
Leo menelan salivanya dengan susah, Cindy terlihat seksi sekali. Apa pagi rambutnya terurai basah, membuat jiwa kelelakian Leo meronta.
Kalau menuruti egonya, ingin sekali dia menarik handuk Cindy dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
Tentu saja akan langsung dia kurung dan dia ajak bermain hingga melayang ke langit ke tujuh.
Saat menyadari Leo tengah menatap dirinya, sontak Cindy langsung berteriak dengan tangan yang sibuk menutupi area dadanya.
"Aaaaahhh....".
Tanpa Cindy duga, Leo langsung menghampirinya dan menutupi tubuh Cindy dengan selimut berwarna pink yang dia ambil dari atas kasur miliknya.
"Kata Tante makan malamnya sudah siap, aku menunggu kamu di ruang makan." Tanpa permisi Leo terlihat terburu-buru keluar dari dalam kamar Cindy sambil memegangi dada sebelah kirinya.
Cindy yang mendapatkan perlakuan yang tak terduga dari Leo pun, hanya bisa bengong sambil menatap punggung Leo yang menghilang di balik pintu kamarnya.
"Terima kasih Tuhan, karena Leo tak melakukan apa pun padaku. Aku sudah takut saja, karena banyak orang bilang kalau Leo itu seorang playboy kelas kakap." Cindy mengelus dadanya, lalu dia berjalan dengan cepat ke arah walk in closet.
Cepat-cepat Cindy memakai bajunya, dress selutut berwarna kuning kunyit menjadi pilihannya malam ini.
Warna kulitnya yang kuning langsat itu, begitu menyatu dengan warna bajunya. Tak lupa sebelum dia keluar dari dalam kamarnya, dia juga memoles wajahnya dengan bedak tabur dan memoles bibirnya dengan gincu berwarna peach.
Cindy juga mengikat rambutnya asal, karena takut akan kelamaan.
"Lama sekali?" keluh Tuan Bram saat Cindy tiba di ruang makan.
"Maaf," ucap Cindy.
Cindy pun segera duduk di samping Papanya, posisinya tepat di hadapan Leo. Untuk sesaat mereka saling pandang, lalu... mereka pun saling memutuskan pandang dan menunduk.
Kedua orang tua Cindy saling pandang dan saling melempar senyum.
"Ekhm... dimakan Nak Leo, nanti keburu dingin." Nyonya Meriana menunjukkan makann yang ada di hadapan Leo.
"Terima kasih, Tante," jawab Leo.
Leo langsung mengambil piring kosong yang berada di hadapannya, lalu dia pun hendak mengendok nasi.
Namun, dengan cepat Nyonya Meriana menghentikan tangan Leo.
"Cindy, tolong diambilkan nasi buat Nak Leo. Itung-itung latihan sebelum kalian menikah," ucap Pak Burhan.
Cindy mengangguk patuh, dia mulai mengendokkan nasi pada piring kosong milik Leo.
"Lauknya mau pakai apa?" tanya Cindy.
"Ikan sama sambel aja," jawab Leo.
"Sayurnya, mau sayur apa? Atau mau tumisan mungkin?" tanya Cindy.
"Aku ngga suka," jawab Leo pelan.
"Oke," jawab Cindy.
Satu hal yang harus Cindy ingat, Leo tak suka sayuran.
Makan malam pun berlangsung khidmat, Leo pun begitu menikmati masakan yang dihidangkan malam ini.
"Terima kasih," ucap Leo kala Cindy mengantar Leo sampai depan halaman rumah.
"Untuk makan malamnya," jawab Leo.
"Sama-sama," jawab Cindy.
"Besok aku jemput, sekalian mau nganter Mom cek kesehatan. Ngga apa-apa kan bareng, Mom Maura?" tanya Leo.
Cindy justru merasa senang karena ternyata dia tidak akan berduaan saja dengan Leo, jika bersama dengan Mom Maura maka dia merasa akan lebih nyaman.
Karena setelah kejadian tadi, dia merasa lebih canggung terhadap Leo.
"Tentu saja tidak," jawab Cindy dengan senyum canggung di bibirnya.
Sebenarnya dia masih merasa canggung atas kejadian di dalam kamarnya, namun dia sudah dewasa.
Tak mungkin juga harus bertindak yang akan membuatnya malu, atau bahkan ngambek ngga jelas.
Toh, Leo pun tak berbuat buruk padanya. Justru Leo begitu terlihat berusaha untuk bersikap baik di depannya.
"Oke, kalau begitu aku pulang dulu." Setelah berpamitan, Leo pun langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Momnya.
Cindy pun akhirnya bisa bernafas dengan lega, karena Leo kini telah pulang. Dia pun segera masuk kedalam kamarnya dan segera merebahkan tubuh lelahnya.
"Semoga saja Leo jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan untukku," do'a Cindy dalam hati.
*/*
Di rumah Laila, Adam terlihat sedang kerepotan. Karena Sisil meminta Adam untuk membuatkan dirinya makanan yang bernama telor gulung.
Terkadang, dia bertanya-tanya di dalam hatinya. Kenapa Sisil begitu senang sekali makan, Sisil begitu senang jajan.
Bahkan Sisil begitu senang mengerjai Adam, tentunya dengan menyuruh Adam membuatkan dia cemilan dengan berbagai aneka rasa.
Padahal dokter berkata jika bayi di dalam perut Sisil hanya ada satu, Adam bahkan sempat merasa jika pemeriksaan yang dokter lakukan itu salah.
Karena porsi makan Sisil yang tak sesuai dengan jumlah bayi yang berada di perutnya, namun Adam juga bersyukur karena Sisil tak pernah mengeluh mual ataupun pusing dan sejenisnya.
"Kenapa terlihat kesal seperti itu?" tanya Laila.
"Tak apa-apa, Bu," jawab Adam.
Adam yang baru saja selesai menuruti keinginan Sisil, terlihat sedang duduk santai di ruang keluarga.
"jangan pernah marah sama istri kamu, Sayang. Ini salah satu ujian untuk menjadi orang tua," ucap Laila.
"Iya, Bu. Aku mengerti, ibu tenang saja. Aku hanya lelah saja," jawab Adam.
*
*
*
Hai Hai Hai, selamat sore semuanya....
Jangan lupa like, koment, vote dan juga hadiahnya...
I Love You All....