
Lima Bulan Kemudian
Kini, Laila sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar yang ada di pusat kota.
Laila terlihat sedang asik memilih baju-baju bayi yang terlihat sangat lucu dan mengemaskan, dia bahkan membeli banyak baju berwarna netral.
Karena Laila, tidak mengetahui jenis kelamin dari bayi yang dia kandung. Karena setiap USG, bayi yang Laila kandung selalu saja menyembunyikan identitas nya.
Laila sengaja berbelanja tanpa memberi tahu Arkana, karena Arkana selalu saja membatasi ruang gerak Laila.
Sebenarnya, Arkana tidak memperbolehkan Laila untuk berbelanja ke luar rumah. Laila hanya boleh memesan apa yang dia inginkan lewat online saja, itu semua dia lakukan sebagai penebus rasa bersalahnya di masa lalu.
Karena saat hamil Adam, Arkana sama sekali tak bisa menjaga Laila dan kandungannya. Bukan karena tak mau, tapi, karena Tuan Seno yang selalu berusaha untuk memisahkan mereka.
Setelah memilih semua peralatan bayi yang Laila suka, Laila pun segera pergi ke kasir. Dia, berniat untuk membayar semua barang belanjaan nya. Setelah semuanya dibayar, Laila pun langsung meminta petugas toko untuk mengantarkan semua belanjaannya ke rumahnya.
Sebenarnya Laila sudah merasa sangat lelah, karena dia sudah berkeliling di toko perlengkapan bayi itu selama satu jam.
Tapi, Laila merasa ingin sekali melihat-lihat jajanan yang di jajakan di lantai dua, karena di sana memang sedangnada festival makanan.
Tanpa pikir panjang, Laila langsung ikut berkerumun. Dia ikut memilih-milih makanan yang terlihat begitu menggiurkan, bahkan Laila ikut berebut makanan gratis yang disiapkan oleh perusahaan yang memang sedang melakukan promosi di sana.
Karena tempatnya begitu ramai, orang-orang yang ada di sana sampai berdesak-desakan. Laila yang sedang menikmati makanannya pun, langsung terdorong sampai terjatuh.
Rasa panas langsung menjalar dari pinggang sampai ke perut bagian bawah, Laila meringis, dia menahan sakit sambil menggigit bibir bawahnya.
"To--tolong aku," ucap Laila terbata.
Banyak orang yang sedang berkerumun, langsung memandang Laila. Saat melihat Laila, meringis kesakitan dengan perut besarnya. Semua orang pun menjadi ribut, mereka langsung membantu Laila untuk berdiri.
Dan suasana pun menjadi tambah gaduh, saat ada darah yang mengalir di kaki Laila. Beruntung, ada security yang datang dan langsung membopong Laila.
Ada juga yang membantu Laila, untuk memesankan taksi menuju rumah sakit. Dan ada juga seorang ibu-ibu yang merasa iba, dan langsung menemani Laila saat masuk ke dalam taxi.
"Aduh, Bu. Ini sakit banget," keluh Laila.
Ibu itu merasa iba, dia langsung mengelus lembut punggung Laila.
"Aaww, sakit banget ini. Kaya udah mau keluar," keluh Laila.
Laila mencengkram erat tangan Ibu tersebut, Ibu itu bahkan sampai meringis.
"Sabar, atuh Neng. Entos kodrat istri kedah nyeri kawas kieu," ucap si Ibu.
( Sabar, ya Neng. Udah kodratnya perempuan harus sakit kaya gini,)
"Aduh, kepala saya pusing." Laila langsung memegang kepalanya.
"Sini atuh, biar Ibu wae anu mencetan." Ibu itu langsung memijat kepala Laila.
(Sini, biar ibu pijitin)
"Saya pusing bukan sakit Bu, saya ngga ngerti ibu ngomong apa." Laila kembali mencengkram tangan ibu itu, karena kembali merasakan kontraksi.
"Astagfirullah, si Eneng. Piraku teu ngartos, Pan bahasa mah sami wae." ibu itu lalu memijat tangan Laila.
(Astagfirullah, Neng. Masa ngga ngerti, kan bahasa apa juga sama saja.)
"Udah Bu, ngga usah ngomong." Laila terlihat kesal, melihat ibu itu yang tak mau berbicara dengan bahasa Indonesia.
Ibu itu langsung melongo, sambil menutup rapat mulutnya.
