Who Is Adam?

Who Is Adam?
Lamaran Dadakan



Jam makan siang pun telah tiba, Adisha nampak keluar dari dalam ruangannya di ikuti oleh Mira dan Leli. Adrian, yang tak ingin kehilangan kesempatan pun langsung mengekori ketiga perempuan cantik itu.


"Gue, laper banget. Tadi pagi, gue ngga sempet sarapan." ucap Leli.


"Lagu lama, udah sarapan juga bilangnya belum." Mira menoyor kepala Leli, Leli pun mendelik sebal.


"Kalau gue bilang udah sarapan, entar gue malu kalau gue makannya nambah." ucap Leli.


"Elu mah, emang raja makan. Sebanyak apapun makanannya, elu pasti sanggup ngabisin." ucap Mira.


Adisha, nampak terkekeh melihat perdebatan kedua teman satu Divici nya. Adrian, merasa sangat senang bisa melihat wajah Adisha yang nampak manis di matanya.


"Elu cantik, Sha." puji Adrian.


"Apa sih, Ade manis?" ucap Adisha setengah meledek.


Pintu lift terbuka, semua yang ada di sana nampak terdiam. Karena ada Tuan Arley, di sana. Tuan Arley, yang melihat gelagat mereka seakan bisa membaca situasi.


"Masuk saja, saya juga mau ke kantin." ajaknya.


Dengan langkah tak enak hati, keempat anak Divici pemasaran pun nampak masuk. Adisha, Mira, Leli, nampak berdiri tepat di depan Tuan Arley, sedangkan Adrian berdiri sejajar dengan Tuan Arley.


Suasana terasa sangat hening, bahkan hembusan nafas'pun terasa terdengar begitu nyaring. Hawa canggung pun sangat terasa, Adisha, bahkan sesekali terlihat menahan nafasnya.


Sampai di lantai sepuluh, pintu lift langsung terbuka. Karena memang, Kantin terletak di lantai sepuluh.


Mira, Adrian, dan Leli langsung keluar dari dalam Lift. Sedangkan Adisha, malah diam saja karena tangan kanannya kini berada dalam genggaman tangan Tuan Arley.


Adisha nampak tak berani protes, dia hanya melihat tangannya yang di genggam erat oleh Tuan Arley. Ketiga teman Adisha, yang menyadari Adisha tak bersama dengan mereka pun langsung menoleh ke arah lift, mereka pun melihat jika Tuan Arley nampak sedang menggenggam tangan Adisha.


Adrian nampak kesal, tapi, dia tak berani melayangkan protesnya. Sudah pasti, itu akan mengancam kesejahteraannya.


"Kamu, ikut saya ke tempat Haidar. Tadi dia telpon saya," titah Tuan Arley.


"Ta--tapi, Mister." ucap Adisha, terbata.


"No, tapi-tapi." Mata Tuan Arley, beralih pada ketiga teman Adisha." Kalian makan saja di kantin, kalau nanti pulangnya telat, bilang Hasni, Adisha sama saya."


Ketiga teman Adisha pun langsung mengangguk tanpa bersuara, pintu lift pun tertutup. Adisha nampak gelisah, dia tak terbiasa diperlakukan seperti itu.


Leli dan Mira sempat bingung melihat kejadian barusan, sedangkan Adrian, terlihat kesal karena atasannya berlaku seenaknya.


Saat angka menunjukan lantai satu, pintu lift langsung terbuka. Tanpa Tuan Arley, sadari, Tuan Arley berjalan sambil menggenggam erat tangan Adisha.


Adisha nampak tertunduk malu, karena banyak karyawan yang melihat hal itu. Sedangkan Tuan Arley, nampak tak perduli.


Sampai di depan loby, seorang supir langsung membukakan pintu mobil untuk mereka ,Tuan Arley pun menuntun Adisha untuk masuk, barulah dirinya.


Tak lama mobil pun melaju membelah jalanan, Tuan Arley, nampak duduk dengan santai. Berbeda dengan Adisha, yang terlihat gelisah, sesekali dia memandang Tuan Arley, yang berada tepat di sampingnya.


Dia bertanya-tanya, sebenarnya ada apa. Tapi dia tak mampu untuk bicara, dia hanya diam tanpa suara.


Sepuluh menit kemudian, mobil pun berhenti tepat di depan sebuah Resto kecil. Disana menyediakan makanan khas dari kota B, tapi di sana juga menyediakan makanan khas nusantara lainnya.


