Who Is Adam?

Who Is Adam?
Hari Pernikahan



Hari yang sangat dinantikan pun telah tiba, Tuan Arley sudah duduk tepat di hadapan Arga Wicaksana, adik dari Adisha.


Di samping Arga, sudah ada Bapak penghulu, di kedua sisi kanan dan kiri, ada Arkana dan juga Haidar. Mereka berperan sebagai saksi pernikahan, dan untuk anggota keluarga lainnya, berada tepat di belakang pengantin pria.


Lalu, di mana pengantin perempuannya?


Tentu saja, Adisha sedang berada di balik tirai tak jauh dari posisi Tuan Arley berada.


Tuan Arley terlihat sangat gugup menyambut acara pernikahannya, dia bahkan beberapa kali mengusap-usap kedua tangannya.


Devano dan Eliza pun nampak hadir, Eliza terlihat sangat cantik. Bahkan, Eliza datang tanpa kursi rodanya. Dia sudah bisa berjalan, walaupun harus membatasi ruang geraknya.


Rumah Tuan Arley, kini di sulap seperti istana yang indah. Setiap hari, yang keadaannya selalu sepi, kini berubah menjadi sangat ramai.


Bahkan semua karyawannya saja, di haruskan untuk hadir di acara pernikahannya dengan Adisha.


Seorang MC sudah nampak naik ke atas panggung, dia pun membaca basmalah sebagai acara pembukaan. Acara demi acara pun di mulai, hingga kini acara utamanya pun akan segera di mulai.


Arga Wicaksana, sudah menjabat tangan Tuan Arley, Setelah membacakan kalimat Ijab, Tuan Arley pun langsung mengucapkan Kabul.


Sayangnya, Tuan Arley salah menyebutkan nama panjang Adisha karena gugupnya. Acara Ijab Kabul di mulai kembali, untuk kedua kalinya Arga Wicaksana menjabat tangan Tuan Arley.


Dan seperti pada saat yang pertama, ucapan Kabul Tuan Arley dinyatakan tidak Sah. Karena Dia, salah menyebutkan kata Tunai dengan kata Kontai.


Arkana pun berdehem, lalu dia mendekati Daddynya.


"Dad, ucapkan dengan serius. Kalau ucapan Kabul yang ke tiga gagal, maka Daddy tak bisa menikahi gadis cantik itu." bisik Arkana tepat ditelinga Daddynya.


Tuan Arley langsung melotot, kemudian Arkana pun berdehem dengan keras. Tuan Arley langsung memejamkan matanya, dia menghapal kalimat Kabul dalam hatinya.


Sungguh dia sangat takut dengan apa yang diucapkan oleh putranya, dia takut gagal menikah karena kegugupannya.


Hampir lima menit, dia menutup mata. Kemudian, Tuan Arley membuka matanya dan langsung menjabat tangan Arga Wicaksana.


Arga pun langsung mengucapkan kalimat Ijab, setelah sentakan tangan Arga, Tuan Arley langsung mengusap Kabul dengan lantang dan tanpa salah sedikit pun.


Semua orang yang hadir langsung berucap Sah, Tuan Arley senang bukan kepalang. Dengan rasa bahagia yang membuncah di dalam dadanya, dia langsung memeluk Arkana.


"Daddy, bisa." adanya pada Arkana.


Arkana langsung menepuk punggung Daddynya sambil terkekeh," Daddy norak."


"Tak apa, yang penting bisa." ucap Tuan Arley.


Tuan Arley pun segera melerai pelukannya, karena pengantin wanita, kini datang dan duduk tepat di sampingnya.


Tuan Arley sampai tak berkedip, saat melihat Adisha yang begitu cantik dengan gaun pengantin putih tulang yang melekat di tubuhnya.


"Ehem,,"


Pak penghulu langsung berdehem, karena Tuan Arley menatap Adisha dengan mata yang tak berkedip.


Tuan Arley, langsung menoleh ke arah pak penghulu.


"Kenapa?"


"Sudah halal, Mister. Silahkan tuker cincin," Ucap pak penghulu.


Tuan Arley dan Adisha kini sudah saling berhadapan, Tuan Arley segera memasangkan cincin kawin di jari manis Adisha. Adisha pun, langsung mencium punggung tangan Tuan Arley.


Setelah itu, Adisha ndak memakaikan cincin kawin di jari manis Tuan Arley. Tuan Arley pun langsung mengecup kening Adisha dengan sangat lembut.


Adisha sampai memejamkan matanya, merasakan benda kenyal nan lembut yang menempel di keningnya.


