitu gelisah,dia masih mengingat ucapan Devano tentang proyek kerja sama nya di kota K. Laila sedari tadi hanya mondar mandir sambil menggigit kuku nya.
Laila berasal dari sana, dan Laila takut jika Devano akan menyadari kota asal kelahiran Laila tersebut. Laila takut jika identitas nya akan di ketahui oleh Devano, sehingga nanti keberadaan Laila bisa di ketahui.
Dan yang paling Laila takutkan, jika keluarga Arkana akan mengambil Adam dari nya. Susah payah dia mengandung dan melahirkan Adam, sungguh Laila tak ingin kehilangan Adam.
"Ah,, kenapa aku jadi gelisah seperti ini? Lagian apa yang harus aku khawatir kan? Kak Devan tak mungkin juga menyelidiki tentang asal usul ku, aku hanya terlalu parno saja. "
Laila pun akhirnya merangkak ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuh nya, mungkin Laila merasa sangat lelah sehingga merasa gelisah hanya dengan mendengar kata kota kelahiran nya.
..."Ya Allah, lindungi lah hamba dan anak hamba Adam. Jauh kan kami dari marabahaya, dan semoga tidak ada yang akan memisah kan aku dengan Adam..Aamiin.....
Setelah memanjatkan do'a dalam hati nya, Laila pun langsung tertidur.
...----------------...
Pagi hari nya, Laila bangun pagi seperti biasa nya.Setelah shalat subuh, Laila langsung memasak untuk sarapan.
Setiap pagi Laila selalu masak nasi lengkap dengan lauk nya, karna Laila dan Adam tak suka dengan yang nama nya sarapan roti atau makanan ringan lain nya, karna perut mereka akan terasa cepat lapar.
Pukul enam pagi semua nya telah siap, Laila pun menata makanan di atas meja. Setelah itu dia mencuci tangan nya, dan pergi ke kamar Adam.
Sampai di depan kamar Adam, Laila membuka pintu kamar nya dengan pelan. Nampak lah si kecil Adam yang sudah rapih dengan seragam nya,anak itu memang sangat mandiri.
Tanpa Laila perlu repot untuk membangun kan nya, Adam pasti sudah bangun tepat waktu. Dan tentu nya, Adam selalu mengerjakan apa pun yang menurut nya bisa dia kerjakan sendiri.
"Waah, anak ibu sudah tampan. Wangi lagi,"Puji Laila.
"Iya dong Bu, harus itu."
"Ya sudah, kalau begitu kita sarapan dulu."
Ajak Laila, dan adam pun setuju. Adam dan Laila langsung ke luar dari kamar Adam, mereka pun langsung menuju ruang makan.
Dengan penuh semangat, Adam langsung duduk dan mengambil piring nya. Laila pun tersenyum, Laila memperhatikan putra nya yang dengan semangat mengendok nasi kedalam piring, setelah itu Adam menuangkan soto ke dalam mangkuk.
Laila pun duduk dan hendak mengambil piring, tapi niat nya ia urungkan, karna bel rumah berbunyi dengan sangat nyaring.
"Sebentar ya sayang, Ibu lihat ke depan sebentar."
Adam pun mengangguk, sedangkan Laila langsung menuju pintu utama. Di bukakan pintu nya oleh Laila, saat pintu terbuka nampak lah Devano yang sedang tersenyum hangat pada nya.
"Pagi Kak, ada apa sepagi ini kakak sudah ke sini?"
"Maaf kalau aku mengganggu sepagi ini, ada yang ingin aku berbicarakan dengan Adam. Boleh? "
Laila pun mengangguk,"Boleh kak, Adam sedang sarapan .Langsung ke ruang makan saja,"Titah Laila.
Devano pun langsung masuk dan berjalan menuju ruang makan, tentu nya berjalan beriringan dengan Laila. Sampai di meja makan Devano langsung berdecak senang, karna melihat menu kesukaan nya terhidang di sana.
"Waah, kamu masak soto Banjar ya? Ini makanan kesukaan aku, aku boleh ikut makan kan?"
Ucap Devano seraya duduk di sebelah Adam, tanpa sungkan dia langsung mengambil piring dan mengendok nasi serta mengambil soto banjar yang dia tuang ke dalam mangkok.
Laila pun menggeleng kan kepala,"Ya ampun kak, kakak mau bicara dengan Adam apa mau numpang makan? "
"Dua dua nya, boleh kan? "
Laila pun tergelak ,"Nasi dan soto nya sudah kakak tuang, bagaimana aku bisa mengatakan tak boleh?"
