Who Is Adam?

Who Is Adam?
Dinner Romantis



Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, akan tetapi Adam tak kunjung pulang. Hal itu membuat Sisil dan Laila merasa khawatir, pasalnya Adam selalu memberitahukan kemanapun dia akan pergi.


Sisil terlihat mondar-mandir di depan pitu gerbang utama, berbeda dengan Laila yang terus saja mencoba menelpon putra sulungnya.


Arkana yang melihat kekhawatiran di wajah Laila pun langsung menghampirinya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Arkana.


Arkana merangkul pundak Laila, lalu mengajaknya untuk duduk di atas sofa.


"Adam belum pulang, Sayang. Tidak seperti biasanya, dia bersikap seperti ini." Laila memeluk Arkana, mencoba mencari rasa tenang di sana.


Arkana langsung mengelus lembut punggung Laila, dia tahu jika Laila sedang menghawatirkan keadaan Adam.


"Mungkin Adam sedang ada keperluan, sudah telpon, Daddy?" tanya Arkana.


Laila langsung melerai pelukannya, kemudian dia menegakkan tubuhnya dan mengambil ponselnya. Lalu, dengan cepat dia pun menekan nomor Tuan Arley.


Arkana yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena Laila bukannya menjawab pertanyaan darinya, malah langsung mengerjakan apa yang dia tanyakan.


Tak lama kemudian, Tuan Arley pun menjawab panggilan dari Laila. Selang beberapa menit, kegundahan di hati Laila tiba-tiba saja menghilang tergantikan dengan sebuah senyuman yang sangat manis dimata Arkana.


Walaupun Laila kini sudah berumur empat puluh lima tahun, tetap saja di mata Arkana, Laila adalah wanita yang paling cantik yang pernah dia miliki.


Karena memang pada kenyataannya, hanyalah Laila wanita satu-satunya yang berada di dalam rumah tersebut.


"Bagaiman, Sayang?" tanya Arkana.


Senyum Laila semakin mengembang, Laila memeluk Arkana lalu membisikan sesuatu rapat di telinganya.


"(___________)"


"Benarkah?" tanya Arkana.


"Ya, Sayang. Aku sudah tak sabar," kata Laila.


"Aku pun," jawab Arkana." Akhirnya, dia memantapkan hatinya pada Sisil." Arkana langsung mengecupi wajah Laila.


"Mas! Ini bukan di kamar, nanti Al lihat." Laila terlihat protes dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Arkana langsung terkekeh," maaf."


"Hem," jawab Laila.


"Bu!" panggil Sisil yang terlihat menghampirinya sambil berlari.


Arkana segera menggeser letak duduknya, dia takut Sisil akan merasa tak enak hati melihat kedekatan mereka.


"Ada apa, Sayang?" tanya Laila.


Sisil menunjukan sebuah paper bag ke arah Laila, Istrinya Arkana itu sudah paham dengan apa isinya. Laila langsung bangun dan mengajak Sisil untuk pergi ke kamarnya Sisil.


"Sekarang kamu mandi, terus pakai gaun yang sudah Adam belikan untuk kamu." Laila langsung mengambil handuk mandi dan menyerahkannya pada Sisil.


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Sisil tak paham.


"Adam meminta kamu pergi ke sebuah Restoran yang ada di pusat kota. Nanti, biar pak Sopir yang mengantarkan kamu." Jawab Laila.


Sisil terlihat mengernyit heran, kenapa hanya Sisil yang diajak pergi oleh Adam? Kenapa Laila, Arkana dan juga Al tidak ikut serta?


Laila yang mengerti akan tatapan Sisil pun langsung bersuara, dia tak mau jika calon menantunya akan salah paham.


"Ini adalah acara kamu dan Adam, Ibu tidak akan ganggu. Bersenang-senanglah," kata Laila.


Sisil terlihat menggenggam tangan Laila, kemudian dia menatap Laila dengan lekat.


"Bu, kenapa harus Sisil sama Mas Adam? Kenapa Ibu tidak ikut saja?" tanya Sisil.


"Jangan bicara terus, nanti kamu ngga jadi pergi loh...."


Sisil pun langsung tersenyum," baiklah."


Sisil pun menurut, dia langsung mengambil handuk dari tangan Laila kemudian pergi ke kamar mandi. Setelah Sisil pergi ke kamar mandi, Laila segera pergi ke dalam kamarnya.


