
Namun, saat dia hendak turun dia melihat Cindy yang sedang berdebat dengan seorang pria. Leo pun nampak memperhatikan mereka berdua dari dalam mobilnya, kemudian Leo pun menyadari satu hal.
Jika lelaki tersebut adalah lelaki yang diputuskan oleh Cindy saat berada di Caffe M.
"Mau apa, dia?"
Leo terus saja memperhatikan interaksi antara Cindy dengan mantan kekasihnya, lelaki itu nampak terus berusaha untuk mengajak Cindy untuk pergi
Namun, Cindy terus saja menolaknya. Lelaki itu bahkan langsung menggenggam erat tangan Cindy, dia berusaha menarik paksa Cindy untuk masuk ke dalam mobilnya.
Cindy terlihat meronta, beberapa kali dia melawan dan tangannya pun terlepas dari tangan pria tersebut.
Namun pria tersebut tetap saja berusaha untuk menarik tangan Cindy kembali, lama-lama Leo pun menjadi tak sabar.
Dia merasa geram dengan tingkah lelaki tersebut, Leo memang seorang playboy. Dia sering sekali bergonta-ganti pasangan, namun dia tidak pernah berbuat kasar terhadap perempuan.
Menurutnya lelaki yang suka kasar terhadap perempuan adalah banci, Leo pun langsung turun dari mobilnya.
Lalu, Leo menghampiri Cindy dan juga mantan pacarnya tersebut. Tanpa aba-aba, Leo langsung menghempaskan tangan mantan kekasihnya Cindy dengan kasar.
Lalu Leo pun langsung merangkul pundak Cindy dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Duduklah," ucap Leo memerintah.
Cindy pun menurut, walaupun awalnya dia bingung karena melihat Leo yang tiba-tiba berada di sana.
Setelah melihat Cindy duduk dengan nyaman, Leo pun menutup pintu mobilnya. Lalu, Leo menghampiri mantan kekasihnya Cindy tersebut.
"Kalau elu masih cinta ama Cindy, perlakukan wanita elu dengan baik. Jika cara elu memperlakukan dia kasar seperti itu, gue jamin Cindy nggak bakal mau balikan lagi sama elu."
Setelah mengatakan hal itu, Leo langsung pergi meninggalkan lelaki itu. Sedangkan mantan kekasihnya Cindy, terlihat langsung mengepalkan kedua tangannya.
Tangannya mengepal begitu kencang, sampai buku tangannya terlihat memutih.
Dia begitu kesal saat melihat wajah Leo, dia juga sangat kesal dengan apa yang diucapkan oleh Leo.
"Dasar pria brengsek! Elu lihat aja nanti, Cindy bakalan jadi milik gue. Elu ngga bakalan bisa nikah sama cewe gue, belrengsek!" makinya.
Leo tak menanggapi, Leo langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia duduk di balik kemudi dan langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Cindy.
Selama di dalam perjalanan pulang, Cindy terlihat diam saja. Sesekali Leo mencuri pandang ke arah Cindy, dia melihat gurat kecewa di wajah Cindy.
Dia juga melihat gurat sedih di sana, Leo bisa menebak, jika Cindy sepertinya sedang kecewa dengan kelakuan dari mantan pacarnya itu.
"Mau curhat?" tanya Leo spontan.
Cindy langsung menoleh kearah Leo, lalu dia tersenyum tipis.
"Tidak! Aku tidak ingin curhat, aku hanya ingin segera pulang dan beristirahat," ucap Cindy.
"Cape banget ya, hari ini? Soalnya Kata Om, hari ini kamu sangat sibuk," ucap Leo.
"Ya begitulah, dan aku dengar juga kamu sangat sibuk ya? Karena Tuan Adam tidak masuk," Jawab Cindy.
Leo pun tersenyum, "ya... Aku dan Gracia sangat sibuk hari ini, tapi aku turut senang."
Leo berbicara sarkas menurut Cindy, hal itu membuatnya penasaran.
"Senang bagaimana?" tanya Cindy.
"Karena istri Tuan Adam positif hamil, sebentar lagi pasti rumah Tuan Adam akan ramai dengan tangisan Baby." Leo tersenyum sambil membayangkan Baby di gendongannya.
Cindy sempat memperhatikan wajah Leo yang terlihat senang saat mengatakan kata 'Baby'.
