Who Is Adam?

Who Is Adam?
Identitas Jhoy



Laila sudah mendapatkan perawatan, karena dengan cekatan Arkana langsung membawa Laila ke kelinik terdekat. Ketakutan yang Arkana rasakan di sepanjang perjalanan, tak terjadi.


Ternyata tuhan sangat baik padanya, bayi yang Laila kandung sangat sehat dan dalam keadaan baik-baik saja.


Laila hanya mengalami beberapa luka saja, di bagian kaki dan tangannya yang terkena sapuan aspal.


Laila seakan tak mengindahkan rasa sakit yang dia derita, dia malah sibuk menanyakan rujak buah yang dia pesan.


"Mas, rujak buahnya mana?" tanya Laila dengan suara manjanya.


"Ya ampun, Sayang. Kenapa hanya rujak buah yang kamu pikirkan?!" kesal Arkana.


"Babby kita sangat menginginkan rujaknya, tolong kembali ke sana. Ambilkan rujak pesanan ku," pinta Laila dengan wajah yang terlihat menggemaskan.


"Ck, kenapa di saat seperti ini aku tak bisa menolak?!" tanya Arkana.


Laila hanya tersenyum melihat suaminya yang terlihat sangat kesal, tapi, dia sangat senang, karena Arkana tetap menuruti keinginannya.


Arkana sudah bangun dari duduknya, dia hendak pergi untuk mengambil rujak buah pesanan Laila.


"Mas," panggil Laila.


"Apa lagi?!"


"Sini... Peluk dulu. Aku mau peluk, cium juga." ucap Laila dengan bibirnya yang sudah maju dua senti.


Arkana langsung terkekeh, dia langsung menunduk dan mencium bibir Laila dengan mesra. Sedangkan Laila, langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Jika bukan di klinik, aku sudah melahap kamu, Sayang." ucap Arkana dengan kabut gairah yang sudah mencapai ubun-ubun.


Laila tersenyum, kemudian dia membuka dua kancing kemeja bagian atas milik Arkana dan mengecup dada bidang suaminya.


Arkana nampak menahan hasrat yang susah sekali untuk di kendalikan, Arkana masih waras ini di klinik, pikirnya. Dengan cepat Arkana bangun sambil mengancingkan kemejanya, dia pun segera pergi dari sana.


Laila langsung tersenyum, ternyata mengerjai suaminya itu sangat gampang, pikirnya. Laila jadi bertanya-tanya dalam hatinya, apakah semua lelaki sama, tidak dapat menahan kabut gairah jika sudah datang menyelimuti?


Bodo amat pikirnya, sambil menunggu rujak buahnya datang. Laila, mulai mengingat kejadian yang menimpanya.


Dia tak menyangka, jika dia akan bertemu kembali dengan Jhoy. Lelaki yang sudah di anggap adik, karena telah menolongnya, sekaligus telah mencuri uangnya.


Padahal, saat itu dia benar-benar sedang kesusahan. Tapi dengan teganya Jhoy datang dengan berkedok wajah malaikat, tapi nyatanya, dia lah dalang dari semuanya.


Lapor polisi? Apakah harus?


Itulah yang Laila pikirkan saat ini, dia merasa harus melaporkan Jhoy pada polisi. Tapi, dia juga kasihan jika nanti Jhoy harus mendekam dalam penjara.


"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Laila.


"Beristirahat, dan jangan berpikir yang bisa membuat kandungan kamu kenapa-kenapa." ucap Tuan Arley.


"Dad, Mom." panggil Laila.


"Yes," jawab Tuan Arley.


Tuan Arley langsung duduk di bangku tunggu, sedangkan Adisha langsung duduk di samping Laila. Adisha langsung memeluk Laila, mengelus lembut punggung wanita hamil itu.


Laila merasa ketenangan, saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Adisha. Adisha memang masih muda, tali dia ternyata mempunyai sikap yang sangat lembut seperti seorang ibu.


"Selamat ya, atas kehamilan kamu." ucap Adisha.


Laila langsung mendongakkan kepalanya," Mom, tahu aku hamil."


"Yes, Laila. Arkana menelpon kami saat kamu sedang menerima penanganan dari Dokter," ucap Adisha.


"Dad, juga sudah menyuruh orang kepercayaan, Dad, untuk memeriksa rekaman cctv jalanan. Ternyata, pelakunya adalah Jhoy. Pencuri yang sudah buron selama delapan tahu," jelas Tuan Arley.


"Lalu?" tanya Laila penasaran.


"Orang-orang Daddy, sudah melacak keberadaannya. Siapa pun yang berani menyakiti keluarga Daddy, dia pasti akan mendapatkan balasan. Tentunya sebelum Daddy serahkan ke kantor polisi, dia juga akan mendapatkan hadiah dari Dad." ucap Tuan Arley.


Ada perasaan lega dalam hati Laila, tapi, Laila juga merasa kasihan dengan Jhoy. Walau bagaiamana pun, Jhoy pernah menolongnya walaupun hanya sebagai kedok saja.


"Kamu tahu, Laila. Jhoy bahkan sempat tinggal di luar negeri selama satu tahun, dia menjadi kurir satu di sana. Karena terendus polisi, Jhoy memilih pulang ke Indonesia dan berpindah-pindah tempat." jelas Tuan Arley.


"Ya ampun, Dad. Dia benar-benar harus mendapatkan ganjaran yang setimpal," ucap Laila.


"Kamu benar, Laila. Tapi, sekarang kita harus segera pulang. Kamu istirahat di rumah saja, biar, Mom, yang jaga." ucap Adisha.


"Mom, masih muda. Tapi sangat keibuan, Dad, pasti sangat beruntung mendapatkan, Mom." ucap Laila.


Wajah Adisha terlihat memerah, sedangkan Tuan Arley nampak tersenyum. Karena ucapan Laila, memang benar.


Dia merasa sangat beruntung mendapatkan Adisha, wanita yang pintar, baik, keibuan, dan Adish juga merupakan wanita muda yang sangat menggairahkan jika sedang berada di atas ranjang.


Tuan Arley sangat suka saat Adisha sedang menggeliat di bawah tubuhnya, mencari sensasi nikmat dalam permainan yang Tuan Arley suguhkan.


"Sayang, rujaknya datang." ucap Arkana yang sudah tiba di sana.


Arkana membawa dua bungkus rujak pesanan Laila, Laila langsung menegakan tubuhnya dan menyambut. rujak buah yang Arkana bawa.


Tanpa babibu, Laila langsung melahap. rujak tersebut. Arkana, Tuan Arley dan Adisha, nampak mengernyitkan dahi mereka.


Rujak buah yang terlihat sangat asam itu, seakan menggelitik lidah mereka. Dalam sekejap saja, mulut mereka terasa berliur.


"Emm, enak. Kenapa kalian diam saja? Coba deh, ini sangat enak." Laila mengangkat rujak buah di tangannya, semuanya yang ada di sana langsung menggelengkan kepalanya.