
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Tuan Arley, pun menghentikan aktivitasnya. Dia, bangun dari kursi kebesarannya. Lalu Tuan Arley, pun menghampiri Adam, yang sedang memperhatikan lukisan keluarga yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Boy," panggil Tuan Arley.
"Yes, Grandpa." ucap Adam tanpa memalingkan wajah nya dari lukisan tersebut.
"Itu adalah foto keluarga, Grandpa." Tuan Arley menjelaskan, Adam pun langsung beralih menatap Grandpanya.
"Aku tahu, Grandpa. Aku bisa melihatnya dari wajah mereka yang sangat mirip," jelas Adam.
"Kamu pintar, Boy." ucap Tuan Arley.
"Tentu, apakah ini sudah waktunya?" tanya Adam.
"Ya, kita harus ke Aula yang berada di lantai dasar. Sepuluh karyawan yang dipindahkan dari kantor cabang pasti sudah menunggu," jawab Tuan Arley.
"Baiklah, kalau begitu kita harus cepat turun." ucap Adam.
Tuan Arley pun langsung menganggukkan kepalanya, dia pun segera menggendong Adam dan keluar dari ruangannya. Dia segera masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar, setelah sampai di lantai dasar, Tuan Arley, pun segera menuju Aula gedung.
Sesuai dengan dugaannya, di sana sudah sangat ramai dengan para karyawannya. 10 orang karyawan yang hadir dari kantor cabang pun kini sudah bersiap untuk mendapatkan penyambutan dari Tuan Arley, sedangkan para karyawan lama bersorak gembira saat melihat kedatangan Adam yang sangat tampan.
Tuan Arley nampak tersenyum, dia tak terbiasa dengan sambutan dari para karyawannya. Karena memang, dia jarang sekali berkumpul dengan para karyawannya yang ada di Indonesia.
Biasanya, Tuan Arley, hanya akan pergi ke kantor pusat sekali saja, selebihnya dia akan keliling kantor cabang yang dirasa masih butuh untuk ditangani.
Tuan Arley pun langsung naik ke atas panggung yang berada di gedung Aula tersebut, di panggung tersebut nampak 10 orang karyawan yang sudah siap mendapatkan penyebutan darinya.
Dahi Tuan Arley nampak berkerut saat melihat perempuan yang belum lama menabraknya, begitu pun dengan perempuan tersebut.
Tak lama, perempuan tersebut terlihat berbisik kepada teman di sampingnya. Kemudian teman di sampingnya pun ikut berbisik pada perempuan itu, tak lama kemudian raut wajah perempuan tersebut berubah menjadi pias, dia pun menjadi gugup saat melihat wajah Tuan Arley.
"Ya ampun, ternyata Om itu orang yang mempunyai perusahaan ini. Mati, aku. Semoga saja, dia tak mempermasalkan hal tadi."
Perempuan itu pun tampak membatin dalam hati, dia tak menyangka jika pria yang dia tabrak adalah orang no satu di perusahaan tersebut.
Mrs. Laurent , orang kepercayaan Tuan Arley pun langsung menghampiri Tuan Arley.
"Selamat pagi, Mister. Saya, Senang. Karena anda, bisa turun langsung untuk menyambut kedatangan para karyawan dari kantor cabang." ucap Mrs. Laurent.
"Saya, juga senang. Karena bisa bertemu langsung dengan orang-orang yang memiliki banyak potensi seperti kalian, " ucap Tuan Arley.
Mrs. Laurent langsung tersenyum, kemudian dia pun memberikan sebuah berkas mengenai catatan para karyawan selama mereka bekerja di kantor cabang.
Tuan Arley , nampak menurunkan Adam. Kemudian, Tuan Arley, menerima berkas tersebut dari tangan Mrs. Laurent.
Tuan Arley, nampak tersenyum puas saat melihat catatan tentang 10 orang karyawan tersebut, Kemudian, Tuan Arley, pun menatap satu persatu karyawan yang ada di hadapannya.
"Silahkan perkenalkan diri kalian satu persatu," pinta Tuan Arley.
Mereka pun mulai mengenalkan diri mereka masing-masing, saat perempuan yang tadi pagi menabraknya memperkenalkan diri, Tuan Arley, nampak menatapnya dengan tajam.
