Who Is Adam?

Who Is Adam?
Will You Marry Me?



Pagi ini Adisha, sudah terlihat sangat cantik. Dia sudah bersiap untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja, dengan pakaian modisnya.


Sebenarnya dia merasa enggan untuk bekerja, bukannya karena malas untuk bekerja, tetapi dia merasa bingung karena kemarin, Tuan Arley memintanya, agar hari ini Adisha, memberikan jawaban atas pertanyaannya.


Hari ini, Adisha harus mengatakan iya atau nggak untuk menjadi istrinya dari Tuan Arley. Selain itu, Adisha juga merasa malas saat akan pergi ke kantor, karena kemarin saja, Adisha harus mendapatkan banyak pertanyaan dari teman-temannya.


Bahkan kemarin Adisa sengaja menutup rapat-rapat kuping dan mulutnya, karena terlalu lelah mendapat pertanyaan dari teman-teman sekantornya.


Apalagi Adrian, dia melontarkan banyak pertanyaan dengan wajah kecewanya. Membuat Adisha merasa tak enak hati, karena selama seharian Adrian yang terus saja bertanya padanya.


Tetapi sebisa mungkin Adisha, berusaha untuk tidak menjawabnya, Adrian malah cemberut dan terlihat marah kepadanya.


"Huft,, males banget!! " ucap Adisha, yang masih memandang wajahnya di depan cermin.


Adisha terlihat mengambil ponsel dan dompetnya, kemudian dia memasukannya ke dalam tas selempang miliknya.


Adisha segera keluar dari kostannya, lalu segera menunggu angkutan umum yang biasa lewat ke depan kostannya.


Tak lama angkot pun datang, Adisha langsung naik dan duduk berdesakan dengan penumpang yang lainnya.


Tak sampai sepuluh menit, angkot yang Adisha tumpangi sudah sampai di depan gedung megah milik Tuan Arley. Adisha pun bergegas turun, dia ingin segera masuk ke dalam ruangannya agar tak mendapatkan banyak pertanyaan seperti kemarin.


Tapi saat Adisha memasuki area halaman perusahaan, dia sangat kaget. Karena banyak orang yang berkerumun, sambil membawa bunga.


Banyak lelaki muda dan perempuan cantik, yang masing-masing memegang seikat Bunga mawar sambil tersenyum hangat pada Adisha.


Tapi satu hal yang membuat Adisha ingin tertawa, baik wanita atau perempuan yang membawa bunga tersebut, semuanya memakai baju berwarna senada, yaitu warna Pink.


Seluruh karyawan kantorpun, nampak mengerumuni orang-orang tersebut sambil mengabadikannya lewat ponsel.


Di atas gedung milik Tuan Arley, juga banyak balon berwarna pink. Diantara banyaknya balon berwarna pink, banyak lampion berbentuk hati bertuliskan,,


💓💓WILL YOU MARRY ME, ADISHA?💓💓


Adisha hanya terdiam dengan mulut menganga tak percaya, siapa sebenarnya orang yang melakukan hal ini untuknya? Siapa orang yang mau malu karena telah melamar dirinya?


Tak lama, keluarlah lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah dengan membawa seikat besar Bunga mawar ke hadapan Adisha.


Mata Adisha langsung membulat sempurna, apalagi saat Tuan Arley, yang tiba-tiba saja berjongkok di hadapannya.


Adisha langsung menutup mulutnya, dia kaget bukan main dengan apa yang dia dapatkan pagi ini.


"Adisha Adisri, aku tahu aku ini sudah sangat tua untuk melakukan hal konyol seperti ini. Aku tahu aku sudah tidak pantas lagi bersikap seperti ini, tapi, semuanya aku lakukan agar kamu percaya akan ketulusan hatiku. Aku sudah sangat tua untuk berbasa-basi, aku sudah tak pantas untuk berpacaran layaknya anak muda. Jadi, ADISHA ADISRI, WILL YOU MARRY ME? "


Di satu sisi, Adisha sangat bahagia karena mendapatkan perlakuan istimewa dari lelaki yang istimewa, tapi di sisi lain, ada rasa takut di hatinya.


Sedangkan semua yang ada di sana, berteriak histeris melihat Tuan Arley yang tiba-tiba saja melamar anak baru di sana.


Wanita muda dan para pria muda yang memegang bunga, menghampiri Adisha dan memberikan bunga tersebut pada Adisha secara bergantian.


Tangan Adisha, sampai tak kuat menampung semua bunga tersebut. Dia menyimpan bunga-bunga tersebut di sampingnya, kemudian Adisha pun langsung menghampiri Tuan Arley.


"Apa kamu serius ingin menjadikanku istrimu, Mister?" tanya Adisha.


Tuan Arley nampak menganggukan kepalanya dengan mantap," Iya, aku serius."


"Lalu, apakah anak dan cucu mu setuju kalau aku menjadi bagian dari hidupmu, Mister?" tanya Adisha hati-hati.


"Pasti, mereka pasti setuju." jawab Tuan Arley.


Adisha nampak terdiam setelahnya, berbagai macam pikiran jelek terlintas begitu saja di pikirannya. Sedangkan semua yang ada di sana, tak hentinya mengatakan kata "TERIMA"


Dengan perlahan, Adisha pun mengulurkan tangan kirinya. Tuan Arley, nampak bengong melihatnya, Adisha pun terlihat kesal, dia langsung menghentakan kakinya.


"kamu ngga serius !! Adisha berucap seraya menarik tangannya kembali.


Tuan Arley nampak panik dan langsung bangkit, dia langsung menarik tangan kiri Adisha dan memasangkan cincin mewah itu di jari manis Adisha.


Semua orang yang ada di sana, nampak bersorak. Ada yang iri, ada pula yang ikut bahagia. Satu yang pasti, Laurent terlihat sangat marah melihat hal ini, dia merasa dikalahkan oleh wanita dari kalangan rendahan macam Adisha.


Dan ada satu lelaki, yang terlihat lesu dan Kece. karena cintanya tak sampai, tentu saja lelaki itu adalah Adrian. Mira dan Leli nampak berusaha menenangkan Adrian, dengan menepuk lembut pundaknya.


"Terimakasih, Adisha." ucap Tuan Arley.


Adisha nampak mengangguk malu, sedangkan Tuan Arley langsung memeluk dan mengecup kening Adisha dengan penuh kasih sayang.


Setelah puas memeluk wanitanya, Tuan Arley nampak pergi dengan mobil kesayangannya. Dia sudah tak berniat untuk bekerja hari ini, dia hanya ingin pergi bersenang-senang dengan calon istrinya.


Adisha nampak bingung saat dia di bawa pergi, tapi entah kenapa, dia merasa percaya pada lelaki paruh baya tersebut.


Adisha tak banyak bertanya, dia hanya menatap Tuan Arley yang sedang serius menyetir mobilnya. Sedangkan Tuan Arley, nampak menggenggam tangan kanan Adisha dan sesekali mengecupnya.


Rona bahagia terlihat jelas di wajah Tuan Arley, berbeda dengan Adisha yang terlihat masih bingung. Tapi walau bagaimanapun, Adisha sangat senang mendapatkan lamaran yang menurutnya sangat romantis itu.