
Awalnya Adam ingin bersikap seperti biasanya pada Reinata, karena pada kenyataannya untuk sekedar bercipika-cipiki saja memang sudah biasa mereka lakukan selama berada di negara adidaya sana.
Namun, Adam sangat sadar jika dia kini telah beristri, Adam bisa melihat cemburu'nya Sisil yang begitu besar terhadap Reinata.
Bahkan Sisil berkata jika Reinata bukan tipe wanita legowo dan selalu berusaha untuk mendapatkan yang dia inginkan walaupun terkesan memaksa.
Setelah mengobrol singkat di ruangan Adam, akhirnya Adam, Sisil, Mahendra dan juga Reinata kini sedang berada di ruang meeting.
Reinata dengan percaya dirinya mempresentasikan program kerja yang dia tawarkan kepada Adam, bahkan dia datang sendiri tanpa sekretaris atau pun asisten peribadinya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Reinata yang kini tengah selesai dengan persentasenya.
Adam terlihat memandang kearah Mahendra dan juga Sisil, dia seakan meminta pemdapat kepada kedua orang yang ada di sampingnya tersebut. Mahendra dengan cepat mencondongkan tubuhnya ke arah Adam, lalu dia pun berbisik tepat di telinga Adam.
"Program yang sangat bagus, Tuan," kata Ajun.
Adam terlihat menganggukan kepalanya, lalu dia pun segera mendekatkan wajahnya kearah telinga Sisil. Adam pun bertanya dengan bisikan tepat di telinga Sisil.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Adam.
"Aku bisa melihat jika program kerja sama yang ditawarkan oleh Reinata sangatlah bagus, Mas. Namun, satu hal yang aku pesankan kepadamu, kamu harus bisa menjaga hati kamu. Karena Reinata terlihat memiliki tujuan lain selain mendapatkan persetujuan kerjasama dari kamu, Mas," ucap Sisil dengan tatapan tajamnya.
Adam pun menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan ucapan Sisil. Dia pun berjanji dalam hatinya akan memberikan kesempatan kepada Reinata untuk melakukan kerjasama.
Akan tetapi dia juga akan menjaga jarak dengan wanita yang bernama Reinata tersebut, karena Adam sangat tahu jika Reinata adalah wanita yang mempunyai obsesi tinggi.
"Jadi, bagaimana?" tanya Reinata.
Mendengar jawaban dari Adam, Renata nampak menyunggingkan senyumnya. Senyum yang menurut Sisil sangat tidak enak untuk dilihat, namun Sisil akan berusaha untuk menjaga suaminya dari jerat Reinata.
"Terima kasih, Dam." Renata mendekati Adam, dia hendak memeluk tubuh Adam.
Namun, dengan cepat Mahendra maju terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya. Nampak dengan jelas kekecewaan di raut wajah Reinata, Sisil pun langsung tersenyum.
Dia sangat senang, karena ternyata Mahendra begitu sigap dalam menyikapi sikap dari Reinata.
"Sama-sama, Nona. Untuk pembahasan kerja samanya akan berlanjut lain waktu, nanti saya yang akan mengabarinya." Walaupun terlihat kecewa Reinata langsung menyambut uluran tangan dari Mahendra.
Reinata nampak memandang ke arah Adam, lalu dia pun melayangkan ucapan protesnya.
"Kenapa tidak kamu saja nanti yang menelpon aku untuk memberitahukan progres selanjutnya?" ucap tanya Reinata.
"Maaf, tapi untuk beberapa waktu kedepan aku sedang ada banyak urusan dan itu sangat menyita waktu. Sepertinya Mahendra akan lebih baik dalam menghadapi masalah progres kerjasama kita," ucap Adam.
Renata terlihat mendengus sebal, lalu dia pun merapikan berkas-berkas miliknya. Tak lupa dia juga melakukan penandatanganan kontrak kerjasama antara perusahaan miliknya dan juga perusahaan Caldwell.
Setelah itu, dia pun berpamitan untuk pulang. Tentu saja sebelum pulang Reinata menghampiri Adam terlebih dahulu.
"Aku pulang, sekarang aku tinggal di jalan merpati. Beda dua blok dari apartemen milik kamu," kata Reinata.
"Ya," jawab Adam singkat.
Reinata terlihat pulang dengan rasa kecewanya, sedangkan Sisil terlihat tersenyum dengan sangat bahagia. Karena Adam terlihat menjaga jarak dengan wanita tersebut.