Who Is Adam?

Who Is Adam?
Berseri



Adam menggerakkan kelopak matanya, rasa kesal yang bersarang di dalam dadanya seakan sudah hilang dan menguap bersama dengan terpejamnya matanya.


Dia berusaha untuk menggerakan tubuhnya, namun seakan ada benda besar yang menindihnya. Adam segera mengucek matanya dan berusaha untuk membuka paksa matanya yang masih terasa sepet.


Mata Adam langsung membulat dengan sempurna kala ada sosok wanita yang tidur di atas tubuhnya. Seingatnya dia tidur sendirian, lalu... siapakah wanita yang kini berada di atas tubuhnya.


Perlahan, Adam mendorong pelan tubuh wanita yang ada di atas tubuhnya. Hingga akhirnya tubuh wanita itu terjatuh tepat di sampingnya, saat Adam hendak bangun dan melihat wajah wanita itu.


Wanita itu malah memeluk Adam dan menyusupkan wajahnya ke dalam pelukannya, bahkan wanita itu mengusakan hidungnya pada dadanya.


Geli sekali pikirnya, dan ternyata saat Adam menatap lekat tubuhnya. Adam ada dalam keadaan bertelanjang dada, padahal saat dia tidur dia memakai kaos pendek dan celana santai.


"Ya Tuhan, siapa wanita ini?" tanya Adam pada dirinya sendiri.


Adam yang baru bangun tidur dan masih dalam keadaan belum sadar sepenuhnya, terlihat ketakutan. Dengan perlahan dia menurunkan tangan kecil wanita itu dari tubuhnya, lalu ia segera memundurkan wajahnya.


Dia tatap wajah wanita yang ada di hadapannya, dan... dia sangat kaget kala melihat Sisil yang memeluknya dengan sangat erat.


"Ya ampun, Sayang. Rupanya ini kamu, Kirain Mas, siapa?" tanya Adam dengan napas leganya.


Adam langsung memeluk erat Sisil dan mengecupi puncak kepala istrinya dengan lembut, ada rasa senang dan juga bingung yang kini Adam rasakan.


Adam melirik jam yang bertengger cantik di dinding kamarnya, ternyata waktu masih menunjukkan pukul dua malam. Adam pun memutuskan untuk memejamkan matanya kembali, namun sebelum itu.


Cup!


Satu kecupan lembut mendarat sempurna di bibir kecil Sisil, Sisil yang merasa bibirnya terasa basah langsung mengerjapkan matanya. Dia sangat senang kala melihat Adam yang sedang menatap dirinya.


"Mas, udah bangun?" tanya Sisil dengan mata yang memicing.


"Hem, kamu ke sini? Tahu dari mana aku di sini?" tanya Adam dengan raut datarnya.


"Dari Ibu," jawab Sisil ragu.


Sisil terlihat ketakutan saat melihat tatapan mata Adam, apa lagi saat mengingat kesalahan yang dia lakukan tadi siang.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Adam.


"Mau ketemu, Mas." Sisil langsung menundukan wajahnya, dia takut saat melihat sorot mata Adam yang terlihat sulit untuk di baca.


"Untuk apa kamu nyusuin, Mas? Bukankah saat Mas memintanya kamu ngga mau ngasih? Terus, ngapain kamu ke sini?" tanya Adam bertubi-tubi.


"Maafin, Sisil. Sisil janji ngga bakal nolak Mas lagi, kalau Mas mau, kita bisa ngelakuinnya sekarang juga." Sisil mengusap-usap dada bidang Adam membuat tubuh Adam meremang seketika.


Bahkan tangan Sisil sudah mulai nakal, dia sengaja menjepit ujung dada Adam dan menariknya dengan gaya sensual.


Sekuat tenaga Adam menahan hasratnya, Sisil memang sangat tahu kalau dia tak pernah tahan kalau Sisil bermain di sana.


"Ngapain kamu? Udah pulang aja sana ke rumah ibu, aku ngga mau kamu di sini." Adam sengaja pura-pura merajuk, bisa jatuh harga dirinya kalau Sisil tahu jika dia sudah mulai terangsang.


Sisil seakan tak ingin menyerah, dia malah mengecupi perut Adam sambil menyusupkan tangannya pada kain segitiga pengaman milik Adam.


