
Pukul tiga sore Laila dan Arkana baru saja pulang dari kantor yang mereka kelola, awalnya Arkana tak mengizinkan istrinya untuk ikut berkecimpung di dunia bisnis.
Namun, Laila beralasan bosen jika hanya duduk manis di rumah saja. Lagian toko milik Adam sudah dia percayakan pada ibu-ibu yang biasa bekerja di sana.
Al yang sudah masuk kelas sebelas, pulangnya pun selalu pukul tiga atau pukul empat sore. Karena setelah sekolah, Al akan pergi les terlebih dahulu.
Al memang tak segenius Ad, namun Laila tak mempermasalahkan. Karena ia tahu, jika manusia memang diciptakan berbeda-beda.
Dahi Laila terlihat berkerut tajam, saat melihat ada seorang perempuan muda yang sedang duduk di depan teras rumahnya.
Setelah Laila perhatikan, Laila pun tersadar jika wanita itu adalah Bella. Wanita yang dipacari oleh anaknya, Al.
Arkana yang melihat arah tatapan Laila pun ikut menatap apa yang ditatap oleh istrinya.
Arkana tersenyum, saat melihat Bella lah yang ada di sana. Anak perempuan itu pasti sedang mencari Al, pikirnya.
Arkana dan Laila pun segera menghampiri Bella, melihat kedatang Laila dan juga Arkana, Bella langsung bangun dan mencium punggung tangan kedua orang tua Al tersebut.
"Selamat sore Om, Tante. Maaf mengganggu, ada hal yang ingin saya bicarakan." Bela berucap dengan sangat serius, membuat Laila dan Arkana saling pandang.
"Kalau begitu mari masuk, kita bicara di ruang tamu saja." Laila berjalan terlebih dahulu, disusul oleh Arkana dan juga Bella.
"Silakan duduk," ucap Arkana mempersilahkan. Bella pun menurut, dia duduk tepat berhadapan dengan Laila dan juga Arkana.
Setelah melihat Bella duduk dengan nyaman, Laila pun meminta seorang pelayan untuk membuat minuman untuk Bella.
Tak lupa Laila juga meminta pelayan untuk membawakan camilan. Lima menit kemudian, pelayan tersebut pun datang dengan membawa apa yang diminta oleh Laila.
"Silahkan diminum," ucap Laila.
Bella pun mengangguk, lalu meminum sedikit jus jeruk yang sudah disediakan oleh pelayan tersebut.
Melihat gelagat aneh di wajah Bella, Arkana pun langsung bertanya kepadanya.
Sebenarnya ada apa? Kok tumben sekali kamu datang ke rumah kami sendiri? Biasanya kamu akan datang bersama dengan Al," kata Arkana.
"Maaf Om, Tante. Jika kedatangan Bella mengganggu, tapi Bella memang harus mengatakan ini kepada Om juga Tante." Ucap Bella.
Arkana dan Laila makin bingung dibuatnya, mereka merasa jika Bella terlalu berkelit dan tidak langsung berbicara kepada inti dari masalahnya.
"Tolong katakan ada apa sebenarnya, jangan membuat kami bingung." Kata Laila.
Tanpa banyak bicara, Bella langsung mengambil sebuah amplop coklat dari dalam tas selempang yang dia pakai. Kemudian, Bella menyerahkan nya kepada Laila.
"Bella mau nunjukin ini, Tante." Kata Bella.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Laila pun menerima amplop berwarna coklat tersebut dari tangan Bella.
Kemudian, dengan perlahan dia membuka amplop tersebut dan alangkah terkejutnya saat Laila melihat beberapa foto yang diberikan oleh Bella.
Di dalam foto tersebut, terlihat dengan jelas di mana Al mengungkung tubuh Bella. Al terlihat begitu posesif saat mencumbu Bella, bahkan keadaan mereka pun dalam keadaan setengah telanjang.
Laila benar-benar syok dibuatnya, Arkana pun sama seperti Laila, dia tak kalah syok mendapati tingkah putra bungsunya.
