
Gracia terlihat menekuk wajahnya, dia merasa sebal pada manusia kulkas yang ada di sampingnya. Kalau saja tidak ada bundanya Mahendra, sudah dapat dipastikan mulut Gracia akan mengeluarkan kata-kata umpatan dari bibir mungilnya.
Berbeda dengan Mahendra yang terlihat santai sambil menyetir mobil miliknya, bunda Lucy yang duduk di bangku penumpang terus saja mengatupkan mulutnya menahan tawa.
Dia merasa lucu dengan tingkah kedua insan yang ada di hadapannya itu, menurutnya mereka terlihat sangat lucu. Apa lagi saat mereka berinteraksi.
"Aku turun di sini saja," kata Gracia.
Mahendra tak menggubris ucapan Gracia, dia tetap saja melajukan mobilnya menuju gang yang mengarah ke rumah sederhana milik Ibu Naura.
"Iiih!" kesal Gracia, lagi-lagi bunda Lucy hanya bisa menahan tawa melihat kekesalan di wajah Gracia.
Mobil Mahendra kini sudah berhenti tepat di depan rumah Ibu Naura, dengan cepat dia turun dan membukakan pintu mobil untuk Gracia.
"Seharusnya kamu ngga usah membukakan pintu mobilnya!" ketus Gracia.
Mahendra hanya diam seraya menunggu Gracia turun, namun sebelum dia turun dari mobil Mahendra, dia pun menyempatkan diri untuk berpamitan kepada bunda Lucy.
"Tante, aku pamit pulang ya? Terima kasih untuk makan malamnya," kata Gracia.
"Ya, Sayang. Jangan kapok ya?" ucap Bunda Lucy.
"Ehm, iya, Tante," jawab canggung Gracia.
Setelah berpamitan kepada bunda Lucy, Gracia pun nampak turun dari mobil milik Mahendra. Kemudian, dia berjalan melewati Mahendra dan langsung berjalan menuju rumah sederhana yang selama ini dia tinggali.
Tanpa Gracia tahu Mahendra mengikuti langkah Gracia, dia berjalan dengan perlahan agar wanita di hadapannya tak menyadarinya.
"Assalamualaikum, Bu. Aku pulang," ucap Gracia seraya mengetuk pintu.
"Waalaikum salam, Sayang. Kenapa pulang te--"
Ibu Naura tak meneruskan ucapannya kala melihat Mahendra yang terlihat tersenyum hangat padanya.
"Kamu siapa?" tanya Ibu Naura.
Melihat Ibunya yang tengah bertanya tapi tak menatap wajahnya, Gracia langsung membalikkan tubuhnya.
Alangkah kagetnya dia saat melihat senyum manis di bibir Mahendra, senyuman mahal yang tak pernah Mahendra tunjukkan padanya.
"Selamat malam, Tante. Maaf karena saya sudah membawa anak Tante tanpa izin," kata Mahendra.
"Ah, tidak apa-apa. Kalian--"
"Dia atasan Icha di kantor, Bu." Sela Gracia cepat.
"Bukan, Bu. Mana ada aku pacaran sama kulkas ena belas pin--"
Gracia langsung menutup mulutnya, karena sudah keceplosan mengatakan kulkas pada Mahendra.
"Apa kamu bilang?" tanya Mahendra.
"Tidak apa-apa, mending Tuan pulang. Kasihan Tante Lucy sendirian," kata Gracia.
"Hem, baiklah. Saya pamit ya, Tante?" kata Mahendra.
"Ya, hati-hati," ucap Ibu Naura.
Tanpa Gracia dan Ibu Naura duga, Mahendra langsung meraih tangan Ibu Naura dan mencium punggung tangannya.
"Anaknya jangan dimarahin ya, Bu?" pinta Mahendra seraya tersenyum hangat.
"Iya," kata Ibu Naura seraya menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamitan, Mahendra langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan perlahan karena jalanannya yang sempit.
Setelah kepergian Mahendra, Ibu Naura terlihat tersenyum sambil menatap Gracia.
"Waah, ternyata anak perawan ibu sudah ada yang naksir," kata Ibu Naura.
"Apa sih, Bu! Mana ada kaya gitu, dia itu kulkas enam belas pintu. Sikapnya itu dingin, sedingin kutub utara. Kalau aku pacaran sama dia, yang ada aku beku. Berrrr!" kata Gracia seraya menggoyangkan tubuhnya.
"Hati-hati kamu, nanti kemakan omongan sendiri baru tahu rasa!" kata Ibu Naura.
"Ibu!" ucap Gracia dengan nada penuh protes.
"Sudah jangan berisik, mandi sanah. Sudah malam," kata Ibu Naura.
Walaupun terlihat kesal dengan ucapan Ibu Naura, namun Gracia terlihat menurut. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Tiba di dalam kamarnya, dia tidak langsung masuk kedalam kamar mandi. Dia malah menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang kesayangannya.
Matanya terlihat menatap langit-langit, sambil mengingat-ingat wajah Mahendra yang terlihat tersenyum manis kepada Ibunya.
Baru kali ini dia melihat senyuman Mahendra yang terasa begitu mahal untuknya, karena selama dia mengenal Mahendra, tak pernah satu kali pun dia melihat senyuman dari bibir lelaki itu.
"Ck! Kenapa dia terlihat tampan sekali saat tersenyum seperti itu?" gumam Gracia tanpa sadar.
"Ya ampun, kenapa aku malah mengingat-ingat wajah si kulkas?" tanya Gracia seraya memukul mulutnya.