
Setelah kemarin keluarga Dijaya nampak sibuk mengurusi peresmian perusahaan baru milik Devano, hari ini keluarga Dijaya nampak sibuk mengurusi peresmian kantor baru milik Arkana .
Kantor itu memang baru saja dibuka ,tapi ternyata sudah banyak para pelanggan yang datang. Banyak yang datang dan langsung memesan desain yang mereka butuhkan, ada juga yang hanya sekedar berkonsultasi.
Dengan senang hati Arkana pun melayani mereka, Arkana nampak kewalahan di hari pertamanya. Beruntung ada Tuan Arley yang membantu, sehingga mempermudah Arkana dalam melakukan pelayanannya.
Tuan Seno merasa cemburu saat melihat tuan Arley yang begitu cekatan membantu Arkana ,karena memang mereka mempunyai satu keahlian yang sama.
Sedangkan Tuan Seno hanya bisa membantu para pelanggan yang membeli karya seni buatan Adam saja, semacam lukisan, hiasan dari barang bekas dan hasil karya Adam lainnya.
Tapi Nyonya Alina selalu saja bisa menenangkan hati Tuan Seno, dengan mudahnya dia selalu meluluhkan hati Tuan Seno.
"Jangan cemburu, biarkan mereka dekat. Mau seperti apa pun juga, mereka tetaplah Ayah dan anak. " Nyonya Alina mengusap dada Tuan Seno, Tuan Seno pun nampak sedikit lebih tenang.
"Terimakasih, Sayang. Kamu selalu saja bisa membuat aku tenang," ucap Tuan Seno.
"Sama-sama ,sayang." jawab Nyonya Alina.
Tuan Arley sempat melihat ke arah Nyonya Alina, ada sedikit rasa cemburu di hatinya. Rasa sesal pun makin menyeruak di hatinya, andai saja dia menghabiskan waktu mudanya dengan benar? Andai saja dia menikah di saat mudanya?
Begitu banyak kata andai yang terlintas dipikirkan Tuan Arley saat ini, memang benar kata pepatah, penyesalan memang selalu datang di akhir.
*
*
Setelah sibuk seharian ,kantor pun sudah ditutup. Semua yang ada di sana terlihat sedang meregangkan otot-otot lelah mereka.
"Assalamualaikum,, " sapa Adam dan Devano bersamaan.
"Waalaikum salam,, " semua yang ada di sana pun nampak menjawab salam.
"Kalian kok bisa barengan?" tanya Tuan Seno.
"Iya Pah, diminta Arkana buat jemput Adam di tempat lesnya," jawab Devano.
"Ayah nya sibuk , Sayang. Maaf ya, Sayang. Jadinya yang jemput Om Devan,"sesal Arkana.
"Tidak apa-apa, Yah .Adam paham," ucap Adam.
"Mah, Devan bawa makanan. Tolong disiapin," pinta Devano.
Nyonya Alina pun langsung mengambil bungkusan dari tangan Devano, kemudian dia pun langsung menyiapkannya di atas meja.
Ternyata Devano membawa kue dan martabak ,semua yang ada di sana pun langsung menyerbu makanan yang dibawa oleh Devano.
Suasana pun jadi menghangat, Tuan Seno dan Tuan Arley pun nampak mulai akrab dan mulai bercerita. Saat sedang asik bercengkerama,tiba-tiba saja Devano duduk di tengah-tengah mereka.
"Mohon perhatiannya, untuk semuanya. Tadi malam aku mau menyempaikannya, tapi kalian sudah pada tidur. Jadi, aku akan mengatakannya sekarang saja."ucap Devano yang sukses membuat semua yang ada di sana penasaran.
"Apa yang ingin kamu sampaikan sayang? " tanya Nyonya Alina.
"Aku ingin menikahi Eliza bulan depan, dan minggu depan aku ingin kalian semua ikut dengan ku untuk melamar Eliza secara resmi. Bisa?" ucap Devano.
Semua yang ada di sana nampak tersenyum bahagia mendengar apa yang diucapkan oleh Devano, mereka sangat senang karna akhirnya Devano akan melepas masa lajangnya.
"Kenapa mendadak sekali? " tanya Tuan Seno.
