
Leo pun jadi berpikir untuk mendekati Gracia, lumayan kan pacar di kantor. Pepatah mengatakan jika kita harus mempunyai satu pacar, tak apa ye kan punya pacar satu.
Satu di apartemen, satu di pengkolan dan satu lagi di kantor. Lumayan punya pacar satu, tapi di lain tempat. Leo pun tiba-tiba terkikik geli dengan pemikirannya sendiri.
"Kamu kenapa, Tuan?" tanya Gracia.
"Eh, aku tak apa-apa. Aku hanya merasa sudah kenyang, mau langsung ke ruanganku saja. Mau bareng?" tanya Leo.
Gracia terlihat menggelengkan kepalanya, "aku mau shalat dulu."
Leo pun jadi merasa kagum pada Gracia, cantik, pintar dan juga taat. Oke fix, Leo pasti gebet si Gracia. Buat satu tambahan koleksi pacarnya, lumayan Ye kan?
"Kenapa malah melamun, Tuan?" tanya Gracia.
Leo terlihat salah tingkah, karena ketahuan sedang melamun. Apa kata Gracia kalau dia ketahuan melamunkan gadis itu.
"Emm, tidak apa-apa. Aku hanya kagum saja sama kamu, selain cantik kamu juga taat dalam beribadah. Jadi suka deh sama kamu," ucap Leo seraya menaik turunkan alisnya.
"Iissh, Tuan gombal." Gracia terlihat menyuapkan makanan terakhirnya, lalu meminum jus jeruk yang ada di depannya hingga tandas.
"Ya udah, kalau gitu kamu shalat gih, aku ke ruangan aku dulu." Leo langsung bangun dan melangkahkan kakinya menuju ruangan miliknya yang kini dia bagi bersama dengan Gracia.
Gracia hanya bisa menggelengkan kepalanya, seharusnya Leo ikut ke Mushola, pikirnya. Biar bisa shalat berjamaah sekalian, bukan malah kembali keruangannya.
Namun, Gracia tak boleh berpikir jelek tentang Leo Karena dia pikir, mungkin saja Leo shalat dzuhur di dalam ruangannya. Kan, di sana lumayan lega, pikirnya.
Jika Leo pergi menuju ruangannya, Gracia nampal melangkahkan kakinya menuju Mushola. Ternyata Gadis itu tak asal berucap, dia langsung melaksanakan kewajibannya terhadap sang khalik.
Setelah selesai, Gracia langsung berjalan menuju ruangan Leo, yang kini juga menjadi ruangannya. Saat dia hendak masuk ke dalam ruangannya, dia melihat Adam dan Sisil yang baru saja keluar dari dalam ruangannya.
Wajah Adam dan wajah Sisil nampak berseri, tangan mereka saling bertaut dan yang menjadi pusat perhatian Gracia adalah rambut mereka yang terlihat masih basah.
Pikiran Gracia pun jadi melayang kemana-mana, dia pun jadi berpikir jika pasangan suami istri itu pasti akan menyelesaikan semua masalah di atas ranjang.
Eh? Tapi kan di dalam ruangan Adam tak ada ranjang, lalu dimana mereka melakukannya pikir Gracia? Atau seperti di Film blue yang tanpa sengaja pernah dia tonton berciuman sambil Ehm di atas wastafle atau di atas meja makan pun jadi?
Maklum ya guys... jaman sekarang kan gitu, adegan kaya gitu aja diiklanin. Bikin Emak-emak kaya Othor jadi was-was dan resah, mana punya anak udah mulai remaja Ye kan?
Gracia terlihat bergidig kala membayangkan hal itu, apa tidak sakit pikirnya jika melakukan itu di setiap tempat?
Apa lagi jika melihat Itunya yang sangat besar masuk ke dalam... Ehm, bikin Gracia merasa ketakutan.
"Kamu kenapa?" tanya Sisil yang kini sudah berada tepat di samping Gracia.
"Eh, tidak apa-apa, Nyonya. Saya Kayaknya masuk angin, agak merinding gitu." Gracia terlihat salah tingkah, apa lagi saat mencium aroma sampo yang menguar dari rambut Sisil.
"Oh," jawab Sisil dengan raut bingung di wajahnya.
