
Pagi ini Adam terlihat turun dari mobil mewahnya, dia langsung berjalan masuk menuju perusahaan Callweld.
Sampai di lobby, dia berpapasan dengan Gracia, Mahendra dan juga Leo. Adam berjalan dengan langkah yang tidak tenang, sesekali dia terlihat meringis sambil mengelus perutnya.
Leo, Gracia dan juga Mahendra saling tatap. Kemudian, mereka menggedikkan Kedua bahunya.
Tak seperti biasanya mereka melihat Adam bersikap aneh seperti itu, namun diantara mereka tak ada yang berani bertanya tentang apa yang terjadi terhadap atasannya tersebut.
Mereka tetap setia mengekori langkah Adam, saat hendak masuk ke dalam ruangannya, Adam langsung berbalik dan memanggil Gracia.
"Gracia! Bisakah kamu ke ruanganku sebentar," tanya Adam.
Untuk sesaat Gracia menatap Mahendra dan juga Leo, lalu kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Bisa, Tuan," jawab Gracia.
"Ya sudah, kalau begitu cepatlah masuk ke dalam ruanganku," kata Adam.
Gracia menurut, dia pun mengikuti langkah Adam untuk masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Leo dan Mahendra langsung masuk ke dalam ruangannya.
Setelah masuk kedalam ruangannya, Adam langsung duduk di sofa. Lalu, dia pun mempersilahkan Gracia untuk duduk tempat di hadapannya.
Gracia menurut, dia pun langsung duduk tepat di hadapan Adam.
"Ada apa, Tuan? Apakah saya melakukan kesalahan?" tanya Gracia.
"No! Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun, saya hanya ingin bertanya," kata Adam.
"Tanyakan saja, Tuan. Selama saya bisa menjawab, saya pasti akan menjawabnya," ucap Gracia.
Adam terlihat ragu-ragu untuk berucap, namun beberapa detik kemudian dia pun mulai bercerita.
"Begini Gracia, selama satu minggu ini istriku selalu memintaku untuk memakan makanan pedas. Bahkan aku tidak diperbolehkan untuk memakan sayur dan juga buah, meminum air putih pun aku sangat kurang. Karena istriku selalu memintaku untuk meminum-minuman dingin yang tidak aku suka," kata Adam.
"Lalu pertanyaannya apa, Tuan?" kata Gracia heran.
"Jadi begini, aku itu susah buang air besar. Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Adam.
"Ya ampun, mau bilang susah BAB aja berbelit-belit," kata Gracia pelan sekali.
"Kamu ngomong apa?" tanya Adam.
"Oh tidak ada, Tuan. Jadi masalahnya begitu, bagaimana kalau Tuan meminum obat pencahar saja?" tanya Gracia.
"Apakah itu manjur?" tanya Adam.
"Tentu saja, nanti saya akan belikan kalau Tuan mau," ucap Gracia.
"Tapi saya tidak suka minum obat, rasanya sangat sulit untuk menelan obat tersebut," ucap Adam.
"Nanti saya belikan obat pencaharnya yang bentuk cair, bagaimana apa Tuan mau?" tanya Gracia.
"Kalau pait saya tidak mau," kata Adam.
"Begini saja, nanti saya bikinkan teh hangat. Obat pencaharnya saya masukkan ke dalam teh hangat, Tuan mau?" tanya Gracia lagi.
"Nah! Sepertinya itu lebih baik," kata Adam.
"Sepertinya begitu," kata Gracia.
"Ya Sudah, cepatlah belikan saya obat pencaharnya," kata Adam
Adam lalu merogoh saku celananya, dia pun mengambil uang untuk membeli obat pencahar tersebut.
Selepas kepergian Gracia, Adam langsung duduk di kursi kebesarannya. Dia langsung memeriksa berkas-berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.
Sesekali dia terlihat meringis menahan sakit, lalu kemudian dia pun mengelus lembut perutnya.
Dia berharap dengan cara seperti itu, rasa sakitnya akan berkurang. Tak lama kemudian pintu pun terdengar diketuk dari luar, Adam mengira jika itu adalah Gracia.
Makanya Adam pun menyuruh orang tersebut untuk masuk.
"Masuk!" teriak Adam.
Setelah Adam berucap, pintu pun langsung terbuka. Nampaklah Reinata yang datang, dia terlihat sangat seksi seperti biasanya dengan baju kurang bahan yang menjadi favoritnya.
Bahkan rambutnya pun dia ikat tinggi-tinggi, sehingga menampakan leher jenjangnya. Bibirnya pun dia poles dengan gincu berwarna merah menyala.
Sepertinya dia berniat sekali untuk menggoda Adam, Adam sampai tak berkedip dibuatnya. Bukan karena terpana, namun dia merasa heran kenapa Reinata berpenampilan seperti itu.
Menurutnya, Reinata malah terlihat sangat berlebihan.
"Rei, untuk apa kau ke sini? Bukannya untuk urusan pekerjaan, kemarin sudah selesai?" tanya Adam.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu, Adam." Reinata berbicara seraya duduk di atas sofa.
"Bicara apa lagi? Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku sedang bekerja. Jika tidak ada kepentingan, aku mohon kamu keluarlah!" ucap Adam dengan nada perintah.
"Kamu tega sekali mengusirku, Adam. Aku hanya ingin bertemu denganmu saja, sebentar saja. Karena setelah ini aku akan pergi," kata Reinata.
"Memangnya apa yang kamu inginkan?" tanya Adam.
"Duduklah sebentar di sini, aku ingin berbicara denganmu," ucap Reinata sambil menepuk sofa yang kosong di sampingnya.
Adam pun menurut, dia langsung bangun dari kursi kebesarannya dan duduk di sofa. Namun dia tak duduk di samping Reinata, Adam memilih untuk duduk tepat di hadapan Reinata.
"Ada apa?" tanya Adam.
"Aku minta, jika kita nanti ada pembahasan kerjasama lagi. Aku mohon kamu yang datang, jangan anak buah kamu," kata Reinata memohon.
"Tapi, Rei. Aku sedang menjalankan bisnis yang lebih besar lagi," ucap Adam beralasan.
"Sombong sekali kamu, Adam," ucap Reinata.
"Bukan sombong, tapi memang seperti itulah kenyataannya," kata Adam.
"Ya Tuhan!" kesal Reinata.
Reinata terlihat mencabikan bibirnya, dia terlihat sangat kesal kepada Adam. Tiba-tiba saja terjadi perang dingin di antara mereka, mereka saling diam.
Adam merasakan tak suka dengan sikap Reinata, begitu pun Reinata. Dia merasa tak suka terhadap sikap Adam, saat mereka sedang saling diam, tiba-tiba saja Gracia masuk membawa secangkir teh hangat untuk Adam.
"Permisi, Tuan. Ini teh hangatnya," ucap Gracia.
Gracia pun langsung mengulurkan tangannya, dia hendak memberikan teh hangat tersebut kepada Adam.
Namun, tanpa diduga Reinata langsung mengambil teh tersebut dari tangan Gracia dan dia langsung meneguk teh hangat tersebut sampai tandas.
Adam dan Gracia terlihat saling pandang, kemudian mereka pun menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Reinata nampak memegang perutnya.
"Aduh! Kenapa perutku sakit sekali? Rasanya sangat mulas," keluh Reinata.
Adam dan Gracia langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa, mereka tahu jika obat pencahar tersebut kini mulai bereaksi.