Who Is Adam?

Who Is Adam?
Akhirnya



Satu hari sebelum acara pernikahan, Sisil meminta di antar ke pusara terakhir Ayah dan Bundanya. Tentu saja pak Hartono dengan setia menemani Sisil, karena dia juga ingin mengunjungi makam kedua almarhum atasannya itu.


Semasa hidupnya, baik Anggara maupun Marrisa begitu baik terhadap pak Hartono dan juga para karyawannya, rasanya di masa tuanya ini dia perlu mengabdikan diri pada Sisil.


Anak dari almarhum atasannya itu, yang pernah mendapatkan ketidak adilan dari pamannya William. Beruntung Sisil merupakan wanita yang dicintai Adam, sehingga Tuan Arley pun dengan mudahnya memberikan bantuan pada Sisil.


Tuan Arley bahkan dengan mudahnya memberikan kasih sayang yang melimpah untuk Sisil.


"Ayah, Bunda. Sisil datang, maaf jika Sisil lama tak berkunjung. Bukan karena tak ingin, tapi karena takut ketahuan paman William. Besok Sisil mau menikah dengan Mas Adam, semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan dalam rumah tangga yang akan Sisil jalani. Semoga kalian juga selalu bahagia dan mendapatkan tempat terindah di sisi tuhan." Sisil menyeka air matanya yang sejak tadi mengalir.


"Jangan bersedih, Nona. Sekarang semuanya sudah berakhir, besok hari bahagia, Nona. Jangan sampai ada lagi kesedihan." Kata Pak Hartono.


Sisil menganggukan kepalanya, dia pun kembali berbicara. Dia mencurahkan semua yang ada di dalam hatinya.


Setelah puas mengobrol dengan Ayah dan Bundanya, Sisil pun langsung bangun dan hendak pulang ke rumah Tuan Arley.


Akan tetapi, langkahnya terhenti. Karena ternyata ada Adam di sana. Adam terlihat sedang berdiri sambil menatap wajah Sisil yang terlihat sembab.


Di usapnya dengan sayang, lalu Adam pun mengecup kening Sisil dengan lembut.


"Mas, di sini?" tanya Sisil.


Adam tersenyum lalu menganggukan kepalanya, tentu saja dia di sana. Karena walau calon mertuanya sudah meninggal, tentu dia juga butuh kata restu dan harus meminta izin karena dia akan menikahi Sisil.


"Ya, Mas mau meinta restu." Kata Adam singkat.


Adam langsung duduk sambil memegang batu nisan ayah Anggara.


"Ayah, Bunda. Adam mau minta restu, Adam mau menikahi anak Ayah sama Bunda. Ayah sama Bunda jangan khawatir lagi, karena mulai hari ini Adam berjanji akan berusaha untuk menjadi imam yang baik untuk Sisil. Adam janji akan berusaha untuk menjaga dan membahagiakan Sisil. Semoga Ayah dan Bunda tenang di sana, semoga Ayah sama Bunda mendapatkan surganya Allah."


Panjang lebar Adam meminta restu, tentunya ucapannya akan dia buktikan secara nyata bukan sekedar janji semata.


Adam langsung bangun dan merangkul pundak Sisil, "jangan sedih lagi, sekarang ada Mas, yang akan berusaha untuk membahagiakan kamu."


"Iya, Mas." Jawab Sisil.


Setelah puas berbicara dengan calon mertuanya, Adam pun mengajak Sisil untuk pulang ke rumah Tuan Arley.


Adam yang di anatar Pak Anto, langsung menuju rumah utama Caldwell. Sedangkan Pak Hartono, langsung berangkat menuju perusahaan Gunandari.


Selama perjalanan pulang, Sisil memeluk Adam dan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Adam.


Sisil terlihat nyaman berada di dalam dekapan Adam, Adam pun terlihat memeluk Sisil dengan sayang. Sesekali dia mengusap dan menepuk punggung Sisil.


Sebenarnya ini Adalah kesempatan bagus buat Adam untuk bermesraan dengan Sisil. Akan tetapi, dia harus bersabar, karena esok hari adalah hari pernikahannya dengan Sisil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari yang dinanti pun telah tiba, di sebuah ballroom Hotel berbintang acara pernikahan Adam dan Sisil akan segera di mulai.


