Who Is Adam?

Who Is Adam?
Percaya



Detak jantung Gracia seakan terhenti, kala melihat wajah Adam yang begitu dekat. Adam terlihat sangat tampan dan juga wangi.


"Mas!" terdengar suara teriakan Sisil yang menggema di ruangan Adam.


Karena kaget, Adam langsung bangun tanpa mengingat akan adanya Gracia yang kini tengah berada di pangkuannya.


"Aww, Tuan!" kesal Gracia yang kini sudah jatuh terduduk.


Gracia terlihat mendelik sebal, bisa-bisanya bos'nya itu bangun tanpa perhitungan. Beruntung dia jatuh di atas karpet berbulu, kalau tidak pasti bokongnya akan terasa sakit.


Adam tak memedulikan keadaan Gracia, karena yang terpenting bagi Adam adalah istrinya yang terlihat menatap Adam dengan tatapan tak suka.


Dia baru berbaikan dengan istri tercintanya, dia tak mau jika mereka harus berdebat atau saling diam seperti kemarin lagi.


Adam langsung menggenggam tangan Sisil lalu mengecupi punggung tangannya dengan lembut, sungguh dia sangat takut jika Sisil akan marah padanya.


"Jangan salah paham, Yang. Dia tadi terjatuh kesandung karpet," ucap Adam.


Sisil menatap netra Adam dengan lekat, dia bisa membaca sorot mata Adam. Jika Adam berkata dengan jujur, namun Sisil masih kesal saat melihat wanita tadi duduk di pangkuan Adam dengan tatapan penuh kekaguman.


Gracia yang merasa tidak dipedulikan oleh Adam, langsung bangun dan berniat untuk keluar dari ruangan Adam, dari pada entar kena semprot juga ye kan?


Apa lagi keberadaannya yang tak dipedulikan, mending pergi makan siang, pikirnya.


"Permisi Tuan, Permisi Nyonya," ucap Gracia seraya melalui Sisil dan Adam.


Gracia terlihat berjalan dengan tergesa-gesa, dari pada memikirkan kejadian tadi mending dia menuju kantin, pikirnya. Lebih aman, lebih efisien dan lebih baik karena bisa menghindari tatapan mematikan dari Sisil.


Namun sialnya, karena dia berjalan terlalu cepat sehingga tanpa sadar dia menabrak tubuh Leo yang baru saja keluar dari ruangannya.


Kembali dia merasa kesakitan kala dia jatuh terduduk tepat di depan Leo, Leo sempat terbengong saat melihat Gracia yang nampak meringis kesakitan.


Namun beberapa detik kemudian, Leo yang merasa kasihan pun langsung membangunkan Gracia.


"Astaga," ucap Leo saat melihat wajah Gracia yang terlihat ditekut.


"Ya Tuhan, belum 1 hari bekerja aku sudah jatuh 3 kali. Rasanya aku ingin mengundurkan diri saja," keluh Gracia.


Dia merasa nasib sial selalu menyertai dirinya di hari ini, dia pun jadi bertanya-tanya. Apakah dia memang tidak cocok bekerja di sana?


Mendengar penuturan Gracia, Leo pun langsung terkekeh. Dia merasa lucu karena dia kembali melihat Gracia yang jatuh terduduk.


"Memangnya tadi saat di ruangan Tuan Adam, kamu terjatuh?" tanya Leo.


Karena seingatnya, dia melihat Gracia jatuh tadi pagi dan sekarang. Dua kali, pikirnya. Bukan tiga kali.


"Ya, Tuan. tadi Saat Aku sedang di ruangan Tuan Adam aku juga terjatuh," kata Gracia membenarkan.


Gracia terlihat tersenyum kecut, kala dia mengingat kejadian di ruangan Adam. Seharusnya dia langsung bangun, bukan mengagumi ketampanan Bosnya.


Dia jadi berpikir, kenapa dia selalu sial kalau berhubungan dengan lelaki yang dia suka. Bahkan hubungan percintaannya saja tak pernah berada di dalam kata beruntung.


"Sudah, sudah. Jangan memikirkan jatuh dan mengundurkan diri, lebih baik kita sekarang ke kantin. Kita makan bersama," kata Leo, Gracia pun menurut.


"Ya, Gracia," jawab Leo.