Dia mengambil peralatan make upnya, lalu meletakkannya di atas meja rias milik Sisil. Laila segera pergi ke kamarnya, dia ingin memberi ruang untuk Sisil mematut dirinya sendiri.


Selepas shalat maghrib, Laila, Arkana dan juga Al langsung ke ruang makan. Sedangkan Sisil, terlihat mematut dirinya di depan cermin.


Sisi sudah menggunakan gaun malam yang menutupi area tubuhnya, tertutup tapi tetap meninggalkan kesan seksi. Rambutnya dia sanggul sederhana, Sisil juga merias wajahnya dengan make-up yang sudah dipersiapkan oleh Laila.


Cukup dengan olesan make-up tipis, Sisil sudah terlihat sangat cantik.


"Selesai," seru Sisil.


Sisil lalu keluar dari kamarnya, kemudian dia pun menghampiri Arkana, Laila dan juga Al. Dia hendak berpamitan kepada mereka, karena Adam sudah mengirimkan pesan padanya jika Adam sudah menunggu dirinya.


Saat Sisil masuk ke dalam ruang makan, Al langsung menghentikan kunyahannya. Dia menatap Sisil tanpa berkedip, Laila langsung menyikut tangan Al.


Menurutnya, sangat tak sopan bukan jika dia menatap calon kakak ipar nya seperti itu?


"Al, tolong kondisikan mata kamu itu!" Ucap Laila memperingatkan.


"Sayang, Bu. Makhluk ciptaan Tuhan yang cantik dan seksi seperti ini kalau tak di pandang." Jelas Al.


"Al!" Nada bicara Laila sudah naik satu oktaf.


Hal itu membuat Alina menutup matanya dengan sempurna.


"Sudah, Bu." Jawab Al.


Arkana dan Laila hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Al, sedangkan Sisil terlihat tertawa geli melihat Al yang sedang menutup matanya.


"Bu, Ayah, aku pamit dulu." Pamit Sisil.


Arkana dan Laila pun langsung menganggukkan kepala mereka.


"Hati-hati ya, Sil." Kata Laila.


"Siap, Bu." Jawab Sisil.


Sisil segera melangkahkan kakinya menuju ke halaman depan, karena disana seorang sopir sudah menunggu Sisil sedari tadi.


Setelah memastikan Sisil masuk ke dalam mobil, Sopir tersebut pun melajukan mobilnya menuju Restoran yang sudah Adam persiapkan sejak pagi hari.


Adam sengaja tidak menyewa Restoran tersebut, dia hanya memesan satu meja yang terletak di tengah-tengah para pengunjung yang hadir di sana.


Adam berharap, jika mereka akan menjadi saksi di kala Adam menyatakan perasaannya kepada Sisil. Menjadi saksi, dikala Adam melamar Sisil dan Adam pun sangat berharap semoga Sisil mau menerima cintanya dan mau menjadi istrinya.


Saat tiba di Restoran tersebut, hati Sisi langsung berbunga-bunga. Bagaimana tidak berbunga-bunga coba, jika Restoran tersebut terlihat sangat mewah dan setiap dekorasinya terlihat sangat romantis.


Saat Sisil melihat Adam, Sisil langsung menghampiri Adam dan duduk tepat dihadapan Adam.


" Kamu, cantik banget sih." Puji Adam.


Sisil terlihat se tersipu malu, kemudian dia berkata.


"Terima kasih, Mas." Kata Sisil.


"Sama-sama, Sayang. Mas sudah memesan Cake yang enak, mau?" tanya Adam.


Sisil terlihat menganggukan kepalanya," Mau."


Setelah mendapatkan persetujuan dari Sisil, Adam pun segera memanggil pelayan yang ada di restoran tersebut. Pelayan yang sudah disiapkan oleh Leo untuk kelancaran acara mereka.


pelayan itu pun, langsung membawa makanan yang sudah Adam dan Sisil pesan. Sisil melihat sepotong kue yang pelayan tersebut suguhkan.


"Makan, Sayang." Titah Adam.


Sisil langsung mengambil sendok dan memakan kue tersebut. Akan tetapi, saat kue tersebut masuk kedalam mulutnya, tiba-tiba saja Sisil merasa ada benda yang keras di dalam mulutnya.


Dahi Sisil terlihat mengernyit heran, kemudian Sisil mengambil tisu dan melepehkan kue yang sudah dia makan.