Who Is Adam?

Who Is Adam?
Persiapan



Sudah satu minggu Sisil tinggal di rumah Laila, dia terlihat sangat senang. Apa lagi dengan adanya Ibu-ibu yang bekerja di sana, membuat Sisil tak mau diam.


Setiap hari dia selalu mencoba untuk membuat aksesoris dari limbah plastik, hasilnya pun tak mengecewakan.


Sisil terlihat pandai dalam memadupadankan warna, hasil kerjaan Sisil terlihat lebih hidup. Awalnya Laila dan Adam kurang setuju kalau Sisil ikut serta.


Akan tetapi, saat melihat wajah bahagia Sisil saat menekuni pekerjaannya membuat Adam dan Laila tak tega.


Selama Sisil senang, tak apa pikir mereka. Satu hal yang harus diperhatikan, jangan sampai Sisil kecapean atau kelelahan.


Terkadang, Sisil juga membantu pekerjaan Adam. Jika Ada pekerjaan yang mendesak dan harus dia kerjakan di rumah. Adam mengakui, jika Sisil sangat pandai. Padahal, Sisil hanya lulusan SMA saja.


Mungkin darah bisnis dari Ayah Anggara memang mengalir dalam diri Sisil, walaupun begitu Adam tak mau memanfaatkan Sisil. Cukup membantu saja.


Pagi ini, Adam sudah berada di kantor, karena memang akan diadakan meeting pagi. Saat Adam masuk ke dalam ruangannya, Adam sangat kaget karena ternyata Tuan Arley berada di sana.


Dia sedang duduk di atas sofa dengan berkas yang terlihat sangat penting di tangannya.


"Grandpa," panggil Adam.


Mendengar panggilan dari Adam, Tuan Arley pun langsung menyimpan berkasnya. Dia menatap Adam dengan senyum di bibirnya.


"Yes, Boy." Jawab Tuan Arley.


Adam sempat bingung, karena Tuan Arley terlihat sangat senang.


"Tumben, pasti ada sesuatu. " Adam langsung duduk tepat di samping Tuan Arley.


Mata Adam seakan menelisik dan memindai wajah Tuan Arley.


"Hem, ada kabar bahagia." Tuan Arley langsung melebarkan senyumnya.


"Kabar apa?" tanya Adam penasaran.


Adam menunggu kabar yang akan disampaikan oleh Tuan Arley.


"Perusahaan Gunandari... pailit." Terang Tuan Arley.


Tuan Arley menjelaskan, kenapa dia bisa sangat bahagia pagi ini.


"Kok, bisa?" tanya Adam.


Tuan Arley langsung tergelak, rupanya cucunya lupa siapa Grandpa'nya.


"Kamu lupa, Boy?" tanya Tuan Arley.


Tuan Arley menyerahkan berkas yang sedari tadi dia pegang, Adam pun langsung menerima berkas tersebut.


Adam pun langsung tertawa." Tentu saja tidak!"


Adam sudah tahu, jika Tuan Arley pasti sudah melakukan sesuatu terhadap perusahaan Gunandari. Karena hanya Grandpanya yang selalu bisa menjatuhkan perusahaan orang lain dengan cara yang bersih. Sedikit demi sedikit, hingga tak ada orang yang curiga jika dibalik semua itu ada yang menjatuhkan.


"Grandpa, memang the best." Adam mengacungkan kedua jempolnya.


"Pasti, untuk meeting hari ini biar Grandpa yang handle. Kamu pergilah, persiapkan lamaran yang romantis untuk Sisil." Titah Tuan Arley.


Mata Adam langsung membulat sempurna, dia merasa senang karena akhirnya diberikan waktu untuk melamar Sisil.


Adam langsung memeluk Tuan Arley, dia merasa sangat senang karena Grandpanya selalu luar biasa di matanya.


"Tank's, Grandpa." Kata Adam.


"Hem, ajaklah Leo untuk membatu kamu. Dia itu seorang Casanova, dia pasti lebih tahu dari kamu bagimana cara melamar wanita dengan romantis." Jelas Tuan Arley.


"Grandpa, benar. Dia memang pandai dalam menjerat wanita, sepertinya dia titisan dirimu." Adam langsung tergelak, Setelah mengucapkannya.


"Benarkah? Lalu, bagaimana dengan, Al?" tanya Adam.


"Ck, dia hanya nakal. Sedikit suka menggoda, akan tetapi dia merupakan pria setia." Jelas Tuan Arley.


"Benarkah? Bagaimana Grandpa bisa seyakin itu?" tanya Adam.