"Ayo, Sayang. Mas udah laper," ajak Adam.
"iya," jawab singkat Sisil.
Setelah kepergian Adam dan Sisil, Gracia langsung masuk kedalam ruangannya. Saat pintu terbuka, nampaklah Leo yang sedang terlihat serius dengan berkas yang ada di tangannya.
Gracia pun langsung menuju meja kerjanya, lalu mengerjakan semua pekerjaan yang sudah menunggu untuk diselesaikan.
Leo yang sedari tadi memperhatikan Gracia pun langsung menghentikan kegiatannya, lalu menghampiri Gracia dan duduk tepat di depan Gracia.
"Kamu kenapa sih, dari tadi tingkah kamu aneh banget?" tanya Leo.
"Eh, Tuan. Ngga apa-apa," jawab Gracia mesam-mesem.
"Ngga mungkin ngga ada apa-apa, kamu dari tadi mesam-mesem terus!" ketus Leo yang terlanjur penasaran.
"Hehehe... itu Tuan, saya merasa lucu melihat Tuan Adam dan Nyonya Sisil. Tadi pas saya lihat, mereka keluar dengan rambut yang masih basah." Gracia tersenyum sambil bergidig.
"Memangnya kenapa?" tanya Leo.
"Lucu aja, Tuan. Ternyata kalau orang yang sudah berumah tangga, kalau lagi marah-marahan ujungnya baikan karena itu." Gracia terlihat menautkan kedua jari telunjuknya.
Leo langsung tertawa melihat tingkah Gracia, ternyata gadis yang ada di hadapannya itu masih sangat polos. Bagimana kalau dia tahu, jika dia pun seperti itu dengan pacar-pacarnya.
Jika ada masalah mereka akan baikan dan berakhir di atas ranjang, sungguh sayang sekali pikirnya, kalau gadis sepolos Gracia untuk dilewatkan.
"Ehm, Gracia. Memangnya kamu belum pernah melakukan itu?" tanya Leo dengan raut wajah serius.
Mata Gracia langsung membulat dengan sempurna, dia tak menyangka jika Leo akan bertanya hal yang sangat peribadi.
"Jangan gila, Tuan. Mana boleh seperti itu, kalau ngga ada ikatan pernikahan ngga boleh begituan." Gracia terlihat mencebik tak suka ke arah Leo.
"Kalau ciuman?" tanya Leo.
"Ngga boleh, Tuan. Ciuman itu bisa memancing hasrat, nanti bisa mengarah kepergaulan bebas. Lama-lama sexx bebas, kalau misalkan hamil terus ada yang tanggung jawab, masih mending. Kalau malah sakit kelamin?" kata Gracia.
Leo nampak tergugu mendengar ucapan dari Gracia, kenapa dia tak pernah berpikir sampai kesana. Apa lagi yang selalu dia lakukan dengan pacar-pacarnya selama ini, memang selalu melakukan sexx bebas.
Bahkan Leo tak pernah memakai pengaman, walaupun memang dia selalu meminta pacar-pacarnya untuk meminum pil kontrasepsi. Atau, dia akan mengeluarkannya di luar.
Melihat Leo yang hanya diam saja, Gracia langsung mengibas-ngibaskan tangannya.
"Tuan kenapa?" tanya Gracia.
"A--aku tidak apa-apa, bekerjalah dengan benar." Leo segera bangun dan melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya.
Gracia nampak melihat Leo sambil menggedikkan kedua bahunya saat melihat Leo, yang dia rasa tiba-tiba saja berubah jadi aneh.
"Jangan melihat ku seperti itu, kerja aja yang bener. Nanti aku kasih bonus," ucap Leo.
Wajah Gracia nampal berbinar mendengar ucapan dari Leo, mendapatkan gaji yang besar saja dia sudah bersyukur. Apa lagi saat mendengar kata bonus, tambah seger rasanya.
"Beneran aku mau di kasih bonus?" tanya Gracia.
"Ya," jawab Leo singkat.
"Bonusnya apa, Tuan?" tanya Gracia penuh semangat.
"Nanti kamu saya cium kalau ngomong terus!" kata Leo santai.
Sontak hal itu membuat Gracia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.