Who Is Adam?

Who Is Adam?
Mau Ngga Ya?



Setelah Sisil berhasil mengeluarkan benda tersebut dari mulutnya, Sisil pun langsung melihat kearah tisu di tanganya. Ternyata, di dalam tisu tersebut ada sebuah cincin yang terlihat kotor karena balutan cake tersebut.


Sisil lalu memandang cake dan cincin itu secara bergantian, kemudian dia pun memandang Adam dengan tatapan anehnya.


Adam langsung terkekeh, melihat ekspresi wajah Sisil. Karena ternyata, Sisil benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sudah dipersiapkan oleh Adam dan juga Leo.


Ternyata, Sisil benar-benar wanita polos, pikirnya. Biasanya, wanita lain akan langsung mengerti jika itu adalah tanda sebuah lamaran.


Karena Sisil tak kunjung paham, Adam pun langsung mengambil tisu basah lalu meraih cincin yang ada di tangan Sisil dan mengelapnya hingga bersih.


Adam, lalu mengambil satu buket bunga yang sudah dipersiapkan oleh Leo di sampingnya. Lalu Adam pun bangun dan berjongkok tepat di depan Sisil.


Sisil semakin bingung dibuatnya, dia malah bengong sambil memainkan kedua alisnya tinggi-tinggi.


"Sisil, aku memang bukan lelaki yang sempurna. Aku hanya lelaki biasa yang kadang melakukan banyak kesalahan. Namun, maukah kamu menjadi istriku? Menjadi teman hidupku, di kala aku susah dan senang?" setelah Adam berkata demikian, baru lah Sisil mengerti, jika ternyata Adam sedang melamarnya.


Mata Sisil langsung membulat sempurna, bibirnya pun terlihat menganga. Cepat-cepat Sisil menutup mulutnya dan tak lama kemudian buliran bening nampak keluar dari pelupuk matanya.


Sisil menangis, bahkan suara isakannya nampak terdengar dengan keras


Adam terlihat panik, karena biasanya wanita yang dilamar akan terlihat bahagia. Akan tetapi, kenapa Sisil malah menangis?


Bahkan dia sampai terisak, hal itu membuat Adam panik. Adam langsung bangun, mengambil tisu dan mengelap air mata Sisil.


"Kamu nggak mau Sih, nikah sama aku?" tanya Adam.


Sisi langsung menggelengkan kepalanya, mana mungkin dia menolak lamaran dari Adam. Lelaki yang benar-benar terlihat sempurna di matanya.


Walaupun mereka tinggal satu rumah, selama satu minggu ini. Akan tetapi, Adam sama sekali tidak pernah berbuat nakal terhadapnya.


Adam tak pernah mencuri-curi kesempatan untuk sekedar mengecup pipinya, apalagi menelusup masuk ke kamarnya dan melakukan hal yang tidak senonoh.


Hal itu membuat Sisil yakin, jika Adam adalah laki-laki terbaik yang Tuhan kirimkan untuknya.


"Bukan seperti itu, tapi--"


"Lalu kenapa kamu malah menangis? Apakah kamu tidak menyukaiku?" Adam memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah, kemudian dia tersenyum.


" Aku Lelaki tampan loh, masa kamu nggak suka sama aku?" Sisil langsung terkekeh, kemudian dia berkata.


" Bukan seperti itu, aku hanya kaget karena kamu melamarku secara tiba-tiba." Kata Sisil.


"Jadi, jawaban kamu?" tanya Adam.


Sisil nampak terdiam, dia memandang wajah Adam yang terlihat sangat bersungguh-sunghuh.


"Kamu mau kan, nikah sama aku Sih?" tanya Adam.


Sisil pun langsung menganggukkan kepalanya, Adam pun langsung loncat karena kegirangan. Leo bahkan langsung menghampiri Adam dan menepuk pundak Adam beberapa kali.


Dia takut Adam akan kelepasan, Adam langsung terkekeh karena dia jadi berlaku konyol saking bahagianya.


Dia bahkan sampai lupa mengontrol dirinya, sedangkan Sisil terlihat langsung tertawa dengan riang.


"Beneran kan Dil, kamu mau nikah sama aku?" Adam masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sisil.


Cepat-cepat sisir pun menganggukkan kepalanya," Iya, aku bersedia, Mas. Menjadi istrimu, mendampingi hidupmu." Kata Sisil.


Begitupun dengan Leo, sambil bersorak Leo pun melompat dan berkata..


