
Adam mengerjapkan matanya, dia merasa kamarnya terasa sangat bising. Padahal, dia sedang berada di dalam apartemen miliknya.
Tentunya tanpa ada yang tahu, karena dia ke sana tanpa memberitahukannya pada siapa pun. Saat matanya sudah terbuka dengan sempurna, Adam sangat kaget
Karena ternyata, di dalam kamarnya sudah ada Al dan juga Haidar. Mereka terlihat sedang berebutan ponsel, yang entah ponsel milik siapa, Adam pun tak tahu.
"Woy, kenapa kalian sangat berisik?" tanya Adam yang langsung bangun dari tempat tidurnya.
Al dan Haidar pun langsung terdiam, kemudian memandang wajah Adam yang terlihat kesal.
"Sorry, Kak. Kakak dari pagi ngga ada kabar, Ibu kalang kabut nyariin Kakak. Akhirnya kita semua memutuskan untuk menyusul Kakak ke sini, karena menurut Grandpa, Kakak ada di sini." Al dan Haidar pun langsung keluar dari kamar Adam.
Mereka langsung menuju ruang makan, karena di sana sudah ada Laila, Arkana, Tuan Arley dan juga Adisha.
"Ya ampun, Sayang. Kenapa pulang ke apartemen ngga bilang-bilang, Ibu?" tanya Laila.
Laila terlihat sangat khawatir, karena Adam tak biasanya pergi tanpa memberi kabar.
"Maaf, Bu. Adam tadi capek banget, pengen tidur tanpa gangguan Al. Jadi Adam langsung ke sini," sesal Adam.
Adam merasa menyesal, saat melihat wajah Laila yang terlihat sangat menghawatirkannya.
"Tak apa, lain kali kamu harus bilang kalau mau pergi kemanapun." Arkana langsung menengahi.
"Memangnya, kamu habis dari mana?" tanya Tuan Arley.
Adam langsung duduk di meja makan, mengambil piring dan menuangkan nasi beserta lauk pauknya.
"Adam nganter Sisil terapi, pulangnya langsung tidur." Adam langsung melirik jam di tangannya.
Dia terlihat kaget, saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Astagfirullah, Adam melewatkan shalat Ashar sama Maghrib." Adam langsung menepuk jidat, dia tak menyangka jika dia akan tidur dengan sangat lama.
"Kakak udah kaya kebo, padahal kita datang dari sebelum Maghrib tau." Al langsung mengambil Ayam goreng dan menyuapkannya.
"Masa sih?" tanya Adam heran.
Setahunya, dia tak pernah tidur sampai selam itu. Kalaupun tidur siang, paling lama hanya dua jam saja.
Tuan Arley nampak terkekeh melihat reaksi Adam, begitupun dengan Arkana dan Laila.
"Sudah, sekarang mending makan dulu." Usul Adisha.
"Bener, kata Mommy. Kita makan dulu, Haidar laper." Haidar langsung mengambil perkedel dan memasukannya ke dalam mulut Adam.
Semua yang ada di sana pun nampak tertawa melihat tingkah Haidar, Haidar memang terlihat sangat usil di banding yang lainnya.
Tapi, Tuan Arley masih bersyukur karena Haidar tak menuruni sifat sang Casanova. Hanya saja, Haidar suka iseng dan malah terkesan dingin pada wanita.
*//*
Setelah selesai makan malam, mereka pun langsung berkumpul di ruang keluarga. Tuan Arley sengaja duduk di samping Adam, karena ada yang ingin dia tanyakan.
"Kamu ada hubungan spesial dengan Sisil?" tanya Tuan Arley.
Mendengar pertanyaan dari Tuan Arley, Adam langsung memandang wajah Grandpanya itu.
"No, aku hanya kasihan saja padanya." Ujar Adam.
"Masa?" tanya Tuan Arley dengan senyum yang terkesan meledek.
Dia merasa tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Adam, mana ada seorang lelaki yang deket banget sama perempuan hanya karena embel-embel kasihan.
"Beneran, Adam ngga bohong. Sayang aja Kayaknya, gadis secantik Sisil harus berjalan dengan menyeret kaki kirinya." Adam terlihat membayangkan cara Sisil saat sedang berjalan.
Hatinya terasa tercubit, sedih dan kasihan.
"Ck, dari kasihan jadi sayang. Berlanjut ke cinta, lalu kepernikahan." Tuan Arley langsung tergelak dengan ucapannya sendiri.
"Sayang, jangan bilang seperti itu. Kasihan Adam," ucap Adisha.
"Tapi itu kenyataan, dia terlihat sangat bersimpati pada gadis itu. Aku berani jamin, mereka pasti akan jadian." Tuan Arley berucap dengan percaya diri.
"Aku setuju," ucap Al.
Yang tiba-tiba menyahuti ucapan Grandpanya.
"Ya, aku juga setuju." ucap Laila.
Laila sangat antusias, saat mendengar Adam mulai bercerita tentang perempuan. Karena selama ini, boro-boro membicarakan tentang perempuan.
Teman lelaki pun tak pernah dia bicarakan, hanya Ferdinand saja teman. lelaki satu-satunya.
"Kenapa kalian terlihat sangat antusias?" tanya Arkana.
Dia merasa heran, saat mereka semua terlihat sangat kompak dalam mengurusi masalah Adam.
"Karena biasanya, lelaki yang tak pernah dekat dengan wanita. Sekalinya dia merasa nyaman, dia akan mengejarnya sampai dapat." Al langsung duduk di samping Adam.
Adam terlihat memberenggut kesal, mendengar ucapan Al. Al sudah seperti orang tua, omonganya tak seprti anak yang berusia lima belas tahun.
"Udah, ah. Mending kita pulang," ajak Adam.
"Baiklah, kita pulang." Ucap Laila.
Laila dan Adisha nampak berbenah, mereka datang ke sana dalam keadaan bersih. Pulang pun tentu harus bersih pula.
Setelah semuanya selesai, mereka berjalan beriringan keluar dari apartemen milik aadam.
Mharta yang kebetulan hendak keluar, langsung menghampiri Adam.
"Hai, kamu mau kemana?" tanya Mharta.
Semua yang ada di sana langsung melihat ke arah Mharta, mereka tak menyangka jika Mharta begitu berani datang menghampiri seorang pria di tengah keluarga besarnya.
"Pulang, " jawab Adam datar.
"Ngga nginep di sini saja?" tanya Mharta lagi.
"Ngga," jawab adam.
"Kamu tuh, bisa ngga akalu bicara sama perempuan itu yang manis dikit? lempeng banget kaya kanebo kering!" kesal Mharta.
Al langsung tertawa, sedangkan yang lainnya nampak mengatupkan mulutnya menahan tawa. Al langsung menghampiri Mharta, dia langsung tahu jika Adam tak menyukai wanita yang terlihat sok kenal sok dekat itu.
"Maaf, Nona Cantik. Kakak saya baru bangun tidur, nyawanya belum ngumpul. Kita pulang dulu, sampai jumpa lain waktu." Al terlihat mengerling nakal ke arah Mharta, hal itu membuat Mharta tergelak.
"Ya ampun, kamu manis banget dan... Genit" Puji Mharta.
Al langsung melambaikan tangannya ke arah Mharta, sedangkan Mharta hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah kepergian Adam dan keluarganya, Mharta langsung kembali ke dalam kamarnya. Niatnya untuk mencari camilan pun, tak jadi dia lakukan.
Karena mood'nya sudah berantakan, gegara sikap Adam.
Saat masuk ke dalam apartemen miliknya, Mharta langsung menghempaskan tubuhnya di atas dofa.
"Sumpah demi apa pun, baru kali ini gue ngelihat cowok yang dingin banget. Lihat aja Adam, gue pasti bisa naklukin hati elu. Gue jamin, elu bakal bertekuk lutut sama gue. Apa lagi, kalau elu udah ngerasain goyangan gue." Mharta langsung menyeringai.
Dia pun sudah merencanakan semuanya, jika nanti dia bertemu kembali dengan Adam.
+
+
+
53!4m4+ m4!4m 93n95, 53mo94 k4!i4n 53h4+ 53!4!u... k4!i4n y4n9 +3r84!k p0k0kny4. Semoga kalian berbahagia..