Who Is Adam?

Who Is Adam?
Mencari Tahu



Tanpa ada yang tahu, Tuan Arley langsung pergi ke perusahaannya. Dia pun segera memanggil Mahendra asisten kesayangannya.


Dia ingin memberikan pelajaran kepada William Dianada Khalastra, yang selama 15 tahun ini sudah menikmati harta yang bukan miliknya.


Da merasa kesal, karena dengan beraninya William mengalihkan semua aset berharga milik keluarga Gunandari.


Padahal, kalau bukan belas kasihan dari keluarga Gunandari belum tentu William akan menikmati kehidupannya dengan sangat mudah.


Mungkin saja Sisil bisa legowo menerima perlakuan dari paman tirinya, berbeda dengan Tuan Arley yang memang lahir dan besar di negara adidaya.


Kerasnya dunia bisnis sudah bisa dia rasakan semenjak dia kecil, karena memang Ansley Caldwell selalu mengajarinya berbisnis semenjak Tuan Arley masuk usia enam tahun.


Bahkan, Tuan Arley sudah merasakan yang namanya penindasan semenjak dia kecil. Penindasan yang dilakukan oleh paman kandungnya sendiri.


Hal itu membuat Tuan Arley tumbuh menjadi pria arogan, dingin dan tak berperasaan. Bahkan terhadap perempuan sekalipun.


Kedekatannya dengan wanita di masa mudanya, hanya untuk memuaskan ***** bejatnya saja.


Setelah banyaknya ketidak adilan yang dia terima dari kecil, dia merasa tidak bisa begitu saja membiarkan kejahatan yang sudah dilakukan oleh William Dianada Khalastra terhadap Sisil.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," titah Tuan Arley.


Mahendra pun segera masuk ke dalam ruangan Tuan Arley, dia langsung berdiri tepat di hadapan Tuan Arley.


"Ada apa, Master?" tanya Mahendra.


Melihat wajah Tuan Arley yang nampak serius, Mahendra langsung tahu jika dia akan mendapatkan tugas yang besar.


"Aku ingin kamu mencari tahu tentang William Dianada Khalastra, dari awal dia masuk ke perusahaan GC Corp sampai semua aset Gunandari bisa berpindah tangan padanya." Tuan Arley langsung bangun, dia langsung menghampiri Mahendra.


Mengingat nama William Dianada Khalastra, Mahendra merasa akan mendapat sedikit kesulitan. Karena William adalah orang licik, yang sangat pandai menyembunyikannya kejahatannya.


Tuan Arley menepuk pundak Mahendra." Sanggup?"


Mahendra langsung mengangguk." Sanggup Master."


Tuan Arley sekarang bisa bernafas dengan lega, langkah pertama sudah ada Mahendra. Sekarang dia akan mencari tahu, perusahaan siapa saja yang bekerja sama dengannya?


Tuan Arley juga akan mencari tahu, perusahaan mana sajakah yang menjadi investor di perusahaan GC Corp?


"Apa ada lagi, Master?" tanya Mahendra.


"Tidak ada," jawab Tuan Arley.


"Kalau begitu, saya pamit." Mahendra langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan peribadi'nya.


Tentunya, Setelah mendapatkan anggukan dari Tuan Arley. Selepas kepergian Mahendra, Tuan Arley langsung menghampiri Leo.


Leo ditugaskan untuk mencari tahu, perusahaan mana sajakah yang kini bekerja sama dengan perusahaan GC Corp dan juga perusahaan mana yang menjadi investor terbesar.


Leo pun dengan sigap langsung menjalankan perintah dari Tuan Arley. Tuan Arley merasa sangat senang, karena kedua orang kepercayaannya itu, selalu dengan sigap menjalankan perintahnya.


Mengingat abdi setia karyawannya, Tuan Arley langsung mengingat sepupunya Laurent. Wanita yang kini berumur lima puluh lima tahun itu, telah sembuh dari sakitnya.


Laurent memutuskan untuk tinggal di Belanda, negara kelahiran suaminya. Karena saat Laurent berada di Rumah Sakit jiwa, ada seorang Dokter yang bersimpati padanya.


Dokter Luwis bahkan memberikan terapi setiap harinya, yang membuat Laurent cepat sembuh dari penyakitnya.