Tuan Arley, pun langsung mengajak Adisha untuk turun, Adisha pun menurut. Saat mau masuk ke dalam Resto, Haidar nampak sudah berdiri di pintu masuk.


Haidar, sempat kaget karena melihat mantan majikannya datang bersama dengan keponakannya.Tapi ,dia tak berani mengungkapkan pertanyaan dalam benaknya.


"Selamat siang, Tuan. Senang sekali anda bisa menyempatkan waktu untuk datang ke Resto, sederhana milik saya." Haidar menyambut, sambil membungkuk hormat.


Tuan Arley nampak menepuk pelan pundak Haidar," Jangan berlebihan."


Haidar nampak tersenyum, kemudian pandangannya beralih pada Adisha.


"Kamu, ikut Tuan Arley, Nak?"


"Haidar, aku sudah lapar. Apa kita akan tetap berdiri di sini?" tanya Tuan Arley.


"Ah, maaf, Tuan." ucap Haidar.


Mereka pun langsung masuk dan duduk di tempat yang sudah di sediakan oleh Haidar, Tuan Arley terlihat mengamati detail dari Resto tersebut, sedangkan Haidar langsung meminta seorang pelayan untuk menyediakan menu yang sudah dia siapkan.


Tak lama pelayan pun datang dan langsung menyajikan dua porsi nasi putih, bebek betutu, sate lilit, urab dan juga dua gelas lemon hangat.


"Silahkan dinikmati, Tuan." ucap Haidar.


Tanpa basa-basi, Tuan Arley, langsung menyantap makanannya. Awalnya dia terlihat mengunyahnya dengan pelan, setelah dirasa cocok dengan lidahnya, Tuan Arley terlihat makan dengan lahap.


Adisha pun tersenyum, ternyata Tuan Arley bukan tipe lelaki kaya yang sok jaim, pikirnya.


"Makanlah, jangan tersenyum seperti itu. Makanannya tak akan habis dengan sendirinya," ucap Tuan Arley.


"Iya, Tuan." jawab Adisha setengah kaget.


Haidar nampak bingung melihat tingkah mantan majikannya itu, Tuan Arley memang sering berdampingan dengan perempuan.


Tapi hanya sebatas pemuda saja, tak ada perempuan spesial dalam hidupnya, tentu saja setelah penghianatan yang dilakukan oleh kekasihnya dulu.


Adisha pun langsung menikmati makanan khas kota kelahirannya, saat satu suapan penuh masuk ke dalam mulutnya, dia merasa berada di kampung halamannya.


Adisha dan Tuan Arley nampak makan dengan lahap, sedangkan Haidar, asik menonton.


Setelah acara makan siang selsai, Tuan Arley nampak terlihat serius. Haidar jadi takut, karena biasanya, kalau Tuan Arley sudah seperti itu, akan ada hal penting yang akan dia sampaikan.


"Haidar," panggil Tuan Arley.


"Ya, Tuan."


"Panggil istrimu, kemari." pinta Tuan Arley.


Dahi Haidar nampak berkerut, sebenarnya ada apa ? Kenapa pula istrinya ikut di panggil?


"Ada apa, Tuan? Apa kamu sudah melakukan kesalahan?" tanya Haidar.


Tuan Arley nampak terkekeh," No, aku hanya ingin meminta sesuatu. Bisa kan kamu panggilkan istrimu sekarang?"


"Iya, Tuan." jawab Haidar.


Selepas kepergian Haidar, Tuan Arley nampak menatap Adisha. Yang di tatap menjadi salah tingkah, dia bingung harus apa di depan atasannya itu.


"Kamu kenapa?" tanya Tuan Arley.


"Tidak apa-apa, Mister." jawab Adisha.


Tak lama Haidar datang dengan istrinya, mereka langsung duduk tepat di depan Tuan Arley.


"Selamat siang, Tuan. Senang bisa bertemu dengan anda," ucap Rena, istrinya Haidar.


"Apa kabar, Rena?"


"Baik, Tuan." jawab Rena.


"Begini, Haidar, Rena. Saya ke sini, ingin meminta Adisha untuk menjadi pendamping hidup saya." ucap Tuan Arley to the point.


Mata Adisha nampak membulat sempurna, dia memandang wajah Tuan Arley tanpa berkedip. Begitu pun dengan Haidar dan Rena, mereka terlihat sangat terkejut.


"Tapi, Mister---" ucap Adisha menggantung.