
Sisil memandang Adam, dengan tatapan penuh kagum. Dia tidak menyangka, jika lelaki yang terlahir di lingkungan kaya seperti Adam, mau membeli semua kuenya dan juga memberikannya kepada anak-anak yang ada di sana.
Menurutnya, lelaki jaman sekarang sangatlah jarang peduli terhadap orang lain. Yang ada, mereka selalu ingin diperhatikan, ingin di pedulikan, tetapi tidak pernah memandang orang lain.
"Kenapa kamu memandang aku seperti itu?" tanya Adam pada Sisil.
Mendapat pertanyaan dari Adam, Sisil pun menjadi salah tingkah. Karena sedari tadi dia begitu asik memandang wajah tampan Adam.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya mau mengucapkan terima kasih, Tuan sangat baik." Sisil pun mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.
Adam pun langsung tersenyum, kemudian, dia bertanya pada Sisil.
" Ini adalah hari minggu, biasanya apa saja akan kamu lakukan?" tanya Adam.
"Biasanya aku akan berjualan kue, setelahnya kuenya terjual habis, aku akan pulang dan beristirahat." Jawab Sisil apa adanya.
"Kamu tak pernah pergi bermain, atau misalkan nongkrong ke mana gitu?" tanya Adam lagi.
" Tidak pernah, Tuan. Lagian, untuk apa aku menghabiskan uang dengan percuma. Mending, aku tabung uangnya buat masa depan aku." Sisil pun tersenyum, saat mengingat tabungannya yang kian banyak karena tambahan uang dari Adam.
Adam pun tersenyum mendengar jawaban dari Sisil, dia sangat suka dengan apa yang Sisil ucapkan. Karena Sisil, merupakan wanita muda yang berpikiran realistis menurutnya.
"Baiklah, karena kamu tidak pernah bermain. Bagaimana kalau kita pergi untuk bermain?" tanya Adam, Sisil pun hanya bengong sambil mengerutkan dahinya.
Adam pun langsung terkekeh, saat melihat reaksi Sisil yang terlihat kebingungan.
"Kita bukan anak kecil lagi, Tuan. Untuk apa kita bermain?" Tanya Sisil dengan dahi yang sudah berkerut dalam.
Dalam hatinya, Sisil bertanya-tanya. Seperti apa bentuknya orang dewasa perai orang kaya?
"Maksudnya, kita akan jalan-jalan. Sebutkan keinginan kamu, kamu ingin jalan-jalan kemana? aku akan mengabulkan nya," ucap Adam.
Sisil terlihat berpikir sejenak, kemudian dia pun bersuara.
"Sepertinya, aku tidak ingin pergi ke manapun, Tuan. Yang lebih penting saat ini, aku harus segera pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk aku masak besok." Sisil mengingat tanggung jawabnya.
Sisil berpikir, jika dia lebih baik pergi ke pasar dan membeli bahan makanan untuk satu minggu. Agar dia, tidak bolak-balik ke pasar setiap harinya.
Lagian, uang yang tadi Adam berikan cukup banyak dan itu cukup untuk membeli bahan makanan selama satu minggu.
"Kalau begitu, kita akan pergi ke pasar tradisional sekarang. Aku akan mengantar mu," ajak Adam pada Sisil.
Sisil nampak memicingkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Kenapa Adam malah mengajaknya ke pasar tradisional? bukankah dia orang kaya? bisa saja bukan, dia mengajak Sisil untuk pergi ke swalayan?
"Kenapa harus belanja di pasar tradisional? bukankah di sana becek, bau, banyak orang yang bisa saja membuat Tuan merasa tidak nyaman jika berada di sana?" tanya Sisil penasaran.
Adam langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Sisil, dia memang memiliki banyak uang. Tetapi, bukan berarti dia harus memilih belanja di pasar swalayan.
Justru Adam lebih suka, jika mereka harus belanja di pasar tradisional.
"Apa kamu tahu, jika dengan berbelanja di pasar tradisional, kita bisa memilih secara langsung sayuran yang masih segar. Ikan yang segar, buah yang segar, daging yang segar dan semuanya sangat segar dan yang lebih penting, harganya pun lebih murah. Kita, bisa bernegosiasi dengan para pedagang di sana." Tutur Adam.
"Anda benar, Tuan. Saya hanya tidak menyangka, jika orang seperti Tuan mau berbelanja di pasar tradisional." Sisil pun mengutarakan pemikirannya.
"Baiklah, kalau begitu kita langsung saja menuju pasar tradisional. Kita akan naik sepeda untuk sampai di pasar tradisional." Kata Adam.
Sisil pun menurut, dia membawa keranjang kosong sambil mengekori langkah Adam. Tak lama, Adam pun mengambil sepedanya.
Sisil pun langsung naik di boncengan sepedanya Adam, setelah siap Adam mengayuh sepedanya menuju pasar tradisional.
Sampai di pasar tradisional, ternyata di sana sangat ramai. Adam segera menautkan tangannya ke tangan Sisil, dia tidak mau jika mereka sampai berpisah karena terhalang banyak orang di sana.
Sisil hanya bisa memandangi tangannya yang digenggam erat oleh Adam, hatinya terasa menghangat.
Dia tak pernah dekat dengan lelaki manapun, dia merasa ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Mata Adam terlihat lincah, melihat banyaknya dagangan yang dijajakan oleh para penjual yang ada di sana.
Mereka pun benar-benar belanja dengan sangat riang, Adam dan Sisil benar-benar memilih sayuran yang benar-benar terlihat masih segar.
Membeli cabe, membeli bawang, tomat, dan semua bumbu yang diperlukan. Sisi membeli semua bahan yang diperlukan.
Bahkan, Sisil pun membeli banyak jenis lauk. Seperti ikan, Ayam, Udang dan semua bahan yang diperlukan untuk memasak selama satu minggu.
Adam juga membeli buah-buahan, dan banyak macam lagi. Adam bahkan mengeluarkan uang tambahan, untuk membeli apa yang dia inginkan.
Kini, baik di tangan Sisil ataupun di tangan Adam. Sudah penuh dengan banyak bahan makanan, bahkan Sisil terlihat kesusahan untuk membawa semua barang belanjaannya.
Saat tiba di parkiran, Adam langsung memanggil Kang ojek.
"Bang, tolong anter belanjaan saya ya." Pinta Adam.
"Kemana, Den?" tanya Kang ojek.
"Ke belakang gedung BAC Corp, bisa?" tanya Adam.
"Bisa-bisa," jawab kang ojek.
"Rumahnya, tepat di samping warung roko. Taro aja belanjaannya di kursi tunggu ya, Kang." Pinta Adam.
"Siap, Den." Jawab Kang ojek.
Adam pun segera memberikan ongkosnya kepada Kang ojek tersebut, karena Adam yakin jika Kang ojek tersebut pasti cepat sampai ketimbang dia yang memakai sepeda.
Kang ojek pun terlihat sumringah, karena uang yang diberikan Adam lumayan banyak. 2 lembar uang berwarna merah, Kang ojek tersebut pun, langsung berterima kasih kepada Adam, karena memberikan uang lebih kepadanya.
Dengan penuh semangat, Kang ojek tersebut pun langsung pergi menuju kediaman Sisil. Sedangkan Adam, langsung mengayuh sepedanya membonceng Sisil yang kini telah memeluk pinggangnya dengan erat.
Selama perjalanan menuju rumah Sisil, senyum Adam tak pernah luntur. Dia sangat senang bisa pergi bersama Sisil, entah kenapa berada di didekat Sisil membuatnya merasa sangat nyaman.