Tuan Arley menatap wajah Adisha yang masih memejamkan matanya, dengan nakalnya, Tuan Arley langsung mengecup bibir Adisha sekilas.


Sontak semua yang hadir di sana langsung bersorak, suasana pun menjadi sangat ramai. Adisha terlihat malu, dia sampai menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Tuan Arley.


...****************...


Acara pokok pun telah selsai, kini kedua mempelai telah berada di atas pelaminan. Adisha sudah mengganti baju pengantinnya dengan gaun yang indah, begitupun dengan Tuan Arley.


Mereka begitu serasi, bahkan Tuan Arley terlihat sangat gagah dan tak terlihat jika usianya sudah mencapai lima puluh tahun.


Ke empat adik Adisha langsung maju dan mengucapkan selamat, begitu pun dengan Haidar dan Rena.


Setelah itu, di susul dengan semua orang menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat, mereka terlihat sangat bahagia.


Bahkan senyum di wajah Tuan Arley terus saja mengembang, sedangkan Adisha terlihat malu-malu.


Tuan Arley nampak terkekeh, "Terimakasih, Boy. Kamu memang yang terbaik," ucap Tuan Arley.


"Selamat ya, Grandpa. Semoga Grandpa, tidak nakal lagi setelah menikah dengan Nini." Adam langsung memeluk Tuan Arley, dan melabuhkan sebuah kecupan sayang di seluruh wajahnya.


Semua orang yang melihat kelakuan Adam, langsung tertawa di buatnya.


"Kamu memanggilku, Nini?" tanya Adisha.


Adam, nampak menganggukan kepalanya.


"Anak pandai," ucap Adisha sambil mengusap gemas rambut Adam.


"Om, kamu mendahului ku. Dua hari lagi acara ku, dan semoga saja, Om sempat hadir." ucap Devano.


"Aku akan hadir, setelah acara pergulatan kami selsai tentunya." ucap Tuan Arley, yang langsung dapat cubitan dari Adisha di perutnya.


"Sakit, Sayang." ucap Tuan Arley.


Adisha hanya tersenyum canggung pada semua yang ada di sana, sedangkan semua yang ada di sana nampak tergelak.


"Ar, selamat atas pernikahan mu." ucap Tuan Seno.


"Terimakasih, Seno." ucap Tuan Arley.


"Semoga, kamu menemukan kebahagiaan." ucap Nyonya Alina.


"Terimakasih, gadis kecil." ucap Tuan Arley.


Tuan Seno nampak mencebik kesal, dia tak suka dengan panggilan Tuan Arley terhadap Istrinya.


"Jangan cemburu, Pah. Hati Daddy, sudah untuk Mommy Adisha." ucap Laila.


"Aku tak cemburu, aku hanya tak suka dengan panggilannya." ucap Tuan Seno.


"Gengsi, tak mau mengaku." ucap Adam.


"Ck, dasar bocah!! " ucap Devano.


Eliza sedari tadi memperhatikan wajah Adisha, dia merasa pernah bertemu dengannya. Devano yang menyadarinya, langsung bertanya pada kekasihnya itu.


"Ada apa, Sayang?" tanya Devano.


"Ah, aku ingat. Kakak yang membantu saat di Resto jepang," ucap Eliza setengah berteriak.


"Ada apa, Sayang. Kenapa berteriak?" tanya Devano.


Eliza nampak menghampiri Adisha," Kakak, masih ingat aku?"


"Siapa?" tanya Adisha.


"Aku wanita yang kakak, tolong saat di Resto jepang." ucap Eliza.


"Ah, iya. Gadis cantik dengan kursi roda," ucap Adisha.


"Ya, dan aku sudah sembuh." ucap Eliza.


"Waah, selamat ya?!" ucap Adisha.


"Iya, Kak. Kakak juga, semangat untuk malam pertamanya." ucap Eliza.


Wajah Adisha langsung merona mendengar ucapan Eliza, otaknya langsung traveling jika mendengar kata malam pertama.


Tuan Arley yang melihat perubahan dari wajah Adisha pun, langsung berbisik tepat di telinganya.


"Tenang saja, Sayang. Aku akan melakukannya dengan lembut, dan aku pastikan, kamu tak akan melupakannya dalam seumur hidup kamu." ucap Tuan Arley.


Ucapan Tuan Arley, berhasil membuat wajah Adisha makin merona. Semua yang ada di sana pun langsung menertawakan Adisha.


+


+


+


Mampir juga ya,, ke karya aku yang baru.. Semoga, suka.