Who Is Adam?

Who Is Adam?
Rencana Kepergian Al



Al duduk terpaku di depan Tuan Arley, Grandpanya itu kini sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Dia tak menyangka jika cucunya akan berbuat senekat itu, bahkan sampai menghilangkan nyawa.


Beruntung Pak Musa dan Tuan Matiew tak menuntut Al, karena setelah mendengarkan penjelasan dari Al. Tuan Matiew dan Pak Musa pun bisa mengerti.


Awalnya Tuan Arley hanya ingin mengecek keadaan Al, karena menurut anak buahnya Al datang ke apartemen dengan Bella. Namun, tanpa Tuan Arley duga. Saat ia masuk ke dalam apartemen milik cucunya itu, dia melihat Bella sedang merintih kesakitan.


Tangannya terikat ke atas ranjang, dengan tubuh bagian bawahnya yang berlumuran darah. Tuan Arley yang panik pun langsung menggendong Bella dan membawanya ke Rumah Sakit.


Tepat saat Bella hendak di pindahkan ke ruang perawatan, tentunya setelah mendapatkan tindakan. Tiba-tiba saja Tuan Matiew menghampiri Bella dan langsung menangis dengan tersedu.


Dia merasa sangat sedih melihat wanita yang sudah mencuri hatinya selama tiga bulan ini berada dalam kondisi yang mengenaskan, Tuan Matiew bahkan sangat sedih kala mengetahui buah cintanya dengan Bella sudah tiada.


Sudah dua minggu memang Tuan Matiew tak mengunjungi Bella, bukan mau mangkir dari kenyataan. Bukan juga mau lari dari tanggung jawab. Namun, istrinya yang sedang mengidap kanker otak stadium empat kini sedang dalam keadaan kritis.


Dia sedang berperang antara hidup dan mati, bahkan dia sudah tak sadarkan diri selama satu minggu. Tuan Matiew memang ingin bertemu dengan Bella, dia rindu dengan gadia liarnya.


Namun, dia juga tak bisa bersenang-senang di atas penderitaan istrinya. Yang pasti, Tuan Matiew pasti akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat.


Karena memang Tuan Matiew menginginkan keturunan, karena selama menikah dengan istrinya Hanum. Mereka tak memiliki keturunan, padahal mereka sudah melakukan berbagai macam cara agar Hanum bisa hamil.


"Kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan, Al?!" tanya Tuan Arley penuh amarah.


"Maaf, Grandpa." Hanya kata itu utang meluncur dari bibir Al.


Dia sangat tahu jika dirinya memanglah bersalah, dia sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan. Seharusnya, memang dia berkonsultasi dengan orang dewasa, baik dengan Grandpa'nya atau siapapun itu.


Karena ini menyangkut masalah besar, awalnya Al merasa jika dia bisa melakukan semuanya sendiri. Dia berpikir, jika dia bisa mengatasi masalahnya sendiri. Jadi, dia dengan percaya dirinya melakukan semua ide yang terbersit di otaknya.


Sayangnya semuanya salah dan mengakibatkan hal yang fatal, Al benar-benar merasa takut saat ini. Dia benar-benar merasa sangat bersalah dan benar-benar merasa jika dirinya tak berguna saat ini.


"Seharusnya kamu membicarakan semua ini dengan Granpa, bukan bertindak gegabah seperti ini!" ucap Tuan Arley.


Tuan Arley, rasanya ingin sekali memukul Al atau memberikan pelajaran apa pun terhadap cucunya tersebut.


Namun, rasa sayangnya begitu besar pada Al. Hanya satu yang dia takutkan saat ini, putranya Arkana akan tergoncang kesehatannya mendengar apa yang dilakukan oleh putra bungsunya.


"Maaf, Grandpa. Al janji tak akan mengulangi kesalahan yang sama, Al ngga bakalan bertindak gegabah lagi." Al masih setia menunduk, dia tak berani bersitatap dengan Tuan Arley.