Seketika senyum Sisil langsung mengembang kala menyadari milik Adam yang sudah berdiri tegak, Sisil langsung menggerakan tangannya dengan gerakan sensual, bahkan ibu jarinya bergerak memutar dipuncak milik Adam.


Hal itu membuat Adam langsung mengerang, dia sudah tak tahan. Adam langsung menarik lembut rambut Sisil, Sisil yang tahu jika gairah suaminya sudah memuncak langsung membuka kain penutup bagian bawah milik Adam.


Lalu, Sisil pun langsung berjongkok dan mengulum milik Adam. Bibir kecil Sisil terlihat begitu seksi saat milik Adam terlihat memenuhinya, apa lagi saat kepala Sisil bergerak naik turun secara sensual.


Adam yang merasa tidak tahan, langsung bangun dan mengungkung tubuh istrinya. Sisil pun langsung bersorak dalam hati, sedangkan adam langsung mengarahkan miliknya ke dalam kelembutan milik istrinya.


Sisil langsung mendorong dada Adam, hal itu membuat Adam terlihat kecewa.


"Kenapa?" tanya Adam.


"Mas udah Maafin Sisil, kan?" tanya Sisil.


"Ya, Mas Maafin kamu." Adam yang sudah tak tahan langsung memasukan miliknya, Sisil yang kaget langsung memukul tangan kekar milik suaminya itu.


"Maaf," ucap Adam.


"Hem," jawab Sisil dengan mata yang mulai terpejam, tentunya menikmati sensasi kenikmatan yang terasa sangat luar biasa.


Akhirnya perseteruan sengit antara suami istri itu pun berakhir dengan bergelut di atas ranjang, hawa yang dingin tak terasa untuk kedua insan yang sedang di mabuk kasih itu.


Peluh berceceran di seluruh tubuh mereka, karena mereka melakukannya dengan berbagai gaya yang mereka sukai.


Mereka begitu semangat berlomba untuk saling memuaskan, mereka berlomba untuk saling mencari kenikmatan. Mereka begitu bersemangat bergelung dalam kenikmatan untuk saling memuaskan.


"Aaah..." Erangan pencapaian titik kepuasan terdengar dari bibir keduanya.


Seulas senyum nampak terukir indah baik dari bibir Sisil atau pun bibir Adam.


"Terima kasih, Sayang." Adam mengangkat wajahnya dan mengecupi bibir istrinya yang kini berada di atasnya.


Sisil langsung memeluk Adam dan menautkan bibirnya, Adam pun dengan senang hati langsung membalas tautan bibir istrinya.


"Mau lagi?" tanya Sisil di sela tautan bibirnya.


"Sudah, Sayang. Sebentar lagi subuh tiba, kita mandi bareng. Mau?" tanya Adam.


"Iya," jawab Sisil disertai anggukan kepala.


Adam langsung menggendong Sisil menuju kamar mandi, ternyata omongan Adam tak terbukti. Karena ternyata Adam langsung membalikan tubuh istrinya dan mendorongnya sampai dinding.


Adam kembali menghentak istrinya, dia merasa masih ada waktu sebelum waktu subuh tiba. Sisil hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suaminya, karena dia pun menyukainya.


*/*


"Sudah siap, Mas." Sisil memeluk tangan kekar Adam, kini mereka sedang berada di dalam mobil milik Adam, karena mereka akan segera pergi ke rumah Laila.


"Sudah," jawab Adam.


Adam mengecup kening Sisil dengan sayang, lalu ia melajukan mobilnya menuju kediaman Ibunya. Sampai di sana Adam langsung menurunkan Sisil, sedangkan Adam langsung pergi menuju kantor Tuan Arley.


Tentu saja karena Leo sudah menelponnya kemarin sore, katanya dia begitu kewalahan dalam menghandle semuanya. Karena tak ada Mahendra yang membantu, Adam pun paham.


Dia sengaja berangkat pagi-pagi karena tak tega mendengar keluhan Leo. Tentunya, pagi ini wajah Adam terlihat sangat berseri.


Sampai di kantor, Adam langsung berjalan dengan tergesa. Hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita yang sedang berjalan berlainan arah dengannya.


Brugh!


"Aww!" pekik wanita itu.