"Peluk, Bos. Cium, jangan lepas lagi." Seru Leo.


Adam langsung mendekati Sisil, dia hendak memeluk Sisil. Akan tetapi dengan cepat Sisil menahan dan mendorong dada Adam dengan perlahan.


"Jangan, Mas. Kita belum halal, halalin aku dulu, Mas." Kata Sisil.


Adam berlangsung cemberut, karena ternyata hanya untuk memeluk Sisil saja tidak bisa.


" Baiklah, kalau begitu besok aku nikahin kamu biar aku bisa langsung menyentuhmu." Kata Adam.


"Ya nggak besok juga atuh, Mas. Nanti saja, persiapannya juga belum. Jangan terburu-buru, bicarakan dulu sama Ibu dan ayah." Ucap Sisil.


"Baiklah, apapun katamu. Aku akan menurutinya," kata Adam.


Sisil pun tersenyum, karena ternyata ucapannya didengarkan oleh Adam. Setelah acara lamaran selesai, Leo pun mempersilahkan Adam dan Sisil untuk menikmati makan malam mereka.


Leo terlihat sangat senang, melihat Sisil mau menerima lamaran Adam.


Pasalnya, dia sempat bertanya kepada Tuan Arley. Apa upahnya jika acara yang dipersiapkan untuk Adam berhasil?


Tuan Arley pun menjanjikan, akan memberikan bonus yang sangat besar untuk Leo. Tentu saja Leo sangat bahagia, apalagi dia mempunyai pacar yang banyak. Setelah mendapatkan bonus dari Tuan Arley, dia pun akan mengajak pacar-pacarnya untuk berkencan.


Bila Leo sedang memikirkan bonus yang akan di dapat dari Tuan Arley, berbeda dengan Adam dan Sisil. Mereka terlihat begitu menikmati momen kebersamaan mereka, bahkan Adam langsung memikirkan rencana pernikahannya dengan Sisil.


Dia ingin mempersiapkan semuanya dengan cepat, dia pun berencana akan langsung membicarakan hal ini besok dengan Tuan Arley.


Malam ini, benar-benar menjadi Malam yang sangat membahagiakan untuk Adam dan Sisil. Setelah selesai dengan dinnernya, Adam pun mengajak Sisil untuk pulang.


Akan tetapi, saat Adam hendak menjalankan mobilnya Leo segera berlari dan mengetuk pintu mobil Adam. Adam pun segera menurunkan pintu kaca mobil tersebut.


" Ada apa, Leo?" tanya Adam.


Leo yang habis berlari pun langsung mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal, kemudian dia pun berkata.


"Maaf, tuan muda. Silakan pindah duduk ke belakang, biar saya yang mengantarkan Anda bersama Nona Sisil."Kata Leo.


"Maksudnya bagaimana? Saya tidak paham," kata Adam.


"Ini titah dari Tuan Arley, beliau meminta saya Untuk mengantarkan Anda dan Nona Sisil untuk pulang sampai ke rumah." Kata Leo.


"Ah... dasar! Aku tak seperti itu, aku bukan Grandpa." kata Adam.


Mendengar percakapan Adam dan juga Leo, Sisil terkikik geli. Dalam pikirannya terbersit jika Adam tak mungkin melakukan hal itu, secara Adam selama ini terlihat sangat dingin.


Sebenarnya, Leo juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Arley. Karena selama Adam bekerja di perusahaan Tuan Arley, Adam tak pernah sekali pun terlihat melirik wanita yang ada di sana.


Bahkan, saat meeting dengan pemilik perusahaan yang notabene pemiliknya wanita muda yang sangat cantik dan juga seksi, dengan bemper depan dan belakangnya yang begitu menonjol pun Adam sama sekali terlihat tak tertarik.


Akan tetapi, ini adalah titah dari Tuan Arley, Leo pun tak bisa mengelak. Apalagi saat Leo berkata jika lamaran Adam berhasil, Tuan Arley langsung menjanjikan jika besok Leo pasti akan mendapatkan bonus yang sangat besar dari Tuan Arley.


Awalnya, Adam merasa kesel. Akan tetapi, akan lebih baik jika dia menuruti keinginan dari Grandpa nya. Adam terlihat malas, tapi Adam langsung membuka pintu mobilnya dan pindah ke bangku penumpang.


Begitupun dengan Sisil, Leo pun dengan sigap langsung masuk dan duduk di balik kemudi. Setelah itu, dia langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Arkana.