Who Is Adam?

Who Is Adam?
Penat



Pukul 4 sore Leo terlihat baru saja masuk ke dalam ruangannya, dia langsung menuju kursi kebesarannya dan menyandarkan tubuhnya.


Gracia yang sedang merapikan meja kerjanya pun, langsung menghentikan aktivitasnya sebentar lalu menatap Leo.


Gracia melihat gurat lelah di wajah Leo, capek dan juga penat. Gracia yang merasa kasihan pun langsung mengambil minuman dingin di dalam lemari pendingin dan memberikannya kepada Leo.


"Sepertinya Kakak lelah sekali, minumlah." Gracia memberikan minuman dingin tersebut kepada Leo, dengan cepat Leo pun mengambil minuman tersebut dan menenggaknya hingga tandas.


"Terima kasih," ucap Leo.


"Kakak habis dari mana? Kenapa seharian ini tidak masuk ke kantor?" tanya Gracia.


Leo melihat kearah Gracia sebentar, lalu dia kembali menyandarkan tubuhnya.


"Aku ditugaskan untuk mengecek kantor cabang yang berada di kota D, Ini baru banget pulang. Capek," ujar Leo.


Gracia merasa kasihan pada Leo, namun inilah tugas yang harus mereka kerjakan.


"Emm, Kak. Aku pulang duluan," pamit Gracia.


"Pulanglah, aku ingin istirahat sebentar. Lagi pula aku sudah memberitahukan Cindy, jika aku akan terlambat menjemputnya." Leo terlihat memejamkan matanya.


Setelah berpamitan pada Leo, Gracia segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari saja. Sedangkan Leo masih memejamkan matanya untuk menghilangkan penat.


TING


Satu pesan masuk ke dalam ponsel milik Leo, dia membuka matanya dan langsung mengambil ponselnya.


"Jika masih cape, tak usah jemput. Aku pulang sendiri saja," satu pesan dari Cindy.


Leo langsung menegakkan tubuhnya, tak ingin mengecewakan Cindy gegas dia bangun dan menyembar kunci mobilnya.


Leo langsung melajukan mobilnya menuju kantor Cindy, tentu sebelum pergi Leo sudah mengirim pesan terlebih dahulu kepadanya.


Tiba di sana, Cindy sudah menunggu di depan loby kantor. Gegas Leo turun dan membukakan pintu mobil untuk Cindy.


"Terima kasih," ucap Cindy.


"Sama-sama," jawab Leo.


Leo melajukan mobilnya, suasana sore hari yang penuh dengan kendaraan yang hendak pulang ke tempat mereka bernaung membuat jalanan nampak begitu padat.


Macet, itulah yang selalu jadi kendala. Penat setelah pergi seharian, membuat Leo makin merasa lelah.


"Kamu sangat lelah ya? Bagaimana kalau kita mampir di Caffe sana," tunjuk Cindy pada Caffe yang tak jauh dari tempat mereka terjebak macet.


"Boleh, sepertinya secangkir kopi dan sepotong Cake akan mengembalikan semangatku," jawab Leo.


Cindy tersenyum mendengar penuturan Leo, Leo memang sangat menyukai makanan manis. Jika dia merasa lelah, makanan manis selalu bisa membuat energinya lebih cepat stabil.


Apa lagi perempuan berparas manis, gercep dia gebetnya.


Sepuluh menit kemudian, Leo dan Cindy pun sudah duduk dan terlihat memesan apa yang mereka inginkan.


"Wow, tiga potong Cake." Cindy tertawa melihat Leo memesan tiga potong Cake berukuran besar.


"Hem, aku suka makanan manis." Leo langsung melahap Cake tersebut.


"Sepertinya aku harus belajar membuat kue," ucap Cindy seraya terkekeh.


"Kamu benar, aku suka kue. Masakan yang kamu masak juga harus terasa pedas manis," ucap Leo.


"Iya," ujar Cindy.


Obrolan mereka pun berlanjut, mereka terlihat terlibat obrolan yang sangat seru sekali. Hingga saat Cindy melihat sosok pria yang sangat dia kenali masuk ke dalam Caffe tersebut, dia merasa was-was.


Ditunjang lagi dengan Caffe yang terlihat begitu ramai pengunjung saat sore tiba, jadi pria itu seolah tak melihat Cindy.


Tak lama pria itu duduk tak jauh dari meja yang Cindy pilih, mereka duduk saling membelakangi. Leo seolah tak menghiraukan, karena dia sedang asik dengan Cakenya.


