
Pukul 5 pagi, Adam, sudah terbangun dari tidurnya. Dia, mengedarkan pandangannya melihat ke sekelilingnya. Nampaklah sosok Tuan Arley, yang sedang melaksanakan shalat subuh tak jauh dari tempat tidur.
Adam, langsung tersenyum karena ternyata Grandpa nya merupakan orang yang rajin beribadah. Adam, dengan cepat turun dari tempat tidurnya dan langsung masuk ke kamar mandi. 10 menit kemudian, anak itu sudah terlihat tampan dan segar setelah melaksanakan ritual mandinya.
Melihat cucunya, Tuan Arley langsung menggelar sajadah tepat di sampingnya.
"Silahkan, Boy." ucap Tuan Arley.
"Terimakasih, Grandpa." jawab Adam.
Adam pun langsung melaksanakan kewajibannya terhadap sang khalik, sedangkan Tuan Arley nampak berzikir sambil menunggu Adam selsai dengan shalatnya.
Setelah selesai melakukan kewajibannya, Adam dan Tuan Arley pun langsung pergi menuju ruang makan. Tuan Arley harus segera sarapan, karena dia harus segera pergi ke kantor pusat.
" Sarapan yang banyak, Boy. Setelah itu, Grandpa, akan mengantarkanmu ke rumah Ayah." ucap Tuan Arley, seraya mengendokan nasi ke piring Adam.
" Grandpa," panggil Adam.
"Yes, Boy. Ada apa? " tanya Tuan Arley.
"Bolehkah, Adam, ikut Grandpa ke kantor?" tanya Adam.
" Memangnya hari ini kamu tidak sekolah, hm?"tanya Tuan Arley.
" Issh,, Grandpa. ini hari Sabtu, Adam libur." Tangan kecil Adam pun memasukan nasi ke dalam mulutnya, dia terlihat kesal mendengar pertanyaan dari Grandpanya.
" Grandpa, lupa. Maaf, " ucap nya.
" Grandpa, tidak libur? " tanya Adam.
"Harusnya libur, tapi hari ini ada pengangkatan karyawan dari kantor cabang." jawab Tuan Arley, sambil menyesap teh manis.
"Maksudnya? " Adam bertanya dengan raut wajah yang serius, Tuan Arley nampak terkekeh.
"Karyawan yang mempunyai kinerja yang bagus di kantor cabang, dipindahkan ke kantor pusat. Tentunya, gaji mereka pun jadi lebih besar." jawab Tuan Arley, Adam pun mengangguk paham.
"Lalu, apa saja yang akan dilakukan di sana?"
"Grandpa, hanya perlu melakukan penyambutan pada mereka dan mereka akan mendapat bimbingan dari para senior yang ada di kantor pusat." jelas Tuan Arley, Adam kembali menganggukan kepalanya.
"Jadi, boleh aku ikut? " tanya Adam.
"Boleh, Boy. Tapi--" Tuan Arley nampak menggantungkan ucapannya.
"Tidak boleh nakal, " ucap Adam meneruskan.
"Yes," jawab Tuan Arley.
Sarapan pun telah selesai, Tuan Arley langsung mengajak Adam untuk berangkat menuju kantornya. Tak lupa saat di perjalanan, Tuan Arley menelepon Arkana bahwa dia membawa Adam bersamanya.
Arkana pun tak keberatan, malah dia merasa senang karena Adam bisa dekat dengan Grandpanya.
Sampai di kantor pusat, Tuan Arley pun langsung mengajak Adam untuk masuk ke dalam gedung perusahaannya.
Adam terlihat sangat kagum dengan kemegahan gedung perusahaan milik Grandpanya, karena saat dia datang ke perusahaan milik Devano, kantornya tak sebesar milik Grandpanya.
Saat melihat Tuan Arley masuk bersama Adam, semua karyawannya nampak terdiam dan memandang Tuan Arley dengan tatapan heran.
Pasalnya, semua karyawannya tahu. Jika Tuan Arley belum menikah, tetapi tiba-tiba saja dia membawa anak kecil yang sangat mirip dengannya.
Tuan Arley bisa menebak apa isi dari pikiran para karyawannya, tapi dia seakan masa bodoh dengan semua itu.
Untuk sampai ke ruangannya,Tuan Arley harus menaiki lift terlebih dahulu. Dengan sabar, Tuan Arley, menunggu pintu lift terbuka.
Brugh !!!
Tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang menubruk tubuh kekar Tuan Arley, sontak Adam dan Tuan Arley pun langsung melihat ke arah belakang.
