
Pukul 4 pagi, Adam sudah terbangun dari tidurnya. Saat dia melihat ke sekelilingnya, dia sangat kaget. Karena ternyata, dia tidur sendiri.
Sedangkan Ayah dan Ibunya, tidak ada di sana. Adam pun langsung meloncat dari dari tempat tidur, kemudian dia langsung mencari-cari keberadaan Ayah dan Ibunya.
Adam berlari kerah kamar mandi, dia membuka pintu kamar mandi tetapi di sana tidak ada Ayah dan Ibunya. Adam juga pergi ke walk-in closet, tetapi di sana tetap tidak ada Ibu dan Ayahnya.
Adam panik, Adam pun segera keluar dari kamar Arkana dan Laila. Dia berteriak-teriak memanggil Ibu dan Ayahnya.
"Ibu!!!! Ayah!!!" panggil Adam.
Suasana pagi itu menjadi gaduh, seorang asisten rumah tangga pun keluar dari kamarnya dan berlari menghampiri Adam.
"Ada apa, Den?" tanya Bibi.
"Ibu dan Ayah menghilang, Bi, bagaimana ini!? Aku tidak bisa menjaga Ibu, padahal Kakek sudah berpesan padaku, agar bisa menjaga ibu dengan baik dan juga Ade. Lalu, aku harus bagaimana sekarang!?" Adam berbicara setengah berteriak.
Laila yang sedang tertidur di kamar tamu pun, merasa terganggu. Dia mengucek matanya dan menajamkan pendengarannya.
Ternyata, Adam lah yang sedang berteriak-teriak memanggil namanya dan juga Arkana. Laila pun terlonjak kaget, dia segera membangunkan Arkana.
"Mas, bangun. Adam mencari kita," ucap Laila.
Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, Arkana pun bangun. Dia mengedarkan pandangannya, setelah sadar Jika dia berada di kamar tamu, Arkana pun mengingat kejadian semalam bersama istrinya.
"Ada apa sih, Sayang? Masih kurang?" tanya Arkana.
"Ck, anak kamu tuh, Mas. Adam teriak-teriak, nyari kita." ucap Laila.
Arkana dan Laila pun langsung memunguti pakaian mereka, setelah itu, mereka pun memakai baju mereka dengan terburu-buru.
Setelah memakai baju, Arkana ada Laila pun langsung keluar dari kamar tamu. Mereka mencari keberadaan Adam dan juga Bibi, dan ternyata Adam bersama Bibi sedang berada di ruang tengah.
Arkana Dan Laila pun langsung menghampiri Adam, yang terlihat sedang bertanya-tanya tentang keberadaan mereka.
"Adam, Sayang. Ada apa?" tanya Laila.
"Ya ampun, Ibu. Ibu tidak apa-apa?" tanya Adam.
"Ibu tidak apa-apa, Sayang. Ibu sehat, kamu kenapa berteriak-teriak mencari ibu?" Tanya Laila.
" Tentu saja Adam mencari Ibu dan Ayah, karena saat Adam bangun, Ibu dan Ayah tiba-tiba saja menghilang. Adam panik Bu," Jawab Adam.
"Ibu tidak kemana-mana, Sayang. Ibu dan Ayah hanya pergi keluar sebentar, untuk mencari udara pagi." jawab Laila asal.
Adam nampak mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, dia paham dengan alasan ibunya. Tetapi, saat Adam memperhatikan ibunya dia merasa ada yang aneh.
"Apakah Ibu memakai baju model baru?" tanya Adam dengan kening yang berkerut.
"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Laila.
Laila dan Arkana langsung memperhatikan penampilan Laila, dan ternyata, karena terburu-buru Laila memakai baju terbalik.
Bahkan, 2 kancing piyama Laila bagian atas tidak terkancing. Sehingga, Adam bisa melihat lukisan yang Arkana buat tadi malam.
"Ya ampun,,, " ucap Arkana dan Laila bersamaan.
Laila pun segera mengancingkan bajunya, kemudian Laila pun memutar otaknya, dia tidak mungkin menjawab hal itu dengan gamblang. Akhirnya, Laila pun mencari alasan agar Adam tidak banyak bertanya padanya.
"Em, Sayang. Bagaimana kalau kita segera mandi dan melakukan salat berjamaah?" tanya Laila.
Adam pun seakan lupa dengan apa yang tadi ditanyakan pada ibunya, Adam pun segera menyetujui perkataan ibunya untuk mandi dan segera melakukan salat berjamaah.
"Baiklah Bu, kalau begitu aku mandi dulu. Nanti kalau sudah selesai, aku akan langsung menunggu ayah dan Ibu di Mushala." ucap Adam.
Adam pun langsung berlari menuju kamarnya, dan setelah melihat kepergian Adam, Laila dan Arkana pun bisa bernafas dengan lega.
Sedangkan asisten rumah tangga yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Arkana, Laila dan juga Adam, terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa.
**
Setelah acara keributan tadi pagi terselesaikan, kini Adam sudah berada di sekolahnya. Yang sudah diantar oleh Arkana dan Laila, setelah Laila dan Arkana mengantarkan Adam, mereka pun langsung menuju rumah Eliza dan Devano.
Karena pagi ini, Tuan Seno dan Nyonya Alina akan pulang menuju kampung halaman mereka. Arkana dan Laila ingin melihat kepergian orang tua mereka.
Sampai di rumah Devano, Arkana dan Laila melihat Tuan Seno dan nyonya Alina yang sedang memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.
Arkana Dan Laila pun tersenyum lega, karena ternyata mereka tidak terlambat.
"Pah, Ma." sapa Arkana.
Tuan Seno langsung memeluk Arkana dan Laila secara bergantian, begitupun dengan Nyonya Alina. Dia pun memeluk Putra kesayangannya, lalu menghujani wajah Arkana dengan ciuman.
Begitupun terhadap Laila, mereka sebenarnya merasa enggan untuk berpisah. Tetapi, banyak hal yang harus mereka kerjakan. Jika mereka terlalu lama tinggal di Jakarta, mereka takut perusahaan mereka akan terbengkalai.
Memang Tuan Seno sudah menyerahkan semua pekerjaan terhadap orang kepercayaannya, tapi, banyak hal yang tidak bisa diwakilkan terhadap orang lain yang Tuan Seno harus lakukan di sana.
"Papah,, pulang. Jaga anak-anak dan istrimu dengan baik." ucap Tuan Seno pada Arkana.
"Iya, Pa. Papa sama Mama hati-hati, Arkana pasti kangen kalian." ucap Arkana.
"Untuk kamu, jadi istri dan ibu yang baik. Papa sayang kamu, sayang cucu Papa juga. Sering-sering telpon Papa," ucap Tuan Seno pada Laila.
"Iya, Pa." jawab Laila.
Setelah berpamitan, akhirnya Tuan Seno dan Nyonya Alina pun pergi diantar sopir menuju Bandara. Sebenarnya Laila, Arkana, Devano, dan juga Eliza ingin sekali mengantarkan kepergian Tuan Seno dan Nyonya Alina, tetapi mereka menolak karena mereka takut merepotkan.