Untuk sesaat Cindy tersenyum kala melihat Leo yang begitu asik dengan Cakenya, lalu Cindy berusaha untuk melihat pria yang masih dia sayang dengan ekor matanya.


Terlihat pria itu menatap pintu masuk dengan gelisah, sesekali dia melihat gawainya


Cindy jadi bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya siapa yang dia tunggu? Kenapa nampak gelisah seperti itu?


Tak lama pria itu nampak tersenyum kala seorang gadis yang terlihat masih berusia belasan tahun datang dan menghampirinya.


"Mas Daffa, lama nunggu ya?" tanya perempuan itu seraya menautkan pipinya.


"Ngga juga," jawab Daffa.


Daffa terlihat menggenggam tangan gadis yang kini tengah duduk di depannya, lalu tak lama dia kecup punggung tangan perempuan itu.


Cindy terus saja memperhatikan mereka dari pantulan kaca yang ada di Caffe tersebut.


"Cape ya, abis kerja seharian?" tanya Daffa.


"Cape, Yang. Kamu kan udah putus sama wanita itu, jadi aku harus bekerja keras untuk memenuhi keinginan aku." Wanita itu terlihat menekuk wajahnya.


"Mau gimana lagi, Yang. Dia sudah memutuskan aku, tapi kamu tenang aja nanti aku akan berusaha deketin lagi," ucapnya seraya mencubit gemas hidung wanita itu.


"Ya Tuhan, pantas saja selama ini dia sering pinjam uang padaku. Tahunya untuk pacarnya, padahal bilangnya untuk Mamanya yang punya penyakit jantung." Cindy bergumam dalam hati.


"Deketin wanita itu lagi, Mas. Porotin duitnya, biar aku bisa ke salon dan beli perhiasan lagi," ucapnya manja.


"Kamu tuh, selalu saja seperti itu. Semoga saja ibuku tak bangkit dari kubur karena selalu dijadikan alasan," ucap Daffa seraya tertawa.


Cindy merasa tak habis pikir dengan mantan kekasihnya itu, padahal mereka sudah dua tahun pacaran. Namun begitu tega telah membohonginya, Cindy terlihat mengatur napasnya dan berusaha menstabilkan emosinya.


"Oiya, Sayang. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya wanita itu.


"Lancar, seperti biasa," jawabnya seraya tersenyum lebar.


Melihat senyum pria yang pernah menjadi kekasihnya itu, Cindy menjadi curiga. Daffa bekerja di salah satu perusahaan ternama, dia di sana bekerja dibagian divisi keuangan.


Namun menurutnya, itu bukan urusan dia lagi. Karena sekarang mereka sudah tidak ada hubungannya.


Namun saat mendengar apa yang diucapkan oleh Daffa dan juga wanita itu tentang dirinya, ingin rasanya dia memaki mantan kekasihnya itu.


"Ehm, kamu malah melamun aja. Cake punya kamu ngga dimakan?" tanya Leo


Cindy langsung tersenyum lalu terpaksa dia pun memakan Cakenya.


"Jika ada sesuatu hal yang mengganjal di hatimu, keluarkan saja jangan dipendam. Nanti kamu sakit loh," ucap Leo.


Cindy sempat mengernyit kala Leo berkata seperti itu, namun saat melihat pandangan Leo yang mengarah kepada Daffa, Cindy pun paham jika Leo ikut mendengarkan obrolan antara Daffa dan wanita tersebut.


"Jika ada yang ingin kamu sampaikan terhadap mantan pacarmu, sampaikan saja. Aku menunggu di depan," ucap Leo.


Setelah berkata seperti itu, Leo langsung membayar pesanan mereka di kasir. Lalu, dia pun berjalan ke arah pintu keluar, Cindy langsung bangun dan menghampiri mantan pacarnya itu.


Daffa terlihat sangat kaget saat melihat Cindy yang kini tengah berdiri di sampingnya, tanpa membuang waktu Cindy langsung mengambil minuman yang berada di meja tersebut lalu dia mengguyurkannya ke atas kepala Daffa.


"Terima kasih karena selama ini kamu sudah memberikan cinta yang palsu untukku," ucap Cindy.


Setelah mengatakan hal itu, Cindy langsung bergegas pergi dari sana. Daffa dan juga wanita tersebut hanya bisa melongo karena tak percaya melihat tindakan yang dilakukan oleh Cindy.