
Adam sedang meregangkan otot-otot lelahnya, setelah seharian berjibaku dengan pekerjaannya, kini Adam sudah bisa segara pulang untuk meluruskan otot lelahnya.
Dengan gerak cepat, dia merapihkan semua berkas yang sudah dia kerjakan. Setelahnya, Adam pun segera keluar dari dalam ruangannya.
"Tuan, sudah mau pulang?" tanya Mahendra.
Adam, lalu menoleh ke arah Mahendra yang sedang berjalan beriringan bersama dengan Leo.
"Ya, saya duluan."Jawab Adam.
Adam mempercepat laju langkahnya, dia sudah merasa lelah. Dia ingin segera pulang ke rumahnya dan merebahkan tubuh lelahnya.
Tiba di parkiran, Adam melihat Sisil yang hendak pulang dengan mengayuh sebuah sepeda berwarna pink.
Adam langsung tersenyum, Adam jadi ingat masa kecilnya. Saat Laila, yang selalu mengantarkan Adam kemanapun dengan sepeda lusuhnya.
Entah kenapa, saat Sisil mulai mengayuh sepedanya, Adam malah mengikuti Sisil. Adam bahkan rela menjalankan mobilnya dengan perlahan agar bisa mensejajarkan laju mobilnya dengan sepeda Sisil.
Ternyata, tempat tinggal Sisil tak jauh dari Kantor BAC Corp. Letak rumah sederhana itu, berada tepat di belakang gedung perusahaan milik Tuan Arley.
Rumah yang terlihat sangat sederhana, tapi terlihat asri. Rumahnya juga terletak di pinggir jalan, hal itu mempermudah Adam untuk memperhatikan pergerakan Sisil.
Saat tiba di depan rumahnya, Sisil langsung menyimpan sepedanya di pojok halaman. Sisil, terlihat langsung pergi menuju kios sayuran yang tak jauh dari rumahnya.
Adam terlihat memperhatikan, gerak langkah Sisil. Dari kejauhan Adam bisa melihat, jika Sisil membeli seikat bayam, tempe dan juga setengah kilo telur.
Tak lama, Sisil terlihat masuk ke dalam rumah sederhana itu. Rasanya, Adam ingin ikut masuk. Tapi, dia tak punya alasan untuk itu.
Adam terus saja memperhatikan rumah yang Sisil tempati, setelah setengah jam lamanya, Adam merasa haus dan lapar.
"Pulang, atau menemui gadis itu ya?" Adam merasa dilema, dia lapar, tapi juga penasaran dengan kegiatan Sisil.
Dengan penuh pertimbangan, Adam langsung turun dari dalam mobilnya. Dia melangkahkan kakinya menuju rumah sederhana, yang Sisil tempati.
Tok! Tok! Tok!
Adam mencoba keberuntungannya, dia mengetuk pintu rumah Sisil. Berharap, Sisil mau membukakan pintu untuk dirinya.
"Sebentar!" terdengar teriakan dari dalam.
Adam sangat yakin, jika itu suara Sisil. Senyumpun langsung mengembang dari bibirnya, senyum yang entah apa artinya.. Adam pun tak tahu.
Dia hanya merasa senang, saat mendengar suara Sisil. Dia merasa sangat senang, karena sebentar lagi akan melihat wajah cantik Sisil.
Ceklek!
Pintu nampak terbuka, Sisil langsung mengernyit' kan dahinya saat tahu, jika Adam lah yang bertamu di sore ini.
"Tuan, ada perlu apa ya?" tanya Sisil.
Sisil terlihat memperhatikan wajah Adam, terlihat gurat ketegangan, penasaran dan rasa ingin tahu yang besar atas dirinya.
"Tidak apa-apa, hanya saja mobil saya tiba-tiba mogok. Saya merasa haus, jadi saya pikir.. Tak ada salahnya meminta minum kepada kamu." Jawab Adam asal.
Aneh, sungguh jawaban yang aneh menurut Sisil. Sisil pun kembali memperhatikan raut wajah Adam, Dia terlihat tegang, berkata bohong dan seperti ingin mengorek tentang kehidupan peribadi Sisil.
"Tuan aneh, yang mogok mobil anda. Tapi, anda malah mencari rumah warga untuk minum. Padahal, di sana ada warung." Tunjuk Sisil pada warung yang tak jauh dari rumah' ny.