"Apa kamu ingin segera punya Baby?" tanya Cindy.
"Hem, aku suka anak kecil," jawab Leo.
"Aku maunya seperti itu, tapi dia selalu bersikeras berkata jika dua belum mau menikah dan memiliki anak. Jadi, aku bisa apa?" ucap Leo dengan senyum kecut di bibirnya.
"Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Cindy.
"Aku serius untuk kita saling mengenal dulu, kalau kita cocok, kita bisa menikah." Leo menatap Cindy sekilas, lalu kembali fokus mengemudi.
"Bagaimana dengan pacarmu?" tanya Cindy.
"Aku akan memutuskannya secara baik-baik," ucap Leo.
Cindy tersenyum, ternyata Leo mau menuruti keinginan Momnya, pikirnya. Padahal Leo yang selalu dia dengar adalah seorang playboy yang suka sekali bergonta-ganti pacar hanya sekedar ingin tahu, wanita mana yang mampu menggetarkan ranjangnya dengan hebat.
Hampir pukul enam Leo sampai di rumah Cindy, awalnya dia ingin langsung pulang saja. Namun, Tuan Bram malah mengajak Leo untuk mengobrol sambil minum kopi.
Tentunya sebelum makan malam tiba, Leo yang tak enak hati pun, hanya bisa mengangguk pasrah.
Berbeda dengan Cindy yang langsung masuk ke dalam kamarnya, karena dia sudah ingin segera melakukan ritual mandinya.
"Oke, Om," jawab Leo.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Tuan Bram.
"Seperti biasanya, Om. Menumpuk," jawab Leo dengan senyumnya.
"Kamu sangat hebat, saya suka anak muda seperti kamu. Kamu dan Mahendra begitu gigih membantu perusahaan milik keluarga Callweld, lalu... kapan kamu akan memegang perusahaan kamu sendiri?" ucap tanya Tuan Bram.
"Mungkin nanti, Om. Saya masih ingin belajar banyak dulu dari perusahaan besar," jawab Leo.
"Ya, pengalaman yang bagus akan berpengaruh besar pada perusahaan yang kita kelola." Tuan Bram ikut mendukung keputusan Leo.
"Pah, makan malam sudah siap." Nyonya Meriana menghampiri dua lelaki beda generasi itu.
"Oh, sudah siap ya?" jawabnya, lalu pandangannya beralih pada Leo. "Nak Leo, boleh minta tolong?" tanya Tuan Bram.
"Boleh," jawab Leo singkat.
"Tolong sekalian ajak Cindy, kamarnya yang dekat kamar tamu." Pinta Tuan Bram, yang sepertinya lebih ke arah memerintah.
Leo sempat berpikir, apakah mereka sedang menguji Leo. Masa baru sekali bertamu sudah boleh masuk ke dalam kamar wanita yang sudah dijodohkan dengan dirinya, pikirnya.
"Iya, Om," jawab Leo.
Tuan Bram dan Nyonya Meriana langsung berjalan ke arah ruang makan. Sedangkan Leo langsung berjalan ke kamar Cindy.
Tok! Tok! Tok!
Lama Leo menunggu tapi tak ada sahutan, beberapa kali dia mencoba mengetuk pintu kamar Cindy namun tak juga mendapatkan respon.
"Apa dia ketiduran?" tanya Leo pada dirinya sendiri.
Leo pun berinisiatif unrtuk membuka pintu kamar Cindy, kalau dia ketiduran maka Leo akan membangunkannya.
"Loh, kok ngga ada orang? Kemana dia?" tanya Leo.
Leo memperhatikan kamar Cindy yang terlihat sangat rapi, semua barang tersusun sesuai dengan tempatnya.
"Mending aku keluar saja, Cindy'nya juga tak ada," ucap Leo.
Namun, baru saja Leo akan keluar dari kamar Cindy. Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka, nampaklah Cindy yang hanya memakai handuk saja.
Leo menelan salivanya dengan susah, Cindy terlihat seksi sekali. Apa pagi rambutnya terurai basah, membuat jiwa kelelakian Leo meronta.
Saat menyadari Leo tengah menatap dirinya, sontak Cindy langsung berteriak dengan tangan yang sibuk menutupi area dadanya.
"Aaaaahhh...."