Devano nampak bingung untuk menjawab pertanyaan dari Papah nya, dia hanya bisa menggaruk pelipis nya yang tak gatal.
Nyonya Alina melihat ada raut kebingungan diwajah Devano, Nyonya Alina pun langsung menatap Tuan Seno.
"Mas, Devan itu mau melangsungkan niat baiknya terhadap Eliza. Jangan ditanya kenapa? " ucap Nyonya Alina.
"Ya ,Papah benar. Diusia ku yang ke dua puluh sembilan tahun saja, aku sudah mempunyai satu orang putra yang berusia lima tahun tujuh bulan. Sepertinya setelah menikah nanti, Bang Dev ,harus langsung tempur buat kejar target." ucap Arkana.
"Ya ampun De, kalau yang itu ngga perlu diingatkan," ucap Devano.
Semua orang yang ada di sana pun langsung menertawakan Devano, mereka pun sudah siap mengantarkan Devano ke rumah Eliza.
Adam yang sedari tadi hanya diam saja ,nampak menghampiri Devano dan duduk di pangkuannya.
"Om, " panggil Adam.
"Apa, Boy?" tanya Devano.
"Om beneran mau nikah sama Aunty Eliza?" tanya Adam, dengan raut wajah yang terlihat begitu menggemaskan.
"Iya ,Om mau menikahinya. Om rasa dia sudah berubah menjadi wanita yang lebih baik," ucap Devano.
"Om salah, " ucap Devano.
"Apanya yang salah dengan Om? " tanya Devano penasaran.
"Aunty Eliza tidak pernah jahat, dia hanya wanita yang membutuhkan perhatian. Aunty Eliza termasuk wanita yang kurang kasih sayang," jelas Adam.
Semua orang yang ada di sana nampak terkagum-kagum dengan Adam, karna Adam selalu saja benar dengan analisisnya.
"Sok tahu, Kamu." ucap Devano.
Padahal hatinya membenarkan, Eliza memang wanita yang kurang perhatian dan kasih sayang. Dari kecil kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja, Nyonya Berlin pun baru memutuskan berhenti bekerja karena kecelakaan kemarin.
"Kenapa diam, Sayang?" tanya Nyonya Alina.
Devano mengahampiri Nyonya Alina, dia pun berbisik tepat di cuping telinga Mamanya.
"Karena apa yang diucapkan oleh Adam, benar Ma." ucap Devano sambil tersenyum.
Nyonya Alina nampak mengatupkan mulutnya menahan tawa, semua yang ada di sana pun jadi curiga.
"Ada apa sih? " tanya Arkana.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Sekarang lebih baik kita pulang, hari sudah mulai larut," ucap Nyonya Alina mengingatkan.
"Kamu benar, Alina. Hari sudah mulai larut, aku juga harus pulang. " pamit Tuan Arley.
Adam langsung menghampiri grandpanya dan melompat ke dalam pelukannya, Arkana pun mengikuti Adam. Arkana langsung memeluk Daddynya dengan erat, Tuan Arley pun nampak membalas pelukan Arkana.
"Tank you, Dad. Karma hari ini Daddy sudah mau membantu aku," ucap Arkana.
"Tidak masalah, Sayang. Kapan pun kamu butuh bantuan Daddy ,jangan pernah sungkan untuk memintanya." ucap Tuan Arley.
"Pasti Dad, aku pasti masih membutuhkan bimbingan mu." tugas Arkana.
Arkana melerai pelukannya, sedangkan Adam masih terlihat betah berlama-lama di gendongan grandpanya.
"Grandpa," panggil Adam.
"Yes, Boy. Ada apa? "Tuan Arley bertanya seraya menurunkan Adam, agar dia bisa melihat dengan jelas wajah cucunya.
"Aku ingin bobo sama Grandpa, boleh? " tanya Adam.
"Tentu boleh, Sayang. Come on," ajak Tuan Arley.
Awalnya Tuan Seno merasa enggan untuk mengizinkan cucunya untuk menginap di rumah Tuan Arley, tapi Tuan Seno tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang pada kenyataannya, Adam dan Tuan Arley memiliki ikatan darah yang kuat.