Perempuan itu pun, langsung merasa sangat gugup dibuatnya. Tapi, perempuan itu terlihat mencoba untuk bisa tenang.
"Selamat pagi, Mister. Nama saya, Adisha Adisri. Saya, dari kantor cabang Bali."ucap Adisha gugup.
"Nama yang bagus, semoga kinerjanya juga bagus." ucap Tuan Arley.
"Bagus, tapi dalam catatan yang tadi saya baca, lima tahun yang lalu, seharusnya sudah pindah ke sini. Kenapa? "
Tuan Arley terlihat penasaran, dia pun memandang Adisha dengan lekat.
"Maaf, Mister. Bukannya saya menolak, tapi lima tahun yang lalu saya harus membiayai dan mengurus ke empat adik saya." ucapnya lesu.
"Dan membiayai mereka? "
"Iya, Mister. Kedua orang tua saya sudah meninggal, jadi saya harus membiayai mereka." jawab Adisha.
"Dan kamu bekerja sampai sepuluh tahun di kantor cabang--"
"Ya, Mister. Untuk membiayai sekolah keempat adik saya," jawab Adisha.
"Pantas saja dia tak laku-laku, hanya memikirkan pekerjaan. " ucap Tuan Arley lirih.
"Kenapa, Mister? " Tanya Mrs. Laurent.
"No, saya hanya ingin mengucapkan, selamat datang pada kalian semua. Semoga kalian bisa bekerja dengan baik, dan semoga dengan datangnya kalian, bisa lebih memajukan perusahaan." ucap Tuan Arley.
"Siap, Mister. " jawab mereka serentak.
Tuan Arley pun nampak mendekat kearah 10 karyawan tersebut, Ia pun mengulurkan tangannya. Dengan senang hati para karyawan tersebut pun menerima uluran tangan dari, Tuan Arley,tetapi berbeda dengan Adisha, ia terlihat sangat gugup saat menjabat tangan Tuan Arley.
"Saya, minta maaf. " ucap Adisha pelan.
"Untuk? "
"untuk yang tadi pagi, saya tidak tahu kalau Om, eh Mister, adalah pemilik dari tempat saya bekerja." ucap Adisha menyesal.
"Tidak apa-apa, saya paham." jawab Tuan Arley.
"Terimakasih, Mister. " ucap Adisha.
Tuan Arley, nampak menganggukkan kepalanya. Saat Tuan Arley, sedang berbicara dengan Adisha, Mrs. Laurent pun menghampirinya.
"Maaf, Mister. Menurut kabar yang saya dengar, anda, akan menetap di Indonesia. Apakah itu benar?" tanya Mrs. Laurent.
Tuan Arley pun nampak tersenyum," Benar, Mrs. Tapi saya, tetap membutuhkan bantuanmu. Karena waktu saya, akan lebih banyak saya habiskan dengan anak dan cucu saya."
"Baik, Mister. Semoga hari Anda bisa lebih menyenangkan bersama dengan anak dan cucu, Mister." do'a tulus Mrs. Laurent.
"Tanks, Laurent. Kamu selalu yang terbaik, " ucap Tuan Arley.
Saat Adisha melihat kedekatan antara Tuan Arley dan Mrs, Laurent, dia pun menyimpulkan bahwa diantara mereka ada hubungan yang spesial.
Setelah acara penyambutan dari Tuan Arley selesai, semua karyawan pun langsung melanjutkan acara tersebut dengan acara makan-makan. Karena hari ini, memang dikhususkan hanya untuk penyambutan bagi karyawan dari kantor cabang.
Sedangkan Tuan Arley terlihat pergi meninggalkan perusahaan tersebut bersama Adam, dia sudah berencana ingin mengajak cucunya bermain di sebuah taman hiburan.
Kini Tuan Arley dan Adam pun telah sampai di sebuah Wahana permainan, Adam terlihat sangat bahagia. Karena Adam, memang sangat jarang pergi ke tempat hiburan.
Dia memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya di usianya yang masih dini, tapi setelah adanya Arkana, dia sudah mulai mengurangi aktivitas pekerjaannya.
Karena Arkana sudah memutuskan, jika dialah yang akan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Kecuali, Adam sedang memiliki waktu senggang dan tak mengganggu kegiatannya, Arkana pun akan. memperbolehkan Adam Untuk bekerja.