Laurent jatuh cinta pada ketulusan Dokter Luwis, sedangkan Dokter Luwis yang awalnya hanya bersimpati berubah menjadi sangat menyayangi sosok Laurent.


Tuan Arley menjatuhkan tubuhnya, di kursi kebesarannya. Dia mulai memikirkan semuanya, dia mulai memikirkan nasib keluarganya jika dia tak ada.


Dia sangat sadar, jika kini dia sudah tua. Mungkin, waktu yang dia punya untuk menikmati kehidupannya hanya tinggal sebentar.


Nyawa yang ada di tubuhnya pun hanya titipan, dengan mudahnya Tuhan bisa kapan saja mencabutnya.


"Semoga saja, kalian bisa dengan mudah menyadari setiap kejahatan yang mengintai diri kalian. Semoga Tuhan selalu melindungi setiap langkah kalian, di mana pun kalian berada." Tuan Arley bergumam, lalu dia mengambil ponselnya.


Baru sebentar saja dia bekerja, tapi rasanya sudah rindu pada istrinya Adisha. Wanita yang kini berusia empat puluh tujuh tahun itu, selalu saja memberikan dia kebahagiaan.


Bahkan saat bermain di atas ranjang pun, dia begitu pandai membuat Tuan Arley mendesah pasrah karena ulahnya.


Tuan Arley pun langsung menghubungi istrinya, untuk melepaskan rasa rindunya.


Lain Tuan Arley, lain pula dengan Adam.


Kini Adam sedang bahagia, karena tidak ada lagi dinding yang akan menjadi penghalang diantara mereka.


Adam sudah menceritakan semuanya, kepada Ibunya. Laila langsung tertawa, karena ternyata Adam tak mau dekat dengan wanita karena dia sudah mengucap janji pada seorang wanita yang bernama Pricilia Gunandari.


Awalnya Sisil sangat takut jika Laila akan marah padanya, dia takut jika Sisil hanya dianggap sebagai wanita matre.


Akan tetapi, perkiraan Sisil salah. Laila dengan tangan terbuka langsung menrima Sisil. Dia pun kinj sudah tak ragu lagi untuk menerima, pinangan dari Adam.


Tentunya ada syaratnya, yaitu Sisil minta dilamar dengan romantis. Sesuai dengan Film dekor kesukaannya.


Lalu, bagaiman dengan reaksi Adam?


Tentu saja Adam menyanggupinya, karena yang terpenting untuk Adam saat ini, Sisil bisa menerima cintanya.


"Boy, Ibu tak menyangka." Laila tertawa kembali, bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Bu, jangan tertawa terus." Adam terlihat encebik kesal, karena Laila tak hentinya menertawakan Adam.


"Oke, Sayang. Ibu tidak akan tertawa lagi, karena prut Ibu juga sudah terasa sakit." Laila langsung menutup mulutnya, kemudian menggerakan tangannya dengan gaya menguncinya.


Adam dan Sisil langsung tergelak. Karena ternyata, Laila bisa bertingkah lucu seperti itu.


"Bu, aku ingin secepatnya melamar Sisil. Ibu mau bantu aku, kan?"


Adam memeluk Laila dan menyandarkan kepalanya di bahu Laila. Laila mengelus lembut puncak kepala putranya, tali tak sepatah kata pun keluar dari binirnya.


Adam pun merasa kesal, karena Laila tak menjawab pertanyaan darinya.


"Bu!" kesal Adam.


Laila hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, Adam makin kesal dibuatnya.


"Ibu, ih!" protes Adam.


Karena tak tahan melihat wajah putranya yang terlihat kesal, Laila pun akhirnya menjawab pertanyaan dari Adam.


"Bukankah tadi kamu menyuruh ibu untuk diam?" tanya Laila kepada Adam.


"Ck, itu lain lagi." Adam terlihat memberenggut kesal.


+


+


+


Hari ini aku lagi males ngapa-ngapain, hawanya pengen tidur aja. Semoga kalian tak kecewa ya dengan bab yang ini..


Karena nulisnya aja ampe aku tinggal-tinggal, beneran deh hari ini lemes banget. Baru dapet dikit, aku tinggal merem. Baru dapet dikit aku tinggal makan, begitu aja terus.


Maafkan diriku yang terlalu sholeha ini.. 😁😁😁😁