Saat Adam dan Tuhan Arley berbalik, ternyata di belakang mereka sudah ada seorang perempuan yang sedang duduk meringis menahan sakit sambil membereskan barang-barangnya yang berserakan.
Adam dan Tuan Arley nampak mengatupkan mulutnya menahan tawa, mereka merasa sangat lucu karena perempuan tersebut yang menabrak Tuan Arley, tapi kenapa malah perempuan tersebut yang jatuh hingga meringis menahan sakit.
Setelah perempuan itu merapikan semua barangnya, dia pun berusaha untuk berdiri, tapi terlihat kesusahan.
Bukannya menjawab, perempuan itu malah mendelik sebal melihat Tuan Arley.
"Saya masih single, asal panggil-panggil Nyonya saja!!" kesal wanita itu.
"Maaf, " ucap Tuan Arley.
Tuan Arley pun mengulurkan tangannya membantu perempuan itu, walaupun terlihat kesal, perempuan itu tetap menerima bantuan dari Tuan Arley.
"Terimakasih, Om." ucapnya.
Tuan Arley nampak mengerutkan dahinya, dia pun jadi bertanya-tanya, 'Apakah penampilannya mirip dengan om-om?'
Pintu lift terbuka, perempuan itu nampak tergesa masuk ke dalam lift. Adam dan Tuan Arley pun langsung mengikuti perempuan tersebut masuk ke dalam lift.
"Om, ngikutin aku?" tanya perempuan itu.
"No, aku mau naik ke lantai tiga puluh." Tuan Arley mengangkat tubuh Adam, lalu dia pun menggendong Adam.
Perempuan itu nampak melirik kearah Tuan Arley, kemudian Ia memperhatikan penampilan Tuan Arley dari atas sampai bawah.
"Tampan, cucunya juga tampan. Sayangnya belagu, lantai tiga puluh kan khusus untuk pemimpin, ngapain dia kesana? Bawa cucu lagi," gumamnya dalam hati.
Saat perempuan itu sedang asyik mengomentari Tuan Arley dalam hatinya, Tuan Arley pun menoleh ke arahnya. Dengan gerakan cepat perempuan itu menunduk sambil memilih ujung kemejanya.
" Perempuan aneh, padahal kalau dilihat dari wajahnya dia terlihat sudah berumur . Tapi badannya terlihat bagus, kenapa dia bilang masih single? Atau mungkin dia ngga laku? " tebak Tuan Arley.
Melihat Grandpanya dan juga perempuan yang berada di sampingnya terlihat Sedang berpikir, Adam pun langsung berdehem dengan keras.
"Ehm,, "
Mendengar suara deheman, Adam. Tuan Arley pun langsung menatap cucunya, begitupun dengan perempuan itu.
"Kenapa, Boy? " tanya Tuan Arley.
"Tidak apa-apa, Grandpa. " jawab Adam.
Perempuan yang berada di samping Tuan Arley langsung keluar dari dalam lift, karena memang pintu liftnya sudah terbuka.
Setelah pintu lift tertutup, Tuan Arley pun langsung mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Perempuan aneh, sudah terlihat berumur tapi bilang masih single. Pasti dia galak, makanya ngga laku."Tuan Arley berucap seraya menurunkan Adam dari gendongannya.
"Grandpa," panggil Adam.
"Apa, Boy? " tanya Tuan Arley.
"Apa bedanya perempuan tadi dengan, Grandpa?" tanya Adam.
Tuan Arley nampak berpikir, sedangkan Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Bisa-bisanya dia berkata perempuan berumur yang tak laku, lalu apa bedanya dengan Grandpa?" tanya Adam dalam hati.
Pintu lift terbuka, Tuan Arley pun langsung mengajak Adam untuk masuk ke dalam ruangannya. Sampai di dalam ruangannya, Tuan Arley langsung duduk di meja kebesarannya, sedangkan Adam nampak mengelilingi ruangan tersebut, dia begitu mengagumi desain interior dari ruangan Tuan Arley.
"Bagus, terlihat elegan, berkesan mewah, tapi tatanannya kurang apik." Adam berkomentar, telunjuknya dia ketuk di depan dagu.
"Ck, menyebalkan. Kenapa anak itu senang sekali berkomentar ?" ucap Tuan Arley lirih.
Tuan Arley melanjutkan kembali pekerjaannya, karena satu jam lagi dia harus pergi ke Aula perusahaan untuk menyambut para karyawan yang baru saja mendapatkan kenaikan jabatan.
Sedangkan Adam, dia nampak asik berkeliling di ruangan Grandpanya.
+
+
+
Happy weekend guys.. jangan lupa tersenyum.