Dia pun jadi bertanya, apakah mungkin ini hukuman dari Tuhan karena Dad'nya selalu mempermainkan wanita? Kenapa sekarang Al yang harus kena imbasnya?
Bahkan umur Al baru 16 tahun, Arkana sudah merasa pusing dibuatnya. Rasanya kepalanya tiba-tiba saja berdenyut, begitupun dengan Laila.
"Maksudnya apa ini?" tanya Arkana.
"Saya hamil, Om. Al tidak mau bertanggung jawab," jawab Bella.
"Apa?"
Laila terlihat syok, tubuhnya bahkan langsung merosot ke lantai. Laila, langsung tak sadarkan diri.
Arkana panik, begitupun dengan Bella. Arkana langsung membopong tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar utama, dia langsung merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan.
Saat melihat Bella yang juga ikut masuk ke dalam kamar utama, Arkana terlihat tidak suka. Dia langsung menatap Bella dan membentaknya.
"Ngapain kamu di sini? Pergi kamu!" ucap kesal Arkana.
Bella terlihat ketakutan, bahkan dia sampai memundurkan langkahnya ke belakang.
"Ta--tapi, Om. Urusan kita belum kelar," ucap Bella terbata.
Arkana mencoba mengatur nafasnya, dia tidak boleh emosi. Sekarang bukan saatnya untuk marah-marah, karena itu dirasa percuma.
"Pergilah, nanti kita bicarakan lagi." Arkana melunak, dia tak mungkin memarahi wanita bernama Bella itu.
"Ta--tapi, Om harus janji. Om akan datang bersama Al untuk bertanggung jawab," ucap Bella.
"Kalau Al terbukti telah menghamili kamu, Om langsung menikahkan kalian." Kata Arkana tegas.
"Baiklah, Om. Kalau begitu saya permisi, semoga Tante Laila cepat sembuh." Beonya.
Arkana hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia tak tahu harus berkata apa lagi pada wanita yang lebih tua lima tahun dari putra bungsunya itu.
Setelah kepergian Bella, Arkana langsung berlari dan mencari kotak obat. Setelah menemukan kotak obat, Arkana langsung mengambil minyak angin dan segera memborehkannya ke tangan dan kaki Laila.
Dia juga memberikan sedikit minyak angin di kepala Laila dan memijat kepala Laila dengan lembut. Arkana benar-benar tidak menyangka, jika kelakuan putra bungsunya bisa sejauh ini.
Padahal Arkana dan Laila sering menasehati Al, agar tak melakukan hubungan yang tak seharusnya dia lakukan.
"Sayang, bangun. Jangan seperti ini, kita belum tahu kebenarannya seperti apa. Jangan membuat aku takut seperti ini," Arkana terlihat begitu takut karena Laila tak kunjung sadar.
Arkana memijat-mijat kaki Laila, dia juga memberikan kehangatan dengan menggesekan tangannya ke tangan Laila.
"Bangun, Sayang. Jangan kaya gini, aku takut." Arkana kembali mengecupi wajah Laila.
Dia benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan Laila, kini di hatinya merasa kesal dan juga takut.
Arkana begitu kesal kala melihat foto yang diberikan oleh Bella dan juga merasa takut, karena Laila tak kunjung sadar. Tak lama Laila terdengar melenguh, dia membuka matanya dan menatap Arkana dengan lekat.
"Eengh... Mas, aku tadi cuma mimpi, kan?" tanya Laila.
"Shuut... Jangan berpikir macam-macam, kita bisa tanya nanti sama Al." Kata Arkana mencoba untuk menenangkan.
Padahal hatinya kini sedang gundah, dia juga galau, dia bingung. Namun, dia tidak mau membuat istrinya lebih bingung lagi.
"Ayah, Ibu. Kata pelayan Ibu pingsan, Ibu kenapa, Yah?" Al tiba-tiba saja datang dengan wajah khawatirnya.
melihat kedatangan Al, rahang Arkana terlihat mengeras. Tatapan matanya menggambarkan kilatan marah di sana.
Al jadi bingung dibuatnya.