"*Aih,, ieu awewe. Tos di tulungan lain nganuhunkeun, malah miarang jempe. Nasib,, nasib.. "
(Aih,, Ini, perempuan. Udah di tolongin bukannya berterimakasih, malah nyuruh mingkem*.)
Tak lama, mobil yang dikendarai oleh Laila dan ibu itu pun berhenti di sebuah Rumah Sakit yang tak jauh dari pusat perbelanjaan tersebut. Ibu itu langsung turun dan berteriak meminta tolong, dan tak lama beberapa suster pun datang membawa berangkar.
"Aduh, Neng. Carogena mana?" tanya ibu itu.
(Aduh, Neng. Suaminya mana?)
Laila yang sedang menahan sakit pun, makin geram kepada ibu itu. Karena dia, tidak mengerti sama sekali dengan apa yang diucapkan oleh ibu itu.
"Bu, tolong ucapkan bahasa indonesia yang baik dan benar. Saya nggak paham Bu,dengan apa yang ibu ucapkan." Laila berucap seraya meringis.
"Maksudna, suamina mana? Kitu ah, sesah Ibu teh nyaurna kawas kumaha?" ucap Si Ibu.
(Maksudnya, suaminya mana? Gitu, susah Ibu'nya, ngomongnya ngga tahu harus gimana?)
Laila sedikit paham, dengan apa yang diucapkan ibu itu, karena mendengar kata suami.
"Ah, iya Bu. Tolong telponin suami saya," Ucap Laila.
Laila lalu berusaha mengambil tasnya, kemudian dia pun mengambil ponselnya dan menyerahkan kepada ibu tersebut.
"Tolong telponin nama My Hubby di sana," pinta Laila.
Ibu itu pun langsung mencari nama Mu Hubby di ponsel Laila, setelah ketemu, ibu itu langsung menelpon Arkana.
"Halo, Sayang. Ada apa? " terdengar suara Arkana di sebrang sana.
"Sayang, Sayang! Ieu istri kamu bade lahiran, buruan ke Rumah Sakit, bisi morojol manten budakna." ucap Si Ibu.
(Sayang, Sayang ! Ini istrinya mau lahiran, buruan ke Rumah Sakit, nanti bayinya keburu keluar.)
Arkana sempat melirik handphone yang dia pegang, tetapi di dalam ponselnya tertera nama My Wife.
Tetapi, kenapa suaranya berubah menjadi ibu-ibu yang bahasanya tidak dipahami sama sekali?
karena tidak mendengar jawaban dari seberang telepon, ibu tersebut pun berteriak.
"Buruan atuh, Jang. Buruan ka Rumah Sakit, Ieu ibu--"
(Buruan, jang. Buruan ke Rumah Sakit, ini Ibu nya--)
ibu itu melirik ke arah Laila dan bertanya,"Ibu saha?"
(Ibu siapa?)
Laila yang sedang di periksa oleh Dokter pun, langsung menengok ke arah ibu tersebut.
"Mas! Aku mau lahiran ! Buruan ke Rumah Sakit HL, anaknya udah mau keluar! Kata Dokter pembukaannya sudah sempurna!" Laila berteriak agar Arkana dapat mendengarnya.
Mendengar Laila yang berteriak, Arkana langsung memutuskan sambungan telepon nya. Dia langsung berlari mengambil kunci mobil dan melanjukan mobilnya dengan cepat ke rumah sakit HL.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Arkana langsung bertanya di mana ruang persalinan Laila. Seorang suster pun, mengantarkan Arkana ke ruang persalinan Laila.
Saat Arkana masuk, Laila nampak sedang meringis menahan sakit sambil mencengkeram tangan ibu-ibu. Laila sedang mengejan, berusaha untuk membantu buah cintanya dengan Arkana, agar segera bisa menghirup udara luar.
Mungkin ibu itulah yang tadi menelpon Arkana, pikirnya. Arkana pun langsung berterima kasih kepada ibu tersebut, dia juga meminta ibu itu untuk menunggu di luar.
Karena Arkana, ingin menemani istrinya untuk melahirkan. Laila pun langsung bersemangat, dia langsung mengejan untuk terus berusaha mengeluarkan bayinya, dan tak lama kemudian lahirlah Bayi mungil buah Cinta Arkana dan Laila.
+
+
+
Main tebak-tebakan yuk, kira-kira anak kedua Laila dan Arkana, perempuan apa laki-laki ya?"