"Aku percaya jika Laila bisa mendidik Al dengan benar." Tegas Tuan Arley.


"Grandpa, benar. Senakal-nakalnya Al, dia pasti tunduk sama Ibu. Ibu memang selalu luar biasa," puji Adam.


"Jangan berisik, cepat sana pergi. Jangan lupa ajak Leo," kata Tuan Arley.


Adam menurut, dengan cepat dia mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya. Setelah itu, dia langsung pamitan pada Tuan Arley dan pergi bersama dengan Leo.


Awalnya Leo terlihat bingung, karena dia diajak pergi di saat jam kerja. Akan tetapi, setelah Adam menjelaskan Leo pun paham. Jika ternyata, cucu dari pemilik perusahaan tersebut sedang membutuhkan bantuan nya.


Leo pun dengan senang hati akan memberikan ilmunya, tentu saja ilmu yang sangat ia kuasai yaitu merayu wanita dan menyiapkan lamaran yang sangat romantis untuk Sisil.


Saat masuk ke dalam mobil, Adam terdiam cukup lama. Leo pun menjadi bingung dibuatnya, bukankah dia di ajak untuk mempersiapkan lamaran? Lalu, kenapa malah diajak bengong di dalam mobil, pikirnya.


"Tuan muda, maaf. Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Leo dengan raut wajah penasaran.


Adam pun memalingkan wajahnya, dia menatap wajah Leo dengan Intens.


"Entahlah, Leo. Aku pun tak tahu dengan pasti, aku hanya ingin melamar Sisil dengan cara yang sangat romantis. Akan tetapi, aku tidak tahu harus di mana dan bagaimana?"


Adam mencurahkan kegundahan hatinya, dia merasa bingung dan bertanya-tanya tentang apa yang disukai wanita jika hendak di lamar.


Leo nampak berpikir, tak lama kemudian dia pun tersenyum lalu menatap Adam dengan intens.


" Bagaimana kalau Tuan mengadakan dinner romantis saja? Nanti, pas makan malam romantis tersebut, ajaklah Nona Sisil untuk menikah dengan anda?" saran Leo pada Tuannya.


Adam terlihat berpikir kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, akan tetapi aku ingin makan malam yang benar-benar romantis. Apakah kamu bisa menyiapkan nya?" tanya Adam


Leo pun langsung tersenyum." Bisa, Tuan. Itu adalah keahlian saya, jangan meragukan kemampuan saya." Kata Leo, Adam pun langsung tersenyum.


"Baiklah, aku mengandalkanmu Leo." Kata Adam," lalu kita harus ke mana sekarang?" tanya Adam.


"Kita harus memesan tempat dulu, kemudian membeli gaun, cincin dan juga sebuket bunga." Leo pun memberitahukan apa yang harus dilakukan oleh Adam.


Adapun terkekeh, karena dia malah tidak memikirkan akan hal itu. Kemudian, ada pun menepuk pundak Leo beberapa kali.


"Baiklah, aku serahkan padamu. Kamu atur semuanya, kamu bantu aku supaya aku bisa melamar Sisil dan semoga saja Sisil bisa menerima lamaran ku." Kata Adam.


"Tenang saja, Tuan. Tuan, bisa mengandalkan saya." Kata Leo.


Setelah perbincangannya dengan Leo, akhirnya Adam pun melajukan mobilnya menuju satu Restoran yang memang terkenal romantis.


Saat mereka masuk ke dalam Restoran sebut, Leo langsung mengajak Adam untuk menemui pengurus Restoran tersebut.


Saat bertemu dengan pengurus Restoran tersebut, Leo langsung mengungkapkan keinginan Adam kepada pengurus Restoran tersebut.


Pengurus Restoran tersebut pun langsung mengerti, dia terlihat sangat senang. Dia pun dengan senang hati akan mengurus semuanya. Tentunya dengan arahan Leo.


Setelah keluar dari Restoran tersebut, Leo langsung mengajak Adam untuk pergi ke sebuah butik. Saat tiba di sana, Leo langsung meminta Adam untuk memilih gaun yang pas untuk Sisil.


Setelah itu, Leo pun menyuruh petugas tokoh tersebut untuk mengirimkan langsung kepada Sisil. Leo juga meminta Adam untuk mengirimkan pesan singkat, jika Adam menunggu Sisil di Resto yang sudah mereka pesan pukul 7 malam.


Adam sempat protes, kenapa harus bertemu di sana? Kenapa tidak Ada saja yang menjemput Sisil?