Devano pun langsung memamerkan gigi putih nya,"Aku lapar, aku belum makan. Kalau pagi aku selalu makan berat, ngga kenyang kalau cuma makan roti. Aku makan ya?? "
"Makan saja Om, dan cepat habiskan. Kalau Om mau ngobrol sama aku, sembari jalan ke sekolah saja Om.Biar menghemat waktu, "Ucap Adam.
Laila hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Devano, orang yang baru dia kenal tapi terlihat sudah akrab dengan Nya dan juga dengan Adam.
Selsai sarapan Adam dan juga Devano langsung berpamitan, Devano memang mau ke kantor. Tapi dia ingin mengantarkan Adam pergi ke sekolah seraya mengobrol di jalan.
"Boy, Om berencana akan membangun rumah impian Om. Apa kah kamu mau membuat kan desain nya untuk Om? "
"Tentu, rumah seperti apa yang Om ingin kan? "
Devano pun mulai berbicara tentang rumah impian yang dia ingin kan, Devano juga meminta Adam untuk membuat desain taman bermain di belakang rumah nya nanti.
Devano adalah seorang anak yatim yang hidup sebatang kara, dia sangat ingin mempunyai anak banyak. Dan tentu nya dia menyiap kan taman bermain agar anak nya merasa betah di rumah, dan juga agar mempunyai banyak waktu untuk bersantai bersama.
Devano juga meminta Adam untuk membuatkan banyak furniture untuk mengisi rumah nya, dia sangat suka jika rumah nya nanti di isi dengan perabotan rumah tangga yang terbuat dari kayu atau pun bambu hitam.
Tak lupa Devano juga meminta dibuat kan riasan rumah berupa lukisan ,dan tentu nya beberapa hasil karya Adam.
Selepas Devano bercerita, Adam langsung berdecak senang."Om, setelah mengerjakan pesanan Om. Aku akan menjadi orang kaya mendadak, karna pesanan Om begitu banyak."
Devano pun langsung tertawa, "Hahahaha,,,, Kau benar Boy. Jadi, jangan sia sia kan kesempatan dari ku ini.Ok?!"
"Siap Bos, "Ucap Adam seraya menempelkan telapak tangan kanan di kening nya.
Devano pun berdecak, "Ck, kenapa waktu saat bersama dengan mu terasa sangat sebentar?"
"Memang nya kenapa Om? "
"Lihatlah Boy, kita sudah sampai di sekolah."
Adam pun tersenyum, "Nanti kita ketemu lagi Om, jadi jangan sedih kalu kita berpisah."
"kamu benar Boy, ayo Om antar. "
Tawar Devano, Adam pun mengangguk senang. Mereka berjalan beriringan menuju gerbang sekolah, semua teman Adam langsung melihat ke arah nya.
Mereka mengira jika Devano adalah Ayah Adam, karna selam ini memang mereka tak pernah melihat Adam yang datang dengan seorang pria dewasa.
Padahal Adam sudah sering mengatakan jika Ayah nya sudah meninggal, tapi teman nya merasa tak percaya. Pasal nya saat di tanya tentang Ayah nya , Adam selalu bicara tak pernah tau Ayah nya seperti apa.Bahkan wajah Ayah nya seperti apa pun, Adam tak pernah tahu.
Adam sudah sering bertanya pada Laila, tapi Laila selalu berkata jika Ayah nya Adam sudah meninggal saat Adam masih dalam kandungan.
Jika Adam bertanya tentang rupa Ayah nya, Laila selalu berkata "Lihat lah diri mu di cermin, seperti itu lah rupa Ayah mu."
"Terimakasih Om, sudah mau mengantar Adam."
"Sama sama Boy, belajar yang rajin biar tambah pandai."
"Ck, aku tak perlu belajar. Pelajaran ini terlalu mudah untuk ku, "Ucap Adam yang terlihat bosan.
Devano pun tersenyum, dia tahu jika Adam adalah anak yang jenius. Tapi Adam terlihat selalu mau sekolah, karna buat Adam mempunyai ijazah itu penting.
Dan yang pasti, bersosialisasi dengan orang banyak itu yang sangat penting. Adam bisa mengetahui banyak karakter dari setiap manusia yang dia temui, dia juga bisa paham dengan sikap banyak orang yang dia temui.
Devano pun nampak meninggal kan sekolah Adam, ketika melihat Adam sudah masuk ke dalam kelas nya.
+
+
+
TBC