"Besok aku akan mengirim ke Negara A, belajarlah dengan baik di sana. Jangan sampai aku mendengar hal tak baik tentang'mu, semua yang ku lakukan demi kebaikan kamu. Tinggalah di rumah Adam, biar banyak orang yang menjagamu." Ucap tegas Tuan Arley.


Al langsung mendongakkan kepalanya, dia ingin sekali melayangkan protes' nya. Rasanya, dia tidak mau meninggalkan orang-orang yang sangat dia sayangi.


Namun, saat Al melihat tatapan dari Tuan Arley yang begitu tajam terhadapnya, Al langsung menunduk kembali.


Dia hanya bisa meremat kedua tangannya secara bergantian, dia hanya bisa menunduk pasrah menerima perintah dari Grandpanya itu.


"Baik Grandpa," hanya kata itu yang bisa diucapkan oleh Al. Karena dia memang merasa tak berkuasa untuk membantah ucapan dari Tuan Arley.


Setelah perdebatan antara kakek dan cucu itu berakhir, akhirnya Tuan Arley pun mengantarkan Al pulang menuju rumah Arkana.


Tak lupa Tuan Arley pun langsung meminta maaf kepada Tuan Matiew dan juga Pak Musa, sampai di kediaman Arkana, Laila langsung menghampiri Tuan Arley dan juga Al.


Dia langsung memeluk putra bungsunya itu dengan penuh kasih sayang, dia sangat menghawatirkan keadaan Al sedari pergi tanpa kabar.


Waktu sudah menunjukan pukul 1 malam, Al pun disuruh langsung masuk kedalam kamarnya. Dia harus istirahat, dia masih anak di bawah umur. Tentu dia juga membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.


Berbeda dengan Tuan Arley, dia langsung mengajak Laila untuk duduk di ruang keluarga. Dia harus berbicara kepada Laila, dia ingin mendiskusikan tentang kepergian Al dengan menantunya saja.


Dia tidak ingin membicarakannya dengan Arkana, karena dia masih sangat tahu bagaimana kondisi kesehatan Arkan.


Arkana tak bisa menerima goncangan dalam hidupnya, maka dari itu Tuan Arley berusaha untuk menjaga kondisi kesehatan Arkana.


Dia tahu keadaan putranya tidak terlalu kuat dengan guncangan, karena akibat tekanan yang terlalu besar dari Tuan Seno dikala dulu.


"Ada apa, Dad?" tanya Laila.


Dia sungguh merasa penasaran, sebenarnya apa yang telah terjadi? Karena dari raut wajah Al ataupun Tuan Arley terlihat tak bersahabat.


"Bella keguguran, Al memberikan Bella minuman beralkohol agar Bella mau mengakui jika Ayah dari Babby yang dia kandung bukanlah hasil dari benihnya." Jelas Tuan Arley.


"Ya Tuhan, kenapa Al tidak berpikir panjang dengan apa yang ia lakukan? Lalu bagaimana dengan keadaan Bella?" tanya Laila.


Laila merasa tidak menyangka, jika putra bungsunya Al mampu melakukan hal di luar dugaan. Bahkan sampai bisa menghilangkan nyawa yang sedang berkembang di dalam perut Bella.


"Dia belum sadarkan diri, namun Bapaknya sudah bisa menerima semuanya dengan baik. Justru Dad khawatir, jika Arkana akan tertekan jika tahu kelakuan Al. Maka dari itu, besok Al akan aku kirim ke Negara A." Jelas Tuan Arley.


"Maksud Dad?" tanya Laila.


"Al harus memperbaiki diri, biarkan dia tinggal di sana. Sekalian belajar untuk berbisnis, selepas pulang sekolah dia bisa langsung ke perusahaan milik Adam. Dia bisa belajar dari Ferdinand," jelas Tuan Arley.


Awalnya Laila terlihat ragu jika Al harus berjauhan dari mereka, namun Laila tak bisa membantah titah dari Dad mertuanya. Karena semua yang diucapkan oleh mertuanya itu memanglah benar adanya.


+


+


+


Selamat pagi, jangan lupa tinggalkan jejak, Yes.