Who Is Adam?

Who Is Adam?
Tamu Tak Terduga



Pagi harinya, Adam sudah terlihat rapi. Dia akan segera berangkat bekerja setelah selesai sarapan, namun baru saja Adam akan keluar dari rumah, tiba-tiba Sisil menyusul dan membawa beberapa tentengan di tangannya.


Adam sempat mengernyit heran dengan apa yang dibawa oleh istrinya tersebut, lalu dia pun bertanya pada Sisil.


"Kamu mau kemana, Sayang? Kenapa bawa banyak barang seperti itu?" tanya Adam.


"Aku mau ikut kamu ke kantor, Mas. Nggak tahu kenapa perasaanku nggak enak, aku takut kamu--"


"Apa?" tanya Adam menyela.


"Pokoknya aku mau ikut, aku ngga mau tahu. Mas harus ajak aku," ucap Sisil manja.


"Terus kamu bawa apa? Kenapa tangan kamu penuh barang seperti itu?" tanya Adam.


"Bawa bekal, Mas. Bawa baju ganti sama makanan buat nanti di sana," Jawab Sisil.


Adam hanya menggelengkan kepalanya, lalu dia pun merangkul pundak istrinya dan menuntunnya.


"Baiklah, jika istriku yang cantik ini ingin ikut ke kantor. Akan aku kabulkan, sudah izin sama ibu?" tanya Adam.


"Sudah dong, Mas. Kata ibu boleh, yang penting aku ngga nakal. Mas ngga keberatan kan?" tanya Sisil.


"Ngga, Sayang. Mas malah seneng banget," kata Adam.


Setelah berkata demikian, Adam pun langsung mengajak Sisil menuju perusahaan yang kini dipimpin oleh Adam.


Sampai di ruangannya, Sisi langsung menata barang bawaannya di atas meja. Sedangkan Adam langsung duduk di kursi kebesarannya dan memeriksa beberapa berkas yang harus ditandatangani.


Adam melihat begitu banyak tumpukan berkas dan semuanya sudah terlihat siap, Adam begitu bangga dengan cara kerja Leo, Gracia dan juga Mahendra.


Untuk sesaat Sisil terdiam, lalu dia memperhatikan Adam yang terlihat begitu serius saat bekerja. Senyum di bibirnya pun terus mengembang, dia merasa sangat bangga terhadap suaminya tersebut.


Tak lama kemudian, Sisil bangun dan menghampiri Adam.


"Mas, ada yang bisa aku bantu ngga?" tanya Sisil.


Adam menghentikan aktivitasnya, lalu dia pun menatap Sisil dengan lekat.


"Ngga ada, Sayang. Kamu cukup diam dan duduk manis, jangan lakukan apa pun yang membuat kamu cape," ucap Adam.


"So sweet, Mas memang terbaik. Tapi, kalau Mas izinin aku mau banget bantu," kata Sisil.


"Ngga usah, Sayang. Kamu diam saja, kalau ngga, kamu makan buah saja." Adam terlihat senyum dengan sangat manis sekali.


"Baiklah, aku mau lihatin Mas kerja saja," kata Sisil.


"Makin hari kamu makin ganteng aja sih, Mas. Aku kan jadi makin cinta, maaf kalau aku selalu merepotkan. Tapi aku benar-benar tak bermaksud seperti itu, entah kenapa aku selalu ingin dimanjakan sama kamu." Gumam Sisil.


Saat Sisil sedang asyik memandang wajah tampan Adam, tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut ada yang mengetuk dari luar.


Adam dan Sisil pun langsung menatap kearah pintu, lalu dengan tegas Adam pun berkata.


"Masuk!"


Tak lama, pintu pun nampak didorong dari luar dan setelah pintu terbuka nampaklah Mahendra yang tengah berdiri di ambang pintu.


Untuk sesaat dia memandang Adam lalu menundukkan pandangannya kembali, dia seolah meminta izin kepada Adam untuk menghampiri Adam.


"Kemarilah, sampaikanlah apa yang ingin disampaikan," kata Adam.


Mahendra pun langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri Adam, lalu dia pun mulai berbicara.


"Maaf, Tuan. Di luar ada seorang wanita bernama Reinata, dia berkata ingin mengajukan proposal kerjasama dengan perusahaan Caldwell," kata Mahendra.


Dahi Adam dan juga Sisil nampak mengernyit, mereka pun memikirkan hal yang sama tentang Reinata yang bertemu dengan mereka kemarin sore.


"Suruh masuk saja," ucap Adam.


Mahendra pun menurut, Mahendra lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Adam. Tak lama kemudian Mahendra nampak kembali dengan wanita di sampingnya.


Wanita itu terlihat sangat cantik dan juga seksi, wanita yang bernama Reinata itu menggunakan dress selutut tanpa lengan.


Adam dan juga Sisil nampak saling pandang, Kemudian mereka pun menatap kearah Reinata. Karena ternyata, Reinata yang kini datang ke ruangannya adalah Reinata yang kemarin sore bertemu dengan Adam dan juga Sisil.


Ya, Renata yang masuk bersama dengan Mahendra adalah teman masa kuliah Adam. Mau tak mau Adam dan Sisil pun langsung berdiri dan menghampiri Reinata yang kini telah berdiri di samping Mahendra.


"Silahkan duduk Rei," ucap Adam.


Renata langsung menghampiri Adam, dia hendak mengecup pipi Adam. Namun dengan cepat Adam memundurkan tubuhnya, dia pun lalu tersenyum kepada Reinata dan langsung berkata.


"Maaf, sepertinya kita tidak bisa bersikap seperti saat kita berteman dulu. Karena sekarang ada hati yang harus aku jaga," kata Adam.


Adam lalu merangkul pinggang Sisil dengan sangat mesra, lalu dia pun mengenalkan Sisil secara resmi.


"Ini istri aku, Rei." Adam pun meminta Sisil untuk berkenalan dengan Reinata.


Sisil nampak tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. Reinata terlihat menatap Sisil dengan tatapan tak suka, lalu dia pun membalas uluran tangan Sisil.