Adam sudah duduk di depan penghulu, sedangkan Sisil kini sedang berjalan menuju tempat acara ijab kabul dilaksanakan.


Sisil diantarkan oleh Alicia, Airin dan juga Anggelica. Sisil terlihat sangat cantik, begitupun dengan ketiga anak Devano yang terlihat sangat cantik.


Saat pandangan mata Adam bertemu dengan Sisil, dia nampak tak mengedipkan matanya. Dia terlihat begitu kagum dengan kecantikan Sisil yang terlihat sangat sempurna.


Belum tahu saja dia bagaimana rasanya ketika hatinya telah terpaut pada belahan jiwanya. Dia baru tahu, cara merayu wanita dan bermain-main dengan para pacarnya itu.


Saat Sisil sudah duduk di samping Adam, pak penghulu pun langsung berdehem. Karena Adam hanya fokus untuk melihat Sisil saja.


"Ehm... apa acaranya sudah bisa dimulai?" tanya Pak penghulu.


Adam langsung gelagapan, kemudian dia menatap pak penghulu sambil tersenyum kikuk.


"Bisa, Pak." Jawab Adam.


"Baiklah, kalau begitu jabat tangan saya. Setelah saya mengucapakan kalimat ijab, Nak Adam bisa langsung mengucapkan kalimat kabulnya. Siap?" tanya Pak penghulu.


"Siap!" Jawab Adam lantang.


Pak penghulu pun mulai membaca kalimat ijab, setelah menghentakan tangannya Adam pun langsung mengucapakan kalimat kabul dalam satu kali tarikan napas.


Tak lama terdengarlah para tamu yang berkata SAH, hal itu membuat Adam tersenyum lebar.


Adam yang tak sabar pun langsung mengecup kening Sisil, hal itu membuat Arkana langsung menepuk pundak Adam.


"Boy, tunggu Sisil cium tangan kamu dulu. Baru kamu kecup kening isti kamu," kata Arkana sambil tersenyum kepada para tamu undangan yang terlihat menertawakan tingkah konyol Adam.


"Sorry, Yah. Adam udah ngga sabar," ucap Adam tanpa malu.


Sisil yang mendengarnya langsung menunduk malu, dia tak menyangka jika Adam akan bertingkah konyol karena rasa tak sabarnya itu.


Rangkaian acara pun telah sukses dilaksanakan, kini tibalah saatnya acara resepsi pernikahan.


Adam dan Sisil langsung berdiri di atas pelaminan, keluarga besar pun nampak memberikan selamat terlebih dahulu.


Tentunya mereka memberikan kesempatan kepada Tuan Seno, Nyonya Alina, Tuan Arley dan juga Adisha untuk mengucapkan selamat untuk pertama kalinya.


Kemudian di susul oleh Arkana, Laila, Devano dan Eliza. Tak berselang lama, anak-anak remaja keturunan Caldwell dan Dijaya pun langsung berebutan mengucapkan selamat.


Para kolega bisnis, kerabat dan juga para karyawan Caldwell dan karyawan Gunandari pun kebagian untuk mengucapakn selamat. Bahkan asisten dan sekretaris kesayangan Tuan Arley pun ikut mengucapakan selamat.


Mahendra dan juga Leo ikut berebut antrean, bahkan Leo seakan sengaja mendekati Alicia. Gadis cantik anak sulung dari Devano dan Eliza


Padahal usianya baru lima belas tahun, tetapi anak itu terlihat cantik dan sempurna dengan tinggi badan 175 centi. Sangat tinggi untuk ukuran usia lima belas tahun.


Membuat Leo, terus saja mepet ingin mengenal gadis belia tersebut. Padahal dia datang dengan pacarnya, membuat pacarnya berdecak sebal.


Semua orang terlihat bahagia, apa lagi Adam. Rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya, dia seakan tak bisa menyebunyikan lagi rasa bahagia setelah lima belas tahun penantiannya.


+


+


+


Selamat malam sabtu ya guys... semoga kalian sehat selalu, jangan lupa likenya. Koment nya juga di tunggu, apa lagi Hadiahnya.