Who Is Adam?

Who Is Adam?
Lelaki Normal



Mahendra terlihat ingin melayangkan protesnya, namun... tiba-tiba saja petir kembali terdengar begitu menggelegar, bahkan kilat terlihat seperti membelah langit.


Gracia yang kaget pun langsung naik keatas pangkuan Mahendra dan memeluknya dengan erat.


Mahendra yang sangat kaget pun langsung mengangkat kedua tangannya, dia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Gracia.


Mahendra pun akhirnya pasrah, karena dia tak mau berdebat dengan Gracia. Dia menutup rapat mulutnya dan membiarkan Gracia berada di pangkuannya.


Sepuluh menit telah berlalu, tiba-tiba saja Gracia menjerit dan turun dari pangkuan Mahendra.


"Aaa!"


Gracia langsung duduk dan memebelakangi Mahendra, dia menutup telinganya sambil menatap ke arah luar jendela. Mahendra sampai bingung dibuatnya.


''Hey! Kamu kenapa?" tanya Mahendra.


"Anu Tuan, itu..." tunjuk Gracia pada milik Mahendra tanpa berani menoleh.


"Ya ampun!" kaluh Mahendra kala miliknya kini tengah berdiri tegak.


Pantas saja Gracia langsung turun dari pangkuannya, bahkan seperti orang yang ketakutan. Ada yang ngejanjel, rupanya.


"Jangan bersikap seperti itu! Aku ini lelaki normal," kata Mahendra menahan malu.


Mendengar ucapan Mahendra, Gracia terlihat berbalik. Lalu dia menatap Mahendra dengan tajam, tak lama kemudian, dia pun menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


"Awas saja kalau Tuan berani menyentuhku, aku akan--"


Gracia seperti orang yang sedang berpikir, dia juga terlihat mencari-cari sesuatu. Lalu matanya melihat dua buah babel yang tergeletak di bangku penumpang.


"Aku akan apa?" tanya Mahendra.


"Aku akan memukul Tuan dengan barbel itu!" kata Gracia.


"Dengar ya anak kecil, aku memang lelaki normal karena sedari tadi kamu terus saja memancingku. Tapi, satu hal yang perlu kamu ingat. Aku bukan lelaki yang suka sembarangan melakukan hal itu, apa lagi tanpa cinta." Mahendra yang kesal terlihat memalingkan wajahnya ke arah samping.


Gracia yang melihat hal itu, membuat dirinya ingin tertawa. Karena dibalik sikap dingin lelaki itu, terlihat manja dan gampang tersinggung.


"Maaf, Tuan," kata Gracia.


"Hem," jawab Mahendra.


Hujan terus mengguyur bumi, baik Gracia atau pun Mahendra tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun.


Jika ada petir menyambar, Gracia memeluk tas miliknya seraya menutup matanya rapat-rapat. Sebenarnya dia sangat takut, tapi... dia sudah tak berani lagi untuk memeluk Mahendra.


Hujan pun mulai mereda, Mahendra pun terlihat mendekat ke arah Gracia.


"Tu--tuan mau apa?" tanya Gracia.


Dia terlihat gemetaran saat melihat wajah Mahendra begitu dekat dengan wajahnya, apa lagi kala melihat tangan Mahendra yang mulai bergerak.


"Tuan mau ap--"


"Berisik! Aku hanya akan memasangkan sabuk pengaman, kita akan pulang sekarang." Setelah mengatakan hal itu, Mahendra pun memasangkan sabuk pengaman milik Gracia.


Mendengar ucapan Gracia, Mahendra terlihat kesal dibuatnya.


"Kamu hanya anak kecil, aku tidak tertarik padamu." Setelah mengatakan hal itu, Mahendra pun mulai melajukan mobilnya.


" Cih! Tadi dia bilang tak tertarik kepadaku, katanya. Padahal tadi saja miliknya sudah bangun, hanya karena aku memeluknya!" umpat Gracia dalam hati.


Selama perjalanan pulang, Gracia terus saja mengumpat di dalam hatinya. Dia benar-benar merasa kesal terhadap Mahendra.


Apa lagi kala Mahendra mengatakan jika dirinya adalah anak kecil, padahal Gracia sudah berumur dua puluh satu tahun. Menurutnya dia sudah bukan anak kecil lagi.


Memang sih Mahendra terlihat dewasa dan dia sudah berusia dua puluh delapan tahun, namun rasanya tak pantas jika Mahendra mengatakan dirinya sebagai seorang anak kecil.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, mereka pun sudah sampai di ibu kota. Mahendra yang sedari tadi diam langsung menoleh kearah Gracia, kemudian fokus kembali dalam menyetir


"Kamu mau saya antar atau mau pulang sendiri?" tanya Mahendra.


Mendapatkan pertanyaan dari Mahendra, Gracia pun dengan sigap langsung menjawab.


"Saya pulang sendiri saja, Tuan. Turunkan saja saya di sini," ucap Gracia.


Tanpa banyak bicara Mahendra langsung menepikan mobilnya, Gracia yang mengerti pun langsung turun dari mobil Mahendra.


"Terima kasih, Tuan," ucap Gracia sebelum menutup pintu mobilnya.


"Sama-sama," ucap Mahendra.


Setelah menurunkan Gracia di pinggir jalan, Mahendra pun langsung melajukan mobilnya menuju kediamannya.


*/*


Pagi harinya, Mahendra pun seperti biasa berangkat untuk bekerja. Sampai di lobby perusahaan, Leo langsung menghampiri Mahendra dan menepuk pundaknya.


"Ada apa?" tanya Mahendra.


"Kau tega sekali, Bang. Meninggalkan Gracia di pinggir jalan," ucap Leo.


Mahendra terlihat mengernyitkan dahinya, tak seperti biasanya Leo memprotes apa yang dia lakukan.


"Aku tak menurunkannya di pinggir jalan, dia sendiri yang memintaku. Lagi pula kenapa kau begitu perhatian kepadanya? Apa kau menyukainya?" tanya Mahendra.


"Dia itu adik sepupuku, mana mungkin aku menyukainya? Lagi pula sebentar lagi aku akan menikah," jawab Leo.


Mahendra terlihat memundurkan langkahnya, lalu dia menatap wajah Leo dengan lekat. Setahunya dia tidak mempunyai saudara sepupu bernama Gracia, tapi kenapa Leo bilang jika Gracia adalah adik sepupunya.


"Apa kau sedang membual?" tanya Mahendra.


"Ck! Tentu saja tidak, mana ada aku membual. Gracia memang adik sepupuku, dia adalah putri dari adik Mom Maura," jawab Leo.


Mendengarkan ucapan Leo, Mahendra hanya menggedikkan kedua bahunya. Lalu dia pun pergi meninggalkan Leo menuju ruangannya.


"Pantas saja dia tak laku-laku, ternyata sikapnya benar-benar dingin terhadap wanita." Leo terlihat berjalan sambil menggelengkan kepalanya.