
Cindy terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali, dia berusaha untuk bangun. Namun, kepalanya yang terasa berat membuat dia sulit untuk menggerakkan tubuhnya.
Untuk sesaat dia terdiam, dia terlihat mengingat-ingat kejadian tadi malam. Tiba-tiba saja matanya terlihat membulat dengan sempurna.
Dia ingat kala masuk ke dalam kamarnya, Cindy sedang mencopot aksesoris di atas kepalanya dibantu oleh Bibi.
Namun, tiba-tiba saja Deanandra datang dari dalam kamar mandi dan membekap Bibi sampai pingsan.
Saat Cindy hendak berteriak, Deanandra malah membekap mulutnya sampai dia tak sadarkan diri.
Mengingat akan hal itu, Cindy merasa sangat khawatir. Dia sangat takut jika Deanandra akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadap dirinya.
Apa lagi saat ini suasana kamar yang dia tempati terlihat begitu gelap, hanya ada remang cahaya dari luar.
Cindy terlihat meraba-raba bagian tubuhnya yang terasa dingin, alangkah kagetnya saat dia sadar kalau dia tidak memakai sehelai benang pun.
Cindy pun langsung berteriak dengan kencang.
"Aaaaaaa!"
Leo yang sedang tertidur dengan pulas pun langsung terlonjak kaget, bahkan dia hampir saja jatuh dari ranjang berukuran sedang itu.
Padahal dia merasa jika matanya baru saja terpejam, namun sudah harus terganggu dengan suara teriakan.
"Yang, Sayang. Kenapa kamu berteriak?" tanya Leo sambil mengusap-usap dadanya.
Mendengar suara pria yang sangat dia kenali, membuat Cindy merasa lebih baik.
"Mas, apakah itu kamu?" tanya Cindy seraya meraba-raba wajah Leo.
"Ya, Sayang. Ini Aku Marchelo Leonard, suami kamu yang sangat tampan." Leo menggenggam tangan Cindy dan mengecupnya.
Cindy sempat mencebik kala Leo terdengar memuji dirinya sendiri, namun kemudian dia kembali bertanya.
"Kenapa gelap? Terus, kenapa aku bisa sama kamu? Bukannya--"
"Ya, kamu dibawa sibrengsek itu pergi. Beruntung aku bisa dengan cepat menyusul, kamarnya gelap karena lampunya aku matikan, Sayang. Aku tidak bisa tidur melihat tubuh indahmu, tapi aku tidak bisa menyentuhnya," Adu Leo.
Mendengar ucapan Leo, Cindy langsung meremat selimut yang dia pakai.
"Aku kan istri kamu, Mas. Sentuh saja," ucap Cindy malu-malu.
Mendengar ucapan Cindy, Leo langsung melayangkan protesnya.
"Mana bisa aku menyentuh kamu dalam keadaan dalam pengaruh obat tidur seperti itu," keluh Leo.
Cindy pun menyadari, kalau yang Leo maksud menyentuh adalah melakukan hubungan suami istri, pastinya.
"Maaf, karena ulah mantan pacar aku, kamu jadi repot." Cindy tertunduk tak enak hati.
Leo tak menjawab, dia terlihat bangun lalu menyalakan lampu tidur di dalam kamar tempat mereka menginap.
Nampaklah wajah Cindy yang terlihat merona, dia terlihat malu-malu. Lalu, dia menutup wajahnya dengan selimut.
Leo tersenyum, dia lalu melirik jam yang ada. di kamar tersebut. Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, pantas saja pikirnya matanya terasa sulit untuk dibuka.
Karena dia baru satu jam saja memejamkan matanya, namun matanya langsung segar kembali kala melihat wajah istrinya.
"Sayang!"
Leo langsung ikut masuk ke dalam selimut dan mengusap lengan Cindy dengan lembut sekali, hal itu membuat tubuh Cindy meremang.
"Apa?" tanya Cindy malu-malu.
Memang pada awalnya Leo ingin sekali menghabiskan malam pertama mereka di hotel berbintang dengan nuansa romantis, agar Cindy merasa terkesan.
Karena ini memang yang pertama untuk Cindy, jadi... Leo ingin memberikan kesan yang tak terlupakan untuk istrinya.
Sayangnya, semua berantakan gara-gara lelaki brengsek tak berduit yang dengan belagunya membawa pasukan preman pasar untuk menculik istrinya.
Cindy menatap wajah Leo yang terlihat begitu mengingikannya, namun dia merasa malu dan merasa tidak percaya diri.
"Tapi, Mas. Aku bau, belum mandi dari kemarin." Cindy terlihat menundukkan wajahnya.
"Ya ampun, aku ngga perduli. Bagi aku kamu tetap wangi, boleh ya?" tanya Leo.
"Boleh," ucap Cindy pelan.
Kalau saja tidak malu, rasanya ingin sekali Leo bersorak dan melompat. Namun, hal itu dia tahan.
Dia tersenyum senang lalu melempar selimut yang dipakai oleh Cindy, Cindy sempat tersentak kaget karena Leo melakukan hal yang tak terduga olehnya.
Dengan cepat Cindy pun menutupi dadanya dan area intinya secara bergantian.
"Jangan malu, jangan juga ditutupi. Aku ingin melihatnya dengan jelas," kata Leo.
Tentu saja Leo sangat penasaran ingin melihat dada istrinya yang dari semalam membuatnya ketar-ketir.
Semalam Leo tak berani melihatnya sama sekali, karena dia takut khilaf memperkosa istrinya saat istrinya sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Malu," kata Cindy.
"Jangan malu," kata Leo seraya menarik lembut tangan istrinya.
"Woow! Gede banget," kata Leo.
Mendengar ucapan Leo, Cindy langsung tersipu. Apa lagi saat Leo yang tiba-tiba saja merapatkan tubuhnya, membuat Cindy merasa geli sekaligus penasaran ingin merasakan hal yang lebih.
Leo menatap Cindy dengan tatapan mesra, lalu dia mulai mengecupi setiap inci wajah istrinya. Tak lama kemudian, dia mengusap bibir Cindy.
"Boleh aku mencicipinya?" tanya Leo.
Cindy tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, Leo pun dengan perlahan menautkan bibirnya ke bibir istrinya.
Mencicipi manis madu dari bibir wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya, rasanya terasa berbeda sekali pada saat dia berciuman dengan wanita yang datang dan pergi saat dia lajang.
Tautan bibir yang awalnya terasa manis dan hangat, berubah menjadi panas dan bergairah. Tangan Leo pun sudah terlihat sulit untuk dikondisikan, tangan kanannya terlihat mengusap-usap punggung Cindy dengan lembut.
Berbeda dengan tangan kirinya yang terlihat mengusap puncak dada istrinya yang terlihat sangat menantang.
"Haus," ucap Leo dengan napas memburu.
"Hah? Mas mau minum?" tanya Cindy bingung.
"Minum susu," kata Leo.
Cindy langsung tersipu, sedangkan Leo langsung menyesap puncak dada istrinya. Cindy langsung menjambak rambut Leo, terasa ada aliran listrik yang mengalir di tubuhnya.
"Mas!"
Cindy terlihat merintih bukan karena kesakitan, namun karena baru saja merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan.
Leo tersenyum, dia terus saja bermain dengan puncak dada istrinya. Tangan kanannya terlihat bermain dengan ujung dada Cindy yang satunya, sesekali memilinnya dan menariknya dengan lembut.
Tangan kirinya pun tak mau diam, tangan itu mulai turun dan mengusap area inti Cindy. Hal itu membuat Cindy makin gelisah, bahkan tubuhnya terlihat menggeliat.