Who Is Adam?

Who Is Adam?
Ketakutan Mahendra



Ternyata yang dikatakan Gracia sangatlah benar, obat pencahar berukuran ibu jarinya ternyata sangat manjur.


Kini Adam pun sudah bisa buang air dengan lancar, bahkan sekarang Adam sedang mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda.


Berbeda dengan Adam, Reinata masih mengalami sakit perut yang luar biasa. Bahkan dia pun tak hentinya buang air, hal itu membuat Gracia merasa kasihan.


Akhirnya Gracia pun memutuskan untuk pergi ke apotik, dia ingin membelikan obat sakit perut untuk Reinata.


"Kak, titip Kakak cantiknya, ya?" kata Gracia.


"Memangnya kamu mau kemana lagi?" tanya Leo.


"Mau beli obat, Kak. Kasihan dia, dikasih teh pait katanya ngga doyan. Aku beliin obat saja," kata Gracia.


"Terserah, kamu ke apoteknya naik motor saja. Biar cepet," kata Leo.


"Siap, Kak!" jawab Gracia.


Gracia pun langsung keluar dari ruangannya, dia hendak pergi ke apotek untuk membeli obat. Saat Gracia tiba di lobby perusahaan, dia berpapasan dengan Tuan Arley dan Mahendra yang terlihat sedang menyambut kedatangan Tuan Arley.


"Selamat pagi, Mister." Gracia terlihat membungkuk hormat kepada Tuan Arley.


"Pagi, kamu mau kemana?" tanya Tuan Arley.


"Mau ke apotek," jawab Gracia.


"Kebetulah sekali, kamu tolong sekalian belikan salad buah yang berjualan tak jauh dari apotek. Sama jus Mangga, sekalian sepuluh porsi." Tuan Arley terlihat merogoh saku celananya, lalu dia pun memberikan uang kepada Gracia.


Mendengar pesanan dari Tuan Arley, membuat gracia mengernyit heran. Untuk apa pikirnya Tuan Arley memesan banyak salad buah dan juga jus buah.


Setelah mendapatkan uang dari Tuan Arley, Gracia nampak berjalan menuju parkiran. Dia pun menaiki motornya untuk segera pergi ke apotek, lalu setelah itu dia pun akan pergi untuk membeli pesanan dari Tuan Arley.


Namun, baru saja dia tiba di depan lobby perusahaan, Tuan Arley kembali memanggilnya.


Gracia pun langsung memberhentikan motornya, lalu dia pun menjawab panggilan dari Tuan Arley.


"Ya, Tuan. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Gracia.


"Setelah saya pikir-pikir, sebaiknya kamu pergi bersama dengan Mahendra. Pesanan saya banyak, sedangkan kamu hanya memakai motor saja. Kalau ada Mahendra, nanti dia bisa memegangi belanjaannya," kata Tuan Arley.


Mahendra langsung menatap Tuan Arley dengan tatapan penuh protes, Tuan Arley langsung tertawa melihat raut wajah tak suka dari Mahendra.


"Jangan protes, nanti aku pindahkan lagi ke negara A." Tuan Arley langsung menepuk pundak Mahendra dengan pelan, kemudian dia pun pergi meninggalkan Mahendra begitu saja.


"Woy, mau ikut ngga?" teriak Gracia dari atas motornya.


Mahendra tak menjawab pertanyaan Gracia, namun dia menghampiri Gracia dan langsung duduk di motor Gracia.


Gracia langsung mematikan mesin motornya, lalu dia memalingkan wajahnya untuk menatap Mahendra.


"Hey, Tuan! Badanmu sangat besar, apa tidak salah kamu yang aku bonceng?" tannya Gracia.


Gracia terlihat mencebikkan bibirnya, lalu terbersit ide nakal di benaknya. Gracia langsung menyalakan mesin motor matic kesayangannya, lalu tanpa aba-aba dia langsung melajukan motornya dengan sangat kencang.


Mahendra yang kaget pun langsung memeluk perut Gracia dengan erat, dia bahkan menyembunyikan wajahnya di punggung Gracia.


Melihat reaksi ketakutan dari Mahendra, Gracia pun langsung tertawa terbahak-bahak. Dia merasa lucu dengan tingkah Mahendra, tubuh besar tapi penakut.


"Dulu saja mengatainya penakut, sendirinya penakut." Gracia berucap dalam hati.


Bukan tanpa alasan Mahendra takut mengendarai sepeda motor, itu semua terjadi saat dia masih berusia empat belas tahun.


Saat dia masih duduk di bangku SMP, dia pernah tertabrak mobil saat mengendarai sepeda motor. Bahkan kakinya sampai tidak bisa berjalan selama satu bulan.


Mahendra bahkan sempat koma selama satu minggu, dia benar-benar trauma.


Karena tubuhnya sampai terpental ke kolong mobil, dia bahkan mengira jika dia tak akan hidup lagi kala itu.


"Jangan cepet-cepet bawa motornya, aku takut." Mahendra mengencangkan pelukannya, tubuhnya terlihat gemetaran.


Gracia pun bisa merasakan hal itu, dengan cepat Gracia memelankan laju motornya. Gracia memperhatikan wajah Mahendra dari kaca spion.


Dia terlihat melonggarkan pelukannya, lalu mulai menstabilkan perasaannya. Gracia tahu jika Mahendra masih merasa ketakutan, karena dia bisa melihat wajah Mahendra yang terlihat pucat pasi.


Tiba di apotek, Gracia pun lalu menepikan motornya.


"Sudah sampai," ucap Gracia.


Mahendra langsung turun, lalu duduk di bangku yang ada di depan apotek. Gracia langsung membelikan air mineral dan memberikannya pada Mahendra.


"Minum dulu, Tuan. Maaf," ucap Gracia lirih.


"Hem! Terima kasih," kata Mahendra.


Mahendra langsung menegak air mineral tersebut dengan cepat, sedangkan Gracia langsung masuk ke dalam apotek untuk membeli obat untuk Reinata.


Setelah obatnya dia dapatkan, Gracia pun langsung membeli pesanan Tuan Arley. Dia sengaja membiarkan Mahendra duduk sambil menetralkan keadaannya.


Lima belas menit kemudian, Gracia pun menghampiri Mahendra dengan dua tantangan besar di tangannya.


"Pesanannya sudah selesai, Tuan. Ayo kita pulang," ajak Gracia.


"Ya," jawab Mahendra.


Gracia langsung memberikan dua tentengan besar tersebut kepada Mahendra, setelah itu dia pun langsung menaiki motornya di susul oleh Mahendra.


Kali ini Gracia menjalankan motornya dengan perlahan, karena dia takut Mahendra akan ketakutan lagi seperti sebelumnya.


Melihat Mahendra yang sangat ketakutan saat dia melajukan motornya dengan cepat, Gracia pun menjadi penasaran.


Mungkin dia akan menanyakan hal ini kepada Leo, pikirnya. Karena dia merasa malu, kalau menanyakan hal itu langsung kepada Mahendra.