Who Is Adam?

Who Is Adam?
Kedatanga Leo 1



Mahendra terlihat serius dengan pekerjaannya, begitu pun dengan Gracia. Tak ada lagi obrolan di antara keduanya.


Mereka berdua saling diam, bukan karena bermusuhan. Tapi, karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Sesekali Gracia akan keluar untuk meminta tanda tangan kepada Adam, Mahendra pun terkadang menitipkan berkas kepada Gracia untuk ditandatangani oleh Adam.


Waktu berjalan dengan cepat, hingga saat makan siang pun telah tiba. Baik Gracia atau pun Mahendra terlihat merapikan berkas yang sudah mereka kerjakan, kemudian mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


Saat Gracia dan juga Mahendra hendak berjalan menuju kantin, tiba-tiba saja Adam menyusun.


Dia langsung menjajarkan langkahnya dengan Gracia dan juga menghindar, mereka bingung ketika melihat Adam yang terlihat terburu-buru.


"Ada apa, Tuan? Tak biasanya anda ikut bersama kami ke kantin," ucap Mahendra.


Adam terlihat terkekeh mendengar pertanyaan dari Mahendra, kemudian dia pun menjawab pertanyaan dari orang kepercayaannya tersebut.


"Saya bukan mau ke kantin, saya cuma mau bilang kalau nanti setelah makan siang dan salat dzuhur, saya tunggu kalian di ruang meeting," kata Adam.


Mahendra dan juga Gracia langsung menghentikan langkahnya, mereka langsung saling pandang.


Setahu mereka tidak ada meeting setelah jam istirahat, karena penasaran Mahendra pun langsung bertanya kepada Adam.


"Memangnya ada apa, Tuan?" tanya Mahendra.


"Ada meeting dadakan, jadi saya harap kalian segera masuk ke ruang meeting setelah waktu istirahat selesai," kata Adam.


Mahendra dan juga Gracia pun langsung mengganggukkan kepala mereka.


"Baik, Tuan," jawab mereka bersamaan.


Tentu saja karena sudah ada Sisil yang membawakan makan siang untuk dirinya. Berbeda dengan Gracia dan juga Mahendra, mereka langsung melangkahkan kaki mereka menuju kantin perusahaan.


Selesai makan siang, Mahendra dan Gracia terlihat melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik. Setelah itu, mereka pun langsung melangkahkan kaki mereka menuju ruang meeting.


Tiba di ruang meeting, mata Gracia terlihat berbinar. Karena dia melihat ada Leo dan juga Cindy di sana, tanpa pikir panjang Gracia langsung berlari kecil dan hendak memeluk Leo.


Dia sudah sangat rindu terhadap kakak sepupunya tersebut, namun belum sempat Gracia memeluk Leo, dengan cepat Mahendra menahan tubuh Gracia.


Adam, Cindy dan juga Leo langsung terkekeh melihat kelakuan dari Mahendra. Berbeda dengan Mahendra yang terlihat datar tanpa ekspresi.


"Kenapa kamu menghalangiku, Tuan? Aku hanya merindukan Kakak sepupuku, tidak bolehkah aku mengekspresikan rasa rinduku?" tanya Gresia seraya menghempaskan tangan Mahendra dari pinggangnya.


"Bukan seperti itu, Leo sudah menikah. Apa kamu tidak melihat jika dia sedang bersama dengan istrinya? Bagaimana kalau istrinya cemburu saat kamu memeluk Leo?" tanya Mahendra.


Gracia nampak memandang Cindy dan juga Leo secara bergantian, baik Leo ataupun Cindy, mereka hanya tersenyum kepada Gracia.


"Kamu salah, Tuan Mana mungkin Kak Cindy cemburu padaku? Dia dia itu perempuan yang baik dan pengertian," kata Gracia mencari pembelaan.


"Terserah, tapi... walau bagaimanapun juga kamu harus menghargai kakak sepupumu yang sudah mempunyai istri, sekarang duduklah. Karena Tuan Adam sudah menunggu, karena meeting akan segera dimulai," kata Mahendra dingin.


Walaupun kesal Gracia tetap menurut, dia pun duduk tepat di samping Mahendra dan berseberangan dengan Cindy dan juga Leo.


"Sudah bisa dimulai?" tanya Adam.


Cindy, Leo, Gracia dan juga Mahendra nampak mengangguk-anggukkan kepala mereka. Suasana pun berubah, hanya Adam saja yang berbicara di ruangan tersebut.