Leo dan Gracia kini pergi menuju kantin, sedangkan Sisil sedang menatap Adam dengan tatapan penuh intimidasi.


Adam langsung berlutut sambil menggenggam tangan Sisil, "Yang, tolong maafin Mas. Mas seriusan enggak ada apa-apa sama Gracia, dia benar-benar murni jatuh bukan kita sedang bermesraan." Adam langsung mengecupi kedua punggung tangan Sisil secara bergantian.


Sisil melihat Adam dengan wajah yang memelas, Sisil paham. Namun dia masih ingin mengerjai suaminya itu, karena dia masih kesal.


"No! Aku tidak akan memaafkan, Mas. Apa lagi kalau Mas minta jatah, nggak ada lagi jatah-jatah buat Mas. Apalagi aku melihat sendiri tadi Mas pangku-pangkuan," kata Sisil.


Adam terlihat ketakutan, apa katanya tadi, tidak ada kata maaf dan tidak ada kata jatah?


Oh, No! Dia pasti bisa gila dicuekin oleh wanita yang sangat dia cintai, apa lagi kini dia sudah tahu bagaimana rasa enaknya bercinta. Mana bisa begitu, pikirnya.


"Jangan marah gitu dong, Sayang. Mas beneran tahu nggak ada niatan buat selingkuh sama perempuan lain, tolong maafin Mas ya, Sayang?" wajah Adam makin terlihat frustasi.


Sisil bersorak dalam hati, dia suka melihat wajah panik Adam. Dengan seperti ini dia makin tahu jika suaminya ternyata memang sangat mencintai dirinya.


Adam langsung bangun, lalu menuntun Sisil untuk duduk di sofa. Tak lupa Adam pun mengunci pintu ruangannya dan menutup semua tirai yang ada di ruangan tersebut.


Sisil jadi tertawa dibuatnya, apa yang ingin dilakukan oleh Adam, pikirnya. Kenapa dia mengunci pintu segala? Bentuk rayuan seperti apa yang akan dia lakukan kali ini, pikirnya.


Adam langsung duduk dan menarik Sisil ke atas pangkuannya, dia langsung mengusap paha Sisil dengan sangat lembut.


Karena Sisil menggunakan dress Diatas lutut, sehingga Adam pun dengan mudah meloloskan dress tersebut dari tubuh Sisil.


"Mas! Ini kantor loh," kata Sisil.


Sisil terlihat mendelik kala melihat wajah Adam yang sudah dikuasai hasrat.


"Mas tahu, Mas cuma mau buktiin kalau milik Mas cuma akan bangun kalau deket kamu aja." Adam langsung mencari benda pavorit yang selalu membuatnya candu.


Adam tak mau banyak berdebat dengan istrinya, rasanya dengan mengajak Sisil berhubungan intim itu adalah cara terbaik membuktikan rasa cintanya.


"Gombal, sekarang kamu yang nakal!" ucap Sisil seraya mencengkram kuat bahu Adam. Karena Adam tanpa aba-aba langsung memasukan miliknya.


Adam langsung memompa tubuh istrinya, dari bawah. Membuat Sisil langsung memejamkan matanya, dia langsung menikmati sensai kenikmatan yang datang menggulung kesadarannya.


Hilang sudah amarahnya, hilang sudah rasa kesalnya. Sisil sangat percaya jika Adam sangat mencintai dirinya. Sisil percaya jika Adam mampu menjaga hatinya. Sisil percaya jika Adam tak akan melakukan hal konyol yang akan merugikan dirinya sendiri.


Jika Adam dan Sisil sedang menikmati... Ehm, Othor malu ngomongnya.


Leo kini sedang asik menikmati makan siangnya bersama dengan Gracia. Sesekali Leo dan Gracia melemparkan canda, sehingga senyum di bibir mereka pun tak pernah surut.


Leo pun jadi berpikir untuk mendekati Gracia, lumayan kan pacar di kantor. Pepatah mengatakan jika kita harus mempunyai satu pacar, tak apa ye kan punya pacar satu.


Satu di apartemen, satu di pengkolan dan satu lagi di kantor. Lumayan punya pacar satu, tapi di lain tempat. Leo pun tiba-tiba terkikik geli dengan pemikirannya sendiri.


"Kamu kenapa, Tuan?" tanya Gracia.