Adam pun terlihat salah tingkah, kemudian dia Menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Ah, kalau begitu, aku pamit saja." Adam pun hendak berbalik, dia memilih untuk pergi saja dari pada malu Dengan Sisil.
Adam pun menurut, dia langsung duduk menatap Sisil denga lekat. Dia seolah bertanya 'Kenapa harus di luar?
Sisil seolah mengerti dengan apa yang Ada di dalam pikiran Adam.
"Kita bukan mahram, Tuan. Jadi maaf, saya tidak bisa membiarakan seorang lelaki asing masuk ke dalam rumah saya." Sisil pun berusaha untuk menjelaskan ucapannya sendiri.
Tidak akan enak bukan, jika mereka baru kenal dan sudah langsung masuk ke rumah berduaan. Yang ada, mereka malaj di grebek warga.
"Iya, iya,, tidak apa-apa." Kata Adam.
Sisil pun segera masuk ke dalam rumahnya, kemudian dia membawakan dua cangkir teh hangat yang satu untuk dirinya dan yang satu untuk Adam.
"Silahkan di minum, Tuan." Sisil langsung menyimpan teh'nya di atas meja kecil yang berada di anatara dua bangku yang Adam duduki.
Adam pun langsung mengambil secangkir teh buatan Sisil, dan menyesapnya dengan perlahan.
"Enak, teh bikinan kamu memang enak banget." Puji Adam.
Sisil nampak tersipu, dengan apa yang di ucapkan oleh Adam. Hatinya menghangat, baru kali ini ada seorang pria yang memuji teh nya.
" Aku sangat lapar, apa di sini ada Resto?" tanya Adam.
Sisil langsung tergelak," ngga ada, Tuan. Tapi, kalau Tuan bersedia, saya sudah masak." Tawar Sisil.
Senyum Adam langsung mengembang. Justru itu yang dia inginkan, mencoba masakan Sisil.
"Mau, saya mau. Apa saja yang kamu masak, saya mau." Jawab adam cepat.
Sisil terlihat ragu, tapi saat melihat kebahagiaan di wajah Adam, Sisil menjadi tak tega.
"Sebentar, tapi makannya hanya sama tumis bayem, tempe goreng sama telor ceplok. Mau?? tanya Sisil ragu.
"Boleh, tolong ambilkan." Kata Adam.
Sisil pun langsung masuk kembali, dia mengendok nasi untuk Adam, kemudian menuangkan tumis bayam, telor ceplok dan goreng tempe.
"Mudah-mudahan, dia suka." Sisil berkata dengan lirih.
Saat keluar dari dalam rumahnya, Sisil langsung menyerahkan satu piring nasi kepada Adam. Dengan senang hati, Adam pun menerima nasi tersebut.
Awalnya, Adam terlihat ragu untuk mengendok nasi tersebut. Tetapi, setelah satu suapan berhasil masuk ke dalam mulutnya, Adam pun langsung tersenyum dan manggut-manggut.
Setelahnya, Adam pun langsung menghabiskan sepiring penuh nasi tersebut. Adam benar-benar seperti orang kelaparan, membuat Sisil merasa tak percaya melihat Adam yang mau memakan masakan sederhana miliknya.
"Masakan kamu enak, bagaiaman kalau mulai besok, kamu masakin saya buat makan siang?" tanya Adam.
Sisil nampak terdiam, dia tak punya bahan mewah apa pun untuk di masak. Paling-paling, dia hanya bisa memasak tumisan. Baginya, makan telur atau Ayam saja sudah sangat mewah.
"Tapi, Tuan. Saya tidak punya bahan-bahannya," ucap Sisil seraya menunduk.
Adam pun langsung tersenyum, kemudian, dia merogoh saku celananya dan mengambil dompetnya.
Adam mengeluarkan uang dari dompetnya, dan memberikannya pada Sisil.
"Apa ini, Tuan?" tanya Sisil.
"Uang itu sebagai Dp, besok kamu mulai masakin buat makan siang saya. Apa pun pasti saya makan, sisanya nanti saya kasih lagi." Adam pun menjelaskan.
Sisil terlihat bingung dan hanya bisa memandang wajah